menjadi anak kyai ternama memiliki predikat lulusan terbaik tak menjamin menjalani kehidupan sesuai agama yang di anut
zalwa azzahra
kesal akan sikap abah yang menikah kan secara sepihak ia lebih memilih mengadakan sebuah perjanjian yang seharusnya tidak ia lakukan
bagaimana keseruan cerita nya yukkk baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kasuma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 32
setelah kejadian penyekapan nyai fatimah tempo hari zaki dan zalwa memutuskan untuk tinggal sementara di pondok pesantren darunnajah
sekaligus juga untuk memulihkan kondisi zalwa yang mendapat luka lebam di pundaknya itu pun baru zaki ketahui setelah zalwa mengeluh pundaknya sakit
" sudah " sahut zaki dengan menutup obat yang di oleh di pundak zalwa
selama menikah hampir satu tahun baru kali ini zaki melihat pundak zalwa dalam keadaan polos bahkan rambut zalwa pun baru kali pertama ia melihatnya
semuanya karna kennan yang meminta zaki melakukan nya tadinya zalwa malah minta bantuan nyai fatimah untuk memeriksa pundaknya
"jangan di tutup dulu obatnya belum kering " zaki menahan tangan zalwa ketika akan memakai jilbabnya
"tapi -"
"tetap disini biar aku yang keluar " ucap zaki dengan beranjak pergi
" gimana mba zalwa" tanya kennan ketika melihat zaki keluar kamar
" lebamnya agak parah jika sampai besok ngak ilang harus di periksa kan " sahut zaki
"iya harus takut ada apa apa " sahut nyai fatimah
"zaki ke pondok dulu umi sekalian liat persiapan pengajian nanti ayo kennan " pamit zaki dengan kennan yang beranjak mengikuti zaki keluar rumah
"assalamualaikum"
"waalaikumusallam warohmahtullah wabarakatu" sahut nyai fatimah dengan berbalik
"besan ? ayo masuk masuk " ajak nyai fatimah ketika melihat tamu yang datang
" ini ole ole dari kami " sahut nyai pipik dengan memberikan buah buahan pada nyai fatimah
"adu ngak perlu repot - repot besan, sebentar ya saya panggilin zalwa" sahut nyai fatimah
nyai fatimah berajak mengantuk pintu yang tak jauh dari ruang tamu
tok tok tok "zalwa "
"ya umi kenapa ?" tanya zalwa dengan memberikan cela sedikit di pintu karna ia tak berjilbab
" di depan ada ummah sama abah kamu ayo keluar " zalwa mengangguk lalu mengambil jilbabnya
"ummah abah " sahut zalwa dengan menyalami keduanya
"sama siapa ke sini ?" tanya zalwa lagi
" ya berdua sama siapa lagi " sahut nyai pipik dengan tersenyum
" ummah mu kawatir dari tadi malam minta ke sini tapi abah banyak kerjaan baru sempat sekarang" sahut kyai abdul
" ini silahkan di minum " ucap nyai fatimah dengan meletakan air minum
" tidak perlu repot - repot kami hanya sebentar" sahut nyai pipik
"eh apanya sebentar ini minum dan makan cemilan ini "
" zaki kemana ?" tanya kyai abdul pada zalwa
zalwa menoleh ke nyai fatimah " jangan bilang kamu tidak tau kemana suami mu zalwa" ucap kyai abdul dengan melihat zalwa
"zaki ke pondok tadi zalwa lagi istirahat mangkanya zaki tidak pamit lagi " sahut nyai fatimah membela zalwa
"karna kejadian kemarin juga sekarang pundak zalwa jadi memar kami jadi khawatir " ucapan nyai fatimah membuat nyai pipik kaget
"memar bagaimana nak coba ummah liat " zalwa memperlihatkan pundaknya yang memar kehitaman
"astagfirullah, apa sudah di obati ?" tanya nyai pipik
"iya ummah sudah dokter zaki yang kasih obat " sahut zalwa pelan
" panggilan mu itu kenapa manggilnya masih dokter bukan mas atau apalah gitu ngak sopan nak " tegur nyai pipik membuat zalwa tersenyum malu
"assalamualaikum umi zalwa " suara zaki membuat mereka menoleh
"waalaikumusallam warohmahtullah wabarakatu" sahut mereka dengan kompak
"ummah abah kapan datang " zaki segera menyalami mertuanya itu
" barusan, kenapa kamu teriak teriak begitu " tanya kyai abdul
"astagfirullah sampe lupa , zalwa kita harus ke rumah sakit heni ingin melahirkan" ucap zaki dengan panik
zalwa yang mendengar itu langsung kaget " tunggu tunggu aku ambil tas dulu " ucap zalwa dengan berlari kamar
selain zalwa ketiga orang yang ada di sana juga kaget " kapan ? siapa yang memberi tahumu " tanya nyai abdul
"alwi tadi nelpon katanya nomor abah tidak aktiv " jelas zaki
" ayo kita ke rumah sakit " ajak zalwa pada zaki
"yasudah kalian pergilah " ucap nyai fatimah pada mereka
"umi ngak ikut ?" tanya zaki
nyai fatimah mengeleng " sebentar lagi pengajian umi ngak enak jika harus pergi setelah pengajian saja umi ke rumah sakit " mendengar penjelasan nyai fatimah mereka mengangguk lalu bergegas pergi ke rumah sakit tempat heni melahirkan
.
.
.
.
" kanapa mba heni berteriak begitu ?" tanya zalwa pada nyai pipik ketika mereka di minta keluar dari ruangan persalinan
"namanya juga melahirkan nanti kamu juga merasakan nya " sahut nyai pipik
zalwa melihat ke dalam ruangan lalu bergidik ngeri sembari mengeleng " zalwa ngak mau hamil " ucap zalwa dengan menjauh pergi
"eh zalwa zalwa " panggil nyai pipik dengan mengeleng
" alwi apa keluarga mba mu sudah kamu hubungi ?" tanya nyai pipik ketika duduk di dekat alwi
" sudah ummah kata tanta diana mereka akan segera kemari " sahut alwi dengan memasukan hp nya ke saku
"zalwa kenapa lari tadi ?" tanya nizam yang datang dengan membawa cemilan
" zalwa takut melahirkan" jelas nyai pipik
" kamu juga sudah di bilang jangan di ajak masuk malah ngak dengar " sahut kyai abdul memarahi istrinya
"mana tau reaksinya begitu " sahut nyai pipik kesal
"sekarang dia kemana ?" tanya alwi dengan melihat kanan kiri
"tadi di depan ikut zaki ngurus administrasi" sahut nizam
.
.
.
" mau kemana ?" tanya zalwa dengan mengikuti zaki
" ke sana " tunjuk zaki mengarah ke keluarga zalwa
zalwa mengeleng " ngak usa ya kita ke tempat lain aja nanti aja kalo mba heni sudah lahiran baru ke sana "
jidat zaki mengkerut mendengar ucapan zalwa " memangnya kenapa ?" tanya zaki dengan binggung
"ayo pergi aja suara mba heni darah ah semuanya bikin pusing " bohong zalwa agar zaki mengajaknya pergi
zaki melihat zalwa dengan menyelidik " bener ?"
zalwa mengangguk lalu menarik tanggan zaki menjauh dari sana
" em dokter zaki , em "
"kenapa wa ? ada yang mau di tanyain ?" tanya zaki dengan melihat gelagat aneh zalwa
zalwa mengangguk " em hubungan antara kita gimana apa kita akan pisah ?"
zaki melihat zalwa lalu menghela nafasnya " semuanya tergantung kamu jika kamu mau berakhir saya bisa apa saya tidak berhak menahan kamu terlalu lama " sahut zaki dengan lesu
" apa kamu mau kita -"
zalwa menoleh " bukan itu maksud nya " sahut zalwa dengan kesal
"terus apa jika bukan karna pernikahan lantas karna apa ?" tanya zaki yang binggung karna zalwa berbelit belit
" dokter zaki, mas zaki, gus zaki ah zalwa ngak mau punya anak zalwa ngak mau kayak mba heni " rengekan zalwa seketika membuat zaki tau apa masalah zalwa sebenarnya
"jadi kamu ngomong nya berbelit belit tadi karna kamu ngak mau hamil dan punya anak ? " tanya zaki
zalwa mengeleng " mau punya anak tapi kalo lahiran kayak mba heni tadi ngak usa deh adopsi anak aja ngak kuat "
zaki menghembuskan nafas sembari menyandarkan badan nya di sandaran belakang kursi " kamu percaya saya ?"
zalwa mengangguk
" saya dokter jika kamu tidak ingin melahirkan normal bisa dilakukan secara sesar sectio caesarea (sc) merupakan tindakan pembedahan untuk melahirkan janin dengan cara membuat sayatan untuk membuka dinding perut dan dinding uterus untuk mengeluarkan janin yang berada di dalam rahim ibu" jelas zaki
"apa ngak sakit ?" tanya zaki dengan polos
"sakit tentu tapi tidak se sakit melahirkan normal ada plus minus nya juga antara normal dan sesar " jelas zaki lagi
" menurut dokter zaki mending saya sesar apa normal ?" pertanyaan zalwa membuat zaki binggung
" untuk kamu ?" tanya zaki lagi
zalwa mengangguk " iya "
" kita kan belum ke tahap itu wa maksudnya tidur sebagai suami istri aja belum belum di apa apain kamu udah mikirin lahiran " ucap zaki dengan kesal
" oh jadi mau ngapa ngapain saya gitu pikiran nya kotor mandi gih sana bentar lagi azan " sahut zalwa dengan beranjak pergi
"wa zalwa bukan itu maksudnya wa " namun zalwa tetap pergi meninggalkan zaki sendirian
"yang nanya lahiran dia giliran di jelasin di bilang kotor , astagfirullahhalazim "
azzura gadis cantik yang memiliki paras ayu nan manis, kematian sang ibu serta kepergian ayahnya yang misterius membuat nya nekat harus ke kota di mana tempat ayahnya berkejaran
apakah azzura dapat kembali bertemu dengan ayahnya.
seorang istri minta tolong mencari suaminya, konflik ringan tapi dibuat ribet sendiri
faktor2 yang mendukung konflik ini jadi masalah besar pun tidak mendukung, jadi kesimpulan yang cerita ini konflik biasa malah sangat biasa tapi dipaksakan jadi masalah besar
ehhhh pusing pala berbi
sukses
semangat
mksh