NovelToon NovelToon
Hot Sugar Daddy

Hot Sugar Daddy

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:2.4M
Nilai: 5
Nama Author: Arwen CTB

Jona: Jika ada seribu lagi kesempatan untuk jatuh cinta, aku akan tetap memilih Jordy. Aku tidak jatuh cinta pada seorang yang salah, meski mungkin pada waktu yang salah. Andai aku sepuluh tahun lebih tua.

Livi: Dari begitu banyak wanita cerdas, cantik dan dewasa mengapa Ayah memilih Jona? Sahabatku, yang tak mungkin menggantikan Ibu?

Jordy:
Pada kekurangan dan kelemahannya aku benar-benar jatuh hati. Ah, Jona!

Terdiri dari bab 1-42 (End).
Bab selanjutnya extended season.
Cerita ini mengandung konten dewasa pastikan cukup umur sebelum membacanya. 21+


Terima kasih untuk semua bentuk dukungan Sobat Gorgeous. Salam supportive penuh berkah. 😘😘

27 Juni, I'm done! Sebagai creator cerita saya menyatakan selesai. Selanjutnya, cerita ini saya serahkan kepada Dear Readers Tersayang anak2 tiriku. Jadi, jika kalian punya usul, ide, atau koreksi meliputi typo atau miss-information, jangan sungkan untuk kasih saran masukan. Karena mulai sekarang, cerita ini milik: KITA BERSAMA!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arwen CTB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Farewell

Farewell

Sebagus apapun sebuah benih, tidak akan tumbuh di tempat yang tidak mendukungnya. Benih butuh tempat yang sesuai agar ia bisa tumbuh menjadi tumbuhan yang subur, indah, dan kuat. Mungkin begitu pula dengan cinta....

*

Di samping penantian akan sebuah keberangkatan, dengan perasaan berdebar dan penasaran, waktu seolah berlari. Mau tak mau pikiran Jona terfokus pada kehidupan barunya nanti. Kehidupan yang benar-benar beda dari yang dia jalani selama lebih dari 18 tahun terakhir.

Beberapa waktu yang lalu, ibunya telah mengenalkan Jona pada seorang laki-laki dan menurut ibunya pula, Jona boleh memanggilnya Dady. Melalui panggilan video mereka bertatap muka ketika 'Dady' mengajak ibu Jona menginap di sebuah private resort mewah.

Laki-laki itu tak kurang berusia 50 tahun menurut perkiraan Jona. Tampak sangat perhatian dan ramah. Dia juga mengungkapkan bahwa tak sabar ingin segera bertemu Jona. Sementara ibunya telah lebih dulu disibukkan oleh persiapan penyambutan putrinya. Mulai dari menyiapkan kamar untuk Jona, keperluan kuliah Jona, bahkan mini studio untuk mendukung hobi Jona.

Semuanya sangat menggiurkan remaja yang baru lulus itu. Rasa-rasanya, hati dan jiwanya sudah lebih dulu sampai di Pulau Dewata bersama orang tua barunya.

Pada malam-malam yang tersisa Jona mulai bersepakat dengan diri untuk menata kepingan-kepingan kenangan dalam sebuah kotak tak kasat mata. Tentang dirinya dan Livi, kisah cintanya dengan Jordy, persahabatannya yang ternoda dengan Rudian, dan sungguh menyesakkan bahwa Jordy, kekasihnya itu teramat baik untuk ditinggalkan. Apakah salah jika aku berharap seandainya dia tidak sebaik itu? Hatinya berbisik.

Jona mulai meragukan dirinya lagi dan lagi. Jika dibiarkan dan dituruti keyakinannya bisa goyah. Apalagi Jordy masih sangat mengharapkannya sebagaimana Jona juga pernah begitu mendamba Jordy di waktu yang telah lalu. Tetapi seharusnya tidak sekarang, tidak saat hidup memberi kesempatan baru bagi Jona untuk hidup lebih baik lagi.

Tidak pula ketika dia sudah berjanji pada Livi untuk bisa terus menjadi sabahatnya. Tidak saat dia akan pergi....

"Ah! Sialan." Jona meremas-remas jemarinya sendiri sembari memejamkan mata. Seolah-olah sedang meremas foto diri Jordy yang tengah tersenyum padanya. Nyatanya, foto itu ada hanya dalam imajinasi Jona belaka.

Semakin dia berusaha melupakan, bayangan Jordy semakin kuat mengikat ingatan. Bagaimana Jordy bisa membuatnya begitu bodoh ketika mereka belajar matematika, bagaimana lelaki itu menelanjangi kepercayaan diri Jona setiap kali dia bertindak bodoh. Bagaimana Jordy juga telah menghujaninya dengan cinta dan kasih sayang yang begitu murni.

Jordy, adalah laki-laki terbaik yang pernah Jona kenal selama ini. Laki-laki itu pulalah yang telah sering melepaskannya dari kesulitan dan lebih dari semua itu, siapa yang lebih mendambakan Jona selain Jordy? Siapa yang bisa memuja sekaligus mencela, dengan kurang ajarnya seperti yang Jordy lakukan? Tidak ada!

Tidak ada yang sejujur Jordy dalam mengagumi, menyayangi, mencintai sekaligus membenci Jona. Bersama ayah Livi-lah Jona dapat merasakan begitu berarti, sangat berani dan sangat payah dalam waktu bersamaan. Sepertinya jalinan cinta mereka yang sangat benar namun juga salah dalam tempo yang sama. Tidak ada cinta sekontradiktif cinta Jordy pada Jona.

Lalu dengan semua yang telah terjadi, Jona yang merasa yakin dan percaya diri untuk menyambut kehidupan baru pun telah goyah hanya dengan memikirkan Jordy. Hanya dengan membayangkan wajahnya, rahangnya yang tegas dan tak pernah tercukur rapi, bibirnya yang tak diduga bisa selembut itu, suaranya yang penuh determinasi, ketegasan yang juga kerap melambangkan kelembutan dan kasih sayang.

Jona mulai terjangkit rindu. Rindu yang diam-diam menyusup ke dalam kalbu, seperti kabut tipis misterius yang membawa hawa magis. Atau apakah rindu itu sudah bercokol di sana sebelum ini namun selalu berhasil ditutupi? Dasar penyakit! Jona mengumpat pada dirinya sendiri sambil meremas dada di mana ada sesuatu yang terasa dingin.

Setelahnya gadis itu benar-benar gelisah dan tak dapat memejamkan mata....

*

Hari yang dinati-nanti telah tiba. Inilah saatnya bagi Jona untuk meninggalkan semuanya. Melangkah menuju kehidupan barunya. Jona membunuh semua keraguan, lalu ibu dan suami barunya terus membantu Jona mengemasi barang-barangnya. Sementara itu, Mbah terus bersedih sepanjang hari. Terkadang, air mata menggenang di matanya.

"Are you ready, Dear? Sure there's nothing left?" Rahang Jona dibelai oleh lelaki setinggi 187cm yang telah memasukkan koper dan ransel Jona ke dalam mobil GrandMax yang mereka sewa.

"Ya, Allan." Jona tersenyum penuh keyakinan. Lalu sekali lagi dia memeluk Mbah. Air mata membanjiri keduanya. Begitu juga ketika Mbah memeluk ibu Jona.

"Jaga baik-baik anakmu, Laras," pesannya pada wanita yang telah meninggalkan mereka selama 18 tahun. Laras kemudian berlutut, bersimpuh memeluk lutut Mbah. Dia sadar bahwa selama ini dia telah teramat egois meninggalkan putrinya. Namun di saat yang bersamaan dia juga bersyukur bahwa Jona dirawat dan dididik dengan baik dan penuh kasih sayang oleh Mbah.

"Maaf. Maafkan Laras, Mbah. Ampuni kesalahan Laras."

Mbah memabantu wanita itu bangkit dan kembali memeluknya.

"Darah lebih kental dari air, dan darahmu mengalir di tubuh putrimu. Mbah rela dan iklas, semoga kalian bahagia. Pergilah."

Laras mengangguk pada Allan dan mereka pun segera naik kendaraan yang akan berangkat ke bandara. Jona masih menyalami para tetangga. Tak ketinggalan gadis itu mencubit dan mencium bayi laki-laki dalam gendongan ibunya. Bayi yang selama lebih setahun sudah mengganggu tidur Jona dengan tangisnya sekaligus menghibur di kala kegalauan melanda.

"Dede Omund, sayang. Mbak berangkat dulu ya, Sayang."

"Yah, bakalan nggak ketemu lagi sama Mbak Jona," keluh ibunya.

"Bakalan kangen sama Omund. Muach." Bayi yang dicium itupun tersenyum-senyum geli. Saat itu Jona menangkap suara motor yang mendekat tapi tak menghiraukannya. Semenara para tetangga telah kembali ke rumah masing-masing.

"Jona ... Jona!"

Mendengar namanya dipanggil jantung Jona serasa terhenti seketika. Dia kenal betul suara itu. Suara yang selama beberapa waktu ini kerap mengisi hari-harinya bahkan ketika mereka berjauhan karena terus menggema, membisikkan cinta. Jona menoleh dan menyadari kehadiaran itu.

"Kak Jordy."

"Kamu beneran mau pergi? Ninggalin aku?"

"Kak...."

"Segitu nggak berartinya ya aku buatmu?"

"Bukan gitu, Kak, tapi...." Mendadak Jona kehabisan kata-kata. Melihat putrinya tampak kebingungan Allan pun turun. Lelaki itu mendekati Jona dan merangkulnya.

"Ada masalah?" Jona menggeleng untuk menanggapi pertanyaan Allan.

"Is he your boyfriend?"

Jona bergeming, namun hatinya berteriak, "Yes he is." Detik, bibirnya menggumamkan jawaban yang menohok dan menyakitkan Jordy.

"Yes, he was," terang Jona sambil memandang Jordy dengan penuh keraguan.

"Jona, please!" Aku masih pacar kamu."

"Enggak, Kak. Sejak aku janji sama Livi untuk jauhin Kakak."

"Kamu nggak boleh sejahat itu!"

Jona melepaskan diri dari rangkulan Allan dan bergerak maju mendekati Jordy. Berharap keajaiban akan membantunya untuk kuat dan perkasa setidaknya beberapa menit saja dalam menghadapi Jordy.

"Kak, tolong lupakan aku. Biarkan aku pergi dan kita semua harus bahagia."

"Nggak." Jordy menggeleng. "Ini nggak bener, Jona. Kamu harusnya di sini, bersamaku."

"Kak, kumohon." Kali ini kekuatannya menurun drastis, bahkan untuk sekedar membendung air matanya yang secara sembrono keluar tanpa dikomando. Jordy meraih lengan atas Jona dan menatap matanya.

"Look at me! I know that you still love me." Tatapan Jordy benar-benar membuat hati kekasihnya bergetar. Sebuah tatapan yang tidak menuntut sama sekali, namun sangat tajam dan penuh keyakinan. Dan keyakinan itu memang benar adanya bahwa Jona tidak pernah sekalipun bisa berhenti mencintai lelaki di hadapannya.

Dada gadis itu kembang kempis dan tangisnya meledak seketika. Dia menjatuhkan diri dalam dekapan Jordy. Lalu semua kenangan mereka berdua terulang satu per satu, begitu indah dan sangat menyentuh. Jordy merasakan sesuatu yang melegakan, bahwa kekasihnya tak pernah berpaling seperti yang selalu dia yakini.

Pelukan itu rasa-rasanya cukup menambah energi bagi Jordy untuk hidup seratus tahun lagi. Untuk memenuhi semua janjinya, janji untuk mencintai Jona sepanjang waktu. Akan tetapi bagi Jona, pelukan itu adalah momentum untuk merasakan kembali kehangatan kasih sayang yang amat dia rindukan dari laki-laki yang telah membuatnya jatuh cinta di usia belia dengan sangat cerdik, sehingga sulit baginya untuk bangkit dan bergerak menjauh. Sekaligus, sebagai perpisahan yang manis. Bahwa setelah apa yang mereka alami, cinta kasih yang telah mereka rajut selama ini, tidak ada kebencian atau pun pertengkaran yang akan menghalangi kehidupan masing-masing setelah ini.

Dalam pelukan, Jona menemukan kembali kekuatan-kekuatan yang dia butuhkan. Menghindari tatapan mematikan Jordy, memang ampuh untuk memupuk keberanian.

"Please, let me go."

Jona memohon sekali lagi. Itu cukup membuat Jordy frustrasi, namun sebagai seorang lelaki matang dia cukup bijaksana untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Jordy melepaskan pelukan sambil tersenyum meski hatinya menangis.

"Pergilah, Sayang. Di sini, aku akan selalu mencintaimu dengan caraku."

"Terima kasih, Kak." Jona memeluk kekasihnya sekali lagi, hanya beberapa detik sebelum dia kembali pada Allan dan mereka melanjutkan perjalanan. Sebelum mobil yang mereka tumpangi keluar dari gang menuju jalan raya, Jona gelisah mengetahui Jordy mengantar mereka dengan sepeda motor di belakang. Sakit rasanya harus berpisah dengan lelaki sebaik dia.

*

"Are you sure you want to leave him?"

"Apa?"

"Kelihatannya kamu keberatan pergi." Allan berasumsi.

"Yes. Honestly it's hard to say good bye. But, I though farewell always that hard isn't it?"

Ya, perpisahan memang selalu menyakitkan. Bagi yang ditinggalkan maupun yang meninggalkan. Apalagi jika diantara keduanya masih ada cinta. Cinta sekuat dan semurni milik Jona dan Jordy.

Hai, Sobat Gorgeous! Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat dan sampai jumpa...,&&&

1
meimei
lanjut
Dede
di sn sm2 skit apakah slh cinta mereka. 😞😞
Arwen CTB: 😭😭😭😭😭😭kasian mereka
total 1 replies
Dede
lanjut thor
Dede
lanjut thor 💪💪💪
Dede
ya sdh thor buat livi s7 sj hbngan ayah nya sm jona.
Dede
🙏🙏🙏 ya thor kurang pas visual jordi nya. kan jordi nya sdh dewasa yg mempunyai anak SMA. ngak bangeeeet thor visual nya sx lg 🙏🙏
Dede
sdh la jona cari laki2 yg tdk trlalu jauh umur nya sm km. km kan msh kecil masak sk sm om2
Dede
lanjut thor
jona ibu yg hebat best Mom. bisa berperan hands. keren
Arwen CTB: berperan ganda ya, Kak ... patut dicontoh seperti authornya...uhuk!😂
total 1 replies
ibu mertua reseh banget deh, 😫 jangan terlalu ikut campur urusan RT anak dan menantu 😠 udah ga nyumbang apa2 banyak komen. ga ada ART. ga ada Baby Sitter. ga ada supir. semua serba sendiri. mulut mertuanta asbun🥵
orang tua Jordy TIDAK BIJAK. jangan terlalu ikut campur urusan anaknya yg tidak muda lagi. pria yg sudah diatas 31 tahun TIDAK MEMBUTUHKAN IJIN ORG TUA UTK MENIKAH.
Jordy sudah dewasa. mandiri. tidak bergantung secara materi dg org tuanya. biarkan ia bahagia sesuai keinginannya😄
tiap anak punya kepandaian berbeda. mungkin yg satu pandai di bidang exacta dan yg lain dibidang sosial. putri kami selalu kalah dibidang matematik. tp unggul dibidang sosial. puji Tuhan baru LULUS dg predikat CUMLAUDE dari Universitas Indonesia. MAGISTER KAENOTARIATAN
Awi Ciwy
akh klu jordy evi gk sesuai cover .suggar daddy .y jordy jona bru ccok cover
Arwen CTB: entahlah Kaka...😂😂🍄
total 1 replies
Tiara Aliyah
cerita membingungkan males mau lanjut baca nta
Arwen CTB: baguslah kalau gitu
total 1 replies
Uni Kamek
g
Arwen CTB: yuhuuw
total 1 replies
re
Ia masih mencoba mengerti
Arwen CTB: nah iy
total 1 replies
Emy Zaf
apa jgn livua bukan anak kandung nya jordy /disembunyikan oleh emly
Arwen CTB: bisa jadi itu, Kak...
total 1 replies
Hanni Tomasoa
judul novel harus di ganti...
klw bisa cinta yg tak menentu atau takdir cinta
Arwen CTB: follow IG Mimin yuk Kak ❤️
total 1 replies
Dewi Muthoharoh
seneng
Arwen CTB: thanks Kak, jangan lupa follow IG Mimin ya @arwenctb
total 1 replies
Rina Mama'e Abel
👍👍
Arwen CTB: thank you Kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!