Tiga tahun menyimpan rasa dalam diam bukan hal yang mudah.apalagi kalau orang yang kamu cintai tidak pernah benar-benar melihatmu.
"gue Syakila adzkia putri.hanya ingin satu hal,yaitu bisa bersama kakak kelas yang selalu jadi alasan gue buat datang kesekolah setiap pagi".
Namun,takdir justru mempertemukan dia dengan seorang badboy yang penuh rahasia,namanya Galen athar wijaya.hingga terjadi suatu insiden yang membuat mereka harus menjalin kesepakatan yang dapat menguntungkan satu sama lain.
"Mari kita buat kesepakatan di mana lo harus tutup mulut soal kejadian barusan.dan gue bakal atur lo sama zayyan".
"Lo beneran?tapi sampai kapan?"
"Ya...sampai lo jadian sama dia.setelah itu kesepakatan kita selesai!"ucapnya serius.
"Deal..?"ucapnya mengulurkan tangan.
syakila meraih tangan itu dan kesepakatan pun di mulai.
setelah lama berlalu syakila berhasil dekat dengan zayyan bahkan lebih dari sekedar teman.namun perhatian itu...
kalau penasaran ikutin terus ya kelanjutannya.bye🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyra Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pasar malam
________
Kala senja melukis langit dengan warna jingga, tampak sosok gadis yang tengah sibuk berdandan di depan cermin kamarnya,ditemani cahaya lembut yang masuk dari jendela kamar.
Baru saja kamar syakila berubah seperti diterjang angin puting beliung.isi lemari berhamburan di atas kasur,dress bergelantungan di kursi.bahkan sebagian sudah jatuh ke lantai.
Syakila berdiri di depan cermin sambil memegang satu dress berwarna hitam.
"Nggak.terlalu seksi."menatap dress yang hanya sepaha,ia melemparnya ke kasur.
Dress berikutnya berwarna ungu tua"Yang ini—"syakila menggeleng."Jamet."
Bruk.
Dress itu ikut mendarat di tumpukan pakaian.ia kembali mengaduk isi lemari.
"Yang ini?"
Dress lengan panjang berwarna krem.syakila menatap dirinya di cermin beberapa detik.
"Hmm... terlalu tertutup."
Lagi-lagi ia menghela napas.menatap jam yang sudah hampir menunjukkan pukul malam."Kenapa nggak ada yang pas sih?"dumelnya mengobrak-abrik isi lemarinya.
Setelah hampir membongkar seluruh isi lemari, akhirnya matanya berbinar.
"Nah!"sebuah dress selutut berwarna putih gading berhasil ia keluarkan.dress itu sederhana,tidak terlalu terbuka dan tidak terlalu tertutup,pas lah di tubuhnya.
Syakila segera mengenakannya lalu memadukannya dengan cardigan berwarna pink muda.ia kembali berdiri di depan cermin.
"Lucu."rambutnya yang panjang dirapikan perlahan dengan mencatoknya sedikit bergelombang di ujungnya,lalu memasang jepit berbentuk ceri di dekat poni.aksesori kecil itu langsung memberi kesan manis pada penampilannya.
Setelah itu,syakila mengoleskan sedikit bedak, blush tipis,dan lip gloss andalannya agar bibirnya tetap plumpy.ia tersenyum puas.
"Perfect."
Tangannya meraih parfum di dalam laci.
Cess.
Cess.
Beberapa semprotan tipis mendarat di pergelangan tangan dan belakang telinganya."Sempurna."ia mengambil tas selempangnya lalu berjalan keluar kamar.
Namun baru saja hendak melangkahkan kaki—ia berhenti.
Di kusen pintu sudah berdiri seorang bocah kecil dengan kedua tangan terlipat di dada.tatapannya lurus menatap syakila,Intens.
Syakila langsung memutar bola mata.'gebrakan apa lagi ini.'batinnya.
"Kakak mau kemana?"
"Ke sekolah."jawaban syakila terdengar malas,ia merolling bola matanya.
Bocah itu langsung mengerucutkan bibir."Bohong.nggak mungkin ke sekolah pakai baju secantik itu."
Syakila memijat pelipisnya."Ya terus?"
"Kakak pasti mau pergi ke suatu tempatkan?!"
"Ikut!"putusnya,bocah itu mulai menarik-narik ujung dress syakila."ikut,ikut—"
"Heh!"syakila langsung menepis tangan kecil itu."Jangan ditarik!jadi kusutkan.aarrkkhh~"
Bukannya berhenti,bocah itu malah semakin menempel."Pokoknya aku mau ikut."
Ting.
Bel rumah berbunyi.
Syakila langsung menggeser adiknya ke samping."Awas."ia membuka pintu.
"Assalamualaikum,syakila!"lea langsung nyelonong masuk.
"Ayo cepetan,nanti kita—"kalimatnya terhenti.matanya kini bergantian memandang syakila dan bocah kecil yang masih memeluk kaki kakaknya erat-erat.
"Aku mau ikut."
Syakila langsung berdecak."Udah ah.kakak mau pergi."
"Ikut."
"Nggak!"
"Ikut."bocah itu tetap bergeming.syakila hampir menyerah.namun tiba-tiba lea maju satu langkah.senyumnya menghilang,tatapannya berubah datar.
Bocah kecil itu mendongak.begitu melihat wajah Lea...
Ia refleks menelan ludah.
Memang sejak dulu,bocah itu lebih takut pada lea dibanding syakila sendiri.bukan tanpa alasan.
karna lea sering mengancamnya,sering menakut-nakutinya.
Lea berjongkok tepat di depannya.kedua tangannya memegang pelan pundak si bocah.
"Dengerin gue."bocah itu mengangguk kecil.
"Jadilah anak penurut,oke?"
"Hmm..."
"Nanti Kakak beliin makanan."mata bocah itu langsung berbinar.
"Bener?"lea mengangguk,bocah itu akhirnya mengangguk pasrah.
"Oke."
"Good."lea mengacak pelan rambut bocah itu hingga berantakan.
Lea kemudian berdiri sambil menarik tangan Syakila."Yuk."syakila melambaikan tangan kepada adiknya.
"Dadah."bocah kecil itu hanya mendengus pelan.sementara lea sudah lebih dulu menyeret syakila keluar rumah.
Begitu keluar dari rumah,langkah syakila langsung terhenti.di depan pagar sudah terparkir satu unit mobil berwarna hitam yang terasa begitu familier.
Syakila menunjuk mobil itu."Itu...mobilnya bang Zaendra,kan?"
Lea menoleh sekilas lalu mengangguk santai."Yoi."
Mata Syakila langsung membulat."Lea... lo bawa Bang zaendra juga?"
Lea mengangguk tanpa bisa menyembunyikan senyumnya."Gue mau kakak gue ikut.sekalian...."ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal."Jalan-jalan. jarang-jarang tuh dia mau diajak jalan."
Syakila langsung menyikut pelan lengan sahabatnya.
"Cieee...jadi ceritanya malam ni lo mau ngedate lah sama dia?!"lea hanya terkekeh.
Syakila terus menggoda sahabatnya itu membuat lea menutup wajahnya sebentar karena malu."Lo tahu, kan?di pasar malam itu ada bianglala."
"Iya."
"Katanya kalau naik bianglala bareng orang yang kita suka..."
Lea berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih pelan.
"hubungannya bisa langgeng,bahkan berjodoh."
Syakila langsung tertawa kecil."Lo percaya tahayul begitu?"lea mengangkat kedua bahunya.
"Nggak sepenuhnya sih."
"Tapi?"
"Tapi nggak ada salahnya kan kalau dicoba."syakila kembali tertawa.ia menepuk pelan pundak Lea."Semoga berhasil."
Lea tersenyum lebar."Amin,doain teman lo ini biar nggak jomblo lagi."
"Iyelah tu."ucap syakila dengan nada malas, sambil terkekeh.
"Semoga doa lo terkabul."
"Amiiin."
Mereka berdua masih tertawa kecil hingga berjalan mengitari mobil.lea membuka pintu belakang lebih dulu.syakila menyusul masuk dan duduk di sampingnya.
Dari balik kaca spion,laki-laki yang memilki nama lengkap Zaendra Valeon Ezra.memperhatikan tingkah dua gadis itu yang sedari tadi tidak berhenti tersenyum.
Entah sedang membahas apa.yang jelas, suasana di kursi belakang terasa sangat ramai.
Zaendra ikut tersenyum tipis."Sudah siap?"
"Siap!" jawab Lea penuh semangat.
Zaendra mengangguk pelan."Baguslah."
"hah?"
"Kalian sangat menikmati hari ini,senyum kalian tampak sangat manis." hal itu membuat lea langsung salah tingkah.sementara syakila hanya menahan tawa melihat ekspresi sahabatnya.
Sebelum menyalakan mesin mobil, zaendra kembali menoleh ke arah mereka melalui kaca spion.
"Pasang sabuk pengamannya,nona-nona manis."nada bicaranya tetap tenang dan ramah.
"Keselamatan lebih penting daripada apa pun."
"Iya,kak."syakila segera menarik sabuk pengaman dan memasangnya.
"Makasih udah ngingetin."
"Sama-sama."
Di sampingnya,lea justru senyam senyum sambil memasang sabuk pengamannya sendiri.melihat tingkah adik tirinya yang terus tersenyum sejak tadi,zaendra hanya menggeleng pelan.
Sepertinya...
Perjalanan menuju pasar malam malam ini akan jauh lebih ramai dari biasanya.
Tak butuh waktu lama,mobil itu akhirnya memasuki area parkir pasar malam.
Lampu warna-warni menghiasi setiap sudut, diiringi alunan musik yang terdengar dari kejauhan.suasana malam itu begitu ramai oleh para pengunjung.
Begitu turun dari mobil,syakila langsung menyapu pandangannya ke sekitar.tak jauh dari pintu masuk,dua sosok yang ia tunggu sudah berdiri di sana.
Melisa dan zayyan.
Mata syakila tanpa sadar lebih dulu tertuju pada melisa.malam itu melisa mengenakan dress berwarna biru muda di atas lutut yang dipadukan dengan cardigan rajut berjaring berwarna putih. penampilannya tampak anggun sekaligus modis.
Terlihat sangat cantik.
Lalu pandangannya bergeser kepada zayyan.laki-laki itu mengenakan kemeja biru muda dengan lengan yang digulung hingga siku, dipadukan celana kulot berwarna cream.
Entah kebetulan atau memang disengaja...warna pakaian mereka terlihat begitu senada.
Dari kejauhan saja sudah tampak serasi.dada Syakila tiba-tiba terasa sesak,ia menunduk pelan.
Cantik dan ganteng,sangat sempurna.pantes aja mereka kelihatan cocok.tanpa sadar,syakila mulai membandingkan dirinya sendiri.
Dress sederhana yang tadi membuatnya begitu percaya diri,mendadak terasa biasa saja.bahkan ia tak lagi mendengar percakapan yang sedang berlangsung.pikirannya sibuk dipenuhi rasa minder.
Sampai sebuah suara membuyarkan lamunannya."Syakila?"ia mendongak.
Zayyan sedang menatapnya sambil tersenyum tipis.
"Malam ini lo kelihatan beda."syakila berkedip,mulutnya tak bisa mengeluarkan sepatah kata.
Tiba-tiba lea langsung menyenggol pelan lengan zayyan"Cantik,kan?"
Zayyan mengangguk tanpa ragu."Iya."wajah syakila seketika memanas.rasanya panas itu menjalar sampai ke telinga.
"Ma... makasih."ia buru-buru mengalihkan pandangan karena tidak sanggup menatap mata zayyan lebih lama.jantungnya kembali berdetak tidak karuan.saat itulah pandangannya menangkap sosok lain yang baru datang.
Seorang pria bertubuh tinggi berjalan santai ke arah mereka dengan kaos putih membalut tubuhnya,dipadukan jaket kulit berwarna hitam yang dibiarkan terbuka.celana kargo hitam dan topi yang menutupi sebagian rambutnya membuat penampilannya terlihat semakin dingin.
Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku seolah tak peduli dengan keramaian di sekitarnya.netra hitam itu saling bertatapan dengan manik coklat syakila.
Bersambung~