Pura-pura menjadi orang miskin malah mempertemukan Ruby dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan sombong bernama Melvin.
Bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak berdaya diejek dan ditindas orang lain karena menyembunyikan identitasnya?
Lelaki itu tersenyum sinis seakan merendahkan, "Heran kampus bisa menerima mahasiswa jorok seperti ini. Miskin lagi. Ini kampus atau yayasan sosial. Mekanisme yang aneh."
"Hahaha.... Kata-katamu kejam sekali, Vin. Kasihan dia masih baru di sini. Nanti kena mental."
Belum tahu saja mereka kalau orang yang sedang dihina juga anak seorang pengusaha besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoy Dandelion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAKAN SATE DI PINGGIR JALAN
"Ini pasti pertama kali kamu makan di pinggir jalan, ya?"
Rei tersenyum dan mengangguk.
Ruby merasa tak enak hati memaksa Rei untuk ikut makan sate bersamanya di sebuah warung tenda pinggir jalan. Awalnya Rei ingin mentraktirnya makan di restoran, namun ia menolak karena sedang ingin makan sate. Rei tampak ragu-ragu ketika mengambil makanannya.
"Apa kamu biasa makan di sini?"
"Iya, ini salah satu tempat makan favoritku. Kalau menurut selera lidahku, rasa makanan di sini enak."
"Ya, aku rasa juga enak."
Rei tampak masih bingung bagaimana cara makan sate dengan tusukannya, sementara di hadapannya juga ada piring berisi nasi dan sambal yang terpisah.
"Rei.... Kalau makan di sini tidak perlu memikirkan table manner, kok. Nggak ada cara makan yang salah yang penting kenyang."
Ruby tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa melihat kebingungan Rei.
"Lihat ini, Rey. Kamu bisa melepaskan daging dari tusukannya dulu dimasukkan ke dalam sambal lalu dimakan dengan nasi seperti ini." Ruby memberi tahu sambil mempraktikkan secara langsung.
"Tapi kalau aku sih cara makan favoritnya seperti ini."
Ruby menyiramkan bumbu di atas nasi lalu ia sendokkan ke dalam mulut. Lalu, ia gigit daging yang masih ada pada tusukkan dan dikunyah bersama nasi di dalam mulut. Ia kelihatan begitu bahagia menikmati makanannya.
Sementara Rei memilih untuk melepaskan daging dari tusukannya terlebih dahulu seperti cara pertama yang diajarkan Ruby. Ini memang pertama kalinya ia makan sate dan tepat di pinggir jalan. Suara bising kendaraan di jalanan juga menjadi musik pengiring selama mereka makan.
"Bagaimana rasanya?"
"Ini enak." Rei mangguk-mangguk sembari mengunyah makanannya. Ruby bisa tersenyum, ternyata Rei menyukai makanan yang direkomendasikannya.
"Aku kira kamu kerja di restoran setiap hari juga makan di sana atau diberi jatah makan dari sana juga."
"Hahaha.... Kalau seperti itu, Mas Hardi nanti bisa bangkrut."
"Mas Hardi itu siapa?"
"Pemilik restoran tempat aku kerja."
"Oh.... " Rei sudah mengira yang tidak-tidak.
"Katanya kamu mau ikut program summer school di Harvard, ya?"
Rei mengerutkan kening hingga kedua alisnya hampir bertemu, "Kok kamu bisa tahu?"
"Hahaha.... Siapa sih yang tidak tahu kalau sudah menyangkut tentang seorang Reino? Di kampus hampir semua orang membicarakannya. Katanya kamu sudah mendaftar untuk summer school di sana."
"Padahal aku tidak pernah mengatakan kepada orang-orang. Paling hanya teman dekat dan keluarga saja yang tahu."
"Jadi aku tidak termasuk teman dekatmu ya, sampai aku harus tahu dari orang lain." Ruby menggigit satenya dengan sedikit kesal karena merasa bukan orang yang cukup penting untuk Rei.
"Tidak begitu juga. Aku sudah lama mendaftar, bahkan sebelum kamu pindah ke kampusku. Dan pemberitahuannya memang baru aku dapatkan beberapa hari yang lalu. Reporter mana yang bisa cepat sekali menyebarkan berita seperti itu?"
"Hem, di kampus banyak lambe curah jangan salah. Apalagi fans kamu juga banyak."
"Kamu salah satu fans-ku juga nggak?"
"Emmm.... Ya, bisa jadi."
"Mau ikut denganku nggak?"
"Kemana?"
"Ke US, ikut summer school di Harvard."
"Ada-ada saja! Aku kan belum mendaftar."
"Tidak apa-apa, kan.... Kamu bisa tinggal di apartemen, menungguku pulang dari kampus."
"Maksudmu jadi pembantu?"
Rei senyum-senyum, "Jadi istri juga boleh." godanya.
"Oh My God, ada-ada saja!" Ruby hampir terlena mendengar candaan seperti itu. Wajahnya saja sedikit memerah. "Kalau program summer school seperti itu berapa lama?"
"Sekitar dua atau tiga bulan sih."
"Cukup lama, ya." sebenarnya dalam hati Ruby merasa sedih. Selama itu tidak akan ada Rey di dekatnya. Padahal Rei satu-satunya orang yang membuatnya nyaman di kampus. Dia juga sangat baik suka membantunya mengerjakan tugas.
"Tidak lebih lama jika dibandingkan dengan program exchange student."
"Nah, iya. Kalau program exchange student perlu waktu satu semester atau sekitar setengah tahun."
"Makanya aku juga lebih memilih summer school. Supaya tidak terlalu lama meninggalkanmu juga."
"Kasihan kan, anak baru yang satu ini selalu kebingungan kalau mengerjakan tugas." sindirnya.
"Terima kasih ya, atas bantuannya selama ini.... "
"Sama-sama.... Lagipula sekarang juga sedang kamu traktir makan begini. Jadinya impas."
"Lain kali ajak aku makan di tempat favoritmu yang lain, oke?"
"Yakin, mau makan di tempat seperti ini lagi?"
"Tentu."
"Mudah-mudahan kali ini tidak membuatmu sakit perut, ya.... Soalnya ini pertama kali kamu makan di pinggir jalan."
"Hahaha.... Iya, aku harap juga aku akan baik-baik saja. Soalnya makanan ini enak, hanya tempatnya saja yang.... You know.... Banyak polusi."
Ruby tersenyum.
"Pak.... Harga satu porsi sate ayam berapa, ya?"
Seorang anak perempuan berusia sekitar sepuluh tahunan dengan menggandeng adiknya yang masih kecil datang menemui pemilik warung tenda. Ruby dan Rei yang ada di sana mau tidak mau menoleh memperhatikan keduanya. Tampilannya terlihat lusuh, sepertinya mereka merupakan anak jalanan.
"Satu porsi 20 ribu, Nak. Kalau dengan nasi 25 ribu."
Raut wajah anak perempuan itu berubah cemberut. Ia memandangi selembar uang berwarna keunguan yang dipegangnya.
"Kak.... Mau sate.... " adiknya merengek sembari menarik-narik baju kakaknya. Seakan menegaskan kalau dia sangat menginginkan makanan itu.
"Pak, kalau sepuluh ribu boleh, nggak?"
"Boleh, tapi cuma dapat satenya saja setengah porsi."
"Tapi saya juga mau ada nasinya, Pak.... " rengeknya dengan wajah memelas.
"Aduh, beras mahal, Nak. Nanti Bapak tidak ada untung. Tadi saja sudah banyak pengamen yang datang."
"Kak.... Sate.... "
"Boleh ya, Pak.... Sate sama nasinya.... Kali ini saja."
Pemilik warung itu tampak menghela nafas, "Tapi satenya tiga tusuk saja, ya.... Nanti saya beri nasi."
"Iya, Pak! Itu juga sudah cukup!" anak itu terlihat bahagia dengan mata berbinar hanya karena dikabulkan permintaannya mendapatkan tiga tusuk sate dengan sebungkus nasi. "Bumbunya ditambahi yang agak banyak, Pak!" serunya sembari memberikan selembar uang yang ia miliki itu.
"Kalian duduk dulu di luar, nanti kalau sudah jadi pesanannya baru masuk lagi."
"Baik, Pak! Ayo, Dek! Kita tunggu di luar!"
Anak itu menuntun adiknya untuk duduk di bangku yang disediakan di luar tenda. Mungkin tujuan dari bapak pemilik tenda agar kedua anak itu tidak mengganggu pengunjung yang lain.
Rei dan Ruby saling berpandangan setelah melihat kejadian itu.
"Rei, tunggu sebentar, ya.... " ucap Ruby seraya berdiri dari tempat duduknya.
Dia berjalan menghampiri bapak pemilik warung yang sedang sibuk membakar daging yang telah ditusuki di atas bara api.
"Pak, saya mau bayar makanan saya."
"Oh, yang meja sebelah sana, ya?" bapak itu melihat ke arah meja Ruby sembari mengipasi sate-satenya.
"Iya, Pak."
"Dua porsi 50 ribu, minumannya gratis."
"Tolong bungkuskan dua porsi juga lengkap dengan nasi untuk anak kecil yang ada di depan." ia berbicara dengan nada lirih agar tak terdengar orang lain.
"Anak yang beli sate sepuluh ribu, ya?"
"Iya. Tolong ya, Pak. Ini uangnya."
"Iya, nanti saya buatkan untuk mereka."
Ruby memberikan senyuman, "Terima kasih, Pak."
"Sama-sama."
Bapak itu tampak kagum memandangi Ruby yang kembali berjalan menuju tempat duduknya. Selama berjualan, ini pertama kalinya ada orang berbuat baik di depannya dengan cara seperti itu.
"Pasti kamu baru bayar makanannya, ya? Tadi kan sudah aku bilang, biar aku saja."
"Memangnya kamu sudah kerja dan punya uang?" cibir Ruby.
"Ya.... Ya belum, sih. Tapi aku rasa uangku lebih banyak dari uangmu."
Ruby tertawa kecil, "Nanti saja kalau kamu sudah kerja baru gantian mentraktirku."
*****
Halo.... Maaf ya, baru update. Authornya agak sibuk ikut mengurusi vaksinasi. Susah cari waktu untuk nulis. Tapi tetap dukung karya ini, ya. Terima kasih 🤗
calon mertua/Tongue/