Satu Hari 5 Bab... bantu saya untuk terus berkarya😎😎
Di Kota Xiang, seorang jenius muda bernama Xiao Ba pernah dipuja sebagai harapan terbesar Keluarga Xiao karena memiliki Akar Spiritual Suci Tingkat 9, bakat langka yang bahkan sulit ditemukan dalam seribu tahun. Namun semuanya berubah ketika akar spiritualnya hancur secara misterius, membuatnya jatuh dari langit ke dasar kehinaan dalam semalam.
Dulu dipuji, kini dihina.
Dulu didekati, kini dijauhi.
Bahkan keluarga yang pernah memohon perjodohan dengannya datang untuk memutuskan hubungan sambil mempermalukannya di depan semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DafToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang Gerhana di Lembah Tengkorak
Mendengar nama lembah itu disebut, ditambah dengan pemandangan batu hitam di tangan Xiao Ba, pupil mata Lin Sha mengecil drastis. Rasa takut yang tadinya bersumber dari ancaman kematian fisik, kini berubah menjadi kengerian eksistensial yang jauh lebih dalam. Tubuhnya yang tinggi kekar mendadak limbung, hingga ia terpaksa bertumpu pada salah satu sisa meja yang masih utuh agar tidak jatuh berlutut.
"Matahari hitam... menelan rembulan..." Lin Sha bergumam dengan suara yang tiba-tiba kering. Tato sisik ular di lehernya tampak bergidik seiring dengan keringat dingin yang membanjiri pelipisnya. "Kamu... bagaimana mungkin bocah dari pesisir sepertimu tahu tentang Sekte Gerhana Abadi?"
Xiao Ba tidak mengerdipkan mata. Nama itu—Sekte Gerhana Abadi—langkah awal yang konkret. "Aku yang bertanya di sini, Lin Sha. Jawab, atau pedangku yang akan merobek sisa jawaban itu dari tenggorokanmu."
Lin Sha menelan ludah dengan susah payah. Ia memandang sekeliling aula; anak buahnya yang tersisa telah melarikan diri lewat jendela belakang, meninggalkan dirinya sendirian dengan monster muda ini. Tidak ada pilihan lain jika ia masih ingin melihat matahari esok hari.
"Dua belas tahun lalu..." Lin Sha memulai, suaranya bergetar rendah sembari matanya melirik waspada ke arah pintu kedai yang terbuka, seolah takut ada dinding yang mendengarkan. "Wuhe belum sekacau sekarang. Saat itu, faksi kami hanya kelompok kecil di pinggiran. Suatu malam, badai salju spiritual melanda Lembah Tengkorak Putih—sesuatu yang tidak wajar karena utara tidak pernah seseding itu. Ayahku, yang saat itu memimpin Fraksi Ular Merah, membawa beberapa tetua untuk menyelidiki, mengira ada pusaka karun yang jatuh."
Pria jangkung itu berhenti sejenak, wajahnya kian memucat saat memori lama itu berputar di kepalanya.
"Tapi mereka tidak menemukan pusaka. Mereka menemukan medan perang pembantaian. Ratusan kultivator berbaju zirah hitam dengan lambang gerhana matahari—Sekte Gerhana Abadi—telah mengepung sepasang suami istri. Ayahku menyaksikan dari kejauhan. Pria dan wanita itu... mereka bertarung seperti dewa dan dewi. Meskipun tubuh mereka sudah dipenuhi luka bakar hitam akibat kutukan racun sekte tersebut, mereka berhasil membantai setengah dari pasukan pengepung."
Xiao Ba mendengarkan dalam keheningan yang mencekam. Di dalam lautan kesadarannya, ribuan bintang berputar lambat, memancarkan hawa dingin yang selaras dengan kemarahan yang mulai membakar relung hatinya. Ia tahu, sepasang suami istri itu adalah orang tuanya.
"Lalu, apa yang terjadi?" desak Xiao Ba, auranya kembali menekan udara di dalam ruangan.
"Pria itu... ayahmu, jika benar dia orangnya... dia meledakkan inti spiritualnya sebagian untuk membuka jalan bagi istrinya," jawab Lin Sha dengan cepat, takut ditebas jika terlambat menjawab. "Wanita itu berhasil menerobos masuk ke bagian terdalam Lembah Tengkorak Putih—ke wilayah kabut abadi yang bahkan tidak bisa dimasuki oleh kultivator Ranah Inti Bumi sekalipun. Sekte Gerhana Abadi tidak mengejarnya ke dalam, melainkan mendirikan segel pembatas di mulut lembah. Ayahku ketakutan dan langsung membawa kami melarikan diri dari daerah itu. Sejak hari itu, Lembah Tengkorak Putih menjadi wilayah terlarang yang dijaga ketat oleh mata-mata sekte tersebut."
Lin Sha menunjuk batu hitam di tangan Xiao Ba dengan jari gemetar.
"Batu yang kamu bawa... itu adalah Batu Pemecah Jiwa, segel pemantau yang dipasang oleh Sekte Gerhana Abadi di sekitar lembah untuk mendeteksi siapa saja yang memiliki garis darah atau hubungan energi dengan sepasang suami istri itu. Bagaimana... bagaimana kamu bisa mendapatkannya tanpa memicu alarm mereka?!"
Xiao Ba menatap batu hitam di tangannya. Ia baru menyadari mengapa batu ini memancarkan hawa panas saat ia mendekati kedai. Bukan karena batu ini merespons Lin Sha, melainkan karena di dalam kedai ini terdapat sisa-sisa energi dari mata-mata Sekte Gerhana Abadi yang mungkin baru saja pergi sebelum Lin Sha datang melakukan pembersihan.
Dan alasan mengapa batu ini tidak meledak atau memicu alarm saat berada di tangannya adalah karena energi murni dari warisan Kaisar Langit di lautan kesadarannya telah menekan fungsionalitas kutukan di dalam batu tersebut secara mutlak. Bagaimanapun, sihir tingkat rendah dari sekte perbatasan tidak akan pernah bisa menembus proteksi sang penguasa langit.
"Di mana markas terdekat dari Sekte Gerhana Abadi ini?" tanya Xiao Ba lagi.
"Mereka tidak punya markas resmi di Wuhe! Mereka terlalu tinggi untuk kota sekotor ini," seru Lin Sha. "Tapi salah satu tetua luar mereka, seorang pria bernama Tetua Gu, mengendalikan Perserikatan Pedagang Karavan Hitam di pusat kota. Dialah yang memasok logistik dan budak ke dalam lembah untuk ritual mereka. Aku sudah mengatakan semuanya! Tolong... lepaskan aku!"
Xiao Ba menatap Lin Sha selama satu detik yang terasa seperti keabadian bagi pria itu.
"Pergilah," ucap Xiao Ba datar. "Bawa saudaramu dan tinggalkan Kota Wuhe sebelum matahari tenggelam. Jika aku melihat lambang Ular Merah lagi di depanku, aku tidak akan mematahkan pedangmu, tapi lehermu."
"T-terima kasih! Terima kasih, Tuan Muda!" Lin Sha tidak membuang waktu. Ia berbalik dan melompat keluar melalui jendela yang rusak, berlari secepat yang diizinkan oleh kakinya, mengabaikan semua harga diri yang tersisa.
Aula Kedai Anggrek Hitam kini benar-benar sunyi, menyisakan Xiao Ba di antara puing-puing dan aroma darah.
Ia berjalan ke sudut ruangan yang agak bersih, menarik sebuah kursi yang masih utuh, dan duduk di sana. Batu hitam itu diletakkannya di atas meja. Informasi yang ia dapatkan jauh lebih besar dan lebih berbahaya dari yang ia duga. Musuh orang tuanya bukan faksi lokal kecil, melainkan sebuah sekte misterius yang tampaknya memiliki pengaruh besar di wilayah utara ini.
Namun, alih-alih merasa gentar, seulas senyum tipis—dingin dan tajam—muncul di sudut bibir Xiao Ba.
Di dalam dadanya, api yang tidak pernah padam sejak ia meninggalkan Kota Beira kini berkobar semakin besar. Mereka mengepung orang tuanya, memaksa ayahnya merusak inti spiritualnya sendiri, dan mengurung ibunya di dalam lembah berkabut.
"Sekte Gerhana Abadi..." Xiao Ba menggumamkan nama itu, suaranya seperti bisikan angin musim dingin yang membawa maut. "Kalian telah menikmati dua belas tahun ketenangan. Tapi sekarang, aku sudah di sini."
Ia memejamkan matanya sejenak, membiarkan Langkah Bayang Langit di lautan kesadarannya kembali stabil, bersiap untuk merajut langkah berikutnya di dalam Kota Tiga Arus ini. Target berikutnya sudah jelas: Perserikatan Pedagang Karavan Hitam. Dan jalan menuju ke sana akan ditulis dengan warna yang sama dengan yang mengalir di lantai kedai ini.
Bab: Menembus Karavan Hitam
Xiao Ba melangkah keluar dari Kedai Anggrek Hitam tepat saat matahari Wuhe mencapai puncaknya. Sinar matahari yang terik memantul di atas jalanan batu hitam, namun hawa di sekitar pemuda itu tetap sedingin es. Informasi dari Lin Sha telah menetapkan arah kompasnya yang baru: pusat kota, tempat di mana Perserikatan Pedagang Karavan Hitam mengakar.
Di Kota Tiga Arus, Perserikatan Karavan Hitam adalah urat nadi ekonomi sekaligus faksi yang paling ditakuti oleh para pedagang jujur. Mereka tidak hanya mengontrol jalur logistik, tetapi juga menyelundupkan barang-barang terlarang, pil spiritual berkualitas rendah yang mematikan, hingga budak kultivator mandiri yang gagal di perbatasan.
Xiao Ba berjalan menyusuri distrik perdagangan utama. Di depannya, sebuah kompleks bangunan megah yang dijaga oleh para prajurit berzirah besi hitam legam berdiri angkuh. Di atas gerbang utamanya, berkibar bendera besar berlambang kereta kuda yang dilingkari rantai.
Markas Perserikatan Pedagang Karavan Hitam.
Dua penjaga bertubuh raksasa di depan gerbang langsung menyilangkan tombak mereka saat melihat seorang pemuda asing dengan jubah hitam berdebu berjalan lurus ke arah mereka tanpa memperlambat langkah.
"Berhenti, Bocah! Ini area terlarang Perserikatan. Pergi sebelum kami mematahkan kakimu!" gertak salah satu penjaga, suaranya menggelegar.
Xiao Ba bahkan tidak mendongak. Di bawah tudung jubahnya, sepasang matanya yang hitam pekat mengunci pintu kayu ek besar di belakang kedua penjaga itu.
Syuut—
Sebelum kedua penjaga itu sempat menyadari apa yang terjadi, tubuh Xiao Ba mendadak kabur. Teknik Langkah Bayang Langit diaktifkan dalam skala kecil. Yang tertangkap oleh mata mereka hanya sekelebat bayangan hitam yang melesat di antara celah tombak.
Bum! Bum!
Dua hantaman telapak tangan yang dilapisi Qi murni menghantam tengkuk kedua penjaga itu secara bersamaan. Tanpa sempat mengeluarkan suara, kedua raksasa itu tumbang ke tanah, pingsan seketika dengan mata mendelik.
Xiao Ba mendorong pintu gerbang kayu ek yang berat itu. Pintu terbuka dengan derit panjang yang sunyi namun mematikan, mengizinkannya melangkah masuk ke dalam halaman dalam markas yang luas.
Halaman dalam itu dipenuhi oleh puluhan kereta barang dan peti-peti kayu yang sedang dimuat oleh para pekerja. Namun, kedatangan Xiao Ba yang tak diundang langsung menghentikan semua aktivitas. Puluhan kultivator pengawal Karavan Hitam yang sedang berjaga segera menghunuskan senjata mereka, mengepung Xiao Ba dalam formasi lingkaran yang ketat.
Dari arah bangunan utama, seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan pakaian sutra mewah bersulam benang emas keluar, dikawal oleh empat kultivator Ranah Pengumpulan Qi Tahap Akhir. Pria tambun itu adalah Manajer Liu, tangan kanan Tetua Gu di Wuhe.
"Siapa kamu? Berani-beraninya membuat keributan di tempat Perserikatan Karavan Hitam!" teriak Manajer Liu, matanya yang kecil berkilat penuh amarah dan keserakahan saat melihat ketenangan Xiao Ba.
Xiao Ba tidak membuang waktu untuk basa-basi. Ia merogoh tas penyimpanannya dan melempar sesuatu ke udara. Benda itu jatuh dan berguling tepat di depan sepatu mewah Manajer Liu.
Itu adalah kepala dari salah satu bandit kepercayaan Lin Sha yang ia bunuh di kedai tadi, bersama dengan Batu Pemecah Jiwa yang hitam legam.
Melihat batu hitam itu, wajah Manajer Liu yang tadinya kemerahan karena marah langsung memucat. Sebagai orang kepercayaan, ia tahu persis apa arti batu itu dan siapa yang memiliki otoritas atasnya.
"Kamu... kamu membawa batu dari Lembah Tengkorak... Siapa kamu sebenarnya?!" suara Manajer Liu bergetar, mundur dua langkah ke belakang pengawalnya.
"Bawa aku menemui Tetua Gu," ucap Xiao Ba datar. Suaranya tidak keras, namun berkat aliran Qi yang terlatih, setiap kata terdengar seperti ketukan palu di gendang telinga semua orang yang berada di halaman itu.
"Sombong! Tangkap dia hidup-hidup! Tetua Gu pasti ingin menguliti bocah ini sendiri!" perintah Manajer Liu histeris.
"Haaa!"
Empat pengawal pribadi di depan Manajer Liu melompat maju secara bersamaan. Mereka adalah petarung yang jauh lebih terkoordinasi daripada bandit Fraksi Ular Merah. Dua di antaranya menyerang bagian atas dengan golok besar, sementara dua lainnya mengincar bagian bawah dengan tusukan tombak kembar.
Xiao Ba menarik napas dalam-dalam. Di dalam lautan kesadarannya, ribuan bintang kembali bergolak, mengalirkan energi yang lebih panas ke seluruh meridian tubuhnya. Ini bukan lagi sekadar pertarungan mempertahankan diri; ini adalah langkah pertamanya untuk menuntut balas atas apa yang menimpa orang tuanya dua belas tahun lalu.
Sret!
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Kota Beira, Xiao Ba menarik pedang tuanya sepenuhnya dari sarungnya.
Bilah pedang itu tidak berkilau mewah, melainkan berwarna abu-abu tua yang kusam. Namun, begitu pedang itu terhunus bebas, atmosfer di halaman markas mendadak turun drastis. Udara terasa mencekam, seolah-olah bilah pedang tua itu adalah pusaran hitam yang siap menelan seluruh cahaya di sekitarnya.
"Tebasan Bintang Sunyi!"
Xiao Ba mengayunkan pedangnya dalam satu gerakan melingkar yang horizontal. Tidak ada ledakan energi yang spektakuler, namun sebuah gelombang tebasan Jian Qi yang tipis dan berwarna perak gelap melesat memotong udara dengan kecepatan yang menembus batas suara.
Sraakk—!
Dua golok besar dan dua tombak kembar terpotong menjadi dua bagian dengan sangat rapi, seolah-olah senjata-senjata baja itu hanya terbuat dari tahu. Tidak berhenti di situ, gelombang energi itu menghantam dada keempat pengawal tangguh tersebut, merobek zirah besi mereka dan melempar mereka mundur sejauh lima meter hingga menabrak kereta barang hingga hancur.
Keempat kultivator Tahap Akhir itu terkapar, batuk darah dengan wajah dipenuhi ketakutan yang tak terlukiskan. Hanya dalam satu tebasan kasual, kekuatan bertarung mereka dihancurkan sepenuhnya.
Manajer Liu jatuh terduduk di lantai batu, tubuhnya yang tambun gemetar hebat seperti jeli. Ia menatap pemuda berambut hitam panjang yang kini berjalan perlahan ke arahnya dengan pedang yang ujungnya meneteskan darah segar ke tanah. Setiap langkah Xiao Ba terasa seperti detak lonceng kematian bagi jiwanya.
"J-jangan bunuh aku... jangan bunuh aku... Aku hanya menjalankan perintah!" ratap Manajer Liu, air mata dan keringat bercampur di wajahnya.
Xiao Ba berhenti tepat di depan Manajer Liu, mengarahkan ujung pedang tuanya hanya beberapa milimeter dari tenggorokan pria itu.
"Di mana Tetua Gu?" tanya Xiao Ba, matanya sedingin jurang maut.
"D-dia tidak ada di kota... Dia pergi ke Lembah Tengkorak Putih tiga hari lalu bersama utusan dari pusat Sekte Gerhana Abadi... Mereka... mereka membawa kiriman 'bahan ritual' baru untuk memperkuat segel lembah!" jawab Manajer Liu tanpa ragu, mempertaruhkan segala informasi demi nyawanya.
Mendengar kata "bahan ritual", kilatan amarah yang dingin melintas di mata Xiao Ba. Sekte ini tidak hanya mengurung ibunya, tetapi juga terus melakukan kekejaman di sekitar wilayah tersebut.
"Bagaimana cara melewati segel penjaga di mulut lembah tanpa memicu alarm?" desak Xiao Ba.
"K-karavan... Ada satu karavan logistik terakhir yang akan berangkat malam ini dari gerbang utara Wuhe. Karavan itu membawa lencana khusus yang dikenali oleh segel. Jika kamu menyamar di dalam karavan itu, kamu bisa masuk tanpa terdeteksi!"
Xiao Ba menatap Manajer Liu selama beberapa saat, memastikan tidak ada kebohongan di mata pria itu melalui persepsi spiritualnya. Setelah yakin, ia membalikkan pergelangan tangannya dan menghantamkan hulu pedangnya ke pelipis Manajer Liu, membuatnya pingsan seketika.
Xiao Ba memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung. Ia menoleh ke arah langit utara yang kini mulai diselimuti awan hitam tebal, pertanda badai salju perbatasan akan segera datang.
pertahankan👌