NovelToon NovelToon
The Aftermath

The Aftermath

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.

Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.

Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.

Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.

Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.

Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.

_🌷_

Happy reading 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#34

Udara sore di dapur Long Island berembus perlahan melalui celah jendela yang sengaja dibuka sedikit.

Adiba masih asyik menikmati es krim vanila madu kiriman Giorgio, sesekali menyuapkan sendok kecil itu ke dalam mulutnya dengan binar mata yang tampak jauh lebih hidup.

Di hadapannya, Giorgio berdiri bersandar pada meja konter, memperhatikan setiap gerak-gerik Adiba dengan ketenangan yang menghanyutkan.

Melihat wadah es krim di tangan Adiba yang mulai kosong, Giorgio terkekeh rendah. "Kulihat seleramu terhadap es krim vanila masih sama persis seperti tujuh tahun lalu, Adiba. Kau selalu menghabiskannya sampai suapan terakhir."

Adiba menghentikan gerakan sendoknya sejenak, lalu mendongak menatap sepasang mata sehitam jelaga milik pria di depannya.

Kata-kata Giorgio tentang 'tujuh tahun lalu' mendadak menarik kembali sebuah untaian memori yang terkunci rapat di sudut kepalanya. Sebuah ingatan tentang kelanjutan dari insiden hukuman konyol di Universitas Washington yang tidak banyak diketahui orang.

"Kau tahu, Gio..." Adiba meletakkan wadah es krim kosong itu ke atas meja, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman nostalgia yang geli.

"Setiap kali aku mengingat masa-masa kuliah, setelah hari orientasi itu, aku selalu merasa menjadi orang paling bodoh sekaligus paling sungkan di seluruh wilayah Seattle."

Giorgio menaikkan sebelah alisnya, berpura-pura penasaran meski dia tahu persis ke mana arah pembicaraan ini akan bermuara.

"Sungkan? Kenapa? Bukankah kau yang dengan berani menantang takdir dan meneriakkan ajakan berkencan di depan seluruh mahasiswa baru?"

Adiba menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan sejenak, merona merah karena sisa rasa malu yang mendadak muncul kembali.

"Jangan mengingatkanku tentang bagian itu! Maksudku adalah... kelanjutan setelah hari itu. Siapa yang menyangka bahwa kata 'oke' yang keluar dari mulutmu hari itu benar-benar menyeretku ke dalam hubungan asmara yang berjalan selama empat bulan penuh?"

Ya, itulah rahasia kecil yang selama ini tersimpan di antara mereka.

Setelah hari orientasi di bawah pohon ek tersebut, berita tentang Giorgio Chiellini—sang pangeran es jurusan bisnis—yang menerima ajakan berkencan dari seorang mahasiswi baru bernama Adiba Abbey langsung menyebar laksana api di musim kering.

Adiba, yang awalnya mengira itu hanyalah lelucon satu hari, mendadak mendapati dirinya terjebak dalam status sebagai 'kekasih' Giorgio Chiellini.

Mereka akhirnya berpacaran selama berbulan-bulan. Namun, hubungan itu berjalan bukan karena Adiba menaruh hati pada Giorgio. Sama sekali bukan.

Adiba bertahan di sisi Giorgio selama empat bulan penuh murni karena rasa sungkan dan ketakutan yang luar biasa. Dia tidak tahu bagaimana cara yang sopan untuk menjelaskan kepada senior tingkat akhirnya itu bahwa ajakan pacaran yang dia lontarkan dengan lantang di lapangan rumput hari itu hanyalah sebuah hukuman konyol dari para panitia orientasi karena dia kalah dalam permainan kelompok.

Apalagi, pada masa-masa itu, obsesi gila Adiba kepada Louis Enver Osborn sedang berada di puncak tertinggi.

Pikirannya, surat-surat cintanya yang tak terkirim, dan tangisannya di kamar asrama setiap malam sepenuhnya didominasi oleh bayang-bayang berandal Queens yang mengabaikannya.

Di tengah badai obsesi gilanya pada Louis, Adiba harus berpura-pura menjadi kekasih yang baik untuk Giorgio hanya karena dia tidak enak hati untuk memutuskan hubungan dengan pria yang selalu memperlakukannya dengan teramat lembut.

Flashback: Tujuh Tahun Lalu – Seattle, Bulan Keempat

Salju pertama musim dingin mulai turun membasahi jalanan setapak di sekitar area kampus Universitas Washington. Adiba berjalan lambat di bawah payung hitam yang sama bersama Giorgio, mendengarkan langkah sepatu bot mereka yang menginjak lapisan es tipis di atas trotoar.

Malam itu, setelah Giorgio mengantarnya pulang hingga ke depan lobi gedung asrama, Adiba menghentikan langkahnya.

Dia meremas gagang payungnya dengan sangat kuat, napasnya berembus membentuk kabut putih di udara dingin. Dia merasa tidak bisa lagi melanjutkan kebohongan ini. Rasa bersalahnya pada Giorgio yang selalu bersikap baik dan protektif kepadanya sudah menumpuk setinggi gunung.

"Gio," panggil Adiba, suaranya sedikit bergetar, bukan hanya karena dingin, melainkan karena debaran ketakutan di dadanya.

Giorgio berhenti melangkah, membalikkan tubuh tegapnya dan menatap Adiba dengan ketenangan yang mutlak. "Ya, Adiba?"

"Aku... aku harus mengatakan sesuatu yang sangat jujur padamu. Dan aku mohon, setelah aku mengatakannya, kau boleh membenciku atau memaki diriku sepuas hatimu," ucap Adiba dengan mata yang berkaca-kaca, menundukkan kepalanya dalam-dalam karena tidak sanggup menatap mata sehitam jelaga milik seniornya.

"Katakan saja," sahut Giorgio lembut, seolah sudah siap menghadapi apa pun.

"Sebenarnya... ajakan berkencan dariku empat bulan lalu di bawah pohon ek... itu bukan karena aku menyukaimu, Gio," aku Adiba dengan satu tarikan napas panjang, air matanya nyaris luruh.

"Aku kalah dalam permainan kelompok saat itu, dan para panitia senior memberikan hukuman untuk mengajakmu pacaran secara singkat, padat, dan jelas. Aku bertahan selama empat bulan ini karena aku terlalu pengecut dan sungkan untuk mengatakan kebenaran ini padamu. Maafkan aku... aku sudah memanfaatkan kebaikanmu."

Adiba memejamkan matanya rapat-rapat, bersiap mendengarkan kemurkaan atau melihat Giorgio berbalik pergi meninggalkannya dalam kemarahan.

Namun, keheningan malam bersalju itu justru dipecahkan oleh sebuah kekehan rendah yang teramat renyah dari bibir Giorgio. Adiba membuka matanya dengan bingung, mendongak menatap wajah tampan pria dua puluh dua tahun itu.

Bukannya marah atau tersinggung, Giorgio justru sedang tersenyum menawan, menatapnya dengan pendar mata yang penuh dengan kilat jenaka.

"Aku tahu, Adiba," ucap Giorgio santai.

Adiba melongo, mulutnya sedikit terbuka. "T-Tunggu... apa? Kau tahu?"

Giorgio melangkah satu langkah lebih dekat, mengambil alih gagang payung dari tangan Adiba yang gemetar, lalu mengusap sisa kepingan salju yang menempel di ujung hidung kekasihnya itu.

"Akulah yang menyuruh panitia senior itu untuk memberikan hukuman seperti itu kepadamu jika kau kalah dalam permainan," bisik Giorgio dengan nada suara yang teramat tenang, seolah sedang membocorkan sebuah rahasia kecil yang tidak berarti.

Adiba membeku laksana patung es di tengah jalanan Seattle. Matanya membelalak sempurna, mencoba mencerna kalimat jahanam yang baru saja keluar dari mulut Giorgio.

"Kau... apa?! Kau yang menyuruh mereka?!"

Giorgio terkekeh lagi, menyelipkan sebelah tangannya ke dalam saku mantel hitamnya.

"Aku sudah mengamatimu sejak hari pertama kau menginjakkan kaki di kampus ini, Adiba Abbey. Dan saat aku melihatmu kalah dalam permainan sore itu, aku tahu itu adalah kesempatan terbaikku. Jadi, aku mendatangi ketua panitia orientasi dan memberikan sedikit 'suntikan dana' untuk kas angkatan mereka, dengan satu syarat: memberikan hukuman itu kepadamu."

Adiba mendadak merasa seluruh dunianya runtuh karena rasa malu sekaligus jengkel yang luar biasa.

Dia merasa tertipu habis-habisan selama empat bulan penuh. Dia mengira dia sedang menjaga perasaan seorang senior yang dingin dan rapuh, padahal kenyataannya, dialah yang sedang menari di dalam jebakan Batman yang dirancang oleh Giorgio Chiellini sejak awal.

"Kau... kau benar-benar licik, Giorgio Chiellini!" pekik Adiba, memukul dada bidang Giorgio dengan tas kuliahnya yang tebal, memicu tawa lepas dari pria itu di bawah guyuran salju Seattle.

Malam itu berakhir dengan tawa riuh mereka berdua yang memecah kesunyian malam asrama.

Rasa canggung, rasa bersalah, dan beban kepalsuan asmara di antara mereka seketika menguap begitu saja.

Hubungan 'pacaran kontrak' mereka resmi berakhir malam itu, namun sebagai gantinya, sebuah hubungan pertemanan baru yang jauh lebih solid dan tanpa sekat mulai terbangun.

Sejak malam itu, Adiba menganggap Giorgio sebagai sahabat, kakak kelas, sekaligus tempat bersandar terbaiknya di kampus—tanpa pernah menyadari bahwa senyuman Giorgio malam itu adalah senyuman seorang pemburu yang rela melepaskan mangsanya sebentar, demi jerat yang jauh lebih besar di masa depan.

Kembali ke Realitas: Dapur Long Island

"Mengingat hal itu sekarang, aku masih merasa ingin menenggelamkan kepalaku ke dalam tumpukan salju, Gio," ujar Adiba, membuyarkan sisa flashback panjang di antara mereka dengan tawa renyah yang menghidupkan atmosfer dapur.

Giorgio hanya tersenyum tipis, matanya tidak sedetik pun beralih dari wajah cantik Adiba. "Tapi setidaknya, trik licikku malam itu berhasil membuat kita menjadi teman baik selama bertahun-tahun, bukan?"

"Ya, teman baik yang suka menipu juniormu sendiri," sahut Adiba manja, mengembalikan sendok es krimnya ke atas meja marmer.

Setelah sesi bernostalgia yang ringan dan penuh tawa itu selesai, Giorgio membantu Adiba merapikan sisa-sisa wadah es krim ke dalam lemari pendingin besar di sudut dapur.

Gerakan mereka berdua terlihat begitu sinkron, memancarkan kenyamanan alami yang tidak pernah Adiba rasakan selama dua tahun pernikahannya dengan Raynazh Osborn, ataupun selama malam-malam penuh ketegangan batin bersama Louis di Brooklyn.

Namun, kenyamanan yang dirasakan Adiba saat ini adalah sebuah kenyamanan di atas lapisan es yang tipis.

Begitu seluruh pekerjaan merapikan dapur selesai dan Adiba berjalan mendahuluinya menuju ruang tengah untuk menemui Eleanor, langkah Giorgio melambat.

Di koridor remang-remang yang menghubungkan dapur dan ruang keluarga, pria berusia dua puluh sembilan tahun itu menghentikan gerakannya sejenak.

Sepasang mata sehitam jelaga milik Giorgio Chiellini seketika kehilangan pendar ramahnya. Kabut kegelapan yang sarat akan obsesi murni kembali merayap naik, memenuhi pandangan matanya saat dia menatap punggung Adiba yang berjalan menjauh.

Dia tersenyum gila di dalam kesunyian koridor itu. Sebuah senyuman kepuasan yang teramat pekat dari seorang dalang yang melihat semua bidak caturnya bergerak sesuai dengan garis rekayasa yang dia buat sejak tujuh tahun lalu di Seattle.

“Kau mengira aku melepaskanmu malam itu , Adiba?” batin Giorgio berbisik dengan getaran kegilaan yang terstruktur rapi. “Tidak. Aku tidak pernah melepaskanmu sedikit pun. Aku hanya sedang membiarkanmu bermain dengan cinta ilusimu pada Louis Osborn, membiarkanmu merasakan luka dari berandal itu, agar pada akhirnya... kau menyadari bahwa satu-satunya pelukan yang aman dan tidak akan pernah melukaimu adalah pelukanku.”

Giorgio mengepalkan jemari tangannya di dalam saku celananya, merasakan pendar kemenangan yang kian dekat.

Pertemuannya dengan Adiba di swalayan hari ini, undangan makan siang dari Eleanor, dan tawa bernostalgia di dapur tadi adalah langkah awal yang sangat epik dari fase kedua rencana besarnya.

Dia telah berhasil menghapus kecanggangan di antara mereka, menempatkan dirinya kembali sebagai sosok 'pria aman' di hidup Adiba, tepat di saat pertahanan mental wanita itu sedang runtuh akibat pengkhianatan keluarga Osborn.

"Giorgio? Kenapa kau melamun di sana? Ayo, Mami sudah membuatkan teh herbal baru di ruang tengah!" panggil Adiba dari ujung koridor, membalikkan tubuhnya menatap Giorgio dengan senyuman tulus.

Seketika itu juga, sakelar emosi Giorgio bekerja tanpa cela. Tatapan predator penuh obsesi di matanya lenyap dalam sekejap mata, digantikan oleh senyuman hangat seorang sahabat lama yang selalu bisa diandalkan.

"Aku datang," sahut Giorgio dengan suara baritonnya yang tenang, melangkah lebar menyusul Adiba masuk ke dalam ruang tengah keluarga Abbey, siap melanjutkan permainan manipulasinya yang paling agung di bawah langit New York.

1
nayla tsaqif
Andai mulutmu tidak beracun,, q masih mengasihimu louis,, selamat kamu akan jd biksu,, 😌
Ros 🍂: biksu 😭
total 1 replies
nayla tsaqif
Tadinya sempet kasihan sama babang gio,, benihnya tumbuh tp bukan yg buka segel,, ehh ternyata,, 🤭🤭makin kasihan sama louis,, dah lahh sama keket aja kamu,,
Ros 🍂: Haha author minta maaf sama Louis 🤣🤭🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Pada ribut sendiri,,, baby nya lg anteng nohhh di masakin bpknya kandungnya,, 😌
Ros 🍂: awowkwkw🤭🤣
total 1 replies
Agus Hidayat
akhirnya Louis jadi kentang
Ros 🍂: enakan di bakar kak 🤣😭
total 3 replies
Agus Hidayat
ya Allah kak sadis banget sampai ngeri ngebayanginnya
Ros 🍂: nanti dibuat masih hidup kak🤭🤣
total 1 replies
Agus Hidayat
aku tetap di pihak bang Gio entah dari awal baca udah GK suka sama karakter louis🙏 makanya seneng banget ketika datang tokoh baru dengan karakter yg lebih kuat😍😍
Ros 🍂: Huhuhu 🤭
total 1 replies
Agus Hidayat
kasihan banget ya si Louis ketipu mentah mentah tapi aku suka🤣🤣🤣🤣 rasakan itu🤭
Ros 🍂: Kak bisa-bisanya kita tertawa diatas penderitaan Babang Louis 🤭🤣🤣
total 1 replies
Agus Hidayat
waduh sesuatu banget ya tapi aku suka KLO bang Gio jadi yg pertama sungguh ini benar2 manipulatif tingkat dewa😍
Ros 🍂: Author Bahagia kalo reader bahagia 🤭🤣🥰
total 1 replies
Agus Hidayat
ya pada perang sendiri padahal bayinya udah ma daddynya🤣🤣🤣
Ros 🍂: ma'aciww kak 🫶
total 3 replies
nayla tsaqif
Semoga lekas sembuh,, 😊
Ros 🍂: ma'aciww ka🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
semoga lekas sembuh kak😍😍
Ros 🍂: ma'aciww kakak 🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Gaskennn,bang gio,, segera sah kan mbk adibanya,, biar louis ketar ketir anak yg di kira miliknya punya calon bpk,, 🤭
Ros 🍂: Ku kira anakku, ternyata bukan anakku😭🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
akhirnya ketemuan juga gasken bang gio gercep sekali babang yg satu ini😍😍😍
Ros 🍂: Ahahaha 🤭
total 1 replies
Agus Hidayat
next😍😍😍
Ros 🍂: siap kak🥰
total 1 replies
nayla tsaqif
Plotwist yg sangat mengejoet kn,,?? Diatas si gila adiba masih ada yg lbh gila,, babang giogio,, 😌
Ros 🍂: Reader aman ? 🤭🙏🏻
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
wauuu aku sungguh tergiorgio Giorgio ini ma sama kayak yg aku haluiin Thor kerennn pakai kebangetan thanks kak udah datengin makhluk yg sama GK warasnya kayak Adiba😍😍👍👍👍
Ros 🍂: Huhuhu Ma'aciww ya kak 🫶🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
😍😍😍😍😍
Ros 🍂: uhuhuyyy🥰🫶
total 1 replies
Debu Nakal
sungguh diluar nurul 😱😱😱
Ros 🍂: biar Author lanjutkan 🤭🤣
total 3 replies
Agus Hidayat
sorry kak typo othor maksudnya bukan tohir🙏🤣🤣🤣
Ros 🍂: santai kak hehehe😅
total 1 replies
Agus Hidayat
wauu sungguh plot twist yg sangat sangat😍👍 GK bisa berkata kata kerennnnn pakai banget suka semua karya Tohir semuanya best😍😍😍😍😍
Ros 🍂: iiiih thankyou kak🫶 sehat-sehat ya 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!