NovelToon NovelToon
Oh My Ex-Husband

Oh My Ex-Husband

Status: tamat
Genre:Nikahkontrak / Perjodohan / Militer / Tamat
Popularitas:447.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: Fara Dela Sandi

WARNING : CERITA INI MENGURAS EMOSI SAMPAI TUTUP PANCI AKAN IKUT MELAYANG! BERMENTAL LEMAH HARAP JANGAN BACA. TAKUT DARAH TINGGI NAIK MENDADAK😈


Bercerai? Itulah satu permintaan Kaiden. Selama tiga tahun, mereka tidak bersinggungan. Tiba-tiba Kaiden suami kontraknya itu lontarkan. Devina Deborah, merasa tidak bisa melepaskan Kaiden Louis. Perempuan cantik itu memiliki perasan pada sang suami.

Ia memberikan persyaratan. Dalam kurun waktu 3 bulan. Jika Devina tidak mampu menggoyahkan hati Kaiden untuknya. Maka ia bersedia menandatangani surat cerai tanpa perlawanan. Mampukah Devina menaklukkan hati Kaiden. CEO angkuh yang malah jatuh cinta pada Dokter berdarah Rusia-Indonesia itu? atau malah harus terpaksa menandatangani surat perceraian. Dan pergi dengan mengibarkan bendera, pertanda menyerah.

Simak terus kisahnya di sini. Jangan lupa simpan di perpustakaan untuk mendapatkan update tiap harinya. Dan jangan follow akun Ig author di "Dhanvi Hrieya"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fara Dela Sandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32. JANGAN MENYERAH!

Tirai putih itu melambai-lambai. Devina hanya menatap nanar ke arah pemandangan di luar sana. Seindah apapun pemandangan di luar sana. Devina tidak merasakan hal yang sama. Wanita ini sudah tiga hari merenung dan merenung. Seperti hari ini. Ia kembali melanjutkan kegiatannya. Sarapan siang di atas meja kembali tidak disentuh sama sekali oleh Devina.

Wanita ini terus berpikir. Kehidupan seperti apa yang sebenarnya sedang ia jalani. Bagaimana ke depannya? Apakah ia benar-benar harus mengakhiri hubungannya dengan Kaiden. Devina mendadak dilema. Amarahnya sudah surut. Namun pikirannya masih saja semerawut.

Devina tidak memikirkan entah bagaimana dengan kedua mertuanya yang ada di Indonesia. Karena waktu kepulangannya dan Kaiden adalah hari ini. Apakah Kaiden akan berbohong pada ibu dan ayah mertuanya. Mungkin saja, begitu. Devina tersenyum miris membayangkannya.

TOK!

TOK!

TOK!

Tiga ketukan terdengar. Devina menoleh ke arah samping. Menatap ke arah pintu yang tertutup. Pasti Max, pemuda gagah itu beberapa kali mengunjungi dirinya dengan cara yang sama. Mengetuk pintu dari luar kamar. Devina kembali menoleh ke depan. Melanjutkan lamunannya. Yang entah kapan usai.

"Deviana! Buka pintunya. Sampai kapan kau akan begini?" teriak Max di luar pintu masuk.

Devina tidak menyahut. Wanita itu mendadak menulikan pendengarannya. Angin siang berhembus menyejukkan dirinya. Gedoran kembali terdengar. Devina masih tetap abai. Beberapa kali engsel pintu terlihat bergerak. Sebelum bunyi lubang kunci berderit.

KLIK!

Pintu kamar yang dihuni oleh Devina terbuka lebar. Max masuk dengan ekspresi penuh emosi. Menyoroti satu arah saja. Diman sang wanita dicintai masih terlihat sama. Tidak ada pergerakan. Max terlihat frustasi melihat keadaan Devina.

Kedua kaki panjang itu melangkah mendekati sang wanita. Setiap langkah itu tampak sangat terburu-buru. Hingga ia sampai di samping Devina.

"Masih tidak makan?" tanya Max dengan nada berat.

"Apa urusanmu?" balas Devina tanpa harus mendongak menatap Max yang berdiri di samping sofa.

"Kau mau mati?"

"Ya, aku mau mati."

"Kalau begitu, ayo! Mati saja!" balas Max muak.

Pemuda itu menarik kasar tangan Devina. Membuat tubuh itu langsung berdiri dari posisi duduknya. Max menarik-narik kasar tangan Devina. Sampai mereka berada di balkon hotel. Jalan di bawah sana terlihat ramai lancar. Angin besar menerpa wajah cantik Devina membuat rambut yang digerai melambai-lambai.

"Ayo! Terjun dari sini!" titah Max dengan nada marah.

Devina hanya diam. Tidak bersuara.

"Dari pada kamu jatuh sakit menyusahkan Ayah dan Ibumu. Lebih baik, kau benar-benar bunuh diri di sini. Permudah pria itu dan wanita selingkuhannya menikah. Dengan berita, Devina Debora desainer perusahaan Lounge company bunuh diri. Karena suaminya selingkuh. Mereka hanya akan dihujat satu bulan lebih. Sebelum bahagia seumur hidup. Itu yang kau mau, kan!" kesal Max dengan suara mengelar.

Tubuh Devina bergetar hebat. Membayangkan dua orang itu bahagia. Tidak, Devina tidak akan membiarkannya. Tidak. Tidak akan pernah. Mimpi! Hanya itu yang akan mereka raih. Devina bukan perempuan yang benar-benar mampu membalas keburukkan dari orang lain padanya dengan kebaikan.

Ia bukan tokoh dalam sinetron. Yang akan tetap baik meskipun telah dilukai sedalam itu. Kepala Devina mengeleng cepat.

"Tidak, Max! Aku tidak mau!" tolak Devina.

Max menghembus nafas lega. Tangan pemuda itu kembali menarik Devina masuk ke dalam ruangan kamar. Menghempas kasar Devina di atas sofa. Tangan Max bergerak cepat merogoh saku celananya. Mengeluarkan ponsel mahal.

Telpon pipih itu ditempelkan di daun telinganya.

"Bawakan sarapan baru. Bawa sup ayah hangat sekalian!" seru Max saat sambungan telpon terhubung dan disahut.

Max menutup telpon sepihak. Mata tajam itu melirik sang pujaan hati. Wanita itu tampak mulai terlihat secercah cahaya kemarahan. Membayangkan Kaiden dan wanita ular itu bahagia. Darah Devina mendadak mendidih sampai ke ubun-ubun. Bahagia? Jangan pernah harap.

"Max!" panggil Devina lirih.

Max melirik Devina lambat."Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Max pelan nyaris berbisik.

"Bisakah kamu membantuku?"

"Aku selalu di sisimu, Devina. Hanya kamu yang tidak pernah merasa aku ada di sisimu!"

"Maaf, Max!"

"Tidak masalah. Bukankah pihak yang sangat mencintai itu adalah pihak yang paling dalam mendapatkan luka?"

Devina bungkam mendengar perkataan Max. Benar. Pihak yang paling mencintai dan paling mendapatkan luka paling dalam. Karena semua hal yang mereka punya dicurahkan tanpa terkecuali dan tanpa pamrih. Saat apa yang diharapkan tidak sesuai dengan semua yang sudah diberikan. Pihak yang paling mencintai akan paling hancur.

Seperti saat ini. Devina terlalu mencintai Kaiden. Namun Kaiden malah tidak mencintai Devina seperti apa yang telah Devina korbankan. Wanita ini mengorbankan hidupnya. Mengorbankan karir dan kebebasannya. Ia rela menjadi bagian dari perusahaan Kaiden. Hanya untuk mendukung Kaiden.

Hanya diam dan diam. Menjadi pendukung Kaiden dari belakang. Dengan harapan ketulusan akan mendapatkan balasan. Bukan harta yang Devina inginkan. Perempuan ini menginginkan hati Kaiden. Hanya hati Kaiden. Tidak lebih dari itu.

Tangan Max terangkat. Namun diturunkan kembali. Ia ingin bisa menyentuh bahu Devina. Namun wanita ini selalu menghindari dirinya. Bahkan saat Devina menjadi kekasih almarhum Tritan.

"Sebentar lagi, makan siangmu akan datang. Makanlah, aku akan meninggalkanmu sendiri di sini," ucap Max pelan.

Max membalikkan tubuhnya. Dan melangkah meninggalkan Devina. Empat langkah kaki panjang itu terlihat. Suara serak Deviana terdengar.

"Terima kasih, Max!" ucap Devina lumayan keras.

Langkah kaki Max berhenti mendadak. Ia melirik kecil ke belakang. Senyum tulus itu terlihat.

"Berterima kasihlah, disaat kau sudah merasa bahagia, Dev!" sahut Max sungguh-sungguh.

Devina mengangguk kecil. Max melangkah kembali. Dengan hati lega. Teman kecilnya sudah kembali memanggil namanya lebih hangat dari sebelumnya. Max bahagia.

...***...

"Di mana Devina?" Maria melirik ke seluruh penjuru rumah.

Wanita paruh baya ini sengaja datang ke rumah sang putra bungsu. Hanya untuk bisa bertemu dengan sang menantu terkasih. Hanya ingin bertanya dengan lebih leluasa bagaimana liburan keduanya.

"Ah, itu. Dia sepertinya langsung ke tempat Nia," dusta Kaiden.

"Hah? Nia? Dia sahabatnya itu?" tanya Maria.

Kaiden mengangguk patah-patah. Sulit sekali berbohong ternyata. Wajah Maria terlihat kecewa.

"Kok nggak langsung istirahat sih? Kan baru pulang."

"Katanya anak Nia mendadak sakit, Mah!" bohong Kaiden kembali.

Maria mengangguk kecil meskipun wajahnya sedikit kecewa.

"Lalu bagaimana dengan liburan kalian berdua?" tanya Maria.

Wajah yang tadi terlihat kecewa langsung berubah bahagia saat menanyakan bagaimana liburan Kaiden dan Devina.

"Baik," sahut Kaiden kembali.

"Baik?" Maria mengulang kembali ucapan Kaiden dengan sebelah alis mana naik ke atas.

Jawaban itu. Hanya baik, Maria sedang tidak bertanya kondisi sang putra bungsu. Maupun sang menantu. Malah jawabannya baik.

"Apanya yang baik?" lanjut Maria lagi.

Kaiden kelimpungan. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya ingin ditanyai oleh  sang ibu.

Bersambung...

Nah, pusing sendiri kan, Bangkai! 🤭🤭🤭 Bangkai sih, jahat. Mau aja sama yg bekas. Mending mutunya bagus. Mana bekas dan tak bagus lagi😬😬😬

...

...

...~Max Prasetyo~...

...Usia : 26 Tahun...

...CEO King Hotel...

...Sayang nggak sih? CEO seganteng ini ditolak 🥴 kalau Deviana gak mau. Author mau kok sama, Max. Nggak nolak lagi🤭🤭...

1
Sala Wati
rasain kaiden mkanya jgn egois 🤭
Sala Wati
aduh saya juga mau
Woro Wardani
Luar biasa
Laurentia Delimarta
dlu dia yg mau cpt2 cerai, skrng mala ga mau
Laurentia Delimarta
jgn bucin Dev nanti susah sendiri, hea tegae d dpn Kaiden
Laurentia Delimarta
jahat banget, yg 1 pelakor
KarmilaFatiyah Hudong II
aaku suka kok sma kaiden...mudhan dia mncintai jane
nuning 29
ini serius, sekelas CEO yang punya gedung tinggi, naik mobil sekelas Avanza?
hehe ...
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
cerita yg luar biasa
v_cupid
yg cerita lain ada kah yg bukan mafia
v_cupid
mw yg lain..
v_cupid
mw cerita yg lainnya.. yg sama bagusnya dgn ini thor...
v_cupid
baguslah bs bangkit dan membuat kaiden sangat sakit.. begitulah.. br menyesal saat sudah tidak memiliki
v_cupid
kaiden kok ga curiga ya knp bs semua mnm obat tidur.. siapa yg membantu Devina kabur.. secara tdk mgkn melakukan semua itu sendiri
v_cupid
gmn mw hamil.. org masih perawan sebelum ke bali
v_cupid
kalo dulu pasti akan bahagia sekali
v_cupid
..
Ida Susmi Rahayu Bilaadi
bagus
v_cupid
just happy with devina kaiden.. don't get disturb with arumi
v_cupid
..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!