Menjadi cantik dan berprestasi bukan sebuah jaminan memiliki kehidupan yang baik. Alina gadis yatim piatu berparas cantik juga salah satu primadona kampus dengan banyak prestasi harus menerima takdirnya yang buruk.
Alina tidak menyangka bahwa akibat dari cinta satu malamnya yang tidak di sengaja bersama Presdir kejam bernama Revan menuai hinaan dan hujatan dari orang disekitarnya karena telah berbadan dua...
Diharapkan untuk pembaca agar bijak dalam menanggapi tulisan ini 😁😁😁
bagi yang belum cukup umur jangan intip intip ya..☺️☺️☺️🌺🌺🌺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vinyfillah☺☺, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengalaman Pertama (Part 2)
"Jangan memandangku seperti itu, Kau akan semakin jatuh cinta padaku nanti. Kau bisa rugi besar Kak Revan!"
"Rugi? Kenapa rugi! Justru aku beruntung jatuh cinta padamu Alina." Ucap Revan yang memeluk Alina dari belakang.
"Kenapa kau merasa beruntung?"
"Karena kau punya banyak kelebihan, dan semua itu sesuai porsinya.!"
"Maksudmu?"
"Kelebihanmu yang membuatku sangat tergila-gila padamu."
"Kelebihan apa sih! Jangan main tebak-tebakkan deh."
"Kelebihan disini." Ucap Revan meremas pay***ra Alina yang besar dan berisi. "Dan disini." Ucapnya lagi tersenyum meremas gemas bokong Alina yang padat dan semakin montok.
"Kau! Dasar orang mesum!" Umpat Alina merasa malu.
"Aku serius! Apa kau tahu semua kelebihanmu itu pas sesuai porsinya." Ucap Revan tersenyum jail dan semakin merapatkan tubuhnya pada Alina.
"Apa yang kau lakukan." Jengah dengan kelakuan Revan.
"Shitt!! Dia malah berdiri!" Umpat Revan pada dirinya sendiri.
"Kau!!" Alina tiba-tiba terkejut ia merasa ada sesuatu yang menyodoknya dari belakang.
"Haiiisshh... Aku mandi dulu." Ucap Revan. "Harus meredam keinginanku dengan air dingin, sial!!" Batin Revan. "Puasa... Puasa.." Teriak Revan sengaja agar tersengar oleh Alina yang membuat gadis itu tertawa.
Selesai mandi Revan mendekati ketiga bayinya yang sedang tidur nyenyak di box bayi. Sementara Alina juga tertidur sangat lelap di tempat tidur samping box bayi mereka.
"Kau pasti sangat kelelahan setelah semua proses yang menyakitkan itu." Ucap Revan sambil mandang wajah cantik Alina yang semakin terlihat menggemaskan dengan pipi chuby nya. "Saat Bidadari kecil kita sembuh nanti aku akan membawamu kembali ke Indonesia dan menghalalkan hubungan kita ini." Ucap Revan sambil mengecup puncak kepala Alina.
Revan ingin pergi mengunjungi peri kecilnya itu tapi sebelumnya ia ingin menemui Dokter yang menangani bayinya untuk menanyakan kondisi si kecil.
"Dok. Gimana sama bayi saya?"
"Untuk saat ini semua masih dalam kondisi yang baik. Kami selalu memantau keadaaan bayi anda, kita berdoa saja semoga Allah memberi kesembuhan dengan cepat." Ucap sang Dokter Spesialis Anak.
"Terima kasih Dokter kalau begitu saya masuk dulu ingin melihatnya." Ucap Revan sopan.
"Sialahka Tuan." Ucap Sang Dokter. Sambil memandang takjub pada Revan yang kini sudah masuk dalam ruangan.
Hati Revan dag dig dug kalau sudah memasuki ruang perawatan peri kecinya sebab ia tidak mampu melihat bayinya yang baru saja lahir harus di pasang alat yang banyak.
"Sayang yang kuat ya. Mamamu sudah melakukan yang terbaik untuk kalian. Peri kecil papa juga harus sama kayak Mama. Papa juga akan melakukan apapun demi kesembuhanmu." Ucap Revan sambil memegang jari-jari mungil peri kecilnya.
Bu Ani yang sejak awal sudah berada diruangan itu terharu mendengar ucapan Revan. Ia sekarang yakin kalau Revan benar-benar mencintai Alina. Keraguannya tentang Revan sejak bertemu kini sudah tidak ada lagi, Ibu Ani yang menyaksikan langsung bagaimana Revan menemani Alina bahkan terus bersama mendampingi Alina layaknya seorang suami yang sedang menemani istrinya melahirkan.
Bahkan Ibu Ani tidak menyangka melihat Revan yang menangis ketika Alina melahirkan bayi pertamanya, begitu juga dengan bayi ke ketiga dan keempat. Hanya ketika pada bayi ke empat Revan terlihat begitu cemas dan berkali-kali mengatakan pada Dokter untuk menyelamatkan putri kecilnya meski harus mengorbanqkan nyawanya sendiri.
"Nak Revan ibu yakin Si Kecil pasti mendengarkan semua ucapanmu. Lihatlah dia, sampai saat ini masih berusaha bertahan. Bawalah kemari Alina, putri kecilmu membutuhkan kedua orangtuanya."
"Iya bu. Setelah Alina bangun aku akan membawanya kemari. Maaf aku masih harus merepotkan ibu untuk menjaga putriku ini."
"Aku pasti menjaganya Nak Revan, putrimu adalah cucukku tanpa kalian minta pun dengan senang hati ibu pasti memjaganya."
"Terima kasih bu. Terima kasih karena teru mendukung Alina disaat semua orang tidak mempercayainya termasuk aku. Sedangkan ibu justru sebaliknya bahkan mendukung semua keputusannya."
"Nak Revan hanya belum mengenal Alina saja saat itu. Ibu mengenal Alina sejak dia masuk Universitas. Waktu itu umirnya masih 15 tahun. Itu adalah hari terkelam dalam hidupnya. Pada saat pengumuman ia mendapatkan beasiswa ayah dan ibu angkatnya mengalami kecelakaan. Saat itu hujan sangat Lebat ibu melihat Alina yang berlari tergesa-gesa dari kampus menuju jalan. Nak Revan tahu orangtua angkat Alina kecelakaan tepat didepan kampus Alina dan tepat didepan warung makan ibu yang dulu. Didepan matanya orangtuanya tergeletak bersimbah darah dan taknlama ambulance datang membawa mereka kerumah sakit. Ia mendapatkan kabar kecelakaan itu dari sahabatnya Putri."
"Lalu bagaimna dengan keadaan Alina saat itu?"
"Alina? Dia bukan hanya syok, saat usia 15 tahun kehilangan 2 orang yang paling berarti dalam hidupnya sekaligus. Alina sempat depresi untung saja istri dari Dosen Pembimbingnya adalah seorang Psikiater perlahan-lahan Nak Alina kembali pulih, tetapi lebih pendiam. Dia hanya terlihat ceria ketika bersama Putri sahabatnya."
"Siapa itu Putri, Bu?
"Dia adalah sahabat Alina, selalu ada disaat Alina membutuhkannya. Mereka kenal sejak SMA."
"Oohh.. Lalu kemana sahabatnya itu? Kenapa selama Revan kenal Alina nggak pernah sekalipun melihat Alina dan sahabatnya itu saling kontak?"
"Entahlah.. Yang ibu tahu terakhir mereka bertemu saat mereka diwisuda beberapa bulan lalu."
"Dia sudah sangat menderita selama ini. Dan salah satu penyebabnya adalah aku. Entah bagaimana bisa menebus semua itu." Ucap Revan sedih.
"Bahagiakan Alina dan jangan pernah menyakitinya. Itu sudah cukup menebus semua kesalahan yang sudah kamu perbuat."
"Ibu benar. Aku tidak akan pernah menyakitinya lagi mulai saat ini aku akan membuat Alina bahgia bersamaku."
"Sekarang ini sebaiknya fokus pada bayi-bayi kalian terutama yang bungsu ini dia harus mendapatkan perawatan intensif jika kau ingin membuat Alina bahagia berikan ia status yang sah sebagai istri dan ibu dari anak-anakmu."
"Iya bu. Itu pasti setelah pulang ke Indonesia kami akan menikah aku juga ingin menghalalkan hubungan kami." Ucap Revan. "Bu ada hal yang sebenarnya mengganjal dalam hatiku, bolehkan aku bertanya? ini masih menyangkut Alina."
"Boleh Nak Revan. Nak Revan tidak perlu sungkan."
"Terima kasih bu. Sebenarnya yang ingin aku tanyakan mengenai sikap Alina bu. Setiap kali dia sesih dia selalu memalingkan wajahnya tidak mau menukkannya padaku apakah Alina masih tidak mempercayaiku bu?" Tanya Revan dengan raut wajah cemas sementara Ibu Ani hanya tersenyum melihat Revan.
"Nak Revan harus sabar. Alina baru saja menerima Nak Revan, Nak Revan tidak perlu mencemaskan soal itu cukup berpegang pada perasaan Alina pada Nak Revan toh Alina sangat memcintai Nak Revan." Ucap Bu Ani. "Nak Revan harus tahu kalau Alina itu belum pernah pacaran sebelumnya satu-satu laki-laki dalam hidupnya sebelum Nak Revan ya itu ayah angkatnya, dan Nak Revan adalah yang kedua hadir dalam hidupnya." Ucapnya lagi. "Nak Revan harusnya sudah tahu kalau Alina masuk Perguruan Tinggi itu usia 15 tahun kalau orang biasa mah nggak mungkin dan diusia seperti itu masih bertingkah layaknya anak-anak. Semua itu butuh proses saya rasa Nak Revan bisa memahami apa yang baru saja ibu katakan."
"Ibu benar sampai sekarang pun Revan merasa terkadang Alina bertingkah seperti anak-anak polos dan lugu. Tapi semua itu justru membuatku semakin menyukainya. Dia terlihat sangat menggemaskan." Ucap Revan tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah kalau Nak Revan memahaminya."
"Iya bu terima kasih atas sarannya."
"Sama-sama Nak Revan. Ibu harap jika kalian bertengkar suatu saat Nak Revan bisa menahan emosi. Alina masih belum dewasa dia masih perlu bimbingan dan perhatian. Ibu minta Nak Revan selain menjadi suaminya kelak bisa menggantikan ayahnya untuk memberikan pengajaran hidup yang tidak pernah Alina terima selama ini."
"Iya bu. Insha Allah Revan akan berusaha menjadi suami dan imam yang baik serta sholeh untuk Alina. Amin."
" Amin ya Allah." Ucap Bu Ani. " Alhamdulillah ibu bisa tenang sekarang. Kalian juga jangan lupa memberi nama pada si kembar."
"Iya bu. Nanti Revan bicarakan dulu dengan Alina masalah ini." Ucap Revan. "Ibu Revan kekamar dulu mau kasih tahu Alina mengenai si bungsu."
"Baiklah." Ucap Bu Ani.
.
.
.
.
^bersambung_^
.
.
Terima kasih banyak untuk para pembaca. Jangan lupa untuk terus mendukung saya dan juga karya pertama saya ini dengan memberi beri LIKE, KOMENTAR, HADIAH dan juga VOTE nya yah..
.
.
I LOVE U READERS 😍😍😍😘😘😘
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu