Rafasya tak mengira jika kelebihannya membuatnya harus kehilangan orang-orang yang di cintainya.
Rafa dan Raka akan berjuang demi cinta mereka, meski harus menghadapi semua tantangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
reinkarnasi itu ada apa tidak?
disebuah rumah mewah seorang gadis sedang belajar setelah sekian lama.
dia adalah Delia, saudara kembar dari Della putri Bu Ningrum dan pak Panji.
mereka sudah pindah dari rumah yang pernah Rafa sewakan, sekarang mereka tinggal di desa sebelah.
Delia sedang belajar dengan beberapa guru yang di panggil secara khusus oleh pak Panji.
Delia sudah cukup lancar membaca dan menulis, di usianya yang ke delapan belas, gadis itu bahkan belajar cukup cepat.
meskipun Delia sudah di bebaskan, harta pak Panji tak berkurang sedikitpun karena iblis yang membuat perjanjian dengannya sudah musnah karena Rafa.
"ayah lihatlah, aku membuat ini," kata Delia menunjukkan gambarnya.
"wah ini apa?" tanya pak Panji yang langsung terdiam melihat gambar itu.
"itu keluarga kita, ada ayah, ada ibu dan aku, ada juga Della, dia sering datang kedalam mimpiku, dia mirip sekali dengan ku," kata Delia dengan wajah bahagia.
"iya nak, dia mirip sekali dengan mu," kata Bu Ningrum yang memeluk gadis itu erat.
Delia tak mengira setelah siksaan yang di terimanya selama ini, dia bisa bersama keluarganya lagi.
Raka sedang sholat malam saat dia terbangun pukul satu malam, setelah itu dia memilih berdzikir.
bahkan lantunan tasbih itu seperti bersautan dengan suara Rafa yang juga melakukan hal sama.
kedua pemuda itu memang memiliki ikatan yang kuat antara satu dengan yang lainnya.
keesokan harinya, Rafa sedang mengaji di mushola setelah sholat subuh.
tanpa sengaja ada seorang gadis yang mendengar suara merdu Rafa.
"subhanallah, betapa indah suara lantunan ayat suci Al-Quran yang terdengar ini, seandainya Allah menjodohkan aku dengan pria yang memiliki bacaan sebagus ini, aku pasti bahagia," batin gadis itu tersenyum lembut.
setelah mengaji Rafa pun bergegas berganti pakaian untuk mengelola sawah.
Rafa tak mengira jika tanaman mulai menunjukkan kemajuan yang cukup pesat.
"Alhamdulillah ya Allah, semoga hasil panen ini akan membawa perubahan baik pada pondok ini," lirih Rafa yang mulai memeriksa aliran air.
meski dalam keterbatasannya Rafa pantang menyerah, tak lama rombongan Seto, Dhana dan Warno juga datang membantu.
"kak, bukankah ada jadwal mengajar hari ini?" kata Seto menginggatkan.
"masih nanti siang, kita rawat tanaman saja dulu," jawab Rafa tersenyum.
"oke kak," jawab ketiganya.
Rafa melihat tinggi matahari dan bersiap untuk kembali ke kamarnya.
"saya balik dulu ya, kalian lanjutkan bersama yang lain, karena saya ada kelas," pamit Rafa.
"iya kak," jawab mereka semua.
Rafa pun bergegas mandi dan berganti pakaian, dia mengunakan baju Koko putih dan sarung berwarna hitam.
tak sengaja seorang donatur melihat Rafa yang lewat, "ustadz, siapa pemuda itu, dia terlihat begitu bersinar," tanya pak Handoko.
"dia itu guru MI disini pak, dan juga orang yang merawat sawah milik yayasan," jawab pak ustadz Salahuddin.
"tapi aku melihatnya berjalan dengan satu tongkat, apa dia cacat?" tanya pak Handoko.
"iya pak, doa kehilangan satu kakinya karena terkena racun, itu pun kami menemukan pemuda itu si sungai tersangkut," jawab ustadz Salahuddin.
"pertolongan Allah ya ustadz, tak ada yang tau bagaimana pertolongan itu datang," kata pak Handoko.
"assalamualaikum ayah ..." sapa seorang gadis tersenyum manja di balik cadarnya.
"waalaikum salam putri ayah yang cantik dan Sholehah," jawab pak Handoko memeluk tubuh putrinya itu.
"ya sudah saya pamit pak, silahkan mengobrol di ruang tunggu ya, nanti jika ada perlu lagi bisa menemui saya di kantor, assalamualaikum," pamit ustadz Salahuddin.
"waalaikum salam ustadz," jawab pak Handoko.
pak Handoko pun duduk bersama putrinya itu, dia datang untuk menjengguk gadis itu.
"bagaimana keadaan ayah, maaf ya karena Jasmin memilih menuntut ilmu disini, jadi ayah harus repot-repot jengguk," kata gadis itu.
"kamu itu bicara apa toh nduk, ayah memang sengaja ke sini, lagi pula kemarin sempat dengar kesusahan yang sedang di alami pondok ini, tapi katanya semua sudah membaik," kata pak Handoko.
"iya ayah, berkat seseorang, tapi aku lupa namanya," jawab Jasmin tertawa.
"dasar, ya sudah kamu belajar yang baik, semoga ayah nanti segera melihatmu menikah ya, dengan pria yang Sholeh terlebih pria yang mencintaimu," kata pak Handoko.
"gak mau, aku mau menemani ayah kalau sudah lulus nanti," jawab Jasmin.
"dasar kamu ini, ya sudah cepet balik ke sekolah nanti ketinggalan kelas, ayah mau ada urusan dengan ustadz Salahuddin," kata pak Handoko.
"siap bos," jawab Jasmin.
pak Handoko ingin memberikan bantuan kaki palsu untuk Rafa, pasalnya pak Handoko melihat bakat pada pemuda itu.
dia pun bergegas ke kantor ketua yayasan untuk membahasnya, karena dia juga tak ingin menyinggung pemuda itu.