Zira Aqilla gadis yang berusia 23 tahun. Apakah sudah mencapai kesuksesan untuk seorang Zira. Tinggal di Ibu Kota tanpa didampingi orangtuanya harus mencoba peruntungannya bekerja sana-sani membuka usaha kecil-kecilan, demi mewujudkan impiannya menjadi wanita karir.
Hidupnya berubah ketika di ujung mencapai kesuksesan mungkin final dari kerja kerasnya selama ini. Tetapi Zira harus menelan pil pahit, memiliki sahabat yang dekat dan membagi kasih sayang belum tentu mengantarkannya ketitik sukses, malah menjerumuskanya kedalam masalah yang besar, demi menutupi sebuah kesalahan yang mengantarkan Zira ketitik kehancuran.
Bertemu dengan CEO perusahaan terbesar di Asia, Addrian Admaja Wijaya, pria yang memiliki ketampanan di atas rata-rata berkulit putih, tinggi ideal, wajah yang begitu arogan dan berkarismatik bersikap dingin, Bertemu dengan Zira karena sebuah kesalahan.
Bagaimana, Zira harus menghadapi masalah yang timbul tanpa di ketahui sebabnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 32 KEBODOHAN ZIRA
" Dasar, Pria tua."Umpat Addrian
" Pastikan dia, sudah tidak mengajar lagi di Kampus itu." Perintah Addrian.
************
Malam hari tiba Zira keluar dari kamar mandi membersihkan tubuhnya dengan air hangat yang di siapkan pelayan yang bekerja di rumah Addrian, pelayan itu memang hanya datang pagi hari dan pulang malam hari, hanya membersihkan Apertemen Addrian. Salah satu pelayan dari rumahnya yang khusus bertugas untuk membersihkan Apertemen Addrian.
kondisi Zira sudah mulai membaik, Zira yang memakai dress selutut berwarna coklat yang memang dibelikan Addrian padanya mengingat baju sebelumnya adalah kemeja Addrian.
Sebenarnya di Apertemen Addrian ada beberapa baju Kayla, tetapi dia malas mencarinya, dan memilih untuk membelinya saja. Zira menyisir rambutnya yang masih basah di cermin menatap wajahnya, masih memar tapi sudah tidak parah lagi.
Zira kembali merebahkan dirinya di ranjang menyandarkan tubuhnya diujung ranjang.
Meski berada sendirian di kamar Addrian sama sekali Zira tidak merasa ketakutan atau mengingat kejadian yang pernah terjadi di kamar itu. Zira meraba perutnya yang masih ramping, sebenarnya dia sangat khawatir terhadap bayinya, karena sempat terbentur.
Krekkkkkk
Pintu kamar terbuka, Zira spontan melepaskan tanganya dari perutnya ketika melihat sosok yang membuka pintu Addrian.
" Gimana keadaan kamu." Tanya Addrian meletakkan tasnya di tempat tidur.
" Sudah, agak lumayan." Jawabnya singkat.
Tok, tok, tok, tok
" Masuk." Pinta Addrian.
" Maaf, Pak saya membawa makanan non Zira." Ucap pelayan itu yang masih di depan pintu membawa nampan berisi makanan.
" Letakkan." Pelayan itu melettakkan di atas meja.
" Terima kasih." Ucap Zira.
" Pelayan itu tersenyum, dan langsung keluar dari kamar Addrian.
Zira meraih makanan yang ada di atas meja itu dan ingin menyuapkan kemulutnya. Tetapi Addrian meraih dari tangan Zira.
" Sini biar aku saja." Ucap Addrian yang duduk dihadapan Zira.
" Sudalah, aku bisa sendiri." Zira ingin meraih kembali makanannya namun Addrian menjauhkannya.
" Makan," Addrian menyodorkan sendok berisi makanan menaikkan alisnya kepada Zira, Zira pun mengalah dan memakan makanan yang disulangkan Addrian. Makanan Zira pun habis dan meminum segelas air yang diberikan Addrian. Addrian pun mengambil obat di laci tempat semula, dan membukakan pil tersebut.
Zira dengan cepat menarik pil itu dari tangan Addrian dan memasukkannya kedalam mulutnya, dan langsung meneguk air putih agar pil tersebut cepat tertelan.
Mungkin Zira tidak ingin kejadian tadi pagi terulang lagi, Addrian yang melihat tingkah lucu Zira tertawa kecil.
Addrian tau pasti Zira memang akan menghindari kejadian itu lagi.
" Kenapa kamu tertawa." Tidak ada Jawaban, Addrian dengan senyum puas, memasukkan lagi obatnya kelaci tempat semula.
" Kamu, mengejek ku." Tebak Zira merasa kesal seakan-akan Addrian tau apa yang dipikirkannya.
" Tidak, memang salah jika aku tertawa." Elak Addrian.
" Ihhhhh Zira bego seharusnya kamu itu biasa aja." Batin Zira.
" Zira." Tegur Addrian.
" Iya."
" Robert akan segera keluar dari kampus itu." Ucapnya membuat Zira kaget.
" Apa yang kamu lakukan."
" Aku, memberinya pelajaran agar dia bisa menghentikan tabiat buruknya."
" Addrian, bagaimana jika aku dalam masalah." Tanyanya panik.
" Tidak akan."
" Addrian, dia adalah dosen mata kuliahku dan menurutku mengeluarkannya bukan jalan terbaik."
" Jadi, menurut kamu setelah kejadian ini, kamu masih akan bertemu dengan dia, Ha." Addrian menaikkan suaranya, merasa kesal dengan Zira seakan membela Dosennya yang tua itu.
" Bukan begitu, semua nilaiku ada ditangannya, lagi pula jika kamu mengeluarkannya, para mahasiswi akan bertanya, apa yang terjadi dan mereka akan tau kalau aku hampir dilecehkan aku gak mau itu terjadi Addrian, aku gak mau semua orang tau apa yang terjadi." Zira mencoba memberi penjelasan, air matanya mulai keluar.
" Baiklah, untuk sekarang kamu jangan Kuliah dulu, aku akan pikirkan cara, supaya dia keluar sendiri dari kampus itu." Ucap Addrian Zira hanya mengangguk merasa sedikit lega karena bagaimana pun dia harus memikirkan kuliahnya yang hampir tuntas, dan juga nama baiknya di Kampus tersebut.
" Kamu, sebaiknya istirahat aku akan keluar, atau kamu mau tidur bersama ku lagi." Goda Addrian.
" Tidak, tidak perlu aku bisa tidur sendiri." Zira menarik selimut menutup seluruh tubuhnya dan membelakangi Addrian seakan sedang bersembunyi dibalik selimut. Addrian pun tersenyum dan keluar dari kamar itu. Akhir-akhir ini kayaknya Addrian hobi senyum ya.
**************
Pagi hari kembali Zira sudah bangun, Addrian merapikan bajunya di cermin memasangkan dasinya. Sesekali Zira yang menyandarkan tubuhnya diujung kasur meliriknya.
" Addrian." Tegur Zira.
" Hmmm...kenapa." Tanyanya memakai Jasnya.
" Aku mau pulang."
" Pulang, Kamu bosan tidur di ranjang itu atau karena tadi malam aku tidak menemanimu tidur." Goda Addrian membuat Zira jengkel, Addrian terus saja menggodanya, memang sangat nyaman bagi Zira tidur dipelukan Addrian.
" Aku, serius."
.
" hm...Ok, Kamu yakin, mau pulang."
Zira hanya mengangguk mungkin memar di wajahnya tidak belum hilang tapi dia bisa menutupnya dengan make up, sementara dahinya yang di perban bisa saja kalau ada yang bertanya di akan bilang jatuh. Untuk luka ditubuhnya, ditangannya mungkin memakai lengan panjang tidak akan terlihat.
" Baiklah, aku akan mengantarmu Sebelum kekantor." Ucap Addrian selesai berkemas di depan cermin. Zira hanya mengangguk. Addrian membantu Zira berdiri, Zira yang memakai dress tangan pendek itu, masih melihatkan bekas luka ditangannya, Addrian mengambil jaket dan menutupkan ke tubuh Zira.
" Pakai ini, udara di luar sangat dingin." Zira tidak menolaknya, Addrian dan Zira pun pergi.
*************
2 hari setelah kejadian itu, Zira sudah mulai melakukan aktivitasnya, tetapi dia belum berani untuk Kuliah, meski mendengar dari beberapa teman kampusnya, bahwa Dosennya itu sudah tidak mengajar di kampusnya lagi. Pasti semua itu kerjaan Addrian dan dia juga tidak mendengar kabar adanya isu tentang dirinya.
Hanya saja dia memang belum siap untuk masuk kuliah kembali. Luka di dahi Zira masih terbalut perban, Zira selalu mengganti perbannya agar cepat membaik.
Sementara dia selalu menggunakan baju lengan panjang untuk menutupi luka ditangannya. Seperti sekarang ini dia memarkirkan mobilnya di perusahaan Adbver memakai kemeja biru lengan panjang dengan celana Jeans berwarna biru tua.
Hari ini dia ada urusan dengan Seketarisnya Addrian, dia memang selalu mempunyai urusan dengan Rima mewakili Addrian menurutnya lebih baik Rima dari pada Addrian yang adanya akan ribut.
Setelah selesai bertemu Rima, Zira berjalan melewati para Karyawan yang serius bekerja di meja masing-masing.
" Auuuuu," Zira menabrak seorang wanita yang berjalan serius di hadapanya, wanita itu hampir jatuh, Zira menarik tanganya.
" Ya, ampun Sorry, gue gak sengaja." Ucap Zira menahan tangan wanita itu, Zira belum bisa melihat wanita itu karena wajahnya tertutup rambutnya, dan sedang memperbaiki hills nya.
" Gak, apa-apa, kamu, kamu Zira kan." Ucap wanita itu menyadari wanita yang menabraknya.
" Sisil." Zira juga masih mengingatnya, yang sempat ditemuinya di rumah sakit.
" Yaampun pertemuan kita itu harus seperti ini ya, saling menabrak." Ucapa Sisil teringat dengan kejadian pertama kali bertemu Zira.
" Hmmm....kamu benar." Zira tersenyum.
" Oh, iya ngapain kamu di sini." Tanya Sisil
" Aku, sedang ada pekerjaan, kalau kamu." Tanya Zira balik.
" Oh, aku sedang."
" Sisil." Belum selesai Sisil berbicara seseorang memanggilnya membuat ke2 wanita itu mengarah kepandangan suara itu, ternyata Addrian, dan Addrian pun menghampiri Zira dan Sisil.
" Ngapain kamu kemari." Tanya Addrian pada Sisil
" He, Kak Addrian, mau nemuin kakak. Aku, bawain kakak makan siang."Jawab Sisil tersenyum menunjukan bekal yang sedari tadi dijinjingnya.
" Kamu, sendiri ngapain di sini." Tanya Addrian pada Zira, sudah 2 hari dia tidak melihat wanita itu semenjak diantarnya pulang. Addrian masih melihat kening dahi Zira yang masih ada perbannya, Addrian sebenarnya ingin bertanya bagaimana dengan kondisi Zira.
" Aku, sedang bertemu dengan Rima."
" Oh, iya Zira, kenalin ini kakak aku, kayaknya kalian sudah saling kenal." Ucap Sisil membuat Zira sedikit kaget, Addrian memiliki Adik Perempuan yang cantik dan ramah, kalau masalah kecantikan ya wajar Addrian juga begitu tampan jadi jelas adik tirinya itu juga cantik.