ANDI ALDA MAROLAH merupakan putri tunggal mantan Anggota DPRD. Ia terlahir dari garis keturunan bangsawan suku bugis. Andi Alda berprofesi sebagai ASN PNS. Guru di salah satu SMA di Kota Makassar.
Suatu hari ia dipertemukan dengan seorang pria yang bernama IBNU RAJAB. Keduanya jatuh cinta. Namun, orang tua Alda tidak merestui. Mereka memilih menjodohkan putrinya dengan ANDI PANGERANG ADAM. Seorang pria berusia 45 tahun dan menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata.
Bagaimana akhirnya? Yuk mampir! Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote dan komentar🥰
Salam
AAH❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AAH♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKAD NIKAH 2
Di rumah sederhana, seorang wanita paruh baya duduk di bersandar di kursi seraya menatap televisi. Benda itu sedari tadi memberikan informasi mengenai pernikahan putri tunggal mantan pejabat daerah.
Ya, Bu Hilda.
Dia membeku sekaligus tersadar saat melihat pernikahan Andi Alda Marolah, digelar dengan begitu mewah. Sebagian besar yang tersorot kamera memiliki wajah tidak asing.
Pantaslah Andi Shadam menolak mentah-mentah.
Bu Hilda terpikir anak laki-lakinya. Apakah Ia sudah melihat berita yang secara live disiarkan? Lalu, bagimana keadaannya sekarang?
Semoga ia berlapang dada.
Wanita paruh baya itu menghela napas berat. Saat ia mengingat ucapan Ibnu yang tak ingin menikah seumur hidup.
Jujur saja hatinya menolak mentah-mentah. Diusia yang sekarang, harusnya ia sudah disibukkan dengan cucu yang menggemaskan.
Tapi ia juga tidak mau memaksakan kehendak. Biarkan waktu yang menjawab.
Wanita paruh baya itu mematikan benda tersebut. Ia beranjak ke dapur dan membuat secangkir teh untuk meredakan pikirannya yang kalut.
*****
Acara sakral, penyatuan dua insan yang disaksikan langsung oleh para malaikat-malaikat Tuhan Yang Maha Esa. Kini, Alda sudah sah menjadi istri. Yah, bukan lagi ‘calon’ namun statusnya kini berganti.
Andi Pangerang Adam berkali-kali mengucapkan syukur. Ia beranjak dari duduknya dan kini berjalan menuju ruangan dimana Alda berada.
Acara ‘mappasikarawa’ atau acara pertemuan dua insan yang kini sudah menjadi sepasang kekasih halal menurut agama dan negara.
Andi Pangerang Adam kini duduk saling berhadapan dengan Sang Istri.
“Alda ….”
Wanita di depannya sangat cantik dengan pakaian berwarna hijau tua atau masyarakat bugis biasa menyebutnya ‘Hijau datu’. Aksesoris pengantin lengkap. Bibirnya telah berhias lipstik merah darah yang membuat Adam semakin terpesona.
Sang Dewi.
“Pasangkan cincinnya, Nak.” Andi Sabita menyerahkan kotak biludru merah kepada anaknya.
Pria itu menerima dan menyematkan di jari manis Alda. Begitu pun sebaliknya.
“Cium dong!” Andi Baso menyeringai.
Alda yang mendengar itu hanya tersenyum. Ia meraih jemari Adam dan melakukan sesuai instruksi.
“Maksudnya … Adam yang cium,” sahut Andi Baso yang disambut gelak tawa seisi ruangan.
Hal itu membuat pipi keduanya merona merah.
Harusnya Adam sudah tahu. Tapi entah mengapa, dia gugup berhadapan dengan istrinya. Sedangkan Alda, ia hanya diam menatap.
Ia meraih jemari Alda dan mencium kedua tangannya. Setelah itu, Adam mencium kening Alda. Kemudian, ia sedikit menunduk mensejajarkan wajahnya tepat depan Alda.
“Aku sayang kamu ….”Pria itu mencium hidung Alda dan …
“Tahan! Tahan! Satu … dua ….”
Ceklek!
Alda hanya memejamkan mata merasakan sensasi panas pada hidungnya. Ia hanya tersenyum simpul menanggapi.
“Khm! Nanti dilanjut, Dam!” Ucapan Ayah Alda lagi-lagi membuat seisi ruangan tertawa.
*****
Reza mendekat ke arah Ibnu dan duduk di sampingnya. Ia menyimpan rokok dan korek di samping pria itu. Barangkali benda itu bisa membuatnya sedikit tenang.
Lebih dulu Reza membakar satu batang dan menghisapnya. Ia menunggu Ibnu, tanpa mengganggu.
Tak lama kemudian. Suara pria itu terdengar begitu pilu. “Aku … kalah, Za.” Ibnu mengangkat wajah yang terlihat memerah.
Reza yang mendengar itu mengerutkan kening. “Sebenarnya … apa yang terjadi padamu?” telisiknya tanpa meninggikan suara. Takut ia semakin memperkeruh suasana.
Ibnu menipiskan bibir dan menatap lurus kedepan. “Alda … Alda telah menikah ….” Ia kemudian menghentikan ucapannya sejenak dan melanjutkan kembali “Dengan orang lain ….”
Reza yang mengisap rokok, beralih menatap Ibnu. Ternyata yang membuat Ibnu sedemikian terpuruknya adalah wanita.
Selama ini, Reza tak pernah mendengar Ibnu dekat dengan siapapun. Bahkan pernah sekali Reza menawarkan ingin mengenalkan dengan seseorang, Ibnu menolak.
Tapi tunggu?!
Alda? Siapa Alda? Alda siapa?
Nama itu tidak asing. Ia memutar memori mencari siapa pemilik nama ‘Alda’.
Siapa?
“Al …” Ia membuang rokoknya saat mengingat nama yang disebut ‘Host’ tadi. Ia mengaitkan sikap Ibnu yang tiba-tiba seperti saat ini.
Matanya membulat sempurna. Reza menegang. “Bro! J-jangan bilang ….”
“Iya.” Seakan Ibnu sudah bisa membaca pikiran Reza.
“Shit!” Ia mengumpat. “Kenapa bisa, sih?!” Maksudknya kenapa bisa Ibnu kenal dengan wanita itu. “Kamu, fans Alda atau gimana?!”
Ibnu menghela napas berat. “Kami … pacaran.”
Reza shock mendengar. Ia tidak mampu lagi berkata-kata. Tidak tahu apa yang mesti di ucapkan.
.
.
.
.
.
Salam
AAH❤️
smg ibnu jg bisa mncintai nana