Rachel~
Tidak ada yang percaya padaku saat itu, aku begitu terpuruk bahkan rasanya hampir kering air mata ini karena terlalu banyak menangis...
Menceritakan tentang seorang gadis yang begitu menyedihkan, Ia hidup dalam kesendirian bahkan bisa dibilang dirinya tidak punya teman.
Pernah sekali ia merasakan bagaimana rasanya mempunyai seorang sahabat, tapi itu semua tidak berlangsung lama.
Orang tua yang tidak pernah menyayanginya tanpa alasan yang jelas, hingga suatu saat kebenarannya terungkap saat dirinya dijebak juga membuatnya hampir depresi.
Ia bukanlah seorang anak yang bisa melakukan semuanya, ia hanyalah seorang gadis yang lemah. Mempunyai IQ yang rata-rata atau bahkan bisa dibilang rendah membuatnya semakin merasa tidak berguna.
Hidup dari kecil dikalangan orang berada membuatnya tidak bisa membuat sesuatu sendiri, tapi bagaimana jadinya jika tiba-tiba semua kemewahan itu hilang dari pada hidupnya?
Simak selengkapnya disini yah, tentang gadis yang bernama Rachelle Audrey
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon melciballu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 31- hancur 2
"apakah aku juga bukan anak mama?" tanya Rachel pelan pada mamanya. Dengan keras Dena menggeleng.
"kamu anak mama sayang, kamu anak mama.." Dena memeluk putrinya dengan penuh penyesalan.
Rachel belum memeluk mamanya membuat hati Dena begitu sakit. "dan aku tidak punya ayah?" pertanyaan itu membuat semuanya terdiam menegang.
Dena tiba-tiba melepaskan pelukannya lalu menatap Rachel begitu dalam. Tubuhnya bergetar hebat lalu tiba-tiba ia pingsan membuat semuanya panik.
"mamahh" teriak Alan dan Rachel.
Adrian langsung menggendong istrinya lalu membawanya kedalam, Rachel hendak mengikuti tapi ditahan oleh Dinar.
Alan pergi meninggalkan mereka bertiga disana. Rachel menatap mengiba pada kedua pasangan paruh baya itu.
"sekarang kamu sudah tau semuanya! jadi pergi dari rumah ini!" ujar Dinar dengan kasar.
"tapi aku tidak tau dari mana asal ku" ucap Rachel tersedih. "aku tidak tau siapa orang tuaku"
"mari ikut, kamu memang harus mengetahui semuanya" ucap Abraham dan berlalu diikuti oleh Rachel dibelakangnya sedangkan Dinar memilih kedalam melihat bagaimana keadaan menantunya.
"duduklah" ucap Abraham saat mereka sudah tiba ditaman belakang.
Rachel duduk disebelah Abraham. "kamu memang bukan anak dari Adrian, tapi adalah anaknya Dena"
Saat ini yang Rachel pikirkan pasti ibunya berselingkuh, tapi kenapa Adrian tidak menceraikannya?
"jadi aku anak haram? anak hasil perselingkuhan?" ucap Rachel hampir tak terdengar, air matanya pun jatuh.
Badannya yang terasa sakit tak sebanding dengan sakit dihatinya yang tak berdarah. "Tidak, kamu bukan anak hasil perselingkuhan" ucap Abraham lalu menghela nafasnya sebentar dan melanjutkan kalimatnya.
"ibumu dipe***sa saat delapan tahun menikah dengan Adrian dan waktu itu Alan berusia sekitar enam tahunan, dan yang memper**sanya adalah lawan bisnisnya Adrian" kembali lagi Abraham membuang nafasnya sebentar.
Sedangkan Rachel? Ia hampir lupa bagaimana cara bernafas. Dirinya begitu terkejut, apakah saat ini dirinya sedang dijebak dan akan bernasib sama seperti mamanya?
"waktu itu, papamu begitu marah pada orang itu, hinggaaa,"
'papa? masih pantaskah aku menyebutnya papa?'
"beberapa tahun kemudian, ia berhasil melenyapkan orang itu" Mata Rachel membulat sempurna.
"a-apakah marganya Greyson?" dengan sangat pelan ia bertanya. Pikirannya langsung tertuju pada pak Dirga yang mengatakan jika ayahnya ditembak mati oleh Adrian.
"Darimana kamu tau?" tanya Abraham yang terlihat begitu terkejut.
"apakah grandpa akan mendengarkan aku untuk yang terakhir kalinya?" ucap Rachel lirih. Bisa dibilang ini pertama kalinya ia berbicara berdua dengan pria paruh baya ini.
"katakan" ucap Abraham.
"aku tidak memaksa grandpa untuk percaya sama aku, tapi yang pastinya aku sudah dijebak.." Rachel menghapus air disudut matanya.
"Orang itu adalah anaknya pria yang sudah dibunuh oleh..." Rachel tak tau harus memanggil Adrian dengan sebutan apa, ia merasa malu sendiri pada dirinya.
"panggil papa nak, kamu tetap anaknya selagi ibumu masih terikat pernikahan dengannya" untuk pertama kalinya Rachel mendengar kata 'nak' keluar dari mulut pria paruh baya ini.
Rachel mengangguk dengan air mata yang tak hentinya mengalir walau sudah berkali-kali ia hapus.
"Dia mengira bahwa aku adalah anaknya papa Adrian, dia pernah bilang waktu disekolah bahwa papa Adrian telah membunuh ayahnya tapi aku pikir dia bohong karena aku percaya papa Adrian melakukan hal itu.
Tanpa diduga, Abraham memeluk Rachel untuk pertama kalinya, air matanya pun mengalir. Tidak dapat dipungkiri jika hidup gadis ini benar-benar malang.
Beberapa menit kemudian, pelukan itu terlepas. Rachel bangkit dari duduknya lalu memaksakan senyuman.
"aku akan pergi grandpa, terimakasih sudah merawatku dari kecil, sampaikan salam dan terimakasih pada mama, papa, kak Alan, dan grandma" ucap Rachel yang masih memaksakan senyumannya.
Rachel berbalik dan hendak melangkah tapi ucapan Abraham membuatnya berhenti. "kamu akan kemana? ini sudah malam" Rachel kembali berbalik.
"Grandpa tenang aja, untuk malam ini aku akan menginap dulu dirumah teman, nanti besok aku akan pulang ke rumah Oma" Ucap Rachel berbohong. Dimana temannya? baru beberapa hari ia mendapatkan teman, tapi sayangnya dunia memang sangat tidak mendukung dirinya mempunyai seorang teman.
"ambil ini"
Rachel menatap sendu pada secarik kertas yang diberikan Abraham kepadanya. Kertas kecil itu tak lain adalah cek yang nominalnya 200 juta.
"nggak usah grandpa, Rachel udah punya tabungan kok" ucap Rachel menolaknya.
"jangan menolak, jangan canggung, kamu masih tetap cucu saya, ibumu masih berstatus sebagai menantu saya"
"bukan gitu Grandpa, Rachel masih punya sedikit tabungan kok" ucap Rachel masih berusaha menolak. Memang uang jajan yang sering dikasih ia tabung, hingga tabungannya sudah bisa ia gunakan untuk hidup setahun.
"jangan menolak, Adrian sudah memblokir ATM milikmu" Ucap Abraham membuat senyum yang tadi masih dipaksakan luntur begitu saja.
Wajahnya memerah menahan tangis, ia segugukan karena terlalu lama menangis."kenapa?" ucapnya lirih, air mata yang selalu ingin ditahannya selalu mengalir begitu saja membuatnya ingin marah dan berteriak mengeluarkan semua beban dalam hatinya.
"maafkan keluarga ini, percaya atau tidak, pada akhirnya mereka pasti akan menanggung semua akibatnya karena sudah banyak menyakiti hati orang lain, termasuk saya" ucap Abraham.
'jadi kebaikan mu ini hanya ingin menebus kesalahanmu agar tidak mendapatkan hukuman dari Tuhan?'
Rachel yang merasa begitu kecewa, langsung berlari meninggalkan taman dan mengambil koper serta tas yang tadi dibuang oleh Adrian dan meninggalkan halaman rumah itu dengan hati yang begitu sakit.
Ia terus menyeka air yang mengalir disekitaran matanya. sesampainya di gerbang rumah mewah itu, ternyata bik Sari sedang menunggunya disana dengan mata yang sembab. "non Achell" bibik langsung menghambur memeluk gadis itu dengan begitu erat.
"bikk hikkss, sakit bikk hati Rachel sakitt" Rachel menangis dipelukan wanita itu.
"iya non, hati bibik juga sakit.." bik Sari dan Rachel terus menangis.
Bagaimana tidak menangis, dari kecil Rachel sudah diurus oleh wanita itu, bahkan sebelum disentuh oleh orang tuanya.
"non Achel mau kemana malam-malam begini?" bibik memegang wajah gadis itu dengan begitu sedih.
"Rachel nggak tau bik, Rachel nggak tau" Rachel menggeleng dengan begitu rapuh.
Ia benar-benar sudah hancur. "aku harus kemana bik, aku nggak punya siapa-siapa lagi, Oma pasti akan syok kalau tau aku diperlakukan seperti ini" ucap Rachel yang merasa benar-benar bingung.
"bibik juga nggak punya keluarga nak, bibik hanya anak panti yang nggak punya sanak saudara.." bibik juga merasa begitu bingung.
"ya udah kalau gitu Rachel pergi dulu yah bik, jaga diri baik-baik..Rachel pasti akan kangen sama bibik" Rachel mencium kening wanita itu yang mungkin untuk yang terakhir kalinya kemudian mencium punggung tangannya.
"tunggu dulu nak, bibik ada sesuatu" Wanita itu mengeluarkan sebuah kalung emas cantik dengan sebuah berlian kecil sebagai matanya dari saku bajunya. "kenapa kasih Rachel kalung bik? Rachel nggak pantas" ucap Rachel sedih.
"pakailah, ini adalah peninggalan ibu bibik sebelum dia meninggal dan menitipkan bibik dipanti asuhan" ucap Bik Sari kembali membuat hati Rachel tersentuh.
"kenapa kasih ke Rachel bik?"
"karena bibik sudah anggap non Achel sebagai anaknya bibik, kalung ini adalah kalung turun temurun dari nenek moyang bibik, karena bibik nggak punya anak jadi bibik kasih ke non Achel aja" ucap bibik sambil tersenyum.
Rachel tak bisa menahan dirinya untuk tidak memeluk bik Sari. Ia memeluk bik Sari dengan begitu erat. "makasih bik, aku akan selalu ingat sama bibik" ucap Rachel lirih.
Setelah pelukan itu terlepas, bik Sari memasangkan kalung cantik itu dileher jenjang milik Rachel.
"cantik banget non, nggak salah nih bibik anggap non Achel sebagai putrinya bibik" ucap bibik berusaha menghibur Rachel dan Rachel tau itu.
Ia dengan hati yang sakit juga berusaha tersenyum, wanita yang berada dihadapannya ini yang paling terhebat dalam hidupnya.
"makasih bik, dengan adanya kalung ini aku yakin bibik selalu ada buat aku" ucap Rachel.
"iya non, begitu juga bibik..kalung itu sudah ada Simon Achel, bibik harap non Achel jaga baik-baik yah...jaga selayaknya non menjaga bibik. Kalau non sayang bibik maka pasti kalung itu akan non Ache jaga" ucap bibik membuat Rachel mengangguk.
"pasti bik, Rachel akan jaga kalung ini..ini adalah barang pertama yang dikasih sama orang lain dengan begitu tulus"
Rachel kembali memeluk wanita itu. Hingga perlahan tapi pasti, ia mulai meninggalkan rumah yang ia tinggali sejak datang kedunia ini.
"aku pasti akan kangen semuanya" gumamnya lirih dengan air mata yang terus mengalir.
...TO BE CONTINUED...