Kisah perjuangan seorang atlet lelaki yang harus mengubur impiannya demi keluarga sepeninggalan Sang Ayah. Menjadi tulang punggung diusia muda menjadikannya harus mengubur impian untuk berkomitmen dengan pujaan hatinya.
Dilain sisi ada wanita manja dari keluarga kaya raya, karena kehilangan sosok Ibu dalam hidupnya membuat dia tumbuh tanpa ada kelembutan seorang ibu. Apalagi setelah ayahnya memutuskan untuk menikah lagi. Secara frontal menolak kehadiran sang Ibu tiri.
Apakah kedua insan ini bisa bersatu diatas perbedaan yang ada? bisakah saling menurunkan ego?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaDM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
* Senja 32, Advice
"Gapapa Mas ... Lexa mau denger dari sudut pandang yang berbeda, selama ini kan hanya dari sudut pandang Lexa dan kakak-kakak perempuan aja. Kita semua wanita yang pasti lebih mendahulukan perasaan dibandingkan logika. Kalo Mas Candra punya sudut pandang dari laki-laki boleh aja, siapa tau jadi pencerahan buat Lexa" ucap Lexa sungguh-sungguh.
"Ini bukan masalah gender sih Xa, bukan wanita dengan perasaan dan pria dengan logikanya. Tapi mendapati kenyataan kaya kamu ini pasti mengecewakan hati dan menimbulkan rasa benci kan? Rasa kecewa, marah yang berujung pada kebencian kayanya hal yang wajar dan sangat manusiawi.. menurut saya pribadi loh ya, bukan kata ustadz atau ahli-ahli psikologi. Karena siapapun yang hatinya merasa terlukai pastilah akan menimbulkan rasa benci dihatinya. Keputusan seorang Ayah untuk menikah untuk yang kedua kalinya adalah keputusan yang harus dihormati oleh anak-anaknya. Sebab, seperti orang pada umumnya, sang Ayah juga membutuhkan pendamping hidup sebagai curahan kasih sayang, sekaligus sebagai sarana pemenuhan kebutuhan biologisnya, maaf ya saya to the point, saya rasa kamu sudah mau masuk SMA, udah paham kan tentang urusan biologis manusia. Menghormati wanita yang dinikahi oleh Ayah kamu pun bukan sebuah tawaran, tetapi mesti dilakukan oleh anak-anak bawaan, karena apa? Karena beliau juga Ibu, walaupun statusnya Ibu sambung" kata Candra dengan segala penjabarannya.
"Salahkah mengibarkan bendera perang sama Ayah karena ga setuju sama pernikahan Ayah?" tanya Lexa serius.
"Aduh berat nih bahasannya, coba nanti skip nanya ke Pak Ustadz aja ya ... saya masih cetek pengetahuannya. Tapi yang saya tau, Agama Islam telah menganjurkan agar kita menghormati kedua orang tua. Ingat konsep orang tua itu ada Ayah dan Ibu ya, bukan hanya seorang aja. Pernah baca Al Isra' (17) ayat 23?" tanya Candra.
Lexa buru-buru browsing ayat tersebut di HP nya, mencari surah yang dimaksud oleh Candra.
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia" baca Lexa dengan cermat.
"Saya kira kamu cukup pandai kan buat paham maksud ayat tersebut. Terlepas dari apapun kesalahan Ayah kamu. Coba kamu renungkan baik-baik, kamu ingat-ingat lagi kalo Ayah kamu udah berjuang dengan sekuat tenaga membesarkan anak-anaknya. Beliau banting tulang mencari nafkah untuk membiayai sekolah, membelikan mainan kesukaan bahkan mengajak jalan-jalan. Bahkan ketika kamu masih dalam kandungan pun, Ayah udah bersusah payah untuk membelikan makanan bergizi buat Bunda yang pastinya akan kamu serap, semua dilakukan demi keinginan buat melihat anaknya lahir dan tumbuh dengan sehat. Kamu masih ingat orang tua Nabi Ibrahim AS? Dalam kisah Nabi Ibrahim AS, Ayahnya pembuat patung berhala dan menyembah selain Allah, secara aqidah jelas berbeda dengan Nabi. Tapi Nabi Ibrahim AS tidak lantas membenci ayahnya. Malah memanjatkan do'a agar Ayahnya meninggalkan berhala. Memang, kita bukanlah seorang Nabi, yang sedemikian luhur budi pekertinya.Tapi kita bisa ambil pelajarannya, dari Nabi Ibrahim AS, diharapkan kita bisa membuka mata hati kita, sejahat apapun orang tua kita, beliau tetap orang tua kita. Darah dan daging kedua orang tua ada di dalam tubuh kita. Ga akan bisa kita ganti, sekalipun kamu mau mengganti seluruh darah kamu dengan darah orang lain, ga akan bisa gantiin daging-daging yang sekarang melekat di tulang kamu" papar Candra.
Lexa ga mampu bertanya lagi, ada butir air mata turun dipipinya.
"Udah jam sembilan malam Xa ...besok saya harus bangun pagi, ada janjian sama tamu mau antar diving jam lima pagi berangkatnya dari Dermaga sini, saya mau tidur dulu sekarang. Oh ya Xa ... Adukan segala kekecewaan kamu sama Allah ... Allah Maha Pemberi Solusi. Kalo kamu adukan ke manusia akan banyak sudut pandangnya, bukan solusi malah bikin emosi. Jangan jadikan kemarahan kamu atas pernikahan kedua orang tua malah jadi pemutus tali silaturahim kamu dengan Ayah. Ingat Xa .. seburuk-buruknya Ayahmu, namanya akan terus melekat dibelakang namamu .. liat deh akta lahir, ijazah bahkan nanti ketika kita meninggal ... Nama Ayah akan tertulis di batu nisan kita sebagai bin atau binti kita" pamit Candra.
Lexa makin banyak meneteskan air matanya. Candra berjalan perlahan menuju kamar Mas Akmal sambil sesekali melihat Lexa yang masih duduk, posisinya belum berubah, hanya terlihat sesekali dia menghapus air matanya dengan ujung jaket yang dikenakannya.
"Kenapa Xa?" tanya Mas Akmal heran begitu melihat Lexa nangis sendirian di teras depan kamarnya.
"Nggaaa" jawab Lexa buru-buru mengusap air matanya.
"Loh.. Candra kemana?" kata Mas Akmal sambil celingukan.
"Tidur, dia bilang besok ada kerjaan abis subuh anterin tamu diving" jawab Lexa.
"Udah ya .. jangan inget Mbah mulu, do'a in aja biar Mbah ditempatkan disisi Allah SWT, Mbah pasti bahagia kalo liat kamu bahagia Xa. Udah sana kamu tidur, udah malam, jangan lupa pintu dikunci ya. Besok kalo mau main Seli atau sekedar jalan-jalan kasih tau Mas aja, kebetulan Mas besok ga ada janjian ketemu sama klien" perintah Mas Akmal.
Lexa mengangguk kemudian masuk kedalam kamarnya.
.
Selama dua hari selanjutnya, Lexa dan Candra malah ga saling ngobrol, ketemu juga ga, mereka cuma saling liat dari jauh secara ga sengaja aja.
Candra emang keliatannya sibuk di wahana air, Lexa sendiri lebih senang terkurung dalam kamarnya. Video call bareng kedua kakaknya, Mba Flo pun tampak sedih karena ga bisa pulang ke Indonesia saat Mbah Uti tiada.
"Xa .... Mba Flo udah punya pacar loh" adu Mba Qisha.
"Wahhh...bule ya?" tanya Lexa antusias.
"Bukan ... masih orang Indo .. seleranya masih lokal lah... Hehehe" canda Mba Qisha ala-ala obrolan khas para wanita.
"Nanti liburan akhir tahun kita akan balik ke Indonesia, nanti Mba kenalin ya semua" ucap Mba Flo.
"Oke" jawab Lexa.
"Ga sabar deh liatnya, ayo dong Mba ... share fotonya aja biar ga penasaran" pinta Mba Qisha.
"Nanti ya ... biar surprise" kata Mba Flo.
"Ih Mba mah gitu, sama kita aja pake rahasia" protes Mba Qisha.
"Xa.. kamu masih di Resort? gimana high school nya dimana? udah ngobrol sama Ayah belum?" cecar Mba Flo.
"Sepulang dari Resort ini baru akan dibahas sama Ayah. Kan sebentar lagi juga harus pendaftaran sekolah karena tahun ajaran baru akan dimulai" jawab Lexa.
realita nya banyak orang tersesat dan mencari jalan lurus
eh.. ntar Lexa tantrum 🤭