NovelToon NovelToon
MATI RASA

MATI RASA

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika / Tamat
Popularitas:8.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: nazwa talita

Pertama kali kau menyakitiku aku, aku menangis dan memohon padamu agar kau tetap disisiku, kedua kalinya kau menyakitiku, aku kembali memohon kepadamu agar kau tidak meninggalkanku. Ketiga kali dan keempat kalinya kau kembali menyakitiku, aku memaafkanmu dan selalu saja memaafkanmu. Namun, setelah berkali-kali kau terus saja menyakitiku, akankah aku masih bisa bertahan?


"Pergi dari sini sejauh mungkin, karena aku muak melihatmu!"Bian berteriak keras.

"Tapi aku istrimu! aku mencintaimu!" Alea berteriak sama kerasnya

"Tapi aku tidak pernah mencintaimu!"

"Tapi bukan berarti kau bisa seenaknya membawa perempuan itu ke rumah ini Bian, ini rumahku!"


Alea sangat bahagia saat pria yang sangat di cintainya dari masa SMA tiba-tiba melamarnya dan menikahinya seminggu kemudian. Tapi kebahagiaan Alea hanya berjalan sebentar, karena sebulan setelah pernikahannya, suaminya justru membawa perempuan lain ke dalam rumahnya. Sanggupkah Alea terus bertahan dengan kesakitan yang terus ia rasakan?



Mohon siapin tisu yang banyak,karena novel ini bakalan banyak menguras air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazwa talita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 31 Kau Sudah Berubah Alea

Sekitar jam sembilan malam Alea pulang ke rumahnya dengan barang belanjaan yang ia bawa di tangan kanan dan kirinya, di ikuti oleh Mang Ujang yang menenteng tak kalah banyak belanjaan untuk keperluan dapur.

Di ruang keluarga, terlihat Bian yang sudah menunggunya dari tadi dengan wajah kesal. Tapi melihat istrinya yang ternyata membawa begitu banyak belanjaan, membuat Bian bernafas lega. Apalagi saat ia melihat Mang Ujang yang ikut membantu Alea membawakan barang belanjaannya.

"Kenapa tidak membawa Mbok Sumi sekalian biar dia bisa membantumu." Bian mengambil alih beberapa barang belanjaan di tangan Alea.

"Mbok Sumi udah capek kerja di rumah, jadi aku tidak mau dia tambah kelelahan." Jawab Alea santai, sambil meletakkan barang belanjaannya ke dapur.

Untung Mbok Sumi sempat menelepon tadi, kalau tidak, Alea sudah pasti ketahuan kalau dirinya bekerja saat ini.

"Tumben masih diluar, biasanya udah masuk kamar."

"Aku menunggumu untuk makan malam bersama." Bian menatap Alea yang terlihat lelah.

"Kau belum makan?" Bian menggeleng.

"Aku ingin makan bersamamu." Melihat Bian yang terlihat memohon, Alea merasa kasihan.

"Baiklah, kau tunggu aku di meja makan, aku mau mandi dulu."

Bian mengangguk, kemudian ia langsung menuju meja makan.

Mbok Sumi yang memang sengaja menunggu Alea pulang, langsung menuju dapur untuk menyiapkan makan malam untuk majikannya.

Tiga puluh menit kemudian, Alea keluar dari kamar dengan wajah segar, dengan rambut basah sehabis keramas.

Alea melayani Bian sebagaimana seorang istri melayani suaminya. Ia mengambilkan nasi untuk Bian, kemudian baru mengambil untuk dirinya sendiri.

Bian menatap Alea takjub. Perempuan ini, semakin hari semakin terlihat cantik di matanya. Entah apa yang salah, padahal dulu ia sangat membenci perempuan di depannya ini, karena ia merasa perempuan ini telah menghancurkan impiannya bersama Amara. Tapi sekarang ...

"Makanlah! tadi kau bilang ingin makan bukan?" Alea menatap Bian yang sedang menatapnya.

Bian kemudian menyantap makanannya, sambil sesekali melirik ke arah Alea.

"Kenapa kau tidak makan malam dari tadi?"

"Aku sengaja menunggumu."

"Biasanya juga kau langsung makan dengan istrimu, kenapa sekarang kau menungguku?"

Bian menatap Alea yang saat ini sedang menyantap makanannya.

"Kau juga istriku Alea, memangnya salah, kalau aku juga ingin makan malam denganmu."

Alea menghentikan suapannya, kemudian menatap pria di depannya itu dengan seksama.

"Kau hanya menganggapku istri jika perempuan itu tidak ada, kalau saat ini dia ada di sampingmu, memangnya kau masih akan menganggapku istrimu."

"Alea ... bisakah kita tidak usah bertengkar sekali saja? aku hanya ingin makan malam denganmu, apa itu salah?" Bian mencoba menekan kemarahannya, karena malam ini ia memang berniat ingin memperbaiki hubungannya dengan Alea, jadi ia tidak ingin bertengkar dengan Alea malam ini. Apalagi malam ini tidak ada Amara, jadi ia bisa leluasa berbicara dengan Alea.

Alea menatap sebentar ke arah Bian, kemudian kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.

Bian benar, setiap kali ia dekat dan bicara dengan Bian, ujung-ujungnya pasti bertengkar.

Dulu, Alea tidak seperti ini, ia begitu hormat dan patuh pada Bian, ia selalu menuruti semua keinginan Bian.

Tapi semenjak Bian dan perempuan itu terus menyakitinya lagi dan lagi, Alea sudah memutuskan untuk tidak lagi menurut pada Bian, sampai saat ini keinginannya untuk berpisah dengan Bian pun masih kuat.

"Kalau kau tidak ingin bertengkar denganku, kenapa kau tak akhiri saja pernikahan kita, jadi kau bisa bebas dengan perempuan itu, dan tidak usah memikirkan aku lagi."

"Alea!" Bian menggeretakkan giginya menahan amarah.

Ia tadinya berharap, Alea sedikit melunak, karena ia sudah menunggunya untuk makan malam, meskipun sudah agak terlambat, karena Alea pulang begitu malam.

Tapi Bian sengaja menahan lapar malam ini, karena ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Alea.

"Tidak bisakah sedikit saja kau menghargai aku?" Bian menatap tajam dan meletakkan sendoknya hingga terdengar suara berdenting yang cukup keras.

"Memangnya selama ini aku tidak menghargaimu? aku sangat menghargaimu sampai- sampai aku menjatuhkan harga diriku di depanmu dan perempuan itu! Dan sekarang kau mengatakan aku harus menghargaimu? aku bahkan sampai bertekuk lutut padamu karena aku sangat menghargai dirimu dan semua keputusanmu Bian!" Alea berseru dengan keras menumpahkan semua kekesalannya.

Alea sekarang bukan lagi Alea yang dulu yang sangat ketakutan saat Bian marah padanya, Alea yang sekarang bukan lagi Alea yang langsung menangis dan memohon saat Bian mengancamnya untuk menceraikannya.

Bian terdiam menatap Alea yang menatapnya tajam dengan nafas naik turun karena marah.

Dulu, perempuan ini selalu menunduk takut padanya, bertekuk lutut memohon padanya untuk tidak meninggalkannya dan menceraikannya. Ia masih ingat perempuan ini selalu menangis di depannya dan mengatakan kalau ia sangat mencintai dirinya.

"Aku istrimu Bian, aku mencintaimu!" teriak Alea saat itu.

Tapi dirinya hanya menanggapi dengan senyum sinis dan mentertawakannya, sambil memeluk Amara dan membawanya ke kamar mereka, kamar yang tadinya ia tempati bersama Alea.

Bian bahkan membiarkan Alea yang menangis meraung memanggil dirinya.

"Alea, kau sudah berubah, kau bukan lagi Alea yang dulu ku kenal." Bian berucap pelan sambil menatap Alea tak berkedip.

Alea tertawa sinis.

"Setelah semua yang kau lakukan padaku, kau pikir aku akan tetap menjadi Alea yang dulu?" Alea menatap Bian, pria di depannya ini adalah pria yang bertahun-tahun di cintainya, dari semenjak ia masih berseragam abu-abu, bohong, kalau dirinya sudah tidak lagi merasakan apa-apa saat berhadapan dengan pria ini.

"Alea yang dulu sudah mati Bian, karena aku sendiri yang membunuhnya." Alea menjeda ucapannya.

"Aku sendiri bahkan sangat muak pada diriku sendiri, karena pernah memohon dan menangis di depanmu agar kau mencintaiku." Alea tersenyum sinis, mentertawakan dirinya sendiri di masa lalu.

"Kali ini, aku benar-benar ingin berpisah denganmu Bian, aku membencimu, tidak ada lagi cinta yang tersisa di hatiku untukmu, karena pria sepertimu tidak pantas untuk mendapatkan cintaku." Alea beranjak dan bergegas menuju kamarnya meninggalkan Bian yang terpaku karena kaget.

"Aku tahu kau masih mencintaiku Alea, kalaupun tidak, aku akan membuatmu kembali mencintaiku!" Biar berseru keras, sehingga suaranya terdengar menggema di seluruh ruangan.

Alea menghentikan langkahnya.

"Semua sudah terlambat Bian, karena hatiku sudah patah dan hancur, sehingga tidak akan pernah kembali utuh meskipun kau memperbaikinya." Alea menjawab tanpa menoleh pada Bian sedikitpun.

.

.

Maaf, baru bisa update hari ini.

Jangan lupa like, koment, dan Votenya ya 🙏🙏🙏

1
Gintania nia
menarik
Nani heri Upitarini
belibet y,Alea mestix belajar dr masa lalu yg riweh...
Anonim
Bian masih hidup
Wahyu Kasep
saya kecewa dengan penuki

harusnya 😊 bian amarra
Kenzo Alea
biar bisa capel ter the best
Wahyu Kasep
Alea akan jadi fatnher tetap Kenzo
biar bisa jadi ' real capel
Isranjono Jono
orang tua yang kau salah kan padahal kau sendiri yang bodoh
Yokelin Ririhena
duuh,Alea...jangan " kumat" lagi pingsannya
Yokelin Ririhena
harus,kuat non...jngan kasih tempat lagi si "kampret" dihatimu
Yokelin Ririhena
Si "kampret". ..muncul!,sikat Ken,jangan sampe dia rebut Alea,iih gemess
Nina Priyantina
ale kenapa kamu jadi cewek kok lemah naget kamu kaya orang tua mu punya kuasa tinggalin tu bian si cowok mokondo
Nina Priyantina
ale kenapa kamu jadi cewek kok lemah naget kamu kaya orang tua mu punya kuasa tinggalin tu bian si cowok mokondo
Sri surya
gebeg al seret kekamar mandi si kenzo,cuci mandiin dia pake mama lemon yg banyak gantian al,sambil kosre pake kaki,masih sakit ati ketika al di seret le kamar mandi
Sri surya
ya smpun aliya kena belayan dikit udah pasrah,seengganya bikin kenzo nyesel udah mamdiin lo dngan kasar numpajin sabun cair banyak seolah lo najisnya,ih najis!
Sri surya
bego bgt si kenjo,maen seret aja harusnya lk lknya yg di tanya,gedek tinggalin al sama aja bikin terhina setan!
Sri surya
yah kenapa mesti dp dulu
Mamah Ica De
satu kata untuk perempuan yg bernama ALEA T....... L
Husni
iya, menggambarkan Alea perempuan lemah.
Maria Magdalena Indarti
aku cari belum ada penjara hati
Maria Magdalena Indarti
wah.... ada season 2 ya
Maria Magdalena Indarti
pasti Bian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!