Suatu hari seorang pemimpin Squadron tentara Khusus bernama Mayor Eldric sedang menjalankan misi khusus bersama pasukannya. Namun, tanpa diduga pada saat pasukan itu hendak pulang mereka tidak sengaja bertemu dengan pasukan musuh dan terkena serangan dari rudal yang dilepaskan pasukan itu. Tersadar setelah Helikopter yang mereka tumpangi jatuh Eldric kini telanjang bulat di tengah hutan?
Kehilangan sebagian ingatan, dia menemukan bahwa dia dipanggil dengan nama berbeda, Allsbert.
Allsbert sendiri kemudian bertemu dengan Seorang Wanita Elves cantik yang terkutuk.
Bagaimana perjalanan Allsbert di dunia yang berbeda dengan dunianya dulu itu?
Genre: Fantasi, Aksi, petualangan, Dunia Lain ( isekai ), Romantis, Survival, Perang, Kerajaan, Zero to Anti-Hero
Original. Update? Saya usahakan sehari 1x pada jam 19.30 WIB. So, Jangan lupa masukin ke Favorit dan rak buku kalian ya! Thank You. Happy Reading~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lana_Eka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duo Serigala
Allsbert kembali ke tempat rombongannya ketika keadaan sudah menjadi gelap sembari membawa kayu-kayu kering yang akan dia jadikan kayu bakar untuk malam ini.
Sembari Allsbert menyalakan kembali api yang telah padam, dia mengajak Eris yang telah bangun untuk mengobrol ringan.
Keadaan Eris sudah lebih baik sekarang setelah beristirahat sepanjang sore.
Eris dan Allsbert saling mengobrol dengan diterangi cahaya dari api unggun yang mulai menyala.
Allsbert kemudian mencoba untuk memasak daging yang didapatnya tadi siang.
Bagaimana pun mereka tidak memiliki penyimpanan untuk sebuah daging. Jadi pilihan Allsbert adalah memasak daging itu agar awet hingga esok hari.
Allsbert melakukan semuanya sendiri. Dari menguliti kulit ular itu, memotong dagingnya sampai membuat bumbu. Setelah Allsbert selesai melumuri daging-daging itu dengan bumbu yang telah dihaluskannya, dia kemudian mendiamkanya.
Selama Allsbert melakukan itu, Allsbert mencoba mengajak ngobrol Eris dengan topik ringan.
Untuk beberapa alasan Eris sendiri merasa jika Allsbert adalah orang yang cukup ramah dan baik. Namun, di samping sifat baiknya itu seolah ada sebuah sifat misterius yang dimiliki Allsbert.
Terkadang sifat itu bisa bertolak belakang dan berubah menjadi sifat yang cukup menakutkan seperti halnya tadi ketika dia tanpa ragu akan menghabisi Orc itu.
Tapi, tentu Eris memilih untuk tidak membicarakan atau memikirkan hal itu. Mungkin itu hanya perasaanya sendiri. Lagipula dia baru mengenal Allsbert tidak lama ini, sehingga dia belum mengerti sifat dan kepribadian Allsbert yang sebenarnya.
Allsbert kemudian menghangatkan sisa makanan yang dibuat tadi siang. Setelah makanan itu hangat Allsbert menawari Eris untuk makan bersama.
Dengan diterangi api unggun itu mereka makan berdua di bawah pohon.
Saat tengah menikmati makanan itu, sebuah suara, "Grusuk-Grusuk " datang dari semak-semak di belakang mereka membuat Allsbert langsung bersiaga.
Mendengar suara yang mencurigakan seperti itu, sontak saja Allsbert langsung memegang pedangnya.
Allsbert mengambil kayu yang berasal dari api unggun yang akan dia gunakan untuk penerangan. Allsbert kemudian bergerak menuju ke arah sumber suara itu berasal.
Dengan hati-hati Allsbert menyibakkan semak-semak itu dan masuk ke dalamnya.
Sedikit lama Allsbert berada dibalik semak-semak itu hingga semak-semak itu kembali bergemericik karena dilewati oleh Allsbert yang keluar dari situ.
" Lihat! "
" Ah. Mereka mengikuti kita? "
Eris melihat Allsbert membawa dua anak serigala di masing-masing tangannya. Allsbert memegang kedua anak serigala itu dengan cara kasar. Seperti memegang kucing. Dia mencubit leher belakang mereka. Anehnya mereka tidak memberontak dan pasrah atas apa yang dilakukan Allsbert.
Allsbert berjalan mendekat sembari membawa kedua mahkluk kecil itu.
Saat sudah berada di tempat yang terjangkau cahaya api unggun Allsbert menurunkan mereka.
Eris bangun dan mencoba mendekat, tapi kedua serigala itu nampak tetap tidak bersahabat terhadapnya.
" Ada apa!? "
Terlihat Eris kini mulai sedikit menguasai kata-kata hasil dari percakapan dengan Allsbert.
Yah, sedari awal dia memang paham beberapa bahasa Allsbert, namun hanya kesulitan untuk mengucapkannya saat berbicara.
" Bagaimana kalian bisa menyusul kami? Kalian lapar? Sini! "
Seolah mengerti kata-kata Allsbert, kedua serigala itu nampak mendekat dan memakan daging yang disodorkan Allsbert.
" Serio! zer gertazen zaizu Iagunok !! moo. ( Serius! ada apa dengan kalian ini!! Moo.) "
Eris nampak menggembungkan pipinya kesal dengan tingkah kedua serigala itu. Bagaimana bisa kedua serigala itu lebih memilih orang yang berbuat kasar kepada mereka daripada dirinya yang berusaha berbuat baik terhadap mereka?!
" ... "
Allsbert sendiri membiarkan Eris dan kemudian memegang serigala putih dengan kedua tangannya. Allsbert mengangkat serigala itu kemudian membalikan badannya. Serigala itu diam saja seperti boneka ketika Allsbert melakukan itu semua kepadanya.
" Jadi dia laki-laki. Anjing ini– "
Akan tetapi, Allsbert yang tengah memegang anak serigala itu tahu apa yang dirasakan oleh anak serigala yang dia pegang itu hingga dia tidak meneruskan ucapannya.
Dada anak serigala itu terasa berdegup begitu kencang dirasakan di tangan Allsbert.
" Kau takut? "
Begitupula dengan tubuhnya yang terlihat bergemetar.
Allsbert kemudian menurunkan serigala putih itu untuk beralih kepada si serigala hitam.
Berbeda dengan serigala putih tadi yang hanya diam saja ketika dipegang oleh Allsbert.
Serigala hitam itu menundukkan kepalanya, namun ketika Allsbert berusaha memegang tubuhnya dia mengigit tangan Allsbert.
" Guk"
Melihat itu si serigala putih menggongong kepada serigala hitam seolah membentaknya.
Serigala hitam itupun melepaskan gigitannya dan sama seperti serigala putih tadi dia juga terlihat ketakutan ketika tangan Allsbert memegang dan mengangkat tubuhnya.
Sebenarnya gigitan Itu tidak terasa menyakitkan kepada Allsbert. Tapi yang membuat Allsbert tertarik adalah kenyataan bahwa kedua hewan ini saling berkomunikasi satu sama lain dan merasa takut kepada Allsbert, namun tetap berusaha mendekati dia.
Ini merupakan suatu hal yang sangat menarik terlebih bagi Allsbert.
" Serigala yang ini perempuan! "
Allsbert kemudian menurunkan serigala itu.
Dengan kelakuan kedua serigala itu yang sangat menarik di mata Allsbert. Allsbert sendiri kemudian memutuskan sebuah hal.
" Baiklah kalian berdua! Aku lumayan tertarik dengan kalian berdua. Kini kalian akan kujadikan peliharaanku! Pertama harus kuberi nama dulu, kau si putih namamu Shi ! Dan kau si hitam, namamu Sho! "
Mendengar pernyataan Allsbert itu, Eris sendiri menjadi terkejut dan tak habis pikir.
" Allsbert memberikan nama aneh. Tidak.. Tunggu! Bagaimana Allsbert bisa memberikan nama mudah! "
" Kenapa ada yang salah? Bukankah wajar untuk memberikan nama bagi peliharaan? Aku cukup tertarik dengan kedua serigala ini. Terlebih, sepertinya mereka terus mengikuti kita. Tidak ada salahnya memelihara mereka jika mereka akan cukup berguna. Jika mereka tidak berguna, cukup kita jadikan mereka sebagai cadangan makanan. "
" Hah?! "
" Ya. Setidaknya daging mereka akan berguna! "
Eris tidak habis pikir dengan pola pikir Allsbert. Bagaimana dia bisa berfikir sekejam itu.
Sebenarnya sejak awal Elves sendiri adalah vegetarian. Walau Eris itu memakan dan menikmati daging yang dibuat Allsbert, tapi di dalam hatinya sebenarnya tetap saja masih ada sedikit rasa bersalah. Terutama ketika dia melihat Allsbert menguliti dan memasak daging-daging hewan itu. Dan kini Allsbert akan memakan kedua anak serigala imut dan sekecil ini?
" Bagaimana Allsbert bisa kejam! Menjadikan mereka makanan?! Allsbert ergelda! krudela! Moralik ez !! ( Allsbert bodoh!! Kejam!! Tidak berperasaan!! ) ikusi !! ( Lihat!! ) Mereka ketakutan! "
Eris menunjuk kepada kedua serigala bergemetar ketakutan di bawah. sepertinya mereka benar-benar memahami perkataan Allsbert.
" Hei ayolah. Baik-baik, aku cabut perkataanku tadi. Kalian tidak akan dimakan! Tapi ingat untuk tetap menjadi berguna! "
Bagaimana bisa aku mengobrol dengan anjing seperti ini? Aku memang pernah mendengar jika anjing adalah hewan yang cerdas yang mengerti perkataan manusia. Tapi apakah mengobrol dengan anjing adalah sesuatu yang wajar? Allsbert mendesah lelah dalam hati.
" Allsbert serius memelihara mereka? Mereka Dire-wolf loh. "
" Iya. memang kenapa? "
Eris kemudian menjelaskan bahwa serigala jenis mereka adalah serigala yang memiliki kepintaran, kekuatan dan harga diri yang lebih tinggi dari serigala manapun. Terlebih di bidang harga diri itu. Serigala ini terkenal akan sifat yang tidak takut untuk bertarung sampai mati bahkan dengan monster kuat sekalipun. Mungkin karena itulah, serigala seperti mereka berusaha terus bertarung dengan Allsbert tanpa mengenal kata menyerah bahkan sampai serigala terakhir dihabisi.
" Kupikir itu tidak apa. Mereka sekarang ketakutan olehku. Jadi mereka kini menganggapku adalah Alpha mereka. Lagipula itu malah membuatku tambah tertarik dengan kedua serigala ini. "
" Em. Tapi, apa tidak apa memberi nama? "
Kenapa dengan nama?
Allsbert kemudian sekilas teringat dengan dua anjing di kampnya dulu yang bernama Rogert dan Josh.
Eh? Benar. Bukankah nama anjingnya itu agak sedikit keren?
Sepertinya Eris benar.
Sho dan Shi sepertinya terlalu sederhana?
Allsbert terlarut dalam pemikiran itu. Sementara Eris sendiri kini memikirkan hal lain.
" Tidak. Jika itu Allsbert kurasa itu tidak masalah. Lagipula, sepertinya Orc itu yang memberikan nama juga adalah Allsbert. "
" Apa yang kau gumamkan? "
" Tidak-tidak! Tidak usah dipikirkan! "
" Kalau begitu tidak apalah nama kalian sederhana, lagipula aku malas untuk memikirkan nama merepotkan saat ini. Kau adalah Shi dan kau Sho. Itu sudah kuputuskan! "
Sepertinya Allsbert tidak ingin berubah pikiran dan sudah mantap dengan keputusannya. Serigala itu juga tidak terlihat tidak suka dengan nama yang diberikan Allsbert. lebih-lebih mereka mengauk seperti menyukai nama yang diberikan kepada mereka.
Allsbert kemudian memberikan potongan-potongan daging masakannya kepada serigala itu. Karena mereka masih kecil mereka tidak makan terlalu banyak.
Selesai makan, kedua serigala itu kemudian tertidur lelap.