NovelToon NovelToon
Mencintai Pria Dewasa

Mencintai Pria Dewasa

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Cintamanis / Tamat
Popularitas:3M
Nilai: 4.9
Nama Author: din din

WARNING!!! AREA 18+
follow Ig 👉 dindin_812

Malik Mahardika seorang asisten berumur dua puluh enam tahun. Mendapat tugas dari majikannya untuk menemui seorang Hacker. Namun, siapa sangka Malik malah jatuh cinta pada Hacker yang baru saja berumur lima belas tahun bernama Susan Linch.

Kata orang, cinta tidak memandang umur, waktu dan tempat. Begitulah yang dialami oleh pemuda itu.

"Ma, kamu tahu 'kan aku umur berapa? Bagaimana bisa kamu suka dengan gadis kecil seperti 'ku?" Susan hanya ingin tahu alasan sebenarnya.

"Memangnya kita harus memandang umur seseorang untuk suka dan menyayangi. Bagiku asal kamu menerima, maka tidak perduli kamu umur berapa. Bahkan jika disuruh nunggu kamu dewasa pun aku bersedia," jawab Malik yang benar-benar terdengar gila, sepertinya pemuda ini sudah terkena virus cinta akut yang tidak bisa diobati.

"Kalau begitu, aku beri kamu kesempatan. Jika kamu bisa menungguku lima tahun lagi, aku akan bersedia jadi kekasihmu," ucap Susan kemudian, ia mengedarkan pandangan ke arah lain karena malu menatap Malik.



penasaran? baca selengkapnya di sini saja.

Picture from pinterest editing by din din

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Boston

Setelah kejadian itu, Susan lebih memilih menjauh dari Rafa. Hari itu ia sebenarnya ingin mendatangi dan memaki pemuda itu, akan tetapi Malik melarangnya. Malik berkata jika itu akan sia-sia dan membuang waktu, yang ada hanya akan membuat Susan semakin kesal. Hingga akhirnya ia meminta Susan untuk mengabaikan dan menjauh saja.

Hari-hari mereka jalani seperti biasa, yang membedakan hanyalah mereka kini semakin sering bertemu karena Susan sebentar lagi akan berangkat ke Boston, keduanya tidak ingin menyia-nyiakan waktu selagi bisa bersama.

"Sudah!" Susan menatap meja yang terdapat di kamar Malik.

Malik melingkarkan kedua lengannya di pinggang gadis itu, memeluk seraya menyandarkan dagunya di pundak Susan.

"Mahakarya," ucap Malik.

Mereka menatap satu set komputer dengan fasilitas penunjang lainnya yang dirakit sendiri oleh Susan. Alat itu nantinya yang akan jadi media komunikasi mereka, janji melakukan panggilan Video tiap harinya membuat Susan harus menyiapkan segalanya agar lancar.

"Setelah kuliah mulai, aku akan mengirimkan jadwal jam kelasku, jadi kamu bisa memperkirakan kapan bisa menghubungiku," ujar Susan sedikit melirik Malik yang masih bersandar di pundaknya.

Boston-Indonesia memiliki jarak waktu dua belas jam, Indonesia sehari lebih cepat dari Boston. Jika Indonesia hari Senin, di Boston berarti hari Minggu.

"Aku pasti akan rindu," imbuh Susan dengan air muka sedih.

Malik mendesis, ia lantas mengurai pelukannya, memutar tubuh gadis itu hingga kini berhadapan dengannya. Ia menyematkan helaian surai yang menutup pelipis gadis itu.

"Aku juga, tapi demi pendidikan dan mimpi. Jangan biarkan rindu menghalanginya, kita masih bisa berkomunikasi dan merajut kisah setelahnya. Namun, jika kamu melewatkan kesempatan ini, tahun-tahun berikutnya belum pasti akan kamu dapatkan lagi," ujar Malik mencoba menghilangkan rasa berat di hati Susan meski dirinya juga berat.

Susan memeluk pemuda itu, meyandarkan kepala di dada bidang pemuda itu.

"Terima kasih, karena sudah mengerti," ucap Susan kemudian.

Malik mengulas senyum, semoga empat tahun penantian tidak akan sia-sia. Mencintai bukan untuk memperberat, mencintai adalah untuk saling mendukung. Saling memberi semangat dan kepercayaan, mewujudkan impian pasangan satu sama lain asal itu baik.

-

-

Setelah ujian, Susan langsung berangkat ke Boston. Ia tidak menunggu hasil ujian karena dirinya sudah mendapat seratus persen dukungan dari nilai-nilai akademiknya dari kelas satu.

Gadis itu sedang duduk di taksi menuju apartemen yang akan ia tempati, Susan terlihat menatap jalanan yang suasananya begitu berbeda dengan kota tempatnya tinggal.

Livia mengantar gadis itu karena ia khawatir mengingat jika ini pertama kalinya Susan akan tinggal sendiri setelahnya.

Susan mengingat saat dia di bandara, berpamitan dengan Malik saat itu terasa sangat berat.

"Jangan lirik-lirik gadis lain, Ma! Kalau iya, aku bakal teror tuh gadis sampai nangis-nangis!" ancam Susan menatap tajam pada kekasihnya.

"Ya ampun, cantik-cantik galak!" Malik menyolek hidung Susan dengan telunjuk. "Aku nggak melirik, kalau mereka yang melirik bukan salah 'ku, 'kan!"

Susan melotot mendengar ucapan kekasihnya itu. Memang Malik tampan, manis pokoknya siapa yang melihatnya pasti akan tertarik.

Dari kejauhan, Livia dan Juan mengamati Susan yang sedang berpamitan dengan Malik.

"Lah, kenapa kayak om sama keponakan!" seloroh Livia yang bisa melihat jelas perbedaan umur mereka.

"Apaan sih, masa iya disamakan dengan om-om," protes suaminya yang melirik Livia.

"Hahahaha. Bercanda." Livia tergelak.

"Kamu jangan lama-lama di sana," ucap Juan yang sekarang meras berat ditinggal istri.

"Napa?" tanya Livia bingung.

"Ya, nanti aku rindulah!" jawab Juan.

"Dih ... ikutan yang muda saja," timpal Livia memukul lengan suaminya membuat pria itu terkekeh.

Susan mendesah kasar, ternyata begini rasanya kalau sudah mencintai. Dulu ia tidak pernah merasakan yang namanya rindu, apalagi rasa tidak rela. Sekarang setelah bertemu dengan Malik, dunianya seakan berubah seratus delapan puluh derajat.

"Sudah sampai, San!"

Perkataan Livia membuyarkan lamunan Susan. Mereka pun turun dari taksi, menatap gedung yang akan jadi tempat tinggal Susan.

Apartemen itu milik Jimmy, teman Juan, ayah Jovanka. Ketika tahu jika putri temannya akan kuliah di Boston, pria itu menawarkan apartemennya yang kosong untuk ditinggali gadis itu dari pada mencari apartemen lain.

"Lumayan besar," ucap Livia begitu mereka masuk ke unit apartemen itu.

Susan mengerdarkan pandangan, unit itu terlihat bersih dan terawat, sebelumnya apartemen itu disewakan. Karena kebetulan tahun itu kosong, makanya Susan ditawari untuk menempati.

Livia membantu putrinya membongkar koper, mengeluarkan isinya sebelum mereka beristirahat.

"Mah, nanti cari toko elektronik," kata Susan yang baru saja selesai mandi.

"Mau apa? Bukankah sudah ada televisi?" Livia bertanya-tanya.

"Nyari komputer, biar bisa video call," jawab Susan seraya mengganti bajunya.

Livia mengernyitkan dahi, setelah itu ia tersenyum dan bisa menangkap maksud putrinya itu.

"Pasti buat pacaran," batinnya dalam hati.

1
Fit Mu'awin627
Luar biasa
Jeni Jueni
belum dengar penjelasan susan makanya dia galau
Ruaida Ali
aku suka ceritanya
.: terima kasih
total 1 replies
Ruaida Ali
bakal di restuin gak tuh?
Mamah Kekey
unboxin 🤭🙈🙉
Jeni Jueni: hai bunda
total 2 replies
Mamah Kekey
selamat yah buat pasutrinya semoga langgeng sampai tua dan mu yg memisahkan...🎁
.: aamiin
total 1 replies
Mamah Kekey
awas blabas mas Malik ...☺️
Mamah Kekey
dibsini yg imannya kuat sih authornya ...😂
.: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Mamah Kekey
cinta muda Susan bergejolak nih...😂
.: asekkkkkk
total 1 replies
Mamah Kekey
sipp...deh buat pasangan yg unyu,, 😂
Mamah Kekey
semoga mereka selamat...ikut mewek aku...😭😭😭
Mamah Kekey
setiap kejadian pasti ada hikmahnya d balik semua itu mas Malik.
Mamah Kekey
memang sudah takdir ..mencoba ikhlas mas Malik...😔
Mamah Kekey
terharu CLBK nih... semoga mereka berjodoh.
Mamah Kekey
yg dewasa lebih ngemong, lebih banyak sabarnya.paham apa yang kita mau, pengalaman 😂
Mamah Kekey
kerenlah unyu,,😂
Mamah Kekey
keren bagus setuju kk
Winarsih Asih
semoga ada orang yg bisa memberi pengertian pada mslik
Winarsih Asih
Malik butuh waktu,mungkin dulu gara2 menolong keluarga Susan ,ayahnya meninggal karena telat kerumah sakit
Winarsih Asih
aku sudah ketemu sama Caman kita sayang😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!