NovelToon NovelToon
Pendekar Tingkat Dewa

Pendekar Tingkat Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Action / Fantasi / Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:224.3k
Nilai: 5
Nama Author: Raffa Alief

Di dunia yang selalu mencari pemenang, ia memilih untuk berjalan sendirian, tidak untuk menang tapi untuk menghentikan sesuatu yang tak pernah benar-benar ia pahami.

Ia kembali, bukan sebagai anak yang ingin belajar, tapi sebagai seseorang yang sudah tahu terlalu banyak, dan percaya terlalu sedikit. Di matanya, dunia ini belum berubah, hanya lebih pandai menyembunyikan niat buruk di balik tradisi dan kehormatan.

Ia tak datang mmembawa dendam. Tapi tidak juga datang dengan damai.

Dalam bayang-bayang kesunyian malam, medan perang telah menanti di ujung waktu, satu langkah kecil menjadi pemantik sejarah baru. Atau hanya jejak lain yang hilang bersama debu?


(Remake)

Zhong Li -> Shi Yexian

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raffa Alief, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 31 - Hanya Permulaan III

“Akan ku bunuh kau!”

“Hei itu jahat sekali, apa kau tidak lihat aku masihlah anak-anak.” Zhong Li memutar pedang yang bukan miliknya, menyiapkan kuda-kudanya yang lain.

“Kau hanya lah sendirian, sedangkan kami ada bertiga.”

Zhong Li tidak menjawabnya, dirinya malah menunjukkan seringai lebarnya kepada tiga orang yang ada di depannya. Dia sangat percaya diri, bisa mengalahkan tiga orang yang ada di depannya itu dengan mudah, ‘Tidak, ini tidak mudah… Ini membutuhkan sedikit kerja keras meskipun hanya sedikit.’

Zhong Li menguatkan posisi kakinya, berlari menuju mereka, akan sangat wajar jika dirinya akan dijuluki sebagai orang dengan tipe suka menyerang duluan di masa depan.

Zhong Li menggunakan tekniknya untuk menghilangkan sebuah keberadaan, ini bertujuan untuk mengalihkan perhatian musuhnya saat dirinya sedang di rasakan.

“Aliran Pendekar Matahari…”

“Kau, dari sekte Langit Barat?”

“Berisik! Mentari Yang Tertutup Awan.”

Serangan Tipuan di lancarkan ke salah satu dari mereka, Zhong Li merasa jika serangan ini tidak akan terlalu berguna untuk melumpuhkan musuhnya.

Dia melancarkan serangan ini hanya untuk mengalihkan perhatian saja, ‘Ini tidak lebih seperti cipratan air yang ku gunakan saat melawan senior Hou… Teknik menghilangkan keberadaan tidak semata-mata langsung terjadi sesaat setelah digunakan, kecuali jika dirimu memang tidak pernah terlihat oleh musuh.’

‘Teknik ini memanfaatkan keraguan yang ada di dalam hati musuh mu , tapi saat mereka tidak ragu, mereka akan masih bisa melihat mu, mungkin.’ Zhong Li melancarkan serangannya, disaat itu pula semua musuhnya terjaga untuk melihat jalur serangannya, mereka berniat untuk menghindar.

‘Ini yang sedang ku incar.’ Zhong Li membatalkan serangannya kemudian langsung melompat ke arah titik buta musuh sebelum akhirnya melompat mundur.

‘Di saat ini, mereka semua sudah tidak bisa melihat ku lagi.’ Zhong Li mengakui jika saat dirinya melawan Hou Tian, dirinya juga bisa melakukan hal ini.

Tapi dirinya saat itu terlalu fokus untuk mencari celah yang ada, sehingga dirinya terus berlari untuk mengelilinginya. ‘Yah terlepas dari itu semua, lupakan saja… mengalahkan, tidak membunuh mereka saat ini adalah tujuan utama .’

Zhong Li bisa melihat jika mereka semua tampak sedang kebingungan mencari keberadaannya. Kenyataan mengatakan jika Zhong Li masihlah berada tepat di depan mereka, tapi apa yang mereka lihat mengatakan hal lain.

“Dasar pengecut! Kau hanya memamerkan pedang mu di depan perempuan ini sesaat saja, pada akhirnya kau kabur juga.” Salah satu dari mereka mengeluarkan tawanya.

Tapi dua orang lainnya tampak tidak berhenti terus mencari keberadaan Zhong Li, mereka merasakan keanehan tersendiri saat tiba-tiba saja keberadaan anak kecil yang memegang pedang itu lenyap seakan tidak tersisa di telan dunia.

“Jangan turunkan rasa waspada mu… ini sangat aneh, dia tiba-tiba saja lenyap tak bisa di rasakan.” Salah satu dari dua orang itu terus mencari keberadaan Zhong Li, mengungkapkan pendapatnya dengan resah.

“Apa maksudmu, lebih baik kita nikmati saja gadis cilik ini aku sudah tidak tahan lagi.” Orang yang baru saja tertawa itu membuang jauh-jauh pendapat temannya, air liur nya sudah menetes, ia deras memandang Xinyue dengan nafsu yang membara.

Di lain sisi, Xinyue dengan perasaan campur aduk bertanya kepada Zhong Li yang saat ini masih berada di depannya. Dirinya tetap bisa melihat anak yang sedang membawa pedang itu dengan jelasnya, “Zhong Li kenapa mereka tidak bisa melihat mu, apakah kau hanya ilusi dari keresahan hati ku saja?”

Zhong Li sedikit menolehkan wajahnya ke arah belakang. “Ssstts…Aku hanya bisa di lihat oleh kakak saja… tentu saja aku ini asli, tapi tolong saat ini tutuplah matamu, aku akan mengurus mereka dengan cepat.” Ia berbisik pelan sehingga tidak dapat terdengar oleh tiga orang yang ada di depan sana.

“Hei anak kecil yang manis, dengan siapa kau berbicara.” Meskipun sedikit bingung dengan sikap gadis kecil yang ada di depannya, dirinya tetap tidak berhenti memandangnya dengan penuh nafsu.

“Hei sudah ku bilang, ada yang aneh dengan keadaan ini! Junjunglah sedikit rasa waspada.” Temannya tampak sedang berusaha menyadarkannya, tangannya menepuk bahu kananya, menghentikan langkahnya.

“Kalian berhentilah merasa seperti, itu sangat menjijikkan.” Dengan nada acuh ia menepis tangan temannya yang ada di bahunya dan memilih untuk melanjutkan langkahnya.

‘Tampaknya persahabatan mereka sangat baik.’ Zhong Li menguatkan pondasi kakinya, Xinyue baru saja menutup matanya sesuai yang di inginkan Zhong Li, dengan ini ia bisa membunuh mereka tanpa membuat Xinyue trauma karena melihat pembunuhan terjadi di depan matanya, meskipun mungkin ini adalah kedua kali baginya.

‘Tapi tampaknya Xinyue sudah melihat orang tuanya di bunuh, aku berharap dengan ini dirinya tidak menanggung luka yang lebih besar lagi.’

“Hei cantik kenapa kau menutup matamu, aku merasa kau memang sudah pasrah dengan keadaan ini. Kalau benar begitu baiklah, layani aku dengan sepenuh hati mu.” Tangannya mulai menuju ke depan, ke arah aset milik Xinyue berada, tapi dirinya tidak sadar jika saat ini masih ada Zhong Li yang melindunginya tepat berada di depannya.

‘Pernafasan Pendekar Dewa, di tambah dengan Aliran Pedang Dewa…’

‘…Gaya Ketiga belas.’

Zhong Li dengan cepat, melancarkan pedangnya ke arah tangan musuhnya yang mencoba menggapai Xinyue. Tangan itu langsung terputus, kemudian terlepas dan pada akhirnya tergeletak mengucurkan banyak darah di lantai.

Saat tangan itu sudah menyentuh lantai, Zhong Li sudah menggerakkan pedangnya dua kali menebas ke arah tubuh musuhnya. Dirinya mengakhiri nyawa musuhnya itu dengan memenggal kepalanya dengan jurus Aliran yang berbeda.

‘Gaya Tombak Pembalik, Perpindahan langit.’

Zhong Li menusukkan pedangnya lebih dulu ke lehernya sebelum akhirnya menggerakkannya dengan menyeret keluar ke arah lain. Sebagian lehernya terpotong membuatnya langsung menjemput ajalnya. Zhong Li tidak mengedipkan matanya, dirinya menikmati sensasinya, bergumam dengan pelan. “Satu selesai tinggal dua lagi.”

“Bukankah sudah ku bilang, anak bodoh itu kenapa selalu saja tidak mau mendengarkan kakak senior yang jauh lebih tua.”

“Aku juga berpikiran seperti itu, untuk sekarang ayo kita fokus menangani keanehan ini.” mereka berdua tampak menyiapkan kembali kuda-kudanya, bersiap untuk menghadapi gempuran yang akan datang.

Mereka saat ini masih tidak bisa melihat Zhong Li, ini karena anak itu menebas dengan cepat tanpa mengarahkan perasaannya lebih dalam lagi. Lebih dari itu, kenyataan dari keraguan di hati mereka yang saat ini masih ada juga sangat mempengaruhi fakta.

Zhong Li berlari memutar ke arah belakang musuhnya, berniat menyerang dari balik punggungnya. menarik napasnya dengan dalam, Zhong Li tidak berniat gagal dalam serangan pertamanya.

‘…Sambaran Guntur.’

Mengarahkan pedangnya dengan cepat menembus jantung musuhnya dari belakang. ‘Tinggal satu lagi.’ Dirinya menarik pedangna kembali, bersiap untuk melanjutkan menyerang musuh selanjutnya.

“Dapat kau!”

Musuh yang akan di bunuh nya ternyata lebih pintar dari yang dikiranya, ia mengarahkan pedangnya dari atas dengan kedua tangannya menggenggamnya dengan kuat, menghantamkannya ke anak kecil yang sudah bisa terlihat oleh matanya.

Zhong Li tidak memiliki pilihan lain selain bertahan, itupun bisa tertembus dengan mudahnya. Mata kanan Zhong Li terluka karena itu, tapi itu adalah jalan terbaik yang bisa dia pilih, jika saja dirinya malah memilih untuk menghindar, itu hanya akan membuat momentum besar untuk musuh langsung melancarkan serangan yang akan membunuhnya.

1
Jumadi 0707
yng dimaksud pria paruh baya itu umur brp ada jenggot dah putih n masa umurnya 50 an setidaknya 70 an lah Thor jelasin aja Thor peria tua
Jumadi 0707
maksud bertempur gk tau maunya dan bertele2 gk ngerti
alexander
bagus ceritanya
Muhamad Rizki
GT
Dzikir Ari
Kenapa jadi berbeli Belit kata katanya
Dzikir Ari
Alur mulai tertata dan selanjutnya jangan membosankan Tor, ini sekedar masukan...🙏
Dzikir Ari
Gimana kok Alurnya mbulet tor
Dzikir Ari
jalan ceritanya cukup menarik tapi terlalu bertele tele Tor
Dzikir Ari
Lanjutkan Tor
Dzikir Ari
Lanjut
Dzikir Ari
Coba mampir, moga Alurnya tidak bikin bosan Tor 🙏
Haryanto Sendtot
lanjut
Haryanto Sendtot
mna up nya lgi
Abdullah
update ya
Djambar Barmo
Alur cerita tidak mengalir,beberapa bab isinya tidak berhubungan, kalau bercerita harusnya terstruktur
Ahmad Tavip
remove aja cerita ini
Ahmad Tavip
bertele tele
Suyatno Saban
lanjutkan
Idk!
bagus ceritanya, lanjutkan
de wek
baru nemu malam ini di beranda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!