Arka adalah Userator biasa yang belum Awakening, ia bekerja sebagai kuli bangunan. Tiba-tiba dinikahkan dengan seorang gadis bernama Sisil untuk melunasi hutang Ibunya.
Siapa sangka setelah menikah—Arka malah Awakening, kekuatannya meningkat.
[Bahagiakan Istrimu untuk mendapatkan banyak keuntungan dan meningkatkan kekuatanmu!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramirisss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 Masa lalu Sisil Part 1
"Tolong jangan lagi! Ampun, ampun!! Aku mohon!!" raungnya penuh dengan ketakutan, menangis sejadi-jadinya di atas lantai dingin yang bersimbah darahnya sendiri.
Sisil melangkah mendekat, berdiri di atas tubuh besar pria itu sembari menunduk meneliti ukuran lubang besi panas di genggamannya. "Wah... lubang di tengah besi panas ini sepertinya memiliki ukuran yang sangat pas," ucap Sisil dengan nada suara yang teramat manis.
Ketakutan di dalam jiwa pria tua gendut itu melonjak hingga ke batas maksimum; kegelapan total akibat matanya yang buta membuat imajinasinya tentang rasa sakit yang akan datang menjadi seratus kali lipat jauh lebih mengerikan.
Sisil perlahan menurunkan ujung besi membara yang berwarna merah kekuningan itu, mengarahkannya tepat ke pusat organ vital milik sang pria tua gendut.
"Selamat menikmati hadiah kebahagiaan dariku ya~" ucap Sisil berbisik kejam.
CRRRRRRRRRSSSSSHHHHHHHHHHH!!!
"ARRRRGGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!"
"Panas!! Sakit!! Dagingku terbakar!! Tolong!! Aku sudah tidak kuat lagi!! Bunuh aku!!!"
Pria tua gendut itu berteriak histeris dengan suara yang melengking pecah hingga merusak pita suaranya sendiri, saat benda miliknya dimasukkan paksa dan dipanggang hidup-hidup di dalam lubang besi membara tersebut. Asap putih berbau daging terbakar mengepul hebat memenuhi ruangan bawah tanah.
Sisil berdiri tegak, memandangi pemandangan mengerikan itu dengan senyuman puas yang luar biasa indah di wajah cantiknya, benar-benar menikmati setiap detik permainan pembersihan kecoak pengganggu rumah tangganya.
Di samping mereka, mata Ibu tiri Sisil melebar sempurna hingga hampir keluar dari kelopak matanya. Rasa takut dan ngeri yang teramat sangat membuat sekujur tubuhnya lumpuh membeku.
‘A-Apakah makhluk di depanku ini adalah Sisil yang selama ini kukenal?! Tidak... Dia bukan manusia lagi... Dia sudah berubah menjadi orang gila yang mengerikan!’ jerit sang Ibu tiri di dalam benaknya yang terguncang hebat.
Hanya dalam hitungan menit, setelah jeritannya melemah, pria tua gendut pemilik perusahaan tambang itu akhirnya menghembuskan napas terakhirnya, mati dengan kondisi yang sangat mengenaskan di atas lantai beton.
Setelah memastikan orang pertama telah binasa, Sisil menyerahkan besi panas yang mulai meredup itu kepada Sera. Ia melangkah perlahan menghampiri kursi Ibu tirinya yang saat ini sudah basah kuyup oleh keringat dingin dan air mata ketakutan.
Julius dengan sigap membawakan sebuah kursi kayu bersih, meletakkannya tepat di hadapan sang Ibu tiri agar Sisil bisa duduk dengan nyaman. Sisil menjatuhkan tubuh anggunnya di atas kursi tersebut, menyilangkan kedua kaki mulusnya dengan posisi yang sangat elegan.
Sisil mengulurkan tangan kanannya, menangkup pelan pipi keriput Ibu tirinya menggunakan jepitan jempol dan jari telunjuknya yang masih terbungkus sarung tangan karet berlumuran darah murni.
"Hey, Ibu..." sapa Sisil dengan nada suara yang sangat manja, menatap mata ketakutan ibunya dari jarak dekat.
"Apakah kau sudah merasa sangat nyaman dan bahagia menjalani hidupmu selama ini, hm?"
Ibu tiri itu tidak bisa menjawab karena lakban yang melekat kuat, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya panik dengan air mata yang terus mengalir deras.
"Bagaimana kabarmu selama ini, Bu? Sehat?" tanya Sisil lagi sembari mengulas senyum manis, lalu dengan lembut ia mengelus permukaan wajah ibunya menggunakan telapak sarung tangannya yang dipenuhi noda darah segar pria gendut tadi, melumuri wajah ibunya dengan warna merah yang anyir.
"Aku benar-benar tidak menyangka... ternyata Ibu masih tetap tidak berubah sedikit pun sejak dulu ya," ucap Sisil dengan nada suara yang perlahan berubah menjadi datar.
Sisil menarik tangannya kembali. Julius dan Sera dengan sigap maju untuk membantu melepaskan sarung tangan karet yang kotor tersebut dari tangan halus nyonya mereka, menggantinya dengan selembar kain hangat yang bersih.
Sisil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, menatap ibunya dengan tatapan mata bulat yang mendadak melamun.
"Ibu... kau ingin mendengar sebuah cerita yang sangat menarik?" ucap Sisil lembut, memulai narasinya.
-PoV Sisil-
Belasan tahun lalu... di masa kecilku.
Aku dilahirkan di dalam sebuah lingkungan keluarga yang awalnya terlihat serba berkecukupan. Namun, kebahagiaan di dalamnya perlahan-lahan mulai runtuh dan hancur berantakan tanpa ada sisa.
Ayah kandungku... dia berubah menjadi sosok pria yang sangat kasar. Dia suka membentak ibuku, memaki dengan kata-kata kotor, dan memukuli ibuku hampir setiap hari.
Dia sudah tidak memiliki rasa sayang sedikit pun lagi untuk ibu kandungku. Dan yang paling malang... Ayah juga sama sekali tidak pernah peduli lagi pada keberadaanku.
Jika dia sedang pulang dalam kondisi kesal, tangannya yang kasar tidak akan pernah ragu untuk mendarat dan memukuli tubuh kecilku hingga dipenuhi luka memar.
Hingga pada akhirnya, keadaan di dalam rumah kami berubah menjadi semakin tidak nyaman dan menyerupai neraka yang suram.
Aku benci rumah itu. Aku bahkan jauh lebih suka menghabiskan waktuku keluyuran sendirian di luar jalanan sepi, menjadi gembel kecil, dibandingkan harus pulang ke rumah sendiri yang suasananya teramat sangat menakutkan bagi anak seumuranku.
Hingga pada suatu hari yang terik... saat aku sedang duduk sendirian di sudut taman kota dengan tubuh penuh luka lama, sekelompok anak-anak nakal yang bertubuh lebih besar mendadak datang menghampiriku.
Mereka mulai mengejekku, menarik rambutku, dan memukuliku secara beramai-ramai tanpa ada yang peduli. Aku terjatuh di atas aspal yang panas, lutut kecilku robek mengucurkan darah. Di tengah rasa sakit itu, aku hanya bisa menangis pasrah, merasa bahwa hidupku beneran tidak ada gunanya lagi di dunia ini.
Namun, tepat di saat aku hampir menyerah pada takdir... sebuah keajaiban besar datang menghampiriku.
Sesosok bayangan tegap mendadak berdiri menutupi terik matahari di atas tubuh kecilku. Seseorang datang menerjang, mengusir dan menghajar seluruh anak-anak nakal itu hingga mereka lari tunggang-langgang ketakutan.
Sosok penolongku itu... dia adalah seorang anak laki-laki yang berusia beberapa tahun lebih besar dariku, dengan gurat wajah yang tampak cukup tampan dan bersih.
Dia membalikkan tubuhnya, lalu berlutut di hadapanku yang masih menangis gemetaran.
"Kamu tidak apa-apa?" ucapnya dengan nada suara yang teramat sangat lembut, memancarkan wajah yang luar biasa khawatir menatap luka-lukaku.
Aku yang sepanjang hidupnya selalu menerima pukulan dan bentakan, untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupku... merasakan ada seseorang asing yang datang menolong dan menatapku penuh rasa khawatir yang tulus. Hatiku yang beku seketika bergetar hebat penuh rasa senang.
"Namaku Arka. Nama kamu siapa, adik kecil?" ucapnya lagi sembari mengulas sebuah senyuman manis yang luar biasa hangat ke arahku.
Aku menatap senyum indahnya dengan mata berkaca-kaca, mencoba menjawab namun lidah kecilku saat itu masih cadel dan belum bisa mengeja huruf dengan benar. "Aku... Aku Cicil~" ucapku malu-malu dengan pengucapan yang belepotan.
Mendengar jawabanku, anak laki-laki itu tidak mengejekku. Dia justru melepaskan suara tawa renyah yang sangat merdu didengar.
"Haha, Cicil ya? Nama yang lucu dan imut sekali," ucapnya tertawa kecil, lalu dengan sangat hati-hati ia mengeluarkan selembar sapu tangan bersih dari sakunya, membalut dan membersihkan darah di lututku dengan gerakan yang teramat lembut seolah aku adalah barang pecah belah yang berharga.
Entah kenapa... hanya dengan berada di dekatnya dan melihat senyum hangatnya, seluruh ketakutan dan luka di hatiku seketika lenyap total, digantikan oleh rasa damai dan ketenangan jiwa yang luar biasa besar yang belum pernah kurasakan seumur hidupku. Jiwaku mutlak jatuh cinta dan terikat sepenuhnya pada sosoknya sejak detik itu juga.
Sejak hari itu, aku selalu berusaha untuk bisa terus berada di dekatnya. Setiap siang, aku sengaja berjalan kaki jauh dan selalu menunggu kedatangannya di sepanjang jalur tikungan jalan yang sering ia lewati saat pulang sekolah, hanya demi bisa disapa atau mengobrol ringan dengannya.
Hampir setiap hari aku selalu berhasil menemuinya.
Kak Arka adalah orang yang sangat baik; dia selalu mendengarkan seluruh cerita kecilku yang tidak berguna dengan sabar, terkadang dia membelikanku jajanan manis, dan kami sering menghabiskan waktu bersama, duduk berdua di atas kursi taman sembari memakan es krim hingga sore menjelang.
Bagiku, dia adalah satu-satunya cahaya terang yang menyinari hidupku.
Hingga pada suatu sore, saat kami sedang duduk di kursi taman menikmati es krim bersama, aku menatap wajah tampannya dengan keseriusan penuh dari hati kecilku.
"Aku... Aku ketika cudah becal nanti... ingin jadi isteli Kak Alka!" ucapku berjanji dengan lantang, meski pengucapan mulutku saat itu masih berantakan dan belibet di sela-sela cadelku.
Mendengar janji pernikahan dari anak sekecil diriku, Kak Arka kembali melepaskan tawa renyah yang sangat hangat, lalu mengulurkan tangannya untuk mengacak-acak rambutku dengan penuh kasih sayang, menerima janji suciku tanpa beban.
"Benarkah begitu? Wah, aku senang sekali, Cicil. Tapi, karena usiamu jauh lebih muda dariku... nanti kalau kita sudah benar-benar menikah, kamu harus memanggilku dengan sebutan 'Mas Arka' ya? Bukan Kak Arka lagi."
Wajah kecilku seketika memerah sempurna karena merasa sangat bahagia janjiku diterima olehnya.
"Iya! Mashh Alka!" ucapku berapi-api, mencoba belajar memanggilnya menggunakan sebutan mas meski lidahku masih meliuk kaku.
Kak Arka tertawa makin lebar melihat tingkah menggemaskanku.
"Hahaha, tidak perlu buru-buru, Cicil. Untuk sekarang, panggil aku dengan sebutan Kak Arka saja dulu seperti biasa. Nanti... kalau kita sudah benar-benar dewasa dan menikah di masa depan, baru kamu boleh memanggilku seperti itu sepuasmu, bagaimana? Adil, kan?" ucapnya meyakinkan.
Aku mengangguk mantap dengan mata yang berbinar-binar penuh tekad membara. "Oke, Kak Alka!!!" ucapku dengan hati yang meledak oleh kebahagiaan murni yang tiada tanding di dunia.
Bersambung...
klo bsa ceritanya jgan terlalu lma ke yg lain
fokus ke arka aja kan dia MC
klo ke yg lain sebisanya agak dipersingkat
gitu aj dan ceritanya bagus kok
semangat buat ceritanya thor
tak kasih kopi 1👍