Antares Bagaskara atau yang akrab dipanggil Ares adalah seorang pria tampan dan kaya, yang baru saja bercerai dengan istrinya. Ia memiliki seorang anak laki-laki bernama Arkanio Bagaskara.
Antares atau yang akrab dipanggil Ares harus diperhadapkan dengan perceraian karena perselingkuhan istrinya. Disisi lain ia bertemu dengan Anita yang merupakan babysitter dari anaknya. Percikan asmara pun muncul diantara keduanya? Namun, semua itu tidaklah mudah. Lantas bagaimana seorang duda beranak satu memperjuangkan cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kristikitt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28 - Hamil
Kehamilan gue saat ini sangat tidak terduga. Bagaimana tidak, disaat gue merasa putus asa karena tak kunjung hamil, ternyata dia sudah hadir dalam perut gue. Sedari tadi gue terus mengusap lembut perut gue. Rasa bahagia gue membuncah saat ini.
Gue sedikit terkejut saat menyadari ada tangan yang melingkar diperut gue. Tapi itu tak berlangsung lama. Gue tahu benar pemilik tangan ini. Ialah, Mas Ares. Sama halnya dengan gue, dia pun sangat antusias dengan kehamilan gue ini.
"Terima kasih sudah mau mengandung anak Mas." Ucapnya.
Gue membalas dengan menggeleng. Dengan pelan, gue berbalik kearahnya. Mata kami saling berpandangan. Gue pun tersenyum. "Kenapa harus bilang terima kasih Mas? Ini impian kita." Ucap gue.
Mas Ares pun tersenyum. "Mas bahagia, Nit." Ucapnya.
"Aku juga Mas." Balas gue.
"Ada yang kamu pengen gak?" Gue berpikir sejenak. "Ada Mas."
"Apa?" Mas Ares sangat antusias.
Tak langsung menjawab, gue malah memeluk Mas Ares. "Apa hm?" Tanya Mas lembut. Tangannya menyapu area punggung gue.
"Aku mau Mas." Ucap gue sambil menatapnya seduktif. Mas Ares tampak terkejut. Namun, dia langsung menggeleng. "Gak bisa, Nit. Kehamilm kamu masih muda. Itu berseriko buat anak kita." Astaga, pikiran suami gue kejauhan. Dasar, para suami, pasti otaknya gak jauh dari ranjang.
Gue lantas melepaskan pelukan kami. Hal itu dianggap sebagai mode mengambek oleh Mas Ares. Dia pikir gue ngambek karena kita tidak bisa melakukan 'itu'. Padahal bukan itu maksud gue. "Sayang, please, ngerti, anak kita masih terlalu lemah."
"Yaampun Mas. Maksud aku bukan itu." Ujar gue.
"Lalu?" Mas Ares kelihatan bingung.
"Aku mau Mas elusin perut aku." Pinta gue. Tanpa pakai lama, Mas Ares langsung mengelus perut gue. Posisi kami saat ini adalah berbaring diranjang. Sesekali Mas Ares akan mencium perut gue.
"Terima kasih sudah hadir diperut Bunda, nak." ucapnya kepada anak kami. Gue yakin, anak kami pasti mendengar ucapan Papanya.
Malam ini gue tidur dengan pelukan dari Mas Ares. Terasa sangat nyaman memang. Tapi entah mengapa ketika pagi hari gue bangun, perut gue terasa sangat mual. Dengan cepat gue berlari ke toilet. Inikah yang dinamakan morning sickness?
Mendengar suara mual gue, Mas Ares lantas menyusul gue ke toilet. Namun, ketika Mas Ares mendekat, gue semakin mual. Sehingga gue pun memberikan aba-aba kepadanya untuk menjaga jarak. Mas Ares kelihatan kebingungan.
"Bentar, Mas ambilin minyak kayu putih dulu." Ucapnya.
Tak lama kemudian, Mas Ares datang. Ia bermaksud mengoleskan minyak kayu putih di tubuh gue, ketika ia mendekat, gue semakin mual. Saat dia menjauh, gue merasa lebih enakan. "Mas pakai parfum apa sih, kok baunya menyengat?" Tanya gue.
Mas Ares mengerutkan keningnya. Lantas ia pun mencium tubuhnya sendiri. "Mas gak pakai parfum apa-apa kok. Ini juga baru bangun tidur, masa udah pakai parfum?" Benar juga ucapannya.
"Tapi kok baunya gak enak banget?" Gue masih merasa aneh dengan bau Mas Ares.
"Masa sih?" Mas Ares sampai tidak percaya. "Kalau gitu Mas mandi dulu." Ucapnya.
...***...
Gue menceritakan peristiwa tadi pagi kepada mertua gue. Mami sampai geleng kepala ketika gue menolak dengan dengan Mas Ares. Padahal saat ini Mas Ares sudah mandi dan tampak rapi. "Sayang, kamu kenapa?" Mas Ares jadi panik sendiri.
"Ibu hamil itu sensitif, Res. Kali aja bau kamu gak sesuai dengan hidungnya Nita, makanya dia mual terus." Ucap Mami.
"Bau gimana? Biasanya juga aku bau begini." Mas Ares jadi bingung sendiri.
"Gak tau Mas. Bau Mas aneh aja, bikin perut aku mual." Gue pun bingung sendiri.
"Persis seperti Mami kamu waktu lagi mengandung kamu, Res." Celetuk Papi. Seketika Mami jadi ingat dengan pengalamannya saat mengandung Mas Ares. Mami jadi lebih sensitif dengan bau-bauan. Padahal aroma-aroma tersebut adalah aroma yang sering ia cium sebelum mengadung Mas Ares. Setelah mengandung, perubahan signifikan pun terjadi. Banyak aroma yang membuat Mami jadi mual. Sepertinya hal itu menurun kepada anak yang ada dalam perut gue.
"Berapa lama Mami bisa normal lagi?" Tanya Mas Ares. Mami dan Papi terlihat sedang berpikir. "Lumayan lama sih, Res." Ucap Mami.
"Kalau gak salah sebulanan." Jawaban Papi membuat Mas Ares jadi terbelak kaget. "Sebulan Pi?" Ia memastikan sekali lagi. "Iya." Angguk Papi mantap.
"Untungnya kamu gak sensitif sama bau Papi kamu." Celetuk Mami.
"Kenapa anak aku beda?" Mas Ares tidak menerima dengan kesensitifan gue. "Udah deh Mas, itu artinya kit harus jaga jarak sekarang." Ucapan gue sukses membuat Mas Ares menunjukan wajah tidak menerima. "Gak bisa gitu, Nit." Tolaknya.
"Ini juga demi anak kamu, lho." Gue sependapat dengan Mami.
"Gimana aku bisa tidur tanpa pelukan kamu, Nit?" Astaga, apakah hal seperti itu harus ditanyakan didepan orang tuanya seperti ini? Gue jadi malu. "Apaan sih Mas?"
"Sebulan doang, Res." Ucap Papi dengan enteng.
Mas Ares mendesah berat. Selama ini kami selalu berdekatan. Wajar jika kondisi gue sekarang membuat Mas Ares jadi uring-uringan.
Jika Mas Ares sedang tidak berada dirumah, maka bukan menjadi persoalan. Namun, ketika dia pulang, maka itu baru menjadi persoalan. Dalam radius 5 langkah pun gue menjadi mual dengannya. Arka sampai mengejek Papanya itu.
"Nit, kamu kangen pelukanku gak?" Mas Ares terlihat merana sekali. "Kangen sih Mas." Jawab gue dengan jujur.
"Kalau gitu kita pelukan sebentar yah." Mas Ares mendekat, namun belum juga tangannya memeluk gue, gue sudah lebih dahulu berlari ke toilet. Perut gue mual sekali.
"Nak, sampai kapan kamu siksa Papamu ini?" Ucap Mas Ares dengan frustasi. Perasaan, kemarin baik-baik saja, eh, sekarang jadi tidak baik-baik saja.
Tak sampai disitu saja, bahkan ketika hendak tidur pun, gue sama sekali tidak bisa mendekati Mas Ares. "Mas, aku tidur sama Arka saja yah?" Ijin gue.
Wajah Mas Ares terlihat sangat tidak suka dengan permintaan gue. Namun, ketika gue mengatakan ini demi anak kami, maka dengan terpaksa Mas Ares pun mengijinkan gue tidur dengan Arka.
Ranjang kami yang luas kini terasa semakin lapang hanya karena Mas Ares tidur sendirian disana. Mau bagaimana lagi, ibu hamil harus dimaklumi.
Setelah gue sampai dikamar Arka, Mas Ares langsung menelepon gue. Ternyata ini video call. Wajah Mas Ares sedih sekali dilayar ponsel gue.
"Jangan sedih Mas."
"Gimana gak sedih, aku gak bisa mendekati anak dan istriku sendiri?" Frustasi sekali suamiku itu.
"Bukan cuman Mas yang sedih, aku juga sedih Mas gak bisa pelukan." Ucap gue dengan jujur.
"Tahan yah Sayang. Ini gak lama kok." Ucapnya.
"Ngomong dong sama anaknya biar gak mual lagi kalau Bundanya dekatan sama Papanya." Gue pun mengarahkan ponsel ke area perut gue.
"Sayang, Papa tau kamu sedang dalam masa berkembang didalam sana. Tapi, tolong jangan buat Bunda sama Papa menjauh. Papa sayang banget sama kamu dan Bunda. Papa jadi sedih ketika gal bisa berdekatan dengan kalian. Papa ingin memeluk kalian, Sayang." Mas Ares berbicara dengan anaknya.
"Semoga anaknya dengar Mas."
"Iya." Mas Ares mengangguk. "Yasudah, sekarang Bunda tidur yah. Good night."
"Good night. We love you Papa."
"I love you too."
...-***-...