Carla, seorang gadis yang memiliki sosok kekasih yang mencintainya dengan abnormal. Rasa cinta yang dimiliki oleh kekasihnya untuk dirinya, seakan merantai hidupnya. Kekangan yang mengerikan menjeratnya pada sebuah lingkaran, tak berujung dan terus berputar. Hatinya milik laki - laki itu, jiwanya, raganya, termasuk nyawanya.
Dirinya akan bertahan, itu pasti. Karna hatinya telah terenggut begitu saja, dan masuk ke dalam hidup kelam lelaki itu. Namun jika jiwanya terus terkikis, maka satu hal yang akan ia lakukan.
Pergi.
"Aku nyerah, mari kita akhiri sampai disini Steve."
Percaya atau tidak, bibirnya sungguh kelu untuk mengatakan itu. Tubuhnya gemetar, karena cinta yang ia impikan selama ini ternyata semenyakitkan itu.
"Ahkk.." teriak Carla kala tangan kokoh itu menekan luka di dahinya sambil tersenyum smirk.
Carla tersenyum kecut.
"Mati atau tetap bersamaku?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta tidak selalu suci
Ruang kelas yang hening, menjadi saksi bisu antara tiga orang remaja yang saling pandang satu sama lain. Seorang gadis terlihat berdiri di pojokan sana sembari memilin ujung bajunya. Kenapa, Kenapa ia malah gugup?
Carla menghela nafasnya sejenak dan memasang wajah datar, lalu melenggang pergi. Namun saat ia melewati lelaki yang sedari tadi menatapnya bak sebilah pedang tangannya dicekal begitu saja. Carla tersenyum hambar, dan menatap Steve sambil berkata, "Lepaskan." Bukannya terlepas tangannya malah dicekal semakin erat. Sungguh ini terasa sangat ngilu, tangan kecilnya terasa remuk dihadapan lelaki itu.
Sedangkan lelaki berkacamata itu duduk dibangku pojokan sana, diam membisu sambil menatap Steve penuh arti. Tidak tersenyum maupun tertawa. Dialah Edgar si kacamata yang punya seribu wajah.
"You crazy, let me go!" geram Carla membalas tatapan Steve tak kalah tajam.
Steve tersenyum dan membelai lembut surai gadisnya lalu menyelipkannya, kemudian berbisik "I like this.." Smirk nya, "Inilah gadisku yang asli. Tajam, pedas, dan aku tergila-gila karnanya." bisiknya diiringi dengan tawanya yang begitu keras. Carla semakin berontak melihat tawa puas lelaki itu.
"I hate you!"
"Apa peduliku? Terserah kau sayang, intinya kau milikku. You're mine, i love you and that's enough."
Tanpa menunggu jawaban Carla, Steve melenggang pergi sambil menyeret seorang gadis yang jalannya terseok-seok. Luka dilututnya kian mengering, dan ini terasa sangat perih. Mengapa hanya ada luka?
Apa itu bahagia? Sungguh, hingga saat ini ia benar-benar tidak mengerti apa definisi bahagia yang sesungguhnya.
"Kemana kau membawaku?" tanya Carla sambil berusaha mengimbangi langkah besar lelaki itu.
"Apa kau perlu tau sayang?"
Carla tersenyum hambar, lalu berkata "Kau benar, aku tidak perlu mengetahuinya. Karna meskipun aku menolaknya kau tidak akan merubah keputusanmu."
Steve tersenyum, "Gadisku semakin pintar, dan aku akan semakin mengikatnya disisiku."
Carla terdiam, dirinya tidak terkejut lagi mendengar kegilaan dari lelaki itu. Bahkan hampir setiap hari kalimat yang penuh dengan kegilaan itu terlontar begitu saja. Linglung dengan pikirannya yang berkecamuk, tanpa ia sadari mereka telah sampai pada sebuah ruangan bercat putih yang dipenuhi dengan obat-obatan.
"Kenapa kau membawaku kesini? Aku kira kita akan pul-"
"Aku ada urusan kau diam disini! Jangan pergi kemanapun sebelum aku datang. Selangkah kau pergi kakimu taruhannya!" Potong Steve cepat, lelaki itu terlihat seperti orang buru - buru.
Tanpa menjawab Carla merebahkan dirinya di ranjang UKS tersebut, dan memunggungi Steve.
"Aku pergi, i love you.." bisiknya lembut sambil mencium pelipis Carla.
***
Terlihat sebuah mobil Bugatti La Voiture Noire yang berwarna hitam pekat itu, terparkir indah di sebuah restoran mewah. Seorang lelaki turun dengan gaya angkuhnya dan aura yang begitu mengintimidasi. Melihat hal itu, senyum seorang gadis yang tengah duduk diseberang sana mengembang sempurna dan ia segera bangkit untuk menyambut lelaki yang sedari tadi ia tunggu. Bukan, ralat saja. Sudah lama dirinya tunggu, dan sekarang kekasih hatinya tengah berada di hadapannya.
"Hi darling...." sapa gadis tersebut, dengan senyuman yang tak luntur sedikitpun. Ia pun segera berdiri dan memeluk erat lelaki itu.
Steve tersenyum dan membalas pelukan gadis itu, dan berkata "Hi too and how are you?" tanyanya setelah pelukan terurai, dan gadis itu semakin mengembangkan senyumnya.
"Tidak pernah sebaik ini, apalagi setelah aku bertemu kembali denganmu.." balas seorang gadis berambut pirang sebahu itu dengan tatapan teduh dari iris biru sejernih lautan.
Steve tertawa pelan dan mengacak pelan rambut gadis itu, "Kau bisa saja Ness.."
"I'm seriously Steve..."
"Hm, me too."
"Hahahaha baiklah, aku hanya bisa percaya." jawab gadis itu dan diiringi tawa indahnya.
Steve kembali tersenyum lalu bertanya, "Kita pergi?"
"Let's go!" jawab gadis itu semangat sambil menggandeng lengan Steve erat.
"Kau semangat sekali." kekeh Steve sambil membukakan pintu mobil untuk Agnessia. Gadis itu tersenyum, sungguh sekarang dirinya merasa orang yang paling spesial dan beruntung. "Tentu saja, sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Mungkin 10 tahun lalu." ujarnya sambil berusaha memasang seat belt.
"Maybe, dan ya waktu berjalan begitu cepat." jawab Steve sambil membantu Agnessia memasang seat belt nya.
"Thank you."
Steve tersenyum dan segera menjalankan mobil untuk menuju suatu tempat, meninggalkan tatapan dari orang-orang yang menatapnya penuh dengan kekaguman.
***
Sunyi, hanya detikan dari jarum jam yang mengisi suatu ruangan bercat putih itu. Seorang gadis terlihat menatap kosong kearah jendela. Menampilkan orang-orang yang tengah bercanda ria, saling tukar cerita dan tertawa bersama. Sedangkan dirinya, entah apa yang ia lakukan sendiri disini. Tapi mau bagaimana lagi, kakinya menjadi taruhannya. Karna ancaman lelaki itu tidak pernah bualan semata.
Carla tersenyum kecut, ia merasa Steve berubah. Bukan, tidak berubah dan sikap diktator nya masih sama. Tapi entahlah, dirinya merasa ada sesuatu yang salah disini yang bahkan tidak bisa ia deskripsikan. Apalagi setelah membaca pesan singkat kemarin dari handphone kekasihnya, yang membuatnya merasa kalau memang benar ada sesuatu yang salah.
Sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba - tiba pintu terbuka. Dengan cepat Carla berbalik, mengira Steve akan datang. Ia sudah sangat bosan diruangan yang dipenuhi dengan aroma obat-obatan. Namun salah, ternyata itu hanya seorang wanita yang membawa makanan.
"Nona, tuan meminta saya untuk mengantarkannya." ujar wanita itu sambil menundukkan kepalanya.
Tanpa menjawab, Carla kembali mengalihkan pandangannya keluar jendela. Sekarang dirinya sudah seperti seorang tahanan.
"Nona, ini harus di makan seka-"
"Pergi."
"Tapi nona-"
"Aku bilang pergi! Aku tidak suka mengulang perkataanku." seru Carla dan menatap tajam wanita itu.
"Baik nona." jawab wanita itu pasrah, setelah ini nyawanya lah yang akan menjadi taruhannya. Setelah itu wanita itu keluar dan tak lupa mengunci kembali pintunya.
Carla menghembuskan nafas perlahan, kemudian tertawa pelan. Rasanya dirinya ingin sekali berteriak sekuat yang ia bisa. Mengeluarkan setiap emosi dalam dirinya yang serasa membakar tubuhnya.
Dirinya bukan orang baik, bukan juga orang polos yang tidak mengerti segalanya. Namun setelah bertemu lelaki itu segalanya berubah, hidupnya dan termasuk dirinya. Karna kepribadian dan sikap diktator lelaki itu tidak mampu ia lampaui, dan berakhir dengan menerimanya dengan pasrah hingga hatinya pun ikut terenggut. Benar, ia mencintai lelaki itu apa adanya.
"Ternyata cinta tidak selalu putih, namun juga bisa hitam."
Carla berbalik dan berjalan perlahan, lututnya masih saja terasa ngilu. Ia pun duduk disebuah sofa dan membuka tas nya kemudian mengambil bukunya dan mulai menulis sesuatu.
Jika novelnya kemarin dihancurkan dengan cara dibakar, maka tangannya bisa membuatnya sendiri.
Dan tentu saja berdasarkan pengalaman pahit dan manis dari hidupnya sendiri.
...TBC...