NovelToon NovelToon
Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:179
Nilai: 5
Nama Author: Awan

**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.

Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:

> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.

Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*

Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.

*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*

Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*

…tapi malam itu, Mas ingkar janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31: Mas Bukan Orang Baik

Sabtu siang, Larasati dan Wirya pulang dari Puncak lebih cepat.

Radhika menunggu di ruang keluarga dengan wajah gelap. Larasati duduk hati-hati di ujung sofa, sedangkan Wirya berdiri dekat pintu seolah siap melarikan diri.

"Bunda cuma mau kalian lebih dekat," kata Larasati.

"Dengan merusak shower?"

"Papa yang merusak," jawabnya cepat.

Wirya menunjuk istrinya. "Bunda mengancam akan mencabut semua anggrek Papa kalau Papa nggak menutup katupnya."

"Tapi Papa tetap melakukannya."

"Anggrek itu dirawat lima belas tahun!"

"Naila hampir tenggelam," potong Radhika.

Keduanya langsung diam.

Larasati menunduk. "Bunda salah. Nggak akan diulang."

"Semua shower diperbaiki hari ini. Setelah itu jangan atur situasi pribadi kami lagi."

Wirya mengangguk. "Papa sudah panggil teknisi. Katupnya cuma ditutup dan beberapa kepala shower dilepas, nggak rusak permanen."

"Bukan soal biaya perbaikan. Kalian menciptakan keadaan darurat tanpa memberitahu siapa pun."

Larasati memegang tangan putranya. "Bunda benar-benar nggak tahu Naila minum alkohol."

"Justru itu. Bunda nggak pernah bisa tahu semua akibat dari sebuah jebakan."

Kalimat tersebut membuat Larasati tidak mencari pembelaan lagi.

Naila yang baru keluar kamar mendengar bagian akhir. Ia tidak ingat kepanikan malam tadi, tetapi melihat mata Radhika yang masih merah membuatnya berhenti bercanda.

Selama akhir pekan, Radhika memakai alasan pekerjaan untuk menghindar. Ia memastikan dokter datang, mengatur makanan, lalu mengunci diri di lantai tiga. Pesan Naila dibalas seperlunya.

Naila dua kali naik membawa teh dan selalu menemukan pintu ruang kerja tertutup. Pada kunjungan ketiga, ia hanya menggantung kantong berisi roti di gagang pintu.

Mas harus makan, tulisnya.

Radhika membaca pesan itu dari balik pintu. Ia menunggu sampai langkah Naila menjauh sebelum mengambil kantong. Roti masih hangat. Jarak yang ia bangun terasa semakin kejam karena Naila terus membalasnya dengan perhatian.

Minggu malam, ia pergi ke Crescent Club menemui Gilang.

"Wajahmu seperti habis kehilangan perusahaan," kata Gilang setelah melihatnya menghabiskan dua gelas tanpa bicara. "Putus cinta?"

"Aku nggak pacaran."

"Nah, berarti cinta sepihak."

"Jangan bicara omong kosong."

Gilang menyandarkan siku. "Kamu datang cari aku tengah malam, minum tanpa rasa, lalu marah kalau ditanya. Kalau bukan perempuan, pasti keluarga."

"Dua-duanya."

"Perjodohan?"

Radhika menatapnya. Gilang mengangkat kedua tangan. "Aku kenal keluarga kalian sejak kecil. Rumor Anindya bukan rahasia bagi orang tua."

"Aku nggak mau membahasnya."

"Kalau begitu berhenti minum. Alkohol nggak akan membuat keputusan untukmu."

Nasihat itu benar, sehingga Radhika semakin kesal.

Radhika menuang minuman lagi. Gilang tidak mendapat jawaban.

Di sofa lain, Sherly, artis baru Pradipta Entertainment, mengenali Radhika sebagai putra kedua Adiwangsa. Ia terus mengisi gelas Gilang sampai pemilik agensi itu mabuk dan meninggalkan kartu akses cadangan di meja.

Sherly mengambil kartu tersebut lalu keluar menuju ruang istirahat pribadi yang biasa dipakai tamu VIP.

Radhika sedang membasuh wajah ketika pintu terbuka. Sherly masuk dengan senyum manis dan menutup pintu di belakangnya.

"Pak Radhika sendirian?"

"Keluar."

"Saya cuma mau menemani."

Ia mendekat. Radhika meletakkan gelas terlalu keras hingga pecah di meja, lalu menunjuk pintu.

"Kembalikan kartu Gilang dan keluar sekarang."

Tatapannya membuat Sherly pucat. Ia meletakkan kartu dan bergegas pergi.

Setelah sadar, Gilang memeriksa CCTV, meminta keterangan, lalu memutus kontrak Sherly sesuai klausul pelanggaran keamanan dan akses tanpa izin. Tidak ada garis panjang untuk kejadian itu. Bagi Radhika, kedekatan perempuan lain hanya menimbulkan penolakan.

Gilang juga meminta keamanan memperbarui hak kartu akses. Kartu cadangan dinonaktifkan, log pintu disimpan, dan seluruh artis baru kembali diberi pengarahan tentang privasi tamu. Sherly diberi kesempatan membawa pendamping saat menerima surat pemutusan serta mengambil barangnya, sehingga penyelesaian tetap tercatat dan tidak berubah menjadi intimidasi pribadi.

Justru kenyataan bahwa hanya Naila yang mampu mengguncang tubuh dan pikirannya membuat ia semakin putus asa.

Senin pagi, Radhika mengantar Naila ke UI. Si Lemon duduk di pangkuan gadis itu dan terus mengingatkan agar ia minum.

Sebelum turun, Naila memegang lengan Radhika. "Mas jangan kerja terus sampai sakit. Tidur yang cukup. Jangan minum banyak lagi."

"Kamu sendiri hampir tenggelam masih mengatur orang."

"Karena aku nggak ingat. Mas yang kelihatan seperti nggak tidur tiga hari."

Radhika tersenyum pahit. "Kalau suatu hari kamu tahu Mas bukan orang baik, bagaimana?"

"Nggak mungkin."

"Kamu terlalu percaya."

"Mas sudah janji selalu memperbaiki kalau salah. Jadi tetap orang baik."

Naila turun dan melambai sebelum masuk gerbang. Radhika tinggal sendirian di mobil.

"Nai," bisiknya, "Mas sudah melakukan hal buruk kepadamu, walau cuma di mimpi."

Ia membenci dirinya karena menyamakan mimpi yang tidak dipilih dengan tindakan nyata, tetapi rasa bersalah itu tidak mau tunduk pada logika. Setiap kali menutup mata, ia mengingat wajah Naila dalam mimpi dan kepercayaan penuh gadis itu saat sadar.

Di kelas, Naila menemukan Gita duduk dengan masker menutupi sebagian wajah. Saat masker itu dibuka, ada tiga goresan merah di pipi kirinya.

"Kenapa?"

"Tadi malam mimpi buruk. Kuku sendiri."

Naila memegang tangan Gita. Kukunya pendek dan dibentuk bulat.

"Kuku begini nggak mungkin membuat goresan itu. Siapa?"

Gita menghindari tatapannya.

"Git, jangan lindungi orang yang menyakitimu."

"Aku nggak mau masalah kalian makin besar."

"Kamu terluka karena menjaga barangku. Itu sudah menjadi masalahku."

Naila mengambil tisu antiseptik dari tas dan membersihkan tepi goresan dengan hati-hati. Tidak dalam, tetapi salah satu garis dekat dengan mata.

"Kita ke klinik kampus setelah kelas. Pastikan nggak infeksi dan dicatat."

Gita hendak menolak, lalu mengangguk melihat wajah Naila.

Setelah didesak, Gita akhirnya bicara. "Kemarin Vania datang ke kos. Katanya mau mengambil barang tertinggal. Aku melihat dia mencoba membuka kulkasmu dan mengambil stoples lemon madu. Waktu kutahan, dia marah. Kami bertengkar, lalu dia mencakar wajahku."

"Ada saksi?"

"Pengelola kos lihat dia keluar. Kamera lorong juga pasti merekam waktu kedatangan. Di kamar nggak ada kamera."

"Kita simpan catatan klinik dan minta rekaman lorong. Aku nggak akan menuduh tanpa bukti, tapi aku juga nggak akan diam lagi."

Naila berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.

Vania bukan lagi hanya merusak barang. Ia sudah melukai orang yang membela Naila.

Naila memotret luka Gita dengan izin, mencatat waktu pengakuan, lalu mengirim pesan kepada pengelola kos agar rekaman koridor tidak terhapus otomatis. Semua langkah dilakukan terbuka di depan Gita.

"Kamu nggak perlu menghadapi dia sendirian lagi," katanya.

Gita mengangguk, kali ini tanpa mencoba mengecilkan rasa sakit atau melindungi pelaku.

Kali ini, peringatan saja tidak akan cukup. Naila akan menghentikannya dengan bukti yang tidak bisa dibantah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!