Pencapaian tertinggi setelah lulus kuliah bagi Kinan adalah bisa rebahan dengan tenang di kamarnya.
Untuk apa hidup dibuat rumit dengan bekerja keras atau menikah kalau tidur siang saja sudah menjadi surga dunia? Menurut prinsip Work Smart-nya, energi harus dihemat seminim mungkin demi kedamaian jiwa.
Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat sang ibu menjodohkannya dengan Arga, seorang CEO workaholic akut yang hidupnya diatur oleh Google Calendar dan target. Melihat Arga bekerja saja sudah membuat Kinan merasa kelelahan setengah mati.
Di bawah satu atap, benturan dua dunia tidak terhindarkan. Arga menuntut disiplin, sementara Kinan selalu punya cara unik untuk memotong waktu pekerjaan rumah demi bisa kembali ke kasur.
Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Arga yang terpaksa belajar cara melambat, atau Kinan yang akhirnya mengikuti ritme hidup suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 24
Klik. Pintu depan apartemen terbuka.
Seorang kurir berdiri sopan di balik pintu. "Atas nama Mbak Kinan?"
"Iya, saya sendiri," jawab Kinan seraya menerima sebuah kardus berukuran sedang yang dikemas rapi. Setelah menandatangani resi digital di ponsel kurir, ia menutup pintu dan membawa paket itu ke ruang tengah.
Ponsel di saku celananya bergetar tak lama setelah ia meletakkan kardus itu di atas meja.
Danu: Sudah sampai?
Kinan: Ah... Iya, sudah sampai, Nu. Gue enggak nyangka lo beneran beliin mesin ini buat gue.
Danu: Masa iya gue bohongin lo, Nan... kan gue udah bilang itu sebagai simbol kebebasan lo, wkwk.
Kinan tersenyum kecil, menggeleng-gelengkan kepala membaca pesan itu.
Kinan: Oke deh, makasih ya, emang lo sobat yang paling ngertiin gue.
Setelah mengirim pesan, Kinan meletakkan ponselnya kembali dan melanjutkan unboxing paket.
Ia mengeluarkan perlahan sebuah mesin kopi otomatis berwarna hitam matte. Di dalam kotak, Danu juga menyertakan dua cangkir keramik buatan perajin lokal dan dua kantong biji kopi.
"Asyik... bisa langsung dicoba nih," ucap Kinan riang seraya menata mesin kopi di atas meja dapur.
**
Beberapa jam kemudian.
( NEXURAL GROUP )
Suara dengung dari pendingin udara mendominasi ruang kerja di lantai teratas gedung perkantoran. Di atas meja kerja Arga yang bertumpuk beberapa map, layar monitor menampilkan grafik pengeluaran bulanan, jumlah pengguna aktif aplikasi, serta draf kerja sama investasi.
"Kita pakai sistem pinjaman yang nanti diubah jadi saham, atau langsung tentukan nilai perusahaan kita di angka empat puluh juta dolar?" tanya Evan seraya memutar-mutar pulpen di jemarinya.
Arga tidak mengangkat pandangannya dari dokumen di tangannya. "Langsung tentukan batas nilai perusahaan. Mr. Chen bukan tipe investor yang mau diam saja. Kalau kita pakai sistem pinjaman, kelompok investornya di Singapura pasti bakal minta hak veto di jajaran pimpinan untuk proyek berikutnya."
"Tapi syarat awal dari tim mereka minta jatah satu kursi pimpinan dari sekarang, Ga," sanggah Evan. "Sisi pengembangan teknologi kita memang butuh suntikan dana cepat sebelum akhir tahun. Tapi kalau keputusan teknologi kita ikut dicampuri..."
"Sistem tidak akan disentuh," potong Arga cepat. "Saya sudah ubah pasal aturan mainnya. Jatah keuntungan bisnis buat mereka boleh dinaikkan sedikit, tapi hak suara utama tetap di tangan kita. Saya tidak akan menjual kendali NEXURAL GROUP hanya demi mengamankan dana cepat."
Evan menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Arga lekat-lekat. Pria di hadapannya ini baru saja memeriksa ulang lembar lampiran teknis sebanyak empat kali, hal yang sebenarnya sudah diselesaikan oleh tim hukum dan tim teknis.
"Ga," panggil Evan, menghentikan penjelasan Arga.
Arga menandai satu baris angka dengan pulpen. "Apa?"
"Berkas pemeriksaan itu sudah lo periksa tiga kali dari semalam. Mr. Chen dan tim penilainya juga sudah setuju sama poin dasar kita." Evan menarik napas panjang, melipat tangannya di dada. "Lo enggak lagi ngalihin emosi lo, kan?"
Jemari Arga yang memegang pulpen terhenti sejenak. "Maksud kamu?"
"Gue kenal lo bukan kemarin sore," cecar Evan dengan nada santai. "Gaya lo tiap kali ada masalah pribadi selalu sama. Lo persis kayak gini waktu... tiga tahun lalu."
Arga menutup berkas perjanjian di mejanya. "Saya sedang memastikan kesepakatan ini bersih, Van. Tidak ada hubungannya dengan hal lain."
"Beneran?" Evan mengangkat sebelah alisnya seraya tersenyum tipis. "Gue cuma mau mastiin... lo yang udah gila kerja ini, enggak mungkin lebih gila lagi, kan?"
Arga mengerutkan kening mendengar ucapan Evan.
"Gue tahu kemarin waktu di Singapura... lo sempat ketemu dia?" selidik Evan pelan.
Arga tidak menjawab, tetapi gerakan tangannya terhenti di atas meja. Suasana ruangan mendadak hening dan tegang.
"Ga, lo baru aja nikah beberapa hari yang lalu. Bahkan semalam lo baru balik dari Singapura. Dan pagi ini lo udah di kantor kayak orang kesetanan. Lo pasti belum makan siang, kan?" balas Evan, menyuarakan kekhawatirannya. "Gue cuma enggak mau ya, lihat lo sampai goyah atau kacau gara-gara ketemu dia lagi."
Arga menatap Evan dengan pandangan mata datar. "Tidak ada yang goyah, Van."
"Bagus deh kalau gitu. Kasihan Kinan kalau sampe lo macem-macem," tegas Evan pelan. "Lo enggak bisa selamanya jadiin kesibukan sebagai tempat sembunyi dari masa lalu lo."
Arga tidak membalas lagi ucapan Evan. Pria itu lebih memilih merapikan berkas di mejanya.
**
Pukul lima sore.
Aroma tumisan bumbu dapur memenuhi area pantry apartemen. Bi Sari tampak sigap di depan kompor.
"Eh, Non Kinan... enggak usah repot-repot, Non. Ini sudah tugas Bibi," ujar Bi Sari panik saat melihat Kinan mengikat rambutnya dan mengambil pisau dapur untuk membantu memotong sayuran.
Kinan tersenyum canggung, tetap memegang pisau dapur seraya mengiris wortel dengan pelan. "Enggak apa-apa, Bi. Saya justru enggak enak kalau cuma duduk lihat Bibi repot sendirian. Lagipula cuma bantu potong-potong sayur aja kok, enggak susah."
Bi Sari tersenyum hangat. Namun, saat berbalik menuju bak cuci piring, matanya terhenti pada area meja dapur.
Di sana, terlihat mesin kopi otomatis milik Kinan yang bersebelahan dengan mesin kopi espresso milik Arga yang bergaya industrial dan minimalis.
Bi Sari mengedipkan mata, seraya menatap dua mesin yang berdampingan itu. "Lho... Non Kinan, Den Arga beli mesin kopi baru lagi? Padahal mesin kopi yang itu juga jarang dipakai?"
Kinan menoleh, mengusap tangannya dengan serbet. "Em, bukan, Bi. Itu mesin kopi punya saya."
"Oalah... Bibi kira Den Arga sengaja beli mesin kopi baru," sahut Bi Sari polos sambil manggut-manggut. "Biar enggak pakai barang dari mantan pacarnya lagi gitu..."
Bi Sari mendadak menghentikan ucapannya. Ia refleks menepuk bibirnya sendiri dengan wajah panik.
Kinan, yang semula memegang pisau dapur dengan santai, mendadak menghentikan tangannya. Matanya membelalak berbinar penuh rasa ingin tahu.
"Mantan pacar?" ulang Kinan, yang justru memajukan tubuhnya menatap Bi Sari dengan antusias. "Maksud Bibi... mesin kopi yang ribet ini pemberian mantannya Arga?"
Bi Sari makin gelisah, melirik Kinan dengan rasa bersalah. Ia meremas lap di tangannya seraya berbisik pelan, "Duh... maaf ya, Non Kinan. Bibi enggak ada maksud apa-apa, apalagi mau bikin Non Kinan sedih atau kepikiran. Bibi benar-benar enggak sengaja..."
Kinan yang melihat raut cemas Bi Sari justru terkekeh geli. "Astaga, enggak apa-apa, Bi! Saya enggak sedih atau marah kok," potong Kinan cepat dengan bisikan antusias. "Malah saya jadi penasaran. Apa Bibi pernah ketemu langsung sama orangnya?"
Bi Sari menghela napas. "Serius Non Kinan enggak apa-apa? Bibi beneran enggak enak ini. Takutnya Bibi jadi bikin Den Arga dan Non Kinan bertengkar."
Kinan tersenyum seraya menahan tawanya. "Serius Bi, saya enggak apa-apa. Ayo dong Bi, jawab... Saya penasaran mantan pacar pria sekaku Arga itu kayak apa?"
"Em... Jujur ya, Non... Bibi sendiri enggak tahu namanya, dan juga belum pernah lihat secara jelas wajahnya."
Kinan mengerutkan kening heran. "Lho, kok bisa?"
"Iya Non, soalnya tiap kali wanita itu datang atau keluar apartemen, wanita itu selalu pakai masker sama topi," bisik Bi Sari pelan. "Tapi ya... Bibi bisa simpulkan dari sorot matanya, gaya jalannya, sama postur tubuhnya yang tinggi dan terawat. Kalau wanita itu pasti sangat cantik."
Bi Sari kembali memukul bibirnya sendiri. "Duh, Non maaf... mulut Bibi ini emang..."
"Enggak apa-apa kok, Bi," jawab Kinan yang kini pandangannya menatap ke arah mesin kopi milik Arga.