Tidak update harian!!
Zalina Asyara, seorang gadis muda yang harus menelan pahit kehidupan setelah ayahnya jatuh bangkrut dan terlihat hutang pada seorang rentenir. Ibunya memilih lari, meninggalkan ayahnya yang sudah jatuh bangkrut itu juga dirinya.
Zalina terpaksa bekerja sebagai pelayan restoran, untuk membantu ayahnya membayar hutang.
Namun, suatu hari, sepasang suami-istri kaya membawa sebuah lamaran pernikahan untuk Zalina.
mereka adalah kenalan lama ayahnya. Dulu, ayahnya pernah membantunya di saat mereka sedang kesulitan. Kini, saatnya mereka datang untuk membalas Budi.
Apakah Zalina akan menyetujui lamaran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persahabatan Niel dan Kai
Kaiden tampak memakai jaketnya lalu meraih kunci mobil di atas nakas. Malam itu, setelah bicara dengan Zalina, ia berpamitan padanya untuk keluar sebentar.
Zalina tidak bertanya ke mana ia pergi. Karena Zalina merasa tidak punya hak untuk bertanya ataupun melarangnya.
Gadis itu hanya masuk ke dalam kamar dan memilih untuk melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu tadi.
Sementara Kaiden, turun ke basement untuk mengambil mobilnya.
Pria itu menyalakan mesin mobil, dan melaju menuju sebuah hotel di tengah kota, tempat seseorang berada.
Akhir-akhir ini, ia memang cukup sering mengunjungi hotel tersebut. Bukan untuk urusan bisnis, melainkan untuk mengunjungi sahabat baiknya, Niel, yang sedang berada di kota itu selama beberapa minggu untuk melakukan pemotretan dan syuting iklan.
Begitu Kaiden memasuki kamar hotel, seorang pria langsung menyambutnya dengan senyum lebar. Nathaniel Arka. Atau yang lebih dikenal dengan sebutan Niel.
Pria berambut sebahu itu selalu mengikat sebagian rambutnya ke belakang, dan menyisakan beberapa helai anak rambut yang dibiarkan jatuh di pelipisnya. Wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas, tetapi pembawaannya yang anggun dan gerak-geriknya yang lembut sering kali membuat orang menganggapnya sedikit feminim.
Terlebih lagi, Niel memang sangat memperhatikan penampilannya.
Malam itu ia memakai kemeja satin berwarna krem yang dipadukan dengan celana panjang hitam. Beberapa kancing bagian atas sengaja dibiarkan terbuka, memperlihatkan tulang selangkanya.
"Kai!" serunya antusias.
Niel segera menghampiri dan merangkul bahu Kaiden tanpa ragu.
Namun Kaiden hanya berdiri diam. Ia bahkan tidak menghiraukan rangkulan itu.
"Niel." ucap Kaiden dengan suara yang terdengar datar.
Niel mengerucutkan bibirnya, kemudian melepaskan rangkulannya.
"Selalu dingin seperti es." Ia menggelengkan kepala sambil berjalan menuju lemari es, mengambil dua kaleng soda. "Apa istrimu akan bertahan dengan sikap dinginmu itu?"
Kaiden yang sudah duduk di sofa, melontarkan tatapan tajam ke arah pria cantik itu.
"Jangan marah, sayang. Kau bisa terlihat beberapa tahun lebih tua dari usiamu nanti."
"Jangan panggil aku seperti itu."
"Baiklah, Suami."
Kaiden tampak mendengus pelan, pasrah pada kelakuan sahabatnya itu yang selalu berhasil membuat semua orang salah paham pada mereka.
Niel kemudian menjatuhkan tubuhnya ke sofa, dan memberikan salah satu kaleng soda yang ia bawa kepada Kaiden.
"Jadi... bagaimana rasanya menjadi pria yang sudah menikah?" ia menatap Kaiden dari atas ke bawah, seolah ingin mencari tahu apakah ada yang berbeda darinya.
"Normal."
Niel tampak mengernyit heran. "Normal?
"Ya."
Niel menaikkan sebelah alisnya. "Benarkah?"
Kaiden hanya mengangguk singkat dan menyesap soda miliknya dengan tenang.
Niel memperhatikannya beberapa detik. Lalu pria itu tampak tersenyum jahil ke arahnya.
"Apa..." Niel sengaja mengantungkan jawabannya. Ia lalu menyipitkan matanya, mencoba menebak isi kepala sahabatnya itu. "Jangan-jangan kau dan dia... belum..." Niel mencoba menebak, dan sepertinya tebakannya seratus persen benar.
Kaiden tidak menjawab, namun ekspresi wajahnya yang datar telah menjelaskan semuanya.
Mata Niel membulat sempurna.
"Serius?"
Kaiden meliriknya sekilas. "Kenapa harus kaget? Kau tahu alasan pernikahan itu terjadi."
"Apa kalian juga tidur di kamar terpisah?"
"Itu bukan urusanmu."
Niel terkekeh, lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Kau memang aneh, Kai."
Kaiden tidak menjawab. Ia kembali menyesap soda di dalam kaleng.
"Ku dengar... ayahmu akan keluar besok pagi." ucap Kaiden setelah terdiam beberapa saat.
Pertanyaan itu membuat Niel terdiam seketika. Senyum di wajahnya perlahan memudar. Matanya menerawang ke arah lain, seolah ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Aku tidak mau membicarakan hal itu." jawabnya pelan. "Dia tidak akan mengenaliku."
Kaiden menatap sahabatnya itu beberapa saat. "Kau yakin?"
Niel tersenyum hambar. "Sudah bertahun-tahun dia berada di penjara. Bahkan sebelum semuanya terjadi, hubungan kami juga tidak benar-benar baik."
"Kau perlu penjaga?" tanya Kaiden.
"Niel menoleh. "Penjaga?"
"Untuk berjaga-jaga. Dia akan keluar besok, dan kita tidak akan tahu apa yang akan dilakukannya setelah itu."
Niel terdiam sesaat. Senyum tipis kembali terukir di wajahnya, seolah berusaha menutupi kegelisahan yang perlahan muncul.
"Aku bukan anak kecil, Kai."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa kau masih menanyakan hal itu?"
Kaiden menyandarkan tubuhnya ke sofa. Tatapannya tetap lurus ke arah Niel. "Karena kau sahabatku."
Niel terdiam. Untuk beberapa saat hanya suara pendingin ruangan yang terdengar di antara mereka.
"Aku bisa mengirim beberapa orang untuk menjagamu. Setidaknya sampai kau kembali ke Jakarta."
Niel menghela napas sejenak. "Baiklah. Terserah kau saja."
Kaiden lalu menepuk pundaknya. "Aku tahu kau khawatir. Tapi, aku akan pastikan pria itu tidak akan pernah mendekatimu lagi."
Kata-kata pria itu terdengar tegas, seolah Kaiden benar-benar akan melakukan apa pun untuk menepati janjinya.
Niel menatap sahabatnya beberapa saat. Ada kehangatan yang perlahan mengalir di dalam dadanya, meski bayang-bayang masa lalu masih terus menghantuinya.
"Terima kasih karena kau tetap bertahan di sampingku." ucap Niel terdengar begitu tulus.
Kaiden menoleh. "Kau sahabatku." lanjutnya dengan tatapan serius. "Kalau ada yang mencoba menyakitimu, maka dia akan berurusan denganku."
Untuk sesaat, Niel hanya bisa terdiam. Ia tahu betul Kaiden bukan tipe pria yang mudah mengucapkan kata-kata manis. Karena itu, ketika pria tersebut mengatakan sesuatu dengan nada setegas itu, Niel tahu Kaiden benar-benar bersungguh-sungguh.
Besok pagi, pria yang selama ini berusaha ia lupakan akan kembali menghirup udara bebas.
Dan entah mengapa, hanya memikirkan hal itu saja sudah cukup membuat dada Niel terasa sesak.
Ia telah berusaha keras menjalani hidup tanpa bayang-bayang pria tersebut. Bertahun-tahun lamanya, Niel meyakinkan dirinya bahwa masa lalu itu telah berakhir bersama dengan hukuman yang dijalani pria itu di balik jeruji besi.
Namun, ternyata ia salah. Kebebasan pria itu seolah menjadi pertanda bahwa masa lalu yang selama ini terkubur perlahan akan kembali menghantuinya.
🥀🥀🥀
Keesokan paginya, Zalina bangun pagi seperti biasa. Ia berencana untuk pergi ke kafe Diandra siang nanti karena tidak tahu mau melakukan apa.
Ia lalu membuka kulkas dan mencari bahan masakan yang bisa ia olah pagi ini. Ia melihat ke sekeliling ruangan lebih dulu untuk memastikan apakah Kaiden berada di apartemen atau tidak.
Namun, sepertinya ia belum kembali ke apartemen sejak tadi malam.
Ia pergi kemana?
Hal itu membuat Zalina sedikit merasa penasaran. Ia tahu bahwa dirinya tidak punya hak sama sekali untuk mencampuri urusan pribadinya. Tetapi, entah kenapa hal itu membuatnya sedikit merasa kecewa.
Apa ada seseorang yang penting baginya di luar sana?
Zalina lalu memilih untuk mengabaikannya. Ia lalu memasak seporsi nasi goreng sederhana untuk dirinya sendiri.
Setelah selesai sarapan, ia membereskan piring dan peralatan makan yang ia gunakan. Setelah itu ia berjalan menuju kamarnya untuk bersiap-siap.
Ia memutuskan untuk pergi lebih cepat ke kafe.
Namun ketika ia hendak membuka pintu apartemen, Kaiden juga melangkah masuk dari luar. Penampilannya tampak tidak rapi seperti biasanya. Kemejanya terlihat kusut, dan rambutnya sedikit berantakan.
"Kau mau pergi?" tanya Kaiden.
Zalina mengangguk singkat. "Aku mau ke kafe Diandra."
"Untuk apa kau ke sana? Untuk bekerja?"
"Tidak. Aku hanya ingin mengundurkan diri secara resmi. Dan... mengembalikan uang yang ku pinjam darinya." jelas Zalina tampak sedikit ragu.
Kaiden mengeluarkan dompet dari saku kemejanya, lalu mengambil sebuah kartu dari dalamnya dan memberikannya pada gadis itu.
"Apa ini?"
"Kartu debit. Kau tidak tahu?"
Zalina menghela napas pelan. "Aku tahu. Maksudnya untuk apa?"
"Untukmu." sahutnya singkat. "Pakai kartu ini untuk membeli semua kebutuhanmu. Termasuk membayar hutangmu pada Diandra. Pin nya tanggal pernikahan kita."
Pria itu lalu masuk ke dalam rumah. Namun, sebelum ia masuk ke dalam kamar, ia kembali bicara.
"Di bawah, mobil dan supirmu sudah menunggu. Jadi, tidak perlu naik taksi online lagi."
"Tapi..."
Pria itu tidak lagi memperdulikan perkataan Zalina. Ia malah masuk ke dalam kamarnya dan meninggalkan istrinya yang penuh tanda tanya.
"Dasar pria itu-"
Zalina bahkan tidak tahu harus berkata apa. Ia benar-benar kehilangan kata ketika berhadapan dengan pria itu.
🥀🥀🥀
ini ya si pria yang merangkul kaiden kemarin ☺ centil juga orangnya...