NovelToon NovelToon
After We Died

After We Died

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Transmigrasi
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nongnong

Lima orang tewas dalam malam yang sama.

Setelah perang berdarah antara dua klan mafia terbesar—Dark Blood dan Darkness—pecah, semuanya berubah menjadi neraka. Dark Blood, klan yang dipimpin Anneta, jatuh ke tangan Joe, pemimpin Darkness yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Di malam kehancuran itu,
Anneta mati tertembak panah.
Sahabat sekaligus inti Dark Blood, Naura dan Viona dibunuh tanpa ampun. Sementara Luna dan Leo, saudara kembar yang koma, tewas terbakar di rumah sakit.

Dunia menganggap kisah mereka telah berakhir. Tapi ternyata… kematian bukanlah akhir.

Kelimanya terbangun di tubuh orang lain—anak-anak SMA yang hidupnya sangat kacau. Mereka hidup kembali dengan wajah baru, nama baru, namun dengan masa lalu yang belum selesai.

Akankah mereka mampu melanjutkan kehidupan di tubuh baru mereka? Yuk baca kisahnya agar tidak penasaran!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nongnong , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RENCANA

Kembali lagi ke UKS

Setelah kaki Viana selesai diobati dan dibalut, ia akhirnya diperbolehkan duduk dengan tenang.

Ariana yang masih menyimpan uang lima puluh ribu tadi kemudian menghampirinya.

"Nih, uang ganti ruginya."

Viana langsung menerima uang itu dengan mata berbinar.

"Wah! lo tahu aja kalau gue paling suka uang."

Ariana hanya menggelengkan kepala melihat tingkah temannya yang satu itu.

Di sisi lain, Gavin mendekati Aleta yang duduk bersebelahan dengan Adrian.

"Ta?" tanya Gavin.

"Hmm?"

"Lo udah dapat Undangan Pemersatu Mafia belum?"

Aleta menggeleng.

"Pasti nanti malam dikirim. Kalau Black Demon, mah, udah tadi subuh," ucap Gavin.

Zion yang duduk tak jauh dari mereka langsung menoleh. "Kenapa nanti malam?"

"Iya..." Gavin mengangkat bahu. "Soalnya Queen Moon terkenalnya cuma di Indonesia. Belum sampai ke luar negeri."

"Iya juga, sih."

"Tapi kalau nggak dapat gimana, Ta?" tanya Gavin lagi.

Plak!

Ezra langsung menggeplak lengan Gavin.

"Sembarangan. Anggota mafia biasa aja diundang. Masa giliran pembunuh bayaran kayak begini nggak dilirik?"

"Ehehe..." Gavin hanya menyengir.

"Kalau nggak dapat, tinggal curi aja dari tim pencetaknya," ucap Keira yang sejak tadi berada agak jauh tiba-tiba muncul di belakang Gavin dan Ezra.

Gavin dan Ezra langsung menoleh kaget. "HAH?!"

Viana ikut menoleh.

"Kalau mencuri, kita harus tahu lokasi pencetak undangannya, dong. Lo tahu di mana itu, Gavin?"

"E-emm..." Gavin mendadak gugup. Ia menggaruk tengkuknya.

"Di klub yang paling ramai itu. Lupa namanya apa. Kalian tau, kan, kenapa ramai?"

Semua menggeleng.

"Jarang di datangi polisi. Polisinya takut karena pemilik klubnya bekingannya mafia."

"...."

"Jadi... lo tahu ruangannya?" Viana menyipitkan mata.

"Tauu."

Gavin pun mulai menjelaskan dengan penuh percaya diri.

"Ruangan tanpa nama yang terletak di ujung koridor. Warna pintunya berbeda dari yang lain dan lebih berdebu."

"Lo ingat sedetail itu?" Ariana menatapnya heran. Gavin mengangguk mantap.

"Gimana bisa lupa? Kan gue juga udah masuk beberapa kali ke sana buat mencuri undangannya sama Ezra."

"Orangnya kayak gimana?" Viana semakin penasaran.

"Orang apa?" Gavin mengerutkan kening.

"Yang berada di dalam ruangan itu."

"Oh."

Gavin berpikir sebentar sebelum menjawab.

"Gemuk, pendek, dan berkumis. Dia selalu mencetak undangannya dari pagi sampai sore. Malamnya, dia minum-minum di ruangan VIP. Dan kunci ruangan itu selalu ditaruh di kocek bajunya."

Viana mengangguk-angguk.

"Lalu, gimana cara kalian berdua bisa masuk?"

Ezra yang sejak tadi diam tiba-tiba menyahut. "Gavin nyamar jadi kupu-kupu malam."

Semua langsung menoleh. "SERIUS??!!"

"Enggak, ya!" bantah Gavin dengan mata yang membelalak. "Kita berdua bayar LC buat ngambil kuncinya. Belum sampai lima menit, kuncinya sudah di tangan kita."

"Strategi yang bagus," puji Viana.

"Lumayan," timpal Aleta singkat.

Keira yang sejak tadi mendengarkan akhirnya mengangkat alis.

"Kita coba nanti malam?" tanyanya dan langsung mendapat anggukan dari Viana.

"Boleh," sahut Viana antusias.

Ravian yang mendengar itu segera menoleh.

"Jangan ikut-ikutan. Kaki lo masih terluka."

"Itu cuma luka biasa, kali," celetuk Gavin.Membuat tatapan tajam Ravian langsung mengarah kepadanya.

"Ups..." Gavin buru-buru bersembunyi di belakang Ezra.

Aleta hanya tersenyum tipis ke arah Keira. Tatapan singkat itu seolah menjadi sebuah kode yang hanya mereka berdua pahami.

Nanti malam, mereka akan bergerak.

...****************...

Karena nanti malam mereka akan menyusup ke sebuah klub untuk mencuri undangan yang tidak bisa dipalsukan itu, Aleta dan yang lainnya memutuskan untuk membeli pakaian yang cocok untuk dikenakan agar tidak terlalu mencurigakan.

Mereka berlima datang bersama-sama ke sebuah butik pakaian mewah di dalam pusat perbelanjaan.

Viana, Aleta, Keira, dan Ariana langsung sibuk memilih pakaian yang cukup mencolok dan cocok untuk suasana klub malam.

Sementara Aura, berada agak jauh dari mereka. Bukan apa-apa, tapi karena selera pakaian Aura memang berbeda sendiri.

Saat yang lain sibuk mencari pakaian yang lebih berani, Aura justru memilih pakaian mahal dengan model elegan dan tertutup.

Hingga akhirnya matanya tertuju pada sebuah dress hitam yang mengikuti lekuk tubuh dengan potongan sederhana namun terlihat sangat berkelas.

Tangannya baru saja menyentuh pakaian itu, hingga tiba-tiba tangan seseorang meraih tangannya. Jari keduanya saling bersentuhan. Aura langsung menoleh.

Seorang wanita berdiri di sampingnya dengan pakaian elegan dan riasan tebal. Senyum tipis menghiasi wajahnya.

"Sorry, gue duluan," ucap Aura sopan.

"Sorry, tapi gue suka lebih dulu." Wanita itu tersenyum miring.

"Dan gue selalu mendapatkan apa yang gue mau." Seringainya membuat Aura terdiam. Wajahnya tak asing, namun seringai itu menggambarkan seseorang yang jahat.

'Mana mungkin gue kenal seorang penjahat?'

"Pelayan!" Wanita itu memanggil salah seorang pegawai butik.

"Ya, Nyonya?"

"Bungkus pakaian ini."

"Siap, Nyonya Virell."

Deg!

Aura membeku.

'Marga itu...'

Sebelum sempat berpikir lebih jauh, terdengar suara kecil dari belakang wanita tersebut.

"Mommy..." Suara itu terdengar bergetar. "Hiks..."

Wanita itu segera menoleh.

"Sayang? Kamu kenapa? Ada apa?" Tatapannya lalu mengikuti arah pandangan putranya. Di sana, Aleta baru saja berdiri di belakang Aura.

"Apa lo yang buat anak gue nangis?" tuduhnya.

Aleta mengernyit. Namun sebelum ia sempat menjawab, bocah itu buru-buru menggeleng.

"Mommy, bukan... Kakak cantik itu yang membantu aku. Tadi aku tersesat."

"Oh..." Ekspresi wanita itu berubah. Ia menatap keduanya dari atas sampai bawah.

"Ternyata orang baik." Nada suaranya terdengar sama sekali tidak tulus. Tetapi Aleta tidak menghiraukannya.

"Sudah ketemu pakaiannya?" tanya Aleta pada Aura, dan di jawab dengan gelengan Aura.

"Belum. gue cari lagi ya," ucap Aura.

"Ah..." Wanita itu tiba-tiba tersenyum tipis. "Jadi kalian berteman."

Aleta menatapnya tanpa ekspresi. Kemudian wanita itu kembali memanggil pelayan.

"Pelayan."

"Ya, Nyonya?"

"Bungkus pakaian ini untuk gadis itu saja."

Aura langsung menoleh.

"Gue bisa cari pakaian lain yang lebih bagus." Ia kemudian menatap Aura balik.

"Anggap pemberian itu sebagai ucapan terima kasih gue ke teman lo karena udah bantu anak gue, Chris." Setelah mengatakan itu, wanita tersebut menggandeng tangan Chris dan pergi meninggalkan butik.

Aleta menyipitkan matanya. Sementara Aura mengepalkan tangan di sisi tubuhnya.

"Dia bikin lo kesal, kan?" Aleta menoleh kepada Aura.

"Sombong." Hanya satu kata yang keluar dari mulut Aura. Membuat Aleta terdiam beberapa detik.

"Setelah gue dapetin kembali identitas asli gue sebagai Anneta..." Tatapannya mengikuti wanita itu yang semakin menjauh. "...gue nggak akan biarin lo ngalamin hal ini lagi."

"Gue nggak apa-apa, Let..."

"Lo jelas kenapa-kenapa."

Aleta kemudian menarik Aura ke dalam pelukannya. Ia mengusap lembut rambut sahabatnya.

"Gue tahu lo. Lo itu sahabat gue sejak kecil. Gue jelas tahu... Lo gak suka direndahin, bahkan secara gak langsung kayak tadi."

Aura terdiam dalam pelukan Aleta. Untuk sesaat, emosinya yang tadi bergejolak perlahan mereda. Namun suara berisik dari kejauhan tiba-tiba memecahkan suasana.

"Hi, guys! Udah dapat bajunya belum?" tanya Viana yang baru saja datang sambil membawa beberapa kantong belanja.

Aleta dan Aura buru-buru melepaskan pelukan mereka sebelum kejadian barusan diketahui yang lain.

"Udah kok." Aura langsung tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. "Yuk, bayar!"

Viana mengangkat alis.

"Yee... giliran beli baju aja langsung ilang dinginnya."

"Biarin, wlee!" Aura menjulurkan lidahnya.

"Dih, tengil." Viana mencibir sambil berjalan mengikuti mereka menuju kasir.

"Circle kita emang harus tengil, Na," ucap Keira yang tangannya juga penuh.

"Benar kata Keira. Orang jago harus tengil," timpal Ariana.

"Apalagi kalau berduit," timpal Aleta tidak mau kalah.

"Wah udah mulai tengil ya kalian... Tengilnya ngalahin gue lagi," ucap Viana dengan nada kesal yang dibuat buat.

...****************...

Malam pun tiba.

Di apartemen Aleta, tiga gadis sedang sibuk mempersiapkan diri untuk pergi ke klub malam. Aleta, Aura, dan Keira sudah mengenakan pakaian yang mereka pilih sore tadi.

Sementara Viana, hanya bisa duduk di depan meja rias sambil membantu Aura berdandan. Ravian melarangnya ikut malam ini karena luka lecet di kakinya belum benar-benar pulih.

"Lo jangan banyak bergerak," pesan Ravian tadi.

Dan tentu saja...

Viana tidak punya pilihan selain menurut. Untungnya, ia masih bisa membantu Aura bersiap.

Aura memang satu-satunya yang bisa diajak bekerja sama dengan Viana dalam urusan makeup. Mereka sudah terbiasa melakukan hal semacam ini sejak dulu, terutama ketika harus menyelesaikan sesuatu dengan cepat.

Aura sibuk mengenakan pakaiannya, sementara Viana dengan telaten merapikan riasannya. Sesekali, Viana menyuruh Aura memiringkan wajah atau menutup mata.

"Jangan gerak," ucap Viana yang sedang memakaikan kontur di hidung Aura.

"Gue nggak gerak," jawab Aura yang baru saja selesai menyanggul rambutnya.

"Barusan gerak."

"Itu napas."

"Ya, jangan napas."

Aura langsung melotot.

"Viana..."

"Hehe."

Di sisi lain, Aleta sudah selesai berdandan. Seperti biasa, riasannya tidak berlebihan. Ia hanya menggunakan makeup tipis untuk mempertegas wajahnya. Namun malam ini ada satu hal yang berbeda.

Lipstiknya.

Warna natural yang biasa ia gunakan digantikan dengan warna yang jauh lebih gelap. Ia sengaja agar penampilannya terlihat sedikit lebih berani dan cocok dengan suasana klub malam yang akan mereka datangi.

Sementara Keira...

Riasannya jauh lebih tebal daripada biasanya. Makeup yang tajam, bulu mata yang lentik, serta warna bibir yang mencolok membuat wajahnya berubah drastis. Malam ini ia benar-benar terlihat seperti boneka Barbie yang hidup.

"Wah..." Viana menganga saat menatapnya selama beberapa detik. Keira tersenyum puas.

"Bagus?"

"lumayan. Huft..." Viana menghela napas panjang.

"Kenapa? Kok keliatan ga senang gitu?" tanya Keira.

"Sia-sia tadi gue beli baju seksoy kalau nggak dipakai malam ini," jawab Viana membuat Keira terkekeh.

"Kan bisa pakai lain kali, Na. Pas pesta pertemuan semua organisasi mafia itu lo juga bisa pakai itu."

Viana langsung menggeleng. "Nggak bisa, Kei. Itu terlalu seksoy buat dipakai ke sana. Nanti kalau tiba-tiba ditarik om-om mafia kan nggak lucu."

"Hmm... iya juga, sih." Keira kemudian menepuk bahu Viana. "Yang sabar, ya, Na."

Viana mendengus.

"Lo nggak ada niatan buat bantuin gue minta ijin sama Ravian, apa?"

"Ravian itu keras kepala, Na. Apalagi soal lo. Gue benar-benar nggak bisa ikut campur kalo soal lo berdua."

"Jahat." Viana mengerucutkan bibir.

Keira hanya tersenyum kecil.

'Karena kalau gue ikut campur masalah kalian berdua, bisa-bisa dia nggak jadi anak yang penurut lagi sama gue.'

Ia melirik Viana sekilas sebelum kembali merapikan rambutnya.

"Ta..." Viana kemudian memanggil Aleta.

"Lo sama Ravian aja," ucap Aleta datar.

"Yahh..."

"Bantu dari jarak jauh aja," ucap Aleta lagi, yang langsung membangkitkan semangat Viana.

"Serius? Kita bisa bantu apa?"

"Bantu awasi kita dari kamera CCTV. Setelah misi selesai, hapus rekaman CCTV nya."

"Oke, Queen!"

"Gue udah selesai, yuk berangkat!" ajak Keira setelah selesai mencatok rambutnya hingga menjadi curly.

"Jangan lupa bawa senjata buat jaga-jaga," ucap Aleta memperingatkan Aura dan keira.

1
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
prasaan kemarin masih lo gue deh, kok tiba-tiba udah aku kamu aja 😭😭
mana dipanggil honey lagi /Doge/
Chika
Akhirnya ktm mommy kandung 😍
Chika
Adrian lo jgn kayak Joe ya, lucu² setan /Smug/
Chika
Joe sama Anneta selucu itu kok harus pisah sihhh 😭😭
Yuni
wkwkwkwk waajr sih mak nya Aleta marah/ga terima Aleta ngaku Anneta. secara kan dia ga percaya adanya reinkarnasi. Apalagi pas awal Aletanya kayak plenger bangt, siapa yg ga kesel cba. Anak tunggal udh meninggoy belasan thn trus tb² ada yg ngaku 🤣🤣
Yuni
ih udah honey aja nih 🤭
Peach
loh kok udah lopyu lopyu aja nih? udah jadian apa begimana? apa cuma aku yg ketinggalan berita?
Peach
circle ini isinya manusia lantam smua 💜
Yuni
🥀💔
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
ternyata orang seasik dan setengil joe juga bisa jahat
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
awas jodoh 😂🤭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
makin deket niehh
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
demen bgt sama cw yg pemikirannya begini 🤣🤭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
kocak umur sndiri pun tak ingat 😂🤣
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
yg ini agak lain ya, malah ngakunya wlw 😭😭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
perempuan nyembelin
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Viana sendiri aja ributnya minta ampun. Apalagi kalu ditambah Keira sama Ravian trus Gavin Ezra. ga kebayang ribut & berantakannya bakal kayak apa 😂
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Mampus lo Ravian, siapa suruh udah bikin gue nangis tiap baca kisah lo ama Keira
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Gitu deh manusia, kehilangan dulu baru menyesal
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
LOHHH
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!