NovelToon NovelToon
Married To Captain Ren

Married To Captain Ren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Taraline

Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.

Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Pukul 04.30 WIB.

Bagi sebagian besar warga sipil di perumahan cluster yang tenang itu, jam segini adalah waktu di mana mimpi sedang berada di fase paling nyenyak. Namun bagi penghuni rumah bernomor 115, hari sudah resmi dimulai sejak setengah jam yang lalu.

Cia mengerjap pelan, menyesuaikan matanya dengan cahaya lampu tidur yang temaram. Ia meraba sisi kasur di sebelahnya. Kosong dan sudah dingin.

Gadis itu menguap, merapatkan sweter tidurnya, lalu berjalan gontai keluar kamar. Begitu sampai di ruang tengah, pemandangan yang tersaji sukses membuat rasa kantuk Cia menguap tak berbekas.

Mayor Ren Adhyaksa sedang melakukan push-up dengan satu tangan di atas karpet ruang keluarga. Pria itu hanya mengenakan celana training hitam panjang. Tubuh bagian atasnya yang telanjang dan dipenuhi otot-otot kokoh tampak mengilap oleh peluh. Naik, turun, stabil, tanpa suara napas yang tersengal sedikit pun.

"Pagi, Mayor," sapa Cia dengan suara serak khas bangun tidur, bersandar di kusen pintu sambil melipat tangan di dada. "Nggak capek apa, tiap subuh olahraga berat terus? Punggungmu udah nggak ada keluhan?"

Ren menyelesaikan repetisi ke-100 nya dengan tenang, lalu bangkit berdiri. Ia mengambil handuk kecil yang tersampir di sandaran sofa dan mengelap keringat di dada serta lehernya.

"Pagi, Dokter," balas Ren, berjalan mendekati istrinya. Pria itu menunduk, mendaratkan kecupan ringan di puncak kepala Cia, sama sekali tidak memedulikan protes gadis itu soal keringat. "Otot yang tidak dilatih akan kehilangan memori tempurnya. Lagipula, hari ini adalah hari penting. Saya harus memastikan fisik saya prima untuk mengawalmu."

Cia tersenyum lebar. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja secara resmi sebagai Dokter Umum purna waktu di Rumah Sakit Pelita Medika, sebuah rumah sakit swasta besar yang jaraknya hanya lima belas menit dari rumah mereka.

Setelah satu bulan beristirahat total pasca-kepulangannya dari Papua dan mengurus berbagai administrasi SIP (Surat Izin Praktik), Cia akhirnya kembali mengenakan jas putihnya.

"Mandi sana. Bau mesiu campur keringat," usir Cia jenaka, mendorong pelan dada bidang suaminya. "Biar aku yang bikin sarapan."

"Tidak perlu," cegah Ren, menahan tangan Cia. "Saya sudah memasak dada ayam panggang dan menanak nasi merah. Ada omelet sayur juga di meja makan. Kamu yang mandi duluan, pastikan seragammu rapi. Jam 06.15 kita berangkat."

Cia memutar bola matanya, meski hatinya berbunga-bunga. "Siap, Bapak Komandan Rumah Tangga."

Meja makan pagi itu terasa seperti meja briefing operasi militer.

Ren, yang sudah rapi dengan seragam Pakaian Dinas Harian (PDH) warna hijaunya, duduk tegap sambil mengawasi Cia menghabiskan porsi sarapannya.

"RS Pelita Medika memiliki tiga jalur akses. Jika jalan utama macet, kamu bisa memutar lewat jalan belakang dekat pasar," ucap Ren serius, meletakkan secangkir teh hangat di dekat piring Cia. "Jika terjadi keadaan darurat, gempa bumi, atau kebakaran, titik kumpul utamanya ada di lapangan parkir timur. Pastikan kamu menghafal rute evakuasi dari ruangan polimu."

Cia yang sedang mengunyah omelet hampir saja tersedak. Ia menatap suaminya dengan tatapan tak percaya.

"Mas, aku ini mau kerja jadi dokter, bukan mau nyusup ke markas kartel narkoba. Lagian mana ada orang hari pertama kerja yang dihafal jalur evakuasi gempanya dulu?" omel Cia, menggelengkan kepala.

Ren menatap istrinya dengan raut yang tak berubah sama sekali—datar dan absolut. "Seorang prajurit yang baik tidak pernah memasuki medan perang tanpa mengetahui jalan keluarnya, Almeera. Kecerobohanmu tertimpa tenda di Papua adalah pelajaran berharga."

Skakmat. Jika Ren sudah membawa-bawa 'insiden tenda rubuh', Cia hanya bisa bungkam.

"Iya, iya, paham. Nanti sampai sana hal pertama yang aku cari adalah denah jalur evakuasi. Puas?" sungut Cia, meski akhirnya ia tersenyum geli. Pria ini memang punya cara yang sangat tidak biasa dalam menunjukkan rasa khawatirnya.

Tepat pukul 06.15 WIB, Jeep Wrangler hitam milik Ren membelah jalanan pagi Kota Bandung yang mulai padat.

Sebenarnya, arah Pusdikif Cipatat tempat Ren bertugas berlawanan arah dengan RS Pelita Medika. Jika Ren mengantar Cia, pria itu harus memutar balik dan menempuh jarak ekstra. Cia sudah bersikeras ingin membawa mobil sendiri, namun sang Mayor menolak mentah-mentah.

"Hari pertama bertugas, mentalmu harus sepenuhnya fokus pada pekerjaan medis. Menyetir di tengah kemacetan pagi hanya akan menguras energi taktismu." Begitu alasan Ren tadi.

Jeep itu berhenti tepat di depan lobi utama RS Pelita Medika. Beberapa satpam dan perawat yang sedang shift pagi menoleh, memperhatikan mobil bertenaga besar itu dengan rasa penasaran.

Cia melepas sabuk pengamannya. Ia menoleh menatap suaminya. "Makasih ya, Mas, udah diantar. Hati-hati di jalan, jangan galak-galak sama siswamu di Cipatat."

Ren mematikan mesin mobil sejenak. Ia tidak langsung menjawab. Pria itu memutar tubuhnya menghadap Cia, merapikan kerah kemeja kerja istrinya dengan telaten. Jari besarnya kemudian mengusap kepingan dog tag yang bersembunyi di balik kemeja Cia.

"Laksanakan tugasmu dengan baik, Dokter Cia," suara bariton Ren mengalun rendah, dalam, dan penuh kebanggaan. "Jika ada rekan kerja atau atasan yang bertindak melewati batas, jangan diam saja. Ingat, kamu punya satuan bantuan tempur yang siap meluncur dari Cipatat kapan saja."

Cia terkekeh, menangkup sebelah pipi suaminya. "Nggak akan ada yang berani macam-macam, Mayor. Aku kan udah belajar ilmu tatapan mematikan dari kamu."

Gadis itu mencondongkan tubuhnya, mendaratkan ciuman singkat di pipi Ren, lalu segera turun dari mobil sebelum pria itu sempat menahannya lebih lama. Cia melambai dari trotoar, menunggu hingga Jeep hitam itu berbaur dengan lalu lintas, sebelum akhirnya membalikkan badan dan melangkah masuk ke dalam rumah sakit dengan langkah mantap.

Rumah Sakit Pelita Medika sangat berbeda dengan IGD rumah sakit pemerintah atau Puskesmas Papua tempat Cia dulu bertugas. Fasilitasnya sangat modern, lorong-lorongnya bersih mengilap, dan suasananya jauh lebih teratur.

Cia ditempatkan di Poli Umum untuk tiga bulan pertama.

Menjelang siang, Cia sudah menyelesaikan belasan pasien. Mulai dari kasus flu ringan, konsultasi lambung, hingga rujukan cek laboratorium. Pengalamannya bekerja dengan peralatan minim di pedalaman membuatnya bekerja dengan sangat cepat dan efisien di sini.

"Dokter Cia, pasien selanjutnya sudah siap," seorang perawat muda bernama Siska masuk ke ruangan poli. "Tapi Dokter harus hati-hati. Setelah ini Dokter dijadwalkan ronde bangsal bersama dr. Surya."

Cia mengerutkan kening. "Dokter Surya? Spesialis Penyakit Dalam itu?"

Siska mengangguk ngeri. "Iya, Dok. Beliau itu konsulen paling killer di rumah sakit ini. Kalau ada dokter baru yang visite bareng dia terus salah jawab diagnosis sedikit aja, wah... bisa dimarahi habis-habisan di depan pasien."

Cia hanya tersenyum tipis, merapikan stetoskop di lehernya. "Tenang aja, Sus. Mari kita mulai rondenya."

Tiga puluh menit kemudian, Cia berjalan berdampingan dengan dr. Surya—seorang pria paruh baya dengan raut wajah sangat keras dan kacamata tebal—menyusuri bangsal rawat inap kelas satu. Beberapa dokter ruangan lain mengekor di belakang mereka dengan wajah tegang.

Mereka berhenti di depan bed seorang pasien dengan komplikasi diabetes.

"Dokter Almeera," panggil dr. Surya, suaranya tajam dan mengintimidasi. "Pasien ini mengalami penurunan fungsi ginjal akut. Coba sebutkan patofisiologi korelasinya dengan riwayat diabetesnya, dan apa rencana terapimu? Jangan pakai teori buku usang, saya mau tahu nalar klinismu."

Beberapa dokter di belakang dr. Surya sudah menunduk, takut disuruh menjawab.

Cia, di sisi lain, berdiri dengan tenang. Ia menatap lurus ke arah dr. Surya. Tatapan dan intonasi menekan yang diberikan konsulen ini... sejujurnya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan bentakan Mayor Ren saat sedang mengevaluasi taktik tempur di ruang tamu mereka. Mental Cia sudah dilatih oleh ahlinya.

Dengan suara lantang, artikulasi yang jelas, dan postur yang tegap, Cia memaparkan diagnosisnya, menjabarkan korelasinya dengan sangat runtut, serta memberikan usulan terapi cairan dan penyesuaian dosis insulin.

Dr. Surya terdiam. Matanya memicing di balik kacamata tebalnya. Konsulen galak itu mencari celah kesalahan, namun tidak menemukannya.

"Kamu tidak gugup saat saya tanya secara mendadak?" tanya dr. Surya, nadanya sedikit melunak. "Biasanya dokter baru akan gemetar."

Cia tersenyum sangat sopan. "Tidak, Dokter. Saya sudah terbiasa dengan evaluasi yang... lebih menegangkan di rumah."

Dr. Surya mendengus pelan, lalu mengangguk puas. "Diagnosis yang bagus. Terapkan terapinya. Lanjut ke bed berikutnya."

Para perawat dan dokter lain yang mengikuti ronde itu menatap Cia dengan pandangan takjub. Dalam waktu setengah hari, dokter baru itu sudah berhasil menjinakkan singa paling buas di Pelita Medika.

Jam menunjukkan pukul 12.30 WIB. Waktu istirahat makan siang.

Cia baru saja keluar dari ruang dokter, meregangkan punggungnya yang sedikit pegal. Ia berniat mengajak Siska ke kantin rumah sakit untuk mencari makan.

Namun, saat ia berjalan menuju lobi utama untuk mengambil uang di ATM, sebuah keributan kecil menarik perhatiannya.

Beberapa perawat dan pengunjung tampak berbisik-bisik sambil melihat ke arah pintu masuk lobi. Di sana, seorang prajurit TNI berseragam loreng lengkap dengan baret hijaunya berdiri kaku. Wajahnya sangat serius, tangannya memegang sebuah rantang aluminium bertingkat yang dibalut kain kotak-kotak.

Itu Prada Sigit.

Cia menepuk jidatnya. Ya Tuhan, apa lagi ini?

Cia setengah berlari menghampiri prajurit muda itu sebelum kehadirannya menimbulkan spekulasi macam-macam. "Sigit? Ngapain kamu di sini?"

Melihat Cia mendekat, Prada Sigit langsung mengambil sikap sempurna, menjejakkan kaki kanannya dengan keras ke lantai porselen lobi, lalu mengangkat tangan kanannya memberi hormat militer yang sangat tegas.

"Lapor, Dokter Almeera Cia!" seru Prada Sigit lantang, suaranya menggema di lobi rumah sakit yang luas itu. "Saya ditugaskan oleh Mayor Ren Adhyaksa untuk mengirimkan amunisi logistik siang! Mayor memerintahkan agar Dokter menghabiskan seluruh asupan protein ini tanpa sisa! Laporan selesai!"

Suasana lobi seketika hening. Beberapa perawat muda menutup mulut menahan tawa, sementara sekuriti rumah sakit memandang dengan takjub.

Wajah Cia semerah kepiting rebus. Ia buru-buru membalas hormat Sigit dengan asal, lalu menarik lengan prajurit itu ke sudut lobi yang agak sepi.

"Sigit, kamu ini bikin kaget aja! Nggak usah pakai teriak 'Lapor' segala di rumah sakit," desis Cia panik, mengambil alih rantang aluminium itu dari tangan Sigit. "Lagian, Mas Ren kan di Cipatat. Kok kamu bisa disuruh antar makanan ke sini? Jaraknya jauh lho."

Prada Sigit nyengir lebar, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Siap, Dok. Mayor Ren tadi pagi memerintahkan saya mengambil rantang ini di rumah Dokter sebelum berangkat ke Cipatat. Mayor bilang, hari pertama kerja, Dokter pasti malas antre di kantin. Jadi saya disuruh standby di Koramil terdekat dan meluncur ke sini pas jam istirahat."

Hati Cia yang tadinya malu, seketika meleleh bagai es terkena siraman air panas. Suaminya yang kaku dan gila disiplin itu... menyempatkan diri mengatur strategi logistik hanya agar istrinya tidak perlu mengantre makan siang.

"Terus, Mas Ren sendiri makan siang apa di sana?" tanya Cia, nada suaranya melembut.

"Siap, Mayor makan jatah ompreng (makanan barak) dari kantin siswa, Dok," jawab Sigit polos.

Cia tersenyum haru, meremas gagang rantang tersebut. "Ya udah, makasih banyak ya, Sigit. Bilang sama Mayor, amunisinya diterima dengan baik dan bakal dihabiskan. Kamu hati-hati baliknya."

"Siap, Dok! Izin undur diri!" Sigit kembali memberi hormat, lalu berbalik setengah langkah dan berlari keluar menuju motor dinasnya.

Siang itu, di ruang istirahat dokter, Cia membuka rantang tersebut. Di dalamnya terdapat nasi merah, tumis brokoli, dan daging sapi lada hitam yang masih hangat. Di tingkat paling bawah, terdapat sebuah sticky note berwarna kuning neon dengan tulisan tangan tegak bersambung yang sangat rapi dan tegas.

Medan baru membutuhkan energi penuh. Jangan makan terlambat. — R.A.

Siska yang kebetulan sedang duduk di seberang Cia, mengintip isi rantang itu dengan mata berbinar. "Wah, Dokter Cia bawakan bekal dari rumah? Enak banget kelihatannya."

Cia mengambil sendok, menatap sticky note itu sambil tersenyum lebar. Tidak ada rasa canggung, tidak ada rasa takut akan masa depan.

"Iya, Sus," jawab Cia ceria. "Bekal spesial dari Komandan Pertahanan Rumah Tangga."

1
NonaAns
Wakakak ngebanyangin ekspresinya 🤣
sri wahyuni
smngat thor
sri wahyuni
/Scowl//Scowl//Scowl/
sri wahyuni
lanjut thor
sri wahyuni
😍😍😍
sri wahyuni
smngat thor
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!