NovelToon NovelToon
Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:30.6k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.

Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31: Zombie Baru, Ancaman Baru

Zombie Level 7.

Kata itu tidak pernah Hendry ucapkan kepada siapa pun malam itu.

Pagi datang dengan suara yang jauh lebih biasa: peluit patroli, panci Dewi, orang-orang antre air, dan Fajar memarahi dua Anggota Baru yang salah menaruh tombak. Setelah upacara Komandan kemarin, Cluster Pondok Indah terlihat lebih rapi. Papan poin terpasang. Jadwal jaga penuh nama. Di depan dapur, orang tidak lagi bertanya kenapa porsi mereka berbeda; mereka bertanya tugas apa yang bisa menaikkan poin.

Itu kemajuan.

Tapi kiamat tidak pernah memberi waktu lama untuk menikmati kemajuan.

Menjelang pukul sembilan pagi, patroli timur meniup peluit darurat tiga kali.

Fajar berlari ke halaman utama. "Komandan! Tiga zombie aneh di rute timur. Bukan Level 1 biasa. Kulitnya keras, gerakannya cepat, dan satu anggota hampir kena pukul."

Bagus langsung mengambil linggis. "Level 2?"

Hendry sudah bergerak. "Kemungkinan sistemik."

Kata itu membuat orang-orang di sekitar menegang. Sebelumnya, Level 2 hanya muncul sebagai anomali di garasi rumah mewah. Sekarang tiga sekaligus muncul di rute patroli.

Artinya dunia mulai mengejar.

Raja berlari di sisi Hendry. Nasi naik ke bahu kirinya tanpa diminta. Mawar membawa tas medis, Melati menyalakan api kecil di telapak tangan, Awan bergerak di belakang dengan wajah tenang.

Di rute timur, tiga zombie berdiri di antara dua mobil mati.

Mereka berbeda dari Level 1. Kulitnya lebih gelap, seperti kulit kering yang mengeras menjadi lapisan kayu. Bahu mereka lebih lebar. Gerakan kepala mereka tidak kosong sepenuhnya; ada jeda kecil sebelum menyerang, seperti mereka memilih target yang paling dekat dan paling lemah.

Salah satu anggota patroli bersembunyi di belakang mobil dengan tombak patah.

Zombie pertama melompat.

Bagus maju menghantamnya dari samping. Linggis mengenai dada zombie itu dengan suara keras, tetapi tubuhnya hanya terpental dua langkah, bukan roboh. Bagus mengerutkan dahi.

"Keras banget!"

Zombie itu membalas lebih cepat dari perkiraan. Lengannya menyapu, mengenai bahu Bagus dan membuatnya mundur setengah langkah. Jaketnya robek. Kulit di bawahnya memerah dan berdarah tipis.

Mawar langsung menahan napas.

Bagus menatap luka itu, lalu wajahnya gelap. Bagi orang biasa, luka itu kecil. Bagi Bagus, itu penghinaan.

"Gue butuh latihan lebih keras," gumamnya.

"Nanti," kata Hendry.

Zombie kedua berlari ke arah anggota patroli yang masih jatuh. Melati mengirim bola api pendek untuk membelokkan arah, tetapi zombie itu menunduk dan terus maju.

Hendry mengangkat tangan kiri.

Ruang di depan zombie itu tiba-tiba mengerut.

Bukan Spatial Orb yang ditembakkan.

Bukan Void Blade yang memotong.

Ini seperti kotak tak terlihat turun dari udara. Empat sisi ruang menutup, memisahkan zombie dari jalan di sekelilingnya. Zombie itu menghantam dinding kosong dan terpental mundur, menggeram tanpa suara.

Penjara Dimensi.

Bentuknya masih kasar. Hendry bisa merasakan pinggirannya bergetar, seolah kotak itu bisa retak jika target terlalu kuat. Tapi untuk Level 2, cukup.

"Semua mundur dua langkah," perintahnya.

Zombie di dalam penjara menghantam lagi. Udara beriak. Hendry mengepalkan tangan.

Kotak ruang menyempit.

Kepala zombie itu terjepit dari empat arah. Retak. Lalu pecah.

Kristal Level 2 jatuh ke aspal.

Halaman sunyi satu detik.

Fajar yang baru tiba dengan tim cadangan menatap dinding tak terlihat yang menghilang. "Skill baru?"

"Versi dasar," jawab Hendry. "Belum stabil."

"Sudah cukup serem, Komandan," kata Bagus.

Zombie ketiga menyerang saat perhatian sebagian orang pecah. Ia tidak mengarah ke Hendry, melainkan ke Mawar di belakang. Gerakan itu membuat mata Hendry dingin.

Raja melesat dengan Lightning Flash, menggigit betis zombie dan menariknya miring. Awan membekukan aspal di bawah kaki zombie itu. Melati menusukkan api ke wajahnya, bukan membakar besar, hanya memaksa kepalanya terbuka. Bagus masuk dari samping dan menghantam belakang kepala dengan seluruh tenaga.

Kali ini tengkoraknya pecah.

Zombie pertama yang tadi dipukul Bagus mencoba bangkit. Hendry tidak membuang skill. Ia menandai titiknya dengan tangan.

"Fajar. Formasi tiga."

Tiga anggota yang baru lulus latihan maju dengan wajah pucat. Satu menusuk lutut. Satu mengait pergelangan. Satu mengayunkan parang ke belakang kepala saat zombie jatuh.

Pukulannya tidak langsung sempurna.

Tapi mereka tidak panik.

Pada ayunan ketiga, kepala zombie pecah.

Sorak kecil muncul, cepat ditahan karena Hendry menatap mereka.

"Ambil Kristal. Catat sebagai poin tim, bukan poin pribadi."

"Siap, Komandan!"

Tiga Kristal Level 2 masuk ke kantong Fajar.

Ketika mereka kembali ke base, suasana kemenangan kecil bercampur rasa takut. Orang-orang sudah pernah menghadapi Level 1. Mereka baru percaya bisa melawan. Sekarang Level 2 datang dan menunjukkan bahwa latihan kemarin hanya lantai pertama.

Hendry tidak membiarkan ketakutan itu membusuk.

Siang itu juga ia mengumpulkan seluruh jajaran.

"Mulai hari ini, latihan wajib empat jam," katanya. "Dua jam teknik senjata, satu jam formasi kelompok, satu jam respons darurat. Patroli diputar. Tidak ada rute yang dipegang orang sama terus. Fajar, buat rotasi baru. Bagus, pimpin fisik. Awan dan Melati latih kontrol area. Mawar, batas healing tetap: luka kecil tidak selalu boleh di-heal. Orang harus belajar menahan sakit ringan."

Bagus mengangkat bahu yang masih perih. "Gue jadi contoh buruk?"

"Contoh bahwa Wakil Komandan lapangan pun bisa berdarah."

Beberapa orang tertawa pendek, tetapi Bagus tidak ikut. Ia menatap tangannya sendiri, lalu mengangguk.

"Besok gue latihan dua kali."

"Latihan pintar, bukan cuma keras," kata Awan datar.

Bagus menunjuknya. "Nah, Kapten Es mulai ceramah."

Awan hanya menatap sampai Bagus menurunkan tangan.

Mawar memperhatikan Hendry sejak briefing dimulai. Saat orang-orang bubar, ia mendekat pelan.

"Kamu melihat sesuatu yang lebih buruk tadi malam, kan?"

Hendry menoleh.

Mawar tidak memaksa. Sejak malam pengakuannya, ia tidak pernah menuntut rahasia Hendry. Tapi ia belajar membaca jeda di wajahnya.

"Belum waktunya kubuka," kata Hendry.

"Tapi Melati terlibat?"

Pertanyaan itu membuat Hendry diam sepersekian detik.

Terlalu pendek untuk orang lain.

Cukup untuk Mawar.

Malamnya, setelah halaman lebih sepi, Nasi datang sendiri ke ruang kerja Hendry. Kucing kecil itu tidak melompat manja seperti biasa. Ia berjalan pelan, ekornya turun, lalu duduk di atas meja.

Hendry menutup peta.

"Kau melihat sesuatu."

Nasi menatapnya. Di matanya, cahaya merah muda yang biasanya lucu terlihat dalam, seperti sumur kecil.

Suara yang keluar bukan kata manusia. Tetapi maknanya datang ke kepala Hendry dalam pecahan gambar.

Melati.

Api merah.

Kegelapan.

Darah di bahu dan pinggang.

Bunga merah terbakar di tengah ruang gelap.

Tangan Hendry mengepal di atas meja.

"Melati terluka parah?"

Nasi mengangguk pelan.

Pintu ruang kerja berderit sedikit.

Mawar berdiri di luar, wajahnya pucat. Ia tidak mendengar semua, tetapi ia melihat tangan Hendry.

Nasi menatap Hendry lagi.

Kali ini gambarnya lebih tajam.

Bukan cakar zombie.

Bukan gigi.

Bayangan manusia.

Hendry menarik napas, suaranya menjadi sangat rendah.

"Yang melukainya bukan zombie."

1
umar aryo
novel yg bagus Thor, buat yg baca juga ikutan mikir... spt novel dokter Dewa... ini penulis bkn org biasa
umar aryo
makin kesini buat berpikir makin bingung, tp jujur ini novel yg bagus bgt
muhadsa
yang kristal level 6 saja sudah diserap dan aman saja kok,masa iya yang level 5 malah gak mampu../NosePick//NosePick/
muhadsa
anak buahnya dinaikin juga dong levelnya..
muhadsa
bunuh..gak ada tahanan perang..
muhadsa
namanya pada aneh aneh..ada suara,hujan,nasi..😄😄
muhadsa
anggotanya gak dinaikin juga levelnya..?
muhadsa
naik level juga cuma memperluas ruang dimensi,bukan untuk bertarung..
muhadsa
saya juga berpikiran gitu..kenapa namanya nasi..
muhadsa
terus kemampuan MC kita gak ada yang lain selain ruang dimensi ya..?
PonsParadiso
melati kok ga ada? kemana?
PonsParadiso
bagus thooor... tapi kok ga beli air siiih
PonsParadiso
air mana air.
Luthfi Afifzaidan
bagus apa santoso thor?
muhadsa: bagus santoso
total 1 replies
Hadi Hadi
lanjut 👍👍
Hadi Hadi
up 👍👍
Amiera Syaqilla
hi author🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!