Terbangun di kamar hotel, Fela syok setengah mati saat membaca KTP yang terjatuh dari dompet pria di sampingnya. Dia masih anak SMA!
Fela langsung kabur ketakutan demi menyelamatkan reputasinya.
Namun dunia Fela berantakan saat Kenzo, si anak SMA itu tiba-tiba masuk ke kantor periklanannya sebagai anak magang baru.
Di depan rekan kerja, Kenzo adalah asisten yang sopan. Tapi di balik pintu ruang rapat, dia adalah berondong posesif yang siap menjerat Fela kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 31
Dion berpikir keras. Jika ia menolak konsep ini sekarang, ia sama saja mengakui di depan umum bahwa dirinya adalah orang yang berpikiran sempit dan tidak memahami fleksibilitas selera konsumen kelas atas.
"Saya sangat setuju dengan penjelasan Fela, Pak Dion. Konsep Dual Mode ini adalah solusi yang sangat genius. Kita bisa merangkul konsumen yang ingin pamer performa sekaligus mereka yang mencari kenyamanan sunyi khas mobil listrik. Tim Fela tidak pernah mengecewakan kita, dan ide ini sangat luar biasa."
Dukungan dari Pak Beni yang lebih senior ditambah argumen kuat dari Fela membuatnya benar-benar mati kutu. Niatnya untuk menjatuhkan Fela justru berbalik mempermalukan dirinya sendiri di depan ruang rapat.
Dengan menahan geram, Dion terpaksa menutup dokumen di depannya.
"Baiklah," gumam Dion dengan nada terpaksa matanya memancarkan kekalahan. "Saya setuju dengan konsep ini. Segera jalankan produksinya."
Fela tersenyum formal. Kemenangan mutlak ada di tangannya, sementara sang mantan tunangan hanya bisa terdiam menahan kekesalan.
***
Begitu pintu lift yang membawa rombongan tim klien tertutup rapat, ketegangan yang sejak tadi menyelimuti lorong kantor langsung mencair.
"Selamat, Fela," ucap Rico yang tiba-tiba muncul dari arah koridor, langsung memberikan ucapan selamat begitu menyadari tim klien sudah benar-benar meninggalkan gedung.
"Ya. Terima kasih, Co," sahut Fela dengan senyum tulus yang akhirnya mengembang bebas di wajahnya. Rasa hangat setelah berhasil menyelesaikan presentasi penting itu membuat bahunya yang kaku kini mulai rileks.
Rico melangkah mendekat, melipat kedua tangan di dada dengan binar jenaka di matanya. "Juga, selamat sudah membuat pria itu bungkam seribu bahasa."
Fela mendengus geli sambil tersenyum lebar. Rico benar-benar tahu bagaimana cara membaca situasi. Dion memang pantas mendapatkan tamparan verbal itu setelah semua kesombongan dan usaha kekanak-kanakannya untuk menjatuhkan Fela di ruang rapat tadi.
***
Beberapa hari setelah rapat. Ruang kubus Fela.
"Undangan pernikahan dari W-Corp?" Mata Fela memicing. Ia sama sekali tidak ingat ada kenalannya dari perusahaan klien itu yang berencana menikah dalam waktu dekat. Dengan rasa penasaran yang tipis, jemarinya perlahan merobek segel amplop undangan mewah berwarna biru tua tersebut.
Fela menarik kertas tebal di dalamnya. Namun, begitu matanya membaca deretan nama yang tercetak dengan tinta emas di sana, napasnya mendadak tercekat.
Dion.
Spontan, undangan itu terlepas begitu saja dari tangannya dan jatuh ke atas meja. Fela mengerjapkan mata berkali-kali, berharap penglihatannya keliru atau ia hanya salah membaca nama orang lain. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia memungut kembali kertas itu untuk memastikannya sekali lagi.
Ternyata benar. Itu Dion. Mantan kekasih yang telah mengkhianati dan mencampakkannya setelah bertahun-tahun menjalin hubungan. Nama wanita di sebelahnya adalah putri dari salah satu petinggi W-Corp.
Seketika itu juga, rasa sesak yang luar biasa menghantam dada Fela. Ada rasa sakit yang teramat sangat, yang tidak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata. Luka lama yang ia kira sudah terkubur rapat, mendadak berdenyut perih, menyebarkan rasa ngilu ke seluruh tubuhnya.
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu kaca yang tiba-tiba terdengar langsung membuyarkan kabut kesedihan di kepala Fela. Ia buru-buru menegakkan punggung dan mengatur napasnya. "Ya? Masuk."
Pintu terbuka, memperlihatkan Mirin yang melangkah masuk dengan senyum kecil. "Kak, anak-anak di luar mau bikin acara minum-minum santai sepulang kantor nanti. Kak Fela mau ikut?"
"Oh, ya?" Fela mencoba merespons sesantai mungkin, namun suaranya terdengar agak hambar.
Mirin mendadak terdiam. Sebagai seorang sahabat yang sudah lama mengenal Fela luar-dalam, ia langsung menangkap riak yang aneh pada gurat wajah atasannya itu. Senyum Fela terlihat dipaksakan, dan matanya memancarkan kekosongan yang kentara.
"Kamu kenapa?" tanya Mirin, suaranya berubah cemas.
"Enggak, aku enggak apa-apa," jawab Fela cepat, mencoba mengalihkan pandangan.
"Jangan bohong, Fela." Mirin melangkah mendekat ke meja kerja Fela. Saat itulah, pandangannya tidak sengaja jatuh pada lembaran undangan yang tergeletak pasrah di atas meja. "Itu... undangan dari siapa?"
Fela tidak menjawab, ia hanya membalas dengan senyuman tipis yang sarat akan kepedihan.
Melihat reaksi Fela, Mirin tidak bertanya lagi. Ia langsung meraih kertas undangan tersebut dan membacanya sendiri. Detik berikutnya, mata Mirin membelalak sempurna saat melihat nama pria yang tertera di sana.
"Dia... menikah?" tanya Mirin dengan nada suara yang bergetar karena terkejut sekaligus tidak percaya.
Fela kembali tersenyum, sebuah senyuman getir yang seolah membenarkan segalanya.
"Ya ampun, Fela..."
Rasa iba dan amarah bercampur menjadi satu di dada Mirin. Tanpa memedulikan batasan atasan dan bawahan lagi, Mirin langsung maju memutari meja kerja dan merengkuh tubuh Fela ke dalam pelukannya.
Ia mendekap sahabatnya itu dengan erat, satu tangannya bergerak perlahan mengelus punggung dan kepala Fela, mencoba menyalurkan seluruh kekuatan yang ia miliki agar wanita tangguh di pelukannya ini tidak runtuh.
Fela hanya memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan kehangatan pelukan Mirin menahan air matanya agar tidak tumpah di dalam ruang kantor.
Setelah beberapa menit berlalu, Mirin perlahan melepas pelukannya. Ia menatap lekat kedua mata Fela, mencoba membaca sisa-sisa badai emosi di sana.
"Kamu... tetap mau datang ke pesta dia?" tanya Mirin berbisik, ada nada tidak tega yang terselip dalam suaranya.
Fela menarik napas panjang, lalu mengangguk mantap. "Ya."
"Kamu enggak ingin mengabaikannya saja?" tanya Mirin lagi. Sebagai sahabat, ia tentu ingin melindungi Fela dari rasa sakit yang tidak perlu. Menghadiri pernikahan mantan yang berselingkuh jelas terdengar seperti misi bunuh diri secara emosional.
"Ingin, Rin. Tentu aja aku ingin mengabaikannya," jawab Fela jujur, segaris senyum getir kembali muncul di bibirnya. "Tapi ini bukan lagi tentang aku dan dia. Ini soal perusahaan. Ini tentang hubungan profesional antara Zeus Advertising dan W-Corp. Sebagai manajer tim kreatif yang memegang proyek mereka, kehadiranku di sana adalah bentuk formalitas yang mutlak."
Mirin akhirnya terdiam dan mengerti. Di atas masalah pribadi yang mengiris hati, ada tanggung jawab pekerjaan yang jauh lebih besar dan penting yang harus dijaga. Fela tetaplah Fela. Seorang wanita karier yang tangguh, yang selalu mampu menempatkan profesionalitas di atas segalanya. Bahkan jika ia harus mengorbankan perasaannya sendiri.
***
Malam ini, momen yang melelahkan bagi perasaan Fela akhirnya tiba. Dengan balutan gaun formal yang anggun, ia melangkah masuk ke dalam gedung resepsi. Fela terpaksa datang sendirian malam ini karena Rico harus mendampingi tunangannya.
Di tengah keramaian para tamu undangan yang tampak glamor, sebuah suara yang familier mendadak menyapa Fela dari arah samping.
"Manajer Fela?" sapa Pak Beni.
Fela menoleh dan langsung menyunggingkan senyum profesionalnya. "Ah, Pak Beni."
semangat Fel....