NovelToon NovelToon
Kembalikan Anakku, Adinata

Kembalikan Anakku, Adinata

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: doubleareya

Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.

Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.

Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.

Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Mendapat pendapatan

Nadine menggigit apel sambil menatap layar ponselnya. Dia sedang menulis daftar biaya yang dia butuhkan.

“Nad, aku tadi tidak sengaja bertemu dengan Gerald teman SMA kamu.” Andin mendatangi Nadine yang sedang duduk di tangga teras rumah setelah dia mengantarkan pesanan roti ke rumah tetangganya.

Nadine menatap Andin yang sedang mencari posisi duduk di sebelahnya. “Dia masih tinggal di sini, ya?”

“Iya, Nad. Tadi dia sempat minta nomorku.”

Nadine tersenyum tipis sambil menatap Andin yang duduk di sebelahnya. “Kamu kasih, kan.”

Andin menatap halaman rumahnya dengan bibir menahan senyum. “Dia, kan minta, Nad. Jadi aku kasih saja.”

Nadine menganggukkan kepalanya. Dia menyimpan ponselnya ke samping tubuhnya duduk, lalu dia ikut menatap halaman rumah Andin. “Orangnya baik, An. Menurutku juga, tidak ada catatan buruk atas namanya. Tapi itu disaat semasa SMA-ku dulu, ya. Kalau di luar dan setelah lulus, aku tidak mengetahuinya.”

Andin menatap Nadine. “Kalau aku suka dengannya, apa boleh, Nad?”

“Boleh. Itu pilihanmu, Andin. Tidak perlu meminta ijin ke orang lain.”

Andin menautkan jari-jarinya. “Sepertinya aku pernah bertemu dengannya dulu, Nad.”

“Memang.” Nadine melemparkan sisa kecil dari apel yang dia makan. “Dulu, kamu pernah menjemputku bersama dengan ayah, An. Kalau tidak salah, Gerald mengajakku bicara sambil melangkah bersama ke gerbang sekolah.”

“Ah, iya. Saat itu.” Andin menganggukkan kepalanya. Dia akhirnya mengingat karena wajah Gerald tidak terlihat asing saat bertemu dengannya dan Nadine.

“Omong-omong, kenapa dia meminta nomormu, An? Apa dia ingin mendekatimu?”

Andin mengangkat bahunya. “Dia hanya meminta. Mungkin saja untuk menambah kontak di ponsel. Kenapa, Nad?”

“Hanya bertanya saja.”

“Ohya, dia titip permintaan maaf ke kita berdua karena dia tidak jadi datang untuk mengajak kita pergi ke tempat yang dulu sempat kita bahas.”

Nadine menatap Andin sambil mengelus perutnya. “Tidak apa-apa. Kan dia yang seharusnya kita ajak, tapi mungkin saja ada kesibukan lain. Jadinya, ya dia tidak datang.”

Andin menganggukkan kepalanya. “Dia akan datang lagi lain waktu.”

“Ya, silahkan saja.”

“Ternyata pada duduk di Teras, ya. Pantas saja, Bunda ketuk kamar kalian tidak ada suara sahutan.”

Nadine dan Andin menolehkan kepalanya ke belakang untuk menatap sang bunda yang berjalan ke arah mereka. Bunda mendudukan dirinya di samping tubuh Nadine karena di samping tubuh Andin ada pilar teras.

“Kenapa, Bun?”

Bunda mengeluarkan dua puluh uang berwarna merah ke arah Nadine. Nadine menatap sang bunda dengan tatapan terkejut. “Uang untuk apa ini, Bun?”

“Untuk kamu, Nad. Kamu simpan, ya untuk membeli kebutuhan cucu bunda.” Bunda menaruh uang tersebut ke tangan Nadine. “Untuk biaya lahiran kamu, ayah dan bunda sudah menyiapkannya, Nad.”

Nadine menggelengkan kepalanya. “Tidak usah, Bun. Nadine ada biaya untuk kebutuhan anak Nadine.”

“Dari siapa, Nad?” tanya Andin. “Tidak mungkin dari Adinata, kan. Dia, kan tidak tahu kalau kamu mengandung anaknya.”

“Adinata menaruh satu kartu ATM di koperku. Aku bisa menggunakannya untuk kebutuhanku dan anakku.”

“Kembalikan saja, Nad.” Bunda menatap Nadine dengan tatapan khawatir.

“Tidak, Bun. Aku anggap kartu ATM itu sebagai tebusan dari Adinata karena menyakitiku. Selama ini aku tidak benar-benar menikmati uang bulanan yang Adinata beri untukku. Kedua adik dan ibunya selalu datang kepadaku untuk mengambil uang itu, menyisakan sedikit saja untukku.” Air mata Nadine menetes tanpa bisa dicegah. “Selalu seperti itu, Bun. Aku sudah pernah bercerita dengan Adinata, tapi keluarganya tetap melakukannya lagi. Mereka mengambilnya lagi di hari selanjutnya. Karena aku sudah merasa capek, jadi aku biarkan saja semuanya terjadi.”

“Nadine…” Bunda bergegas memeluk tubuh Nadine. “Kenapa tidak cerita ke Bunda, Sayang. Kamu minta saja ke bunda, Nad. Bunda akan kasih ke kamu.”

Hati Almi terasa remuk mendengar keponakan tersayangnya yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri bercerita dengan nada menahan tangis. Tangan Almi mengelus rambut Nadine.

“Kenapa tidak bercerita denganku, Nad? Aku juga bisa membantumu.” Andin memberi elusan di punggung Nadine.

Nadine menegakkan tubuhnya. Dia menghapus air mata yang membasahi pipinya. “Aku tidak apa-apa. Aku kira aku masih kuat untuk menyimpannya sendiri, tapi ternyata tidak. Mungkin juga ini karena anakku juga sudah lelah karena selama ini aku hanya memendamnya.”

“Bunda tidak ingin kamu bertemu dengan Adinata. Jangan mendekatinya lagi, ya, Nad. Kita, bahkan keluarga kita harus menjauh dari Adinata.”

Nadine tersenyum tipis. “Aku tidak ingin menghalangi anakku bertemu dengan ayah kandungnya, Bun.” Nadine menatap perutnya yang membuncit.

“Bunda sebenarnya tidak tega mendengarnya, Nad, tapi memang sebagai orang tua, kita akan melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya. Bunda hanya bisa mendukungmu, ya. Selagi kamu membutuhkan uang untuk tambahan biaya persalinan dan pengurusan kehidupanmu, bilang ke bunda. Bunda sudah siapkan bagian untukmu dan Andin, ya.”

Nadine menatap Andin. “An, kalau menikah jangan hanya berbekal cinta saja, ya. Kamu perlu tahu tentang karakternya dan keluarganya. Jangan sampai seperti diriku.”

“Kamu tidak salah datang ke sini, Nad. Kami juga keluargamu. Kami yang menerima kamu tanpa penghakiman. Terima kasih sudah datang ke rumah ini dibandingkan rumahmu sendiri.”

Nadine tertawa. Dia menatap Almi dan Andin bergantian. “Di keluargaku sendiri, aku tidak mendapat penerimaan. Aku tidak terlihat di mata mereka, dibandingkan aku datang ke sana dan menjadi tidak terlihat, lebih baik aku datang ke sini dan biarlah mereka tidak pernah melihatku.”

“Apa Adianta mengetahui kalau kamu di sini?”

Andin menatap sang bunda. “Adinata pasti tahu, Bun. Dia punya power untuk mencari Nadine dengan mudah. Semoga saja berita kehamilan Nadine tidak segera sampai ke telinganya.”

1
doubleareya
Halo, teman-teman 👋🏻👋🏻 Terima kasih sudah membaca cerita Adinata - Nadine yaaa, aku mau minta tolong kepada teman-teman untuk memberi dukungan cerita ini dengan suka dan komentar yaaa 🤍 🤍 Aku sangat terbuka dengan saran dan kritik yang baik untuk cerita ini yaa 😙💛
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!