Elara tumbuh sebagai putri tunggal dari pemimpin organisasi mafia paling kejam di negeri ini. Dididik dengan kekerasan dan dicengkeram doktrin psikopat oleh ayahnya, ia terpaksa mengenakan topeng apatis dan minim empati.
Saat berusia 14 tahun, dalam sebuah misi untuk menghabisi geng lokal, takdir mempertemukannya dengan seorang remaja laki-laki yang tengah dikeroyok.
Bukannya takut melihat aksi kejam Elara, pemuda itu justru jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan sukarela menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam dunia hitam organisasi demi bisa bersamanya.
Tahun demi tahun berlalu. Remaja laki-laki itu kini telah tumbuh menjadi pengawal pribadi Elara yang paling tangguh dan tepercaya. Tanpa mengetahui rencana pengkhianatan Elara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 : DARAH MENETES DIATAS MATRAS
Malam itu, hujan deras mengguyur kediaman Ouroboros, bercampur dengan suara guntur dan deru angin yang menghantam dinding kaca.
Di dalam ruang latihan bawah tanah yang kedap suara, atmosfernya tidak kalah mencekam. Ruangan luas berlantai matras hitam itu hanya diterangi beberapa lampu sorot putih yang dingin.
Dante berdiri di tengah ruangan, bertelanjang dada. Tubuhnya yang penuh dengan bekas luka tembak dan sayatan pisau tampak berkilat oleh keringat. Ia sedang membalut buku-buku jarinya dengan kain 𝘩𝘢𝘯𝘥𝘸𝘳𝘢𝘱 hitam ketika pintu 𝘩𝘪𝘥𝘳𝘰𝘭𝘪𝘬 bergeser terbuka.
Julian Vance melangkah masuk, ia mengenakan kaus ketat hitam dan celana kargo. Di tangannya, ia memutar-mutar sepasang pisau latihan tumpul berbahan 𝘥𝘶𝘳𝘢𝘭𝘶𝘮𝘪𝘯 yang berbobot berat.
"Kudengar kau menghabiskan tiga jam di sini setiap malam, Dante," Julian melempar salah satu pisau 𝘥𝘶𝘳𝘢𝘭𝘶𝘮𝘪𝘯 itu ke arah Dante.
Dante menangkap gagang pisau tersebut dengan refleks. Matanya menatap Julian, dingin dan sarat akan rasa kesal yang sudah mencapai puncaknya.
"Tempat ini bukan untukmu, Julian," ucap Dante, suaranya berat, bergema di ruang kosong itu. "Keluar sebelum aku mematahkan sesuatu."
Julian terkekeh rendah, mengambil posisi kuda-kuda rendah yang sangat 𝘰𝘳𝘵𝘰𝘥𝘰𝘬𝘴—gaya petarung pisau militer faksi Eropa Timur. "Aku bosan dengan permainan data. Mari kita lihat apakah 'pedang' milik Nona Elara ini memang setajam reputasinya, atau hanya sekadar anjing menggonggong."
Kalimat itu adalah sumbu pendek yang meledakkan Dante.
Dante menerjang. Tubuh besarnya bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Pisau di tangannya menebas 𝘩𝘰𝘳𝘪𝘻𝘰𝘯𝘵𝘢𝘭, mengincar leher Julian. Serangan itu digerakkan oleh insting membunuh.
𝘚𝘐𝘕𝘎
Julian merunduk secepat kilat. Bilah pisaunya bergerak dari bawah, mencoba menyayat pergelangan tangan Dante. Dante menarik tangannya ke belakang, memutar tubuhnya, dan melepaskan tendangan tumit yang kuat ke arah rusuk Julian.
𝘉𝘜𝘔
Julian menangkis dengan kedua lengan bawahnya, namun daya dorong Dante yang masif membuatnya terseret mundur tiga meter di atas 𝘮𝘢𝘵𝘳𝘢𝘴. Julian meringis, merasakan sensasi panas yang menjalar di lengannya.
𝘚𝘪𝘢𝘭𝘢𝘯, 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘮𝘰𝘯𝘴𝘵𝘦𝘳, batin Julian, namun senyum miringnya justru semakin melebar. Adrenalinnya melonjak drastis.
Tanpa memberikan Julian waktu untuk bernapas, Dante kembali memburu. Bilah logam tumpul itu beradu di udara, menimbulkan bunyi 𝘵𝘳𝘪𝘯𝘨-𝘵𝘳𝘪𝘯𝘨 yang intens dan cepat. Dante bertarung dengan brutal, menekan, dan menggunakan berat tubuhnya untuk menghancurkan pertahanan lawan.
Namun, Julian membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar konsultan digital. Gerakannya sangat efisien. Ia memanfaatkan kelincahannya untuk menghindar dari jalur serangan utama Dante, lalu melepaskan tusukan-tusukan pendek yang mengincar titik-titik saraf vital.
𝘚𝘙𝘌𝘛
Ujung pisau Julian berhasil menggores pundak Dante, meninggalkan garis merah yang mengeluarkan darah segar.
Rasa sakit itu justru membakar kewarasan Dante. Ia sengaja membiarkan Julian mendekat, lalu dengan gerakan kilat, Dante menangkap pergelangan tangan Julian yang memegang pisau. Dengan raungan rendah, Dante menghantamkan dahinya kuat-kuat ke wajah Julian.
𝘛𝘈𝘒
Kacamata Julian terlempar, hancur berkeping-keping di lantai. Darah segar langsung mengalir dari hidung Julian. Julian terhuyung mundur, pandangannya sempat kabur, namun insting bertahannya membuat ia langsung berguling ke samping tepat saat lutut Dante menghantam matras tempat kepalanya berada beberapa milidetik lalu.
Julian bangkit dengan cepat, menyeka darah di hidungnya dengan punggung tangan. Matanya yang kini telanjang berkilat dengan gairah bertarung yang sama gilanya dengan Dante.
Ia menerjang maju, tidak lagi menggunakan pisau. Julian melepaskan kombinasi pukulan 𝘤𝘳𝘰𝘴𝘴 dan 𝘩𝘰𝘰𝘬 cepat yang bersarang telak di rahang dan perut Dante. Dante terbatuk, melangkah mundur setapak, namun langsung membalas dengan bantingan judo yang masif.
𝘎𝘌𝘋𝘜𝘉𝘜𝘒
Tubuh Julian dihempaskan ke matras dengan keras. Dante langsung mengunci tubuh Julian dari atas, menumpahkan seluruh rasa kesalnya dengan melayangkan pukulan bertubi-tubi ke wajah Julian.
Julian menahan beberapa pukulan dengan lengannya, lalu dengan sisa kekuatannya, ia mengangkat kedua kakinya, mengunci leher Dante dari bawah dengan teknik 𝘵𝘳𝘪𝘢𝘯𝘨𝘭𝘦 𝘤𝘩𝘰𝘬𝘦 yang mencekik pasokan udara Dante.
Dante mengerang, wajahnya memerah karena kehabisan oksigen. Namun, alih-alih melepaskan kuncian, ia menggunakan kekuatan otot punggungnya yang luar biasa untuk mengangkat tubuh Julian dari lantai dan mengempaskannya kembali ke bawah demi memecah kuncian tersebut.
𝘉𝘜𝘔
Keduanya terkapar di atas matras, napas mereka memburu hebat, dada mereka naik-turun dengan cepat. Darah dan keringat bercampur di atas matras hitam. Mereka berdua perlahan bangkit, kembali mengambil posisi siap bertarung dengan tubuh yang sudah babak belur. Pisau mereka sudah terlempar entah ke mana. Tangan mereka mengepal, siap untuk ronde brutal berikutnya.
"Cukup."
Satu suara dingin yang familier menginterupsi dari arah pintu masuk.
Dante dan Julian seketika membeku. Mereka menoleh perlahan ke arah sumber suara.
Elara berdiri di sana, bersandarkan pada bingkai pintu lipat dengan kedua tangan terlipat di dada. Ia mengenakan jubah tidur hitamnya yang longgar. Matanya menatap kedua pria yang bersimbah darah itu dengan pandangan bosan, seolah sedang melihat dua anak kecil yang memperebutkan mainan.
"Kalian terlihat menyedihkan," ucap Elara, suaranya mengalun datar.
Dante langsung menundukkan kepalanya, mengambil langkah mundur dari Julian. Rasa bersalah dan malu karena tertangkap basah bertindak impulsif kembali menghantamnya. "Elara... maafkan aku."
Julian, di sisi lain, perlahan menegakkan tubuhnya. Ia meringis menahan sakit di rusuknya, namun senyum kasualnya kembali meski bibirnya pecah dan berdarah. Ia mengambil kaosnya yang sempat tergeletak, lalu menyeka darah di wajahnya.
"Hanya sedikit latihan fisik sebelum tidur, Nona Elara," ujar Julian, suaranya agak sengau karena hidungnya yang cedera. Matanya menatap Elara dengan binar obsesi. "Pengawal Anda... memang memiliki pukulan yang luar biasa."
Elara berjalan melewati Julian, lalu berhenti tepat di depan Dante. Ia menatap luka sayatan di pundak Dante yang masih meneteskan darah.
Jemari Elara yang dingin menyentuh pinggiran luka itu, membuat tubuh kekar Dante sedikit bergetar.
"Kembali ke kamarmu, Tuan Julian. Obati wajahmu sebelum Ayah melihatnya besok pagi," titah Elara tanpa mengalihkan pandangannya dari Dante. "Aku tidak ingin Ayah berpikir aku memelihara konsultan yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri."
Julian menatap interaksi intim itu dengan rahang yang mengeras samar. Duel fisik ini berakhir seri. Ia menyadari satu hal, secara fisik, Dante mungkin setara dengannya, tetapi secara emosional, Dante memegang posisi yang tidak bisa ia sentuh untuk saat ini.
"Tentu, Nona Elara. Selamat istirahat," Julian membungkuk sedikit, lalu berjalan keluar dari ruang latihan.
Nggak bisa nebak endingnya 💪💪
qu rasa nanti hadir laki" yg melebihi mrk smua
juliaaan👍👍
takut nii
semangat kak💪💪
bikin penasaran
kenapa feeling ku bilang ini sad ending yaa🤔🤔
semangat kak💪💪
sebenarnya apa niat dia yaa 🤔
jangan bilang ini belum kemampuan elara yang sebnernya..