Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.
Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.
Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.
Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.
Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.
Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.
Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,
“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Kabar dari Jakarta
Tok. Tok. Tok.
Ketukan pintu kayu rumah sederhana itu membuat Rani yang sedang menyusun kotak-kotak katering segera mengangkat kepala.
"Sebentar!" Rani berjalan cepat menuju pintu depan.
Begitu pintu dibuka, langkah Rani langsung terhenti. Seorang pria tinggi berdiri di depan rumah. Kemeja kasual mahal, jam tangan elegan, dan wajah tampan yang jelas bukan berasal dari lingkungan desa mereka.
"Maaf, cari siapa ya?" Rani refleks mengernyit.
Pria itu tersenyum ramah. Senyum yang langsung membuat kesan pertama terasa jauh lebih nyaman.
"Selamat siang. Saya Reynard," jawab pria itu. "Saya teman Kemala dari Jakarta."
Reynard membawa beberapa totebag yang terlihat mewah.
Mata Rani sedikit membesar. "Oh."
"Apakah Kemala ada?" tanya Reynard.
Rani masih memperhatikan pria itu beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk. "Ada. Tunggu sebentar."
Rani menoleh ke dalam rumah. "Kemala!"
Suara langkah kaki segera terdengar. Kemala yang keluar dari kamar langsung membeku.
"Pak Reynard?" tanya Kemala terkejut melihat Reynard.
Reynard tersenyum. "Halo, Kemala."
Kemala benar-benar tak menyangka. Pria itu bisa datang sampai ke desa kecil seperti ini.
"Bapak ... kenapa ada di sini?" tanya Kemala penasaran.
"Boleh saya duduk sebentar?" Reynard melirik ke arah teras.
Kemala buru-buru mengangguk. "Tentu, Pak."
Rani segera bergeser memberi jalan ke arah teras.
Tak lama kemudian. Reynard duduk di kursi teras rumah. Mata pria itu mengamati halaman kecil yang dipenuhi tanaman cabai dan beberapa pot bunga. Semuanya tampak sederhana tetapi terasa hangat. Sangat berbeda dengan kediaman utama Rothmere yang luas dan megah.
"Sebentar ya, Pak," ucap Kemala kepada Reynard. "Saya buatkan minum dulu."
Kemala masuk ke dalam rumah. Sementara Reynard duduk santai. Tak sampai lima menit, Kemala kembali membawa segelas teh hangat. Namun baru saja gelas itu diletakkan, tangisan bayi langsung pecah dari dalam rumah.
"Aaa ... aa ...."
Kemala yang hendak duduk refleks berdiri. "Maaf."
Reynard mengangguk sambil tersenyum. "Tidak apa-apa."
Kemala buru-buru masuk lagi.
Beberapa menit kemudian, Kemala kembali dengan bayi laki-laki di gendongannya. Tangisan itu masih terdengar. Kemala duduk kembali sambil mengayun tubuhnya perlahan.
"Ssst ..." Kemala menepuk perlahan punggung bayi itu. "Sudah ...."
Wanita desa yang terlihat begitu lelah itu masih terus mengayunkan tubuhnya. "Ibu di sini."
Reynard memperhatikan pemandangan itu cukup lama. Ada sesuatu yang terasa janggal. Namun pria itu belum bisa menjelaskan apa. Yang jelas Kemala terlihat sangat lelah. Jauh lebih lelah dibanding terakhir kali ia melihat wanita itu di Jakarta.
Di dalam rumah. Rani sedang sibuk menyusun pesanan katering. Suara panci dan wadah makanan terdengar bersahutan. Sementara di teras, Kemala akhirnya bertanya.
"Jadi ... kenapa Bapak jauh-jauh datang ke sini?" tanya Kemala yang masih penasaran atas kehadiran Reynard.
Reynard tersenyum lalu mengangkat beberapa kantong besar yang dibawanya.
"Buah tangan," ujar pria itu memasang wajah ceria tanpa menjawab pertanyaan Kemala.
Mata Kemala langsung membesar. "Pak ...."
"Jangan ditolak," ucap Reynard serius.
"Banyak sekali," jawab Kemala yang berusaha menerima satu-satu menggunakan tangan kanannya.
"Bukan untukmu saja." Reynard menunjuk bayi di pelukan wanita polos itu. "Untuk dia juga."
Kemala tertawa kecil. Reynard merasa lega melihat senyum itu. Setidaknya wanita itu masih bisa tersenyum.
"Bagaimana kabarmu?" tanya pria itu.
Kemala mengangguk cepat. "Baik. Tentu saja."
Jawaban yang terlalu cepat. Dan Reynard langsung mengetahuinya. Karena wajah wanita itu mengatakan hal yang berbeda. Lingkar mata yang lebih gelap, tatapan yang lebih sering kosong, dan senyum yang muncul hanya sesaat.
"Kamu terlihat tidak baik-baik saja," ujar Reynard sedikit mencondongkan badannya ke arah Kemala.
Kemala terdiam lalu tersenyum tipis. "Saya baik."
Reynard tak memaksa. Pria itu cukup mengenal Kemala untuk tahu bahwa wanita itu tidak mudah menceritakan kesulitannya.
Pintu rumah kembali terbuka. Rani keluar sambil membawa dua kantong besar di kedua tangannya.
"Kemala," panggil Rani.
Kemala menoleh.
"Aku harus antar pesanan dulu," ujar Rani sambil mengangkat kedua kantong besar itu. "Masih banyak yang belum dikirim."
Kemala mengangguk. "Hati-hati, Ran."
Rani tersenyum. Baru kemudian menyadari Reynard memperhatikannya.
"Oh iya." Rani kemudian menatap Reynard yang sedang duduk di kursi teras itu. "Titip rumah sebentar ya, Pak."
Reynard tertawa kecil. "Siap."
Rani segera pergi. Motor skuter tuanya menghilang di tikungan jalan desa. Kini hanya tersisa Kemala dan Reynard di teras. Serta bayi yang masih sesekali merengek.
Beberapa menit berlalu. Kemala akhirnya memberanikan diri bertanya.
"Pak ..." panggil Kemala yang sempat ragu ketika masih menatap bayi di pelukannya.
"Hm?" sahut Reynard yang menautkan kedua tangannya di paha kakinya yang tersilang.
"Bagaimana Nathan?" tanya Kemala yang kini menatap Reynard.
Reynard terdiam. Pertanyaan itu ternyata muncul lebih cepat dari yang pria itu perkirakan. Kemala kembali menunduk. Tangan wanita yang kelelahan itu masih mengusap punggung bayi itu.
"Saya hanya penasaran," ucap Kemala khawatir Reynard salah paham. "Itu saja."
Reynard menghela napas lalu menyandarkan tubuhnya. "Kediaman Rothmere sedang kacau."
Kemala langsung mengangkat kepala. "Kacau?"
"Ya. Nathan sekarang sering menangis," jawab pria dengan pakaian kasual itu.
Senyum di wajah Kemala perlahan menghilang. "Belum menemukan ibu susu pengganti?"
Reynard menggeleng. "Belum."
"Kesehatannya?" tanya Kemala yang terlihat khawatir.
"Katanya masih cukup stabil," jawab Reynard yang sebenarnya juga ragu. "Tapi suasananya tidak."
Kemala terdiam.
Reynard melanjutkan. "Madam sedang sangat marah."
"Aku bisa membayangkan …” Reynard sedikit mengangkat kepalanya menatap langit-langit teras. "Seolah kepala para pelayan hampir copot setiap hari."
Kemala menunduk. Rasa bersalah mulai memenuhi dadanya.
"Maaf …." suara Kemala terdengar bergetar.
Reynard menggeleng. "Kamu tidak perlu meminta maaf."
"Tapi Nathan …." ucap Kemala mengingat bayi kecil pernah sering berada di pelukannya.
"Kamu punya alasanmu sendiri." Reynard memandang Kemala beberapa saat. Ada rasa tidak tega yang sulit disembunyikan dalam sorot matanya.
Kemala memeluk bayi di tangannya sedikit lebih erat. "Saya sudah menemukan Arkana. Jadi saya memang harus pulang."
Reynard memperhatikannya sangat lama. Kemudian pria itu berkata pelan.
"Aku tahu." Reynard kemudian menatap jauh ke halaman rumah Rani. "Bastian yang memberitahuku."
"Pak Bastian?" Kemala terlihat terkejut.
Reynard mengangguk. "Setelah aku memaksanya bercerita."
Kemala terdiam. Reynard tersenyum kecil.
"Sejak kamu pergi," ucap Reynard yang kembali menatap Kemala. "Suasana hati pria itu benar-benar berantakan."
Kemala langsung menunduk. Mendengar itu membuat hati Kemala terasa aneh.
"Begitu juga Madam," lanjut Reynard sambil mengambil segelas teh di meja. "Kediaman utama tidak lagi tenang."
Kemala tak menjawab karena wanita itu tak tahu harus menjawab apa.
Beberapa saat kemudian. Reynard memandang bayi di pelukan Kemala. Bayi itu kembali gelisah. Tubuh kecil itu terus bergerak seolah tak nyaman.
"Bagaimana Arkana kembali?" tanya Reynard setelah meletakkan gelas tehnya.
Kemala mengangkat kepala.
"Apakah Bastian yang menemukannya?" Reynard kembali bertanya dan menatap Kemala penasaran.
Pertanyaan itu membuat Kemala menggeleng. "Bukan. Clarissa yang menemukannya."
Reynard membeku. "Siapa?"
"Clarissa." Kemala hanya berkedip bingung. Sorot matanya seolah bertanya apa ada yang salah dengan jawabannya.
Senyum ramah di wajah Reynard perlahan menghilang. "Clarissa Rothmere?"
Kemala mengangguk. "Iya."
Reynard langsung duduk lebih tegak. Tatapan pria yang selalu ceria itu berubah serius. Perubahan kecil yang langsung ditangkap Kemala.
"Kenapa, Pak?" Ada keraguan dalam suara Kemala.
"Tidak." Reynard menggeleng. "Tidak apa-apa."
Padahal jelas ada sesuatu. Kemala buru-buru menjelaskan.
"Pak Bastian juga meragukan bayi ini," ujar Kemala berusaha menunjukkan bahwa keraguan Reynard bukanlah hal yang aneh. "Tapi Clarissa sangat baik. Dia membantu saya."
Nada suara Kemala melembut saat mengingat semua bantuan yang pernah diterimanya.
"Bahkan sampai mencari Arkana." Kali ini terdengar keyakinan yang sulit digoyahkan dalam suara Kemala.
Reynard terdiam sangat lama. Karena di dalam kepala pria yang begitu mengenal Rothmere itu, puluhan kemungkinan mulai bermunculan. Reynard mengetahui cara pikir Clarissa termasuk semua Rothmere selain Bastian. Ada satu hal yang pasti sepanjang pengalaman Reynard menghadapi Rothmere bahwa tak ada Rothmere yang bergerak tanpa tujuan.
Bayi itu kembali menangis. Kemala langsung mengayunnya. Namun tangisan tidak berhenti.
"Aduh ...." Kemala terlihat kewalahan.
Melihat itu tanpa sadar Reynard ikut mendekat. "Coba begini."
Kemala menatap bingung.
Tanpa rasa malu sedikit pun, Reynard menggembungkan pipinya. Setelah itu, pria itu menaik-turunkan alisnya berulang kali sambil membuat ekspresi wajah yang sama sekali tak sesuai dengan citra pria berkelas seperti dirinya.
Kemala langsung menahan tawa. "Pak ...."
"Apa?" tanya Reynard seolah tak merasa ada yang aneh.
Senyum Kemala semakin melebar. "Lucu."
"Nah." Reynard menunjuk bayi di gendongan Kemala. "Dia juga harusnya tertawa."
Sayangnya, bayi itu justru menangis lebih keras. Kemala akhirnya benar-benar tertawa.
"Sepertinya gagal." Reynard menghela napas. "Padahal biasanya anak-anak suka wajah tampan."
Kemala tertawa lagi. Reynard memandangi wanita itu sejenak. Senyum yang mengembang di bibirnya kini diiringi binar lembut di kedua matanya.
Sore mulai merambat turun. Tak lama kemudian, Rani pulang dan suasana yang tadinya tenang seketika menjadi jauh lebih hidup.
Mereka bertiga duduk di teras sambil menikmati semilir angin desa. Awalnya obrolan hanya seputar hal-hal ringan. Namun semakin lama, cerita-cerita masa kecil mulai bermunculan.
"Pak Reynard," panggil Rani tiba-tiba.
Reynard menoleh.
"Jangan percaya wajah polos Kemala."
"Rani!" protes Kemala spontan.
Rani hanya terkekeh. "Apa?"
"Memangnya kenapa?" Reynard tersenyum geli melihat reaksi mereka.
"Kemala memang polos," jawab Rani. "Tapi juga nekat."
"Nekat bagaimana?" Ketertarikan langsung muncul di wajah Reynard.
Tawa Rani pecah. "Dulu waktu SD saya sering dibully."
"Jangan diceritakan." Kemala menunduk malu.
"Tidak bisa." Rani menggeleng tegas. "Ini harus diceritakan."
Kemala mengerang pelan, sementara Rani menunjuk ke arah wanita yang menggendong bayi itu.
"Dia yang membela saya," ujar Rani penuh semangat.
"Kemala?" Reynard tampak terkejut.
"Iya. Padahal yang dia hadapi anak-anak laki-laki," jawab Rani dengan wajah penuh kegembiraan.
"Serius?" Reynard mengangkat alis.
"Serius!" Rani mengangguk mantap.
Reynard tertawa lepas. "Jadi sejak dulu memang pemberani."
"Dia memang selalu begitu." Rani mengangguk setuju. “Bahkan karena keberanian itu juga, usaha katering saya berkembang pesat walaupun berada di desa kecil. Dulu saya hanya punya modal tetapi tak berani buka usaha. Kemala meyakinkan saya dan mengelola usaha ini dengan sangat baik. Kemala benar-benar memiliki insting seorang pengusaha.”
“Wah itu hebat sekali,” ujar Reynard sangat terkesima.
Tak mau kalah, Reynard mulai menceritakan seseorang yang lain. "Kalau begitu, aku juga punya cerita."
"Tentang siapa?" Kemala menoleh penasaran.
"Bastian." Sudut bibir Reynard terangkat.
Kemala langsung terdiam.
"Pria itu adalah orang paling kaku yang pernah kutemui." Reynard menggeleng pelan sambil terkekeh.
"Saya percaya." Rani tertawa kecil.
"Percayalah, kenyataannya jauh lebih parah," ujar Reynard yang juga menahan tawanya.
Kali ini, bahkan Kemala tampak semakin penasaran.
"Dulu ada investor asing yang datang. Setelah rapat selesai, dia mengajak semua orang bersulang." Reynard melanjutkan ceritanya.
Rani sudah mulai menahan tawa.
"Lalu tahu apa yang dilakukan Bastian?" tanya Reynard begitu antusias.
"Apa?" tanya Rani cepat.
Reynard menirukan ekspresi datar sahabatnya. "Dia bertanya, 'Apakah bersulang termasuk agenda wajib rapat?'"
Hening sepersekian detik. Lalu Rani langsung tertawa terbahak-bahak. "Tidak mungkin!"
"Aku juga berharap itu tidak mungkin," sahut Reynard.
Kemala yang sejak tadi berusaha menahan diri akhirnya ikut tertawa. Tawa ringan yang membuat wajah wanita yang lelah itu tampak jauh lebih hidup dibanding beberapa hari terakhir.
Reynard memperhatikan Kemala sekilas. Begitu pula Rani. Keduanya menyadari hal yang sama. Senyum itu tak lagi terasa dipaksakan. Untuk sesaat, beban yang selama ini menekan Kemala seolah mengendur.
Matahari hampir tenggelam ketika Reynard akhirnya berdiri dari kursinya. "Sepertinya aku harus kembali."
"Terima kasih sudah mampir." Rani mengangguk.
"Terima kasih sudah datang jauh-jauh, Pak." Kemala ikut berdiri.
"Tidak masalah." Reynard tersenyum ringan.
Pria itu berbalik dan melangkah menuju mobil yang terparkir di depan rumah. Namun baru beberapa langkah, suara Kemala menghentikan Reynard.
"Pak Reynard," panggil Kemala tiba-tiba.
Reynard menoleh.
"Tunggu sebentar."
Tanpa menunggu jawaban, Kemala buru-buru masuk ke dalam rumah. Reynard dan Rani saling berpandangan bingung. Beberapa menit kemudian, Kemala kembali keluar. Di kedua tangan wanita polos itu terdapat sebuah tas besar yang tampak penuh.
"Apa itu?" Reynard mengernyit.
Kemala menghampirinya lalu menyerahkan tas tersebut. "ASIP."
Reynard langsung terdiam. Tas itu terasa jauh lebih berat daripada yang terlihat. Kemala menunduk. Pandangan wanita itu tertuju pada tas besar di tangan Reynard. Di dalamnya tersimpan ASI yang selama ini Kemala perah setiap hari. ASI yang seharusnya diberikan langsung kepada putranya.
Suara Kemala bergetar ketika akhirnya berbicara. "Saya masih punya banyak simpanan."
Wanita polos itu menarik napas panjang.
"Kalau bisa ..." Untuk sesaat, wanita itu tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Namun kemudian Kemala memaksa dirinya tersenyum. "Tolong berikan untuk Nathan."
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️
kalo berkenan mampir juga y😉