"Rain, ini aku Bintang suamimu, kamu boleh menghukumku dengan cara apapun tapi tolong jangan pura-pura melupakan aku, aku sudah sangat menyesali perbuatanku dulu sama kamu."
"Bukan aku yang pura-pura tidak mengenalmu tapi aku memang tak kenal siapa kamu bahkan bertemu kamu saja baru dua kali ini."
Penyesalan itu memang terkadang datang terlambat tapi apa jadinya jika sosoknya kembali datang setelah 4 bulan Bintang kehilangannya, akankah Bintang masih bisa menerima kenyataan jika orang didepannya ini bukan orang yang selama ini dia rindukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amak Mpis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lara hilang.
Tiga puluh menit berlalu, Doni datang sambil ngos-ngosan dan memberikan bubur ayam pada Black yang sekarang sedang duduk santai, sementara Black membuka bubur, Sandra yang kasihan memberikan Doni minum.
Doni meminum air yang Sandra berikan sampai habis tak tersisa sementara Black dengan lahap memakan bubur yang Doni belikan.
‘Setidaknya bubur yang gue beli dengan bercucuran keringat ini dia makan dengan lahap,’ batin Doni sambil tersenyum.
KRING KRING
Black mengambil ponselnya dan mengangkat telepon dari nomer yang tidak dia kenal. “Halo, siapa ya?” tanya Black.
“Black, pasien kemarin mau ketemu kamu, apa kamu bisa?”
“Bisa, saya kesana sekarang.” Black menutup telepon sepihak tanpa menunggu jawaban dari sebrang.
“Om, makasih buat semuanya, saya permisi dulu ada urusan mendadak.” Black bangkit dan berjalan pergi tanpa memperdulikan jawaban Doni.
Sementara disisi Bintang, dia sekarang masih bersama ketiga temannya di rumah Andra setelah Andra mendapat telepon dari kedua orang tuanya.
“Memang bagaimana ceritanya kok bisa Lara hilang?” Tanya Andra masih sambil fokus keliling rumah mencari Lara yang hilang.
“Kita juga gak tahu, tadi pagi kata bibi, Lara masih duduk di teras sendirian setelah Lila pergi sekolah, tapi tatapan Lara sudah beda,habis itu bibi tinggal ke belakang pas bibi kedepan sudah hilang gak tahu kemana?”
“Tante, Lila pulang jam berapa?” Tanya Bintang dan pertanyaan itu menyadarkan Tante Hilda jika waktu mereka tinggal satu jam lagi.
“Tinggal satu jam waktu kita buat nyari Lara, kalau sampai gak ketemu sebelum Lila pulang, bisa habis kita, karena menghadapi Lila yang kehilangan Lara akan lebih sulit daripada sulitnya kita mencari Lara.”
Semua orang kalang kabut, tapi setiap sisi rumah sudah mereka cari tetap tak bisa menemukan Lara.
“Lara, pus, dimana kamu, sini yuk jangan sembunyi,” Ucap Bintang sambil terus berkeliling
Andra mengocok makanan Lara yang masih ada di plastik dan biasanya itu akan membuat Lara langsung menghampiri Andra, tapi kini nyatanya Lara tak kunjung datang.
“Cic cic cic cic, Lara kamu dimana sayang? Ayo sini jangan sembunyi lagi.”
Mereka semua sudah sangat frustasi, dan lebih frustasi lagi saat mereka mendengar suara dari arah pintu utama. “Aku pulang.” Jantung mereka terasa berhenti berdetak saat mendengar kata itu.
“Gimana ini, Pa?” Tanya Hilda pada Feri yang kini juga ikut bingung, ini jauh lebih sangat sulit dari pada urusan di kantornya.
“Kita alihkan perhatian Lila dulu, jangan sampai dia nyari Lara ke kandang.” Baru saja kaki mereka mau melangkah menuju Lila, teriakan lebih dulu mereka dengar dan itu semakin membuat mereka panik.
“MAMA, PAPA, LARA MANA KOK GAK ADA?” Teriakan Lila terasa menggema di seluruh ruangan membuat kaki mereka kaku, lidah mereka kelu sampai tak ada yang berani menjawab.
Lila berlari menuju Hilda sambil menangis. “Mama, Lara mana?” Air mata sudah membanjiri pipi Lila. Sakit rasanya mendengar isakan dari Lila, tangis kesedihan karena kehilangan hewan kesayangannya.
“Mama, nanti kak Rain marah kalau Lara hilang, mama Lara mana?” Pertanyaan itu semakin menyayat hati Hilda, dia tahu seberharga apa Lara bagi putri kecilnya, sesayang apa Lila sama Lara, mereka sudah menganggap Lara seperti keluarga.
“Sayang, kita cari Lara sama-sama ya.” Jawaban yang sama sekali tidak diinginkan sama Lila akhirnya terlontar dari bibir mamanya, orang yang paling dipercaya untuk menjaga Lara saat dia gak ada.
“Mama, Lara hilang?” Pertanyaan kedua yang butuh waktu lama untuk Hilda menjawabnya, dia ingin jujur tapi dia tahu respon anaknya pasti akan jauh membuat hatinya sakit.
“Mama, jawab Lila! Lara hilang?”
“Iya sayang, kita sudah mencari ke setiap sudut rumah tapi nihil Lara gak ketemu. Kita cari lagi keluar ya.” Hilda sedikit takut dengan respon Lara selanjutnya.
“Lara hilang. Lara kemana? Lara. Mama Lara hilang?”
“Sabar sayang, kita cari lagi Laranya ya, kak Andra juga lagi nyari diluar sama temen-temennya, Lara tenang ya.” Andra dan yang lain memang mencari diluar setelah Lila menemui Hilda karena di satu sisi mereka ingin Lara segera ketemu, di sisi lain mereka tak akan tega melihat betapa kehilangannya Lila.
Tak lama datanglah Andra, tapi dia tidak hanya bersama ketiga temannya tapi juga bersama seorang perempuan yang sedang menggendong kucing putih yang sudah tertidur.
Bukannya lari mengambil Lara, Lila malah diam bengong melihat siapa yang sekarang sedang menggendong Lara.
“Kak Rain hidup lagi?” Satu kalimat dari Lila yang membuat mereka semua bengong, mereka bingung bagaimana harus menjelaskan pada Lila bahwa orang yang didepannya sekarang bukan Rain tapi Black.
“Halo adik kecil, kucingnya buat kakak boleh?” Tanya Black sambil berdiri didekat Lila, niatnya Black mau jongkok tapi susah.
“Itu kucing kakak Rain, kalau mau kakak ambil lagi gak apa-apa.” Tangis Lila reda, dia tersenyum setelah Black mendekat.
“Kalau kakak bukan kakak Rain apa kakak masih boleh bawa kucing ini?” Entah kenapa Black menatap lekat Lila, ada rasa yang berbeda dari pada saat dia menatap Naren.
Lila menatap Black cukup lama, tak ada bedanya sama sekali hanya bedanya orang yang ada di depannya sedang hamil besar sedangkan Rain tidak hamil.
“Boleh Lila lihat perut kakak?”
“Kamu mau kenalan sama yang didalam?” Lila mengangguk dan setelah itu Black menurut setelah Hilda menyuruh kelima cowok itu menutup mata.
Lila mengelus perut Black dan menempelkan kupingnya diperut Black. “Halo adek.” Lila memeluk Black dengan sangat erat, perlahan air matanya juga keluar semakin deras.
“Eh kamu kenapa nangis, perut kakak jelek ya? Jangan nangis dong nanti kakak dimarahin mama kamu.” Sekarang bukan hanya Lila saja yang nangis tapi Hilda juga ikut menangis.
“Aduh kok tante juga ikut nangis?” Tepat setelah mengucapkan itu semua cowok membuka mata. “TUTUP MATA KALIAN!” Black buru-buru menutupi perutnya dan setelah itu semua orang kembali membuka mata.
“Kenapa mama ikut nangis?” Tanya Feri yang ikut panik, tapi bukannya menjawab Hilda masih tetap menangis sambil berjalan memeluk Black.
“Kenapa jadi nangis semua?” Black semakin bingung dan setelahnya Hilda dan Lara sama-sama melepas pelukan mereka dengan Black.
“Aku kangen banget sama kak Rain,” Ucap Lila setelah tangisnya mulai reda.
“Kakak bukan Rain, kakak namanya Black.”
“Kakak bohong, kakak ini kak Rain.”
“Gimana jelasinnya ya, tolong jelasin dong!” Pinta Black pada Bintang dan yang lain.
“Lila sayang, nama kakak ini Black bukan Rain, muka kakak ini memang sama, tapi dia bukan kak Rain, ikhlasin kak Rain ya,” Jelas Andra berharap adiknya percaya.
“Dia kak Rain, kak Bintang tolong jelasin sama mereka semua kalau ini kak Rain!” Bintang bingung karena dia juga belum bisa menganggap Black ini bukan Rain.
“Di perut kakak ini ada tanda lahir yang sama dengan posisi yang sama dengan tanda lahir kak Rain. Kak Bintang tahu tentang tanda lahir itu kan?”
Bintang semakin diam, bukan karena dia yang bingung memilih kata untuk menjawab pertanyaan Lila melainkan karena dia memang tidak tahu tanda itu ada atau tidak, saking jauhnya mereka dulu sampai Bintang tak tahu detail khusus di badan Rain.
“Kak Bintang jawab, ini kak Rain kan? Kak Rain belum meninggalkan?” Tangis Lila kembali terdengar dengan sesekali isakan juga terdengar.
Black hanya bisa diam sambil memegangi kepalanya yang sudah berdenyut hebat, banyak potongan memori yang melintas di otaknya membuat dia sedikit memaksa otaknya untuk mengingat semua potongan memori itu.
“Kakak tolong kasih tahu mereka kalau kakak ini Kak Rain bukan kak Black.” tangis Lila semakin menyayat hati Black dan itu membuat kepala Black semakin berdenyut hebat.
“Iya kakak memang Rain, tolong berhenti, kepala kakak sakit, tolong jangan paksa kakak mengingat semuanya tolong.”
BERSAMBUNG.