Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.
Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.
Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum dari sahabat
Kabar tentang penculikan yang disertai penganiayaan dan pelecehan yang dialami Tiara akhirnya menyebar hingga ke SMP Negeri 1. Berita itu berhembus cepat dari mulut ke mulut, membuat suasana sekolah yang biasanya riuh mendadak dipenuhi bisik-bisik.
Di antara semua yang mendengarnya, Elsa adalah sosok yang paling terpukul. Tiara bukan sekadar teman sekelas, melainkan sahabat yang selalu ada di saat ia membutuhkan. Ketika bel istirahat berbunyi, Elsa menghampiri beberapa teman sekelasnya yang sedang berkumpul di kantin.
"Teman-teman, pulang sekolah nanti aku mau jenguk Tiara di rumah sakit. Siapa yang mau ikut?" tanyanya penuh harap.
Beberapa pasang mata saling berpandangan sebelum satu per satu memberikan jawaban.
"Maaf, aku ada acara sama keluarga."
"Aku harus les sore ini."
"Aku sudah janji sama kakakku."
"Maaf ya, aku nggak bisa ikut. Aku ada urusan."
Bahkan Diar, ketua kelas yang selama juga menggeleng.
"Aku juga nggak bisa. Sore ini ada pertandingan sepak bola."
Elsa tersenyum tipis, meski rasa kecewa perlahan menyelinap ke dalam dadanya.
"Iya, nggak apa-apa."
Tak ada lagi yang menawarkan diri. Ia hanya mengangguk, lalu kembali ke ruang kelasnya dengan langkah yang terasa lebih berat.
Dalam hati, ia tak bisa memungkiri kenyataan bahwa solidaritas teman-teman sekelasnya memang sangat kurang. Ingatannya melayang beberapa bulan lalu, saat dirinya terbaring lemah karena demam tifoid. Dari sekian banyak teman yang datang menjenguk, hanya Tiara yang rela meluangkan waktu.
Kebaikan itu masih membekas jelas di hati Elsa. Karena itulah, ia tak mungkin membiarkan Tiara menghadapi masa-masa sulit seorang diri.
Begitu bel tanda pelajaran selesai berbunyi, Elsa langsung keluar gerbang sekolah. Ia menaiki angkutan umum menuju rumah sakit tempat Tiara dirawat.
Di tengah perjalanan, ia sempat singgah di sebuah kios buah untuk membeli buah jeruk, buah favorit Tiara sebagai buah tangan.
"Selamat siang, Om," sapa Elsa sopan.
Keenan yang tengah duduk di bangku di depan kamar perawatan Tiara mengangkat pandangan. Ia baru saja mengakhiri panggilan teleponnya.
"Selamat siang."
"Om... ayahnya Tiara, ya?"
"Iya, benar." Keenan mengangguk tipis. "Kamu pasti teman sekolah Tiara?"
"Iya, Om. Nama saya Elsa."
Keenan tersenyum ramah.
"Teman-teman yang lain mana? Kok kamu datang sendirian?"
"Ehm... saya datang sendiri, Om. Teman-teman nggak bisa ikut karena masing-masing ada urusan."
Senyum di wajah Keenan masih terukir, tetapi sorot matanya tak mampu menyembunyikan rasa kecewa. Ia sempat berharap ada lebih banyak teman Tiara yang datang memberi dukungan di masa sulit putrinya.
"Oh ya, Om." Elsa kembali membuka suara. "Bagaimana keadaan Tiara sekarang? Apa saya boleh menemuinya?"
Keenan menghembuskan napas pelan.
"Alhamdulillah, kondisinya sudah jauh lebih baik." Ia berdiri dari duduknya. "Tunggu sebentar, ya. Om tanya dulu sama Tiara. Semoga dia sudah siap menerima tamu."
"Iya, Om."
Keenan kemudian masuk ke dalam kamar perawatan.Tak lama kemudian, ia kembali keluar dengan senyum tipis di wajahnya.
"Silakan. Tiara mau menemuimu."
Wajah Elsa langsung berbinar.
"Makasih banyak, Om."
Tanpa menunggu lebih lama, ia melangkah masuk ke kamar perawatan sambil menggenggam erat kantong berisi jeruk kesukaan sahabatnya.
"Tiara," panggil Elsa lirih.
Begitu mendengar suara sahabatnya, Tiara menoleh. Dalam sekejap, air mata yang sedari tadi ia tahan kembali luruh. Elsa bergegas menghampiri, lalu memeluknya erat.
Tangis keduanya pun pecah. Elsa dapat merasakan tubuh Tiara bergetar di dalam pelukannya. Ia tak bisa membayangkan betapa hancurnya hati gadis itu setelah semua yang terjadi.
"Sa..." suara Tiara nyaris tak terdengar. "Aku sudah rusak. Aku kotor. Kamu... pasti jijik sama aku."
Elsa segera melepaskan pelukan mereka. Dengan kedua tangan, ia menggenggam erat tangan Tiara.
"Nggak, Ra." Ia menggeleng tegas. "Dengar aku baik-baik. Kamu nggak kotor, apalagi hina. Kamu tetap Tiara yang aku kenal. Kita ini sahabat, dan aku nggak akan pernah ninggalin kamu, apa pun yang terjadi."
Tangis Tiara kembali pecah.
"Makasih, Sa.... Cuma kamu yang masih peduli sama aku."
Elsa mengusap air matanya sendiri dengan tisu, lalu berusaha mengubah suasana.
"Oh iya, aku bawain jeruk kesukaanmu." Ia menunjuk kantong plastik di atas nakas.
"Aku kupasin, ya."
Tiara mengangguk pelan.
Elsa mengambil sebutir jeruk, lalu mulai mengupas kulitnya. Aroma segarnya langsung memenuhi ruangan.
"Sa..." panggil Tiara lagi.
"Hm?"
"Dengan kondisiku sekarang... aku nggak yakin bisa kembali ke sekolah." Suaranya dipenuhi keraguan. "Aku takut... semua orang bakal ngejek aku."
Gerakan tangan Elsa terhenti. Ia menatap Tiara dengan sorot mata yang penuh ketulusan.
"Nggak akan, Ra. Dan kalaupun ada yang berani ngomong macam-macam, aku bakal jadi orang pertama yang berdiri di depan kamu."
Senyum tipis akhirnya menghiasi wajah Tiara.
"Sebentar lagi kita naik kelas sembilan. Dulu kamu yang paling semangat ngajak aku masuk SMA 1. Jadi, kita harus bisa. OK!"
Mata Tiara mulai kembali berbinar, meski masih menyisakan luka.
"Nih, cobain jeruknya.”
Elsa menyuapkan sepotong jeruk ke mulut Tiara.
Baru sekali menggigit, wajah Tiara langsung meringis. Kedua matanya menyipit menahan rasa asam.
"Kenapa? Jeruknya asam ya?" tanya Elsa.
Tiara buru-buru memasang wajah datar. "Nggak, kok. Manis banget malah. kamu cobain juga deh."
Tanpa curiga, Elsa memasukkan sepotong jeruk ke mulutnya. Detik berikutnya, wajahnya langsung berubah. Matanya merem-melek, bibirnya mengerucut, dan seluruh wajahnya mengernyit hebat.
"Ya ampun... asem banget!"
Tiara yang melihat ekspresi sahabatnya tak kuasa menahan tawa. Untuk pertama kalinya sejak musibah itu terjadi, tawanya terdengar begitu lepas. Elsa ikut tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Maaf ya, Ra. Tadi waktu nyobain di penjualnya rasanya manis. Eh, yang dijual asam begini. Nanti aku mau protes ke penjualnya."
Dengan wajah pasrah, Elsa membuang sisa jeruk yang sudah dikupas ke tempat sampah.
Tiara masih tersenyum.
"Nggak apa-apa, Sa. Kehadiran kamu di sini jauh lebih manis daripada jeruk yang asam itu."
Keduanya kembali tertawa bersama. Tawa yang sederhana, tetapi cukup untuk mengusir sesak yang sejak tadi memenuhi ruang perawatan.
Di balik pintu yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka, Keenan menyaksikan semuanya dalam diam. Senyum tipis mengembang di wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak gadis itu ditemukan, ia melihat secercah cahaya kembali menyala di mata putrinya.
Mahesa hemmmm ada something ini