Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.
Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.
Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.
Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.
Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?
Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33 Kasih Sayang Seorang Ayah
Ayah Hana tersenyum tipis melihat reaksi tersebut. "Melihat caramu memalingkan wajah dan nada suaramu barusan, itu berarti jawabannya adalah iya. Kau benar-benar bahagia di sana."
"Ayah terlalu banyak berasumsi sendiri dan menyimpulkan sesuatu sesuka hati," gumam Hana sembari merapikan letak tas selempangnya yang berada di atas meja kaca.
"Tentu saja Ayah bisa berasumsi, Hana, karena aku ini adalah ayah kandungmu," ujar pria itu seraya mengembuskan napas panjang. "Sejujurnya, sampai detik ini pun, Ayah tidak pernah benar-benar setuju kau membuang bakat medismu di desa nelayan yang terisolasi seperti itu."
"Aku sudah sangat tahu tentang pandangan Ayah yang itu," sahut Hana pelan, menundukkan kepalanya.
"Ayah selalu mendambakan kau bekerja di rumah sakit internasional yang besar di pusat kota, memiliki karier spesialis yang cemerlang, dan dihormati oleh banyak orang. Ayah hanya ingin memastikan bahwa sisa hidupmu selalu berjalan dengan penuh kenyamanan dan masa depan yang terjamin, Hana."
"Aku sangat mengerti dan menghargai itu, Ayah," Hana memotong kalimat ayahnya dengan seulas senyum kecil yang sangat lembut. Ia meraih jemari tangan ayahnya yang berada di atas meja.
"Aku tahu semua aturan ketat yang Ayah paksakan dulu adalah bentuk rasa khawatir dari seorang ayah setelah Ibu tiada. Tapi aku memilih pergi karena aku ingin menjadi seorang dokter yang berguna bagi mereka yang tidak memiliki pilihan akses medis. Di kota besar ini, ada ribuan dokter hebat yang mengantre untuk melayani orang kaya. Tapi di Desa Sekar, jika bukan aku yang berdiri di sana untuk menolong mereka, lalu siapa lagi dokter yang mau datang ke sana?" Jelas Hana panjang lebar.
Ayah Hana menatap wajah putrinya dengan rasa takjub dan kekaguman yang mendalam. Pria paruh baya itu akhirnya terkekeh pelan, menggelengkan kepalanya seraya bersandar pasrah.
"Kau benar-benar mewarisi sifat keras kepala yang sangat merepotkan ini," ujar sang ayah seraya mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah kalah.
"Tentu saja, bukankah aku ini adalah anak kandung yang mewarisi seluruh DNA sifat keras kepalamu, Ayah?" balas Hana dengan nada jenaka, mencoba mencairkan suasana haru.
Mendengar sindiran balik itu, sang ayah tidak bisa menahan tawa renyahnya yang lepas, diikuti oleh tawa kecil Hana. Ketegangan di antara ayah dan anak itu sepenuhnya mencair tanpa sisa. Suasana berubah menjadi sangat hangat.
"Ayah benar-benar bangga memiliki putri sepertimu, Hana," ucap pria itu dengan nada suara yang mendadak melembut.
Hana sempat terpaku kaku di kursinya, merasakan sepasang matanya mendadak terasa sedikit panas karena haru. Sebelum ia sempat menanggapi, ayahnya tampak merogoh saku bagian dalam dari jas mewahnya dan mengeluarkan sebuah kartu rekening bank berwarna perak metalik, lalu mendorongnya ke atas meja.
"Kartu apa lagi ini, Yah?" tanya Hana dengan dahi berkerut.
"Gunakan kartu rekening ini untuk memenuhi seluruh kebutuhan operasional medismu atau untuk keperluan pribadimu selama di desa. Jangan membantah perintah Ayah untuk kali ini saja," potong pria paruh baya itu dengan tatapan mata yang memohon.
"Anggap saja kartu ini adalah bentuk pelampiasan dari rasa khawatir seorang ayah yang tidak bisa berada di dekat putrinya."
Hana menatap kartu perak itu selama beberapa saat, merasakan ketulusan cinta yang mendalam di balik sikap kaku ayahnya selama ini. Akhirnya, ia mengangguk pelan dan memasukkan kartu tersebut ke dalam tas selempangnya. "Baiklah kalau begitu. Terima kasih banyak atas dukungannya, Ayah. Ini akan sangat membantu klinik di sana."
"Nah, itu baru putri kesayangan Ayah," sahut sang ayah dengan wajah lega.
Hana melirik jam tangan kecil yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, lalu perlahan bangkit berdiri. "Aku harus segera kembali ke area parkir sekarang, Yah. Teman-teman desaku pasti sudah kebingungan mencariku dari tadi."
Ayah Hana ikut bangkit berdiri, merapikan kancing jas mewahnya. "Kapan kau akan meluangkan waktu untuk pulang ke rumah utama lagi di kota ini?"
"Aku tidak tahu pasti, Yah. Lihat saja nanti bagaimana kondisi pasien dan cuaca di desa," jawab Hana terkekeh geli.
"Dasar anak keras kepala," cibir sang ayah berpura-pura kesal.
"Dan Ayah adalah seorang ayah yang sangat, sangat cerewet," balas Hana menjulurkan lidahnya dengan polos, lalu melangkah maju dan memeluk erat tubuh ringkih ayahnya.
"Hati-hati di jalan selama perjalanan darat pulang besok, Hana," bisik sang ayah dengan suara lirih yang bergetar tepat di dekat telinga putrinya.
"Iya, Ayah juga harus selalu jaga kesehatan di sini selama aku tidak ada," sahut Hana lembut, lalu melepaskan pelukan dan melangkah mundur dengan senyum geli. "Aku akan baik-baik saja di sana, percayalah pada kemampuan putrimu ini."
Setelah punggung Hana benar-benar menghilang di balik pintu kaca restoran, senyuman hangat di wajah pria paruh baya itu memudar sepenuhnya. Raut wajahnya kembali berubah menjadi sangat serius dan penuh wibawa.
Tak lama setelah itu, seorang pria bertubuh tegap dan berjas hitam melangkah mendekat dengan patuh. "Ada perintah tambahan yang perlu dilaksanakan, Pak?"
"Ikuti seluruh pergerakan Hana dari jarak aman sekarang juga," perintah ayah Hana dengan nada suara yang sangat berat dan tegas.
"Pastikan kau bersama timmu menjaganya dengan sangat ketat dari jarak jauh, hingga dia benar-benar aman sampai ke dalam kamar penginapannya malam ini. Jangan sampai ada yang mengganggunya."
"Baik, Pak. Perintah dipahami dengan jelas. Kami bergerak sekarang," jawab bodyguard itu sembari membungkuk hormat sebelum akhirnya bergerak dengan cepat keluar dari restoran.
" Pak ada laporan tambahan, sepuluh orang yang kita suruh untuk mengamankan dua orang teman Hana kini tidak sadarkan diri di gedung terbengkalai di ujung sana pak," lapor bodyguard yang satu lagi.
" Ternyata pemuda desa itu hebat juga, tidak apa-apa kasi mereka upah aku hanya ingin bertemu dengan putri ku berdua dan sekarang sudah terwujud," ucap ayah Hana tersenyum kecil lalu menatap ke arah luar jendela.
Di sisi lain pusat kota Hana tampak berjalan santai menyusuri trotoar menuju arah area parkir. Namun, baru beberapa langkah ia melewati sebuah belokan gang raya yang agak sepi
"Dokter Hana!" seru sebuah suara yang sangat familier terdengar agak terengah-engah dari arah depan lorong.
Hana mendongak dan mendapati Teri sedang berlari cepat mendekat ke arahnya dengan wajah yang tampak sangat panik, disusul oleh Kael di belakangnya dengan langkah kaki yang lebar dan konstan.
"Kalian berdua ini kenapa sebenarnya? Kenapa wajah kalian tampak berantakan dan tegang seperti baru saja melihat hantu?" tanya Hana sembari berkedip polos, menghentikan langkah kakinya.
"Kau pergi dari area parkir mobil tanpa memberikan kabar atau pesan sama sekali di ponsel, Dok," sahut Teri sembari memegangi kedua lututnya yang lemas. "Kami mengira Anda diculik atau dalam bahaya."
Hana mengernyitkan dahinya, merasa heran sekaligus geli. "Aku hanya pergi sebentar untuk menemui ayah kandungku di restoran seberang blok tadi karena ada hal keluarga yang harus dibicarakan."
Mendengar penjelasan yang sederhana tersebut, Kael tampak menghela napas panjang secara perlahan melalui hidungnya. Bahunya yang semula menegang kaku kini tampak sedikit turun, seolah sebuah beban besar baru saja diangkat dari dadanya.
"Apakah kau benar-benar baik-baik saja? Tidak ada sesuatu yang buruk atau orang asing yang mengintimidasi dirimu selama pergi?" tanya Kael memastikan dengan nada suara yang terdengar lebih rendah dan dalam dari biasanya.
"Tentu saja aku baik-baik saja dan aman, Kael," Hana tersenyum kecil, merasakan sebersit rasa hangat menjalar di hatinya. "Memangnya apa yang bisa terjadi padaku di tempat yang ramai seperti di sekitar pertokoan ini?"
"Lalu di mana posisi ayahmu sekarang? Mengapa dia membiarkanmu berjalan sendirian kembali ke parkiran?" tanya Kael lagi, matanya melirik halus ke arah jalan raya di belakang tubuh Hana.
"Beliau harus langsung kembali ke kantor pusatnya karena ada urusan bisnis mendadak," jawab Hana santai sembari mengangkat kedua bahunya. "Pertemuan kami tadi juga terjadi secara tiba-tiba tanpa ada rencana sebelumnya."
Kael terdiam sejenak. Ia menatap lekat-lekat ke dalam kelopak mata jernih milik Hana untuk memastikan tidak ada kebohongan atau ketakutan yang disembunyikan. Setelah memastikan semuanya aman, Kael akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah kalau begitu. Selama kau kembali dengan aman dan utuh, itu sudah lebih dari cukup bagi kami."
Hana menundukkan kepalanya sedikit ke bawah, berusaha menyembunyikan seulas senyuman manis yang perlahan merekah di belahan bibirnya. Meskipun Kael tidak pernah mengatakannya secara gamblang, Hana tahu betul pria itu sangat mengkhawatirkannya.
Malam hari pun akhirnya benar-benar tiba. Karena sisa waktu yang mereka miliki sudah terlalu larut, ketiganya akhirnya sepakat melalui diskusi singkat untuk menunda kepulangan mereka besok pagi dan mencari tempat beristirahat malam ini di sebuah hotel penginapan kecil yang cukup bersih.
Malam itu perlahan-lahan merayap semakin larut. Di dalam kamar penginapan mereka masing-masing, Hana dan Teri telah lama terlelap dengan pulas karena didera rasa lelah yang luar biasa.
Namun, hal itu sama sekali tidak berlaku bagi Kael. Di dalam kamarnya yang gelap gulita tanpa menyalakan lampu, pria itu tampak masih berdiri tegak mematung di samping jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah langit malam.
Jemari tangannya yang besar bergerak perlahan, merogoh ke dalam saku pakaiannya untuk mengeluarkan sebuah kalung perak tua yang sudah tampak usang.
Kael menggenggam erat kalung perak itu di atas telapak tangannya, menatapnya dengan pandangan mata yang sarat akan rasa kerinduan yang membakar dan luka lama masa lalu yang mendalam.
Kalung perak tua itu adalah satu-satunya peninggalan berharga yang tersisa dari sosok Arin gadis manis yang menjadi cinta pertama sekaligus satu-satunya wanita yang pernah berhasil mengisi ruang kosong di dalam hidupnya, sebelum akhirnya takdir dengan sangat kejam merenggut nyawa gadis itu di masa lalu.
Di bawah temaramnya sinar bulan kota yang menembus celah kaca jendela kamar, Kael membiarkan seluruh jiwanya kembali tenggelam sedalam mungkin ke dalam lautan lamunan masa lalu yang kelam, meratapi setiap kepingan memori yang ingin ia lupakan namun selalu gagal ia kubur, tanpa pernah ada satu orang pun di dunia ini yang mengetahuinya.
Bersambung...