NovelToon NovelToon
Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nila KingShop Wati

HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Bab 30

Dan benar saja, suara yang baru saja kudengar itu adalah Sherkan.

Aku masih berdiri diam di tengah lobi utama gedung, memegang ponsel yang masih terasa hangat di telingaku, ketika suara pria itu kembali terdengar dengan nada yang tetap tenang, dalam, dan tidak meninggalkan ruang untuk tawar-menawar.

“Kemarilah.”

Hanya dua kata, namun terasa lebih berat dan pasti daripada ribuan kalimat lain.

“Lalu masuk ke dalam mobil.”

Bukan permintaan. Bukan ajakan yang bisa diterima atau ditolak sesuka hati. Melainkan sebuah keputusan yang sudah dibuatnya, dan tinggal menungguku untuk menjalankannya. Entah kenapa, meski pikiranku sempat ragu sejenak, lidahku tidak mampu mengucapkan kata penolakan apa pun. Seolah ada kekuatan tak terlihat yang membuatku patuh begitu saja.

Aku memutus sambungan telepon tanpa mengucapkan sepatah kata balasan, lalu melangkah menuju pintu kaca keluar. Begitu pintu terbuka, udara sore yang sejuk namun sedikit berembus kencang langsung menyambutku, membawa aroma aspal basah dan sisa panas matahari yang mulai meredup. Beberapa karyawan yang masih berjalan menuju area parkir menoleh sekilas, terlihat penasaran melihatku keluar dengan langkah tergesa-gesa, namun perhatianku sudah tertuju sepenuhnya pada satu benda yang terparkir kokoh tepat di depan pintu utama.

Mobil hitam mengkilap itu.

Mobil yang kini terasa semakin akrab, bahkan seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharianku belakangan ini.

Aku melangkah mendekat, jantungku berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Tangan kananku mengangkat gagang pintu penumpang, menariknya terbuka, lalu aku masuk dan duduk di dalamnya persis seperti yang sering kulakukan.

Di kursi pengemudi, Sherkan sudah duduk dengan tenang. Jas hitamnya masih terlihat sangat rapi dan teratur, kemeja putih di baliknya nyaris tidak memiliki lipatan sedikit pun meski ia sudah sibuk bekerja seharian penuh di kantor. Aura dingin, tegas, dan penuh wibawa yang selalu mengelilinginya seolah tidak pernah pudar, bahkan saat ia sedang duduk bersantai tanpa melakukan apa pun.

Diam-diam aku meliriknya dari samping, lalu kembali teringat satu hal yang sering kali membuatku tertegun tanpa sadar. Pria ini benar-benar sangat tampan—lebih dari sekadar standar ketampanan biasa. Dengan rahang tegas yang terukir sempurna, hidung mancung, dan sepasang mata gelap yang menyimpan kedalaman tak terduga, ia memiliki daya tarik yang sulit dihindari. Mungkin justru terlalu tampan untuk kebaikan jantungku sendiri, yang sering kali terasa berdebar kencang hanya karena duduk berdampingan dengannya.

“Kita langsung pulang ke rumah?” tanyaku akhirnya, mencoba memecah keheningan yang mulai terasa menekan.

Sherkan perlahan menoleh ke arahku. Tatapan matanya yang gelap dan tajam bertemu langsung dengan mataku, membuat napasku terasa tertahan sejenak. Namun alih-alih menjawab pertanyaanku, ia justru bergerak mendekat ke arahku.

Aku langsung membeku di tempat.

“Hah? Apa yang kau lakukan?” sergahku refleks, dan tanpa sadar tubuhku mundur sedikit menempel pada sandaran kursi.

Jantungku melonjak berpacu kencang. Dalam hitungan detik, jarak di antara kami menjadi sangat dekat—terlalu dekat hingga aku bisa merasakan hembusan napasnya yang lembut dan mencium aroma parfum maskulin yang samar namun menenangkan, khas tubuhnya. Untuk sesaat otakku benar-benar berhenti berpikir, bingung dan panik dengan gerakan yang tidak terduga itu.

Namun kemudian terdengar bunyi kecil yang jelas.

Klik.

Aku berkedip cepat, lalu menundukkan pandangan. Dan baru menyadari apa yang sebenarnya sedang dilakukan Sherkan.

Pria itu sedang memasangkan sabuk pengaman di tubuhku.

Bukan melakukan hal lain yang sempat membuat imajinasiku melayang dan jantungku berdebar kencang tadi.

Wajahku seketika terasa memanas, bahkan hingga ke telinga dan leherku. Rasa malu yang tiba-tiba menyelimuti diriku membuatku ingin menunduk lebih dalam agar tidak terlihat olehnya. Untungnya, Sherkan tampaknya tidak terlalu memperhatikan reaksiku yang berubah drastis itu—atau mungkin ia memperhatikan namun sengaja memilih diam dan tidak mengomentarinya.

Ia terus memastikan sabuk pengaman itu terpasang dengan kencang dan aman, hingga terdengar bunyi pengunci yang sempurna untuk kedua kalinya.

Klik.

Baru setelah itu, ia kembali duduk tegak di posisinya semula, seolah tidak terjadi apa-apa dan tidak baru saja membuat jantungku hampir melompat keluar dari rongga dadanya.

Sementara itu, aku membutuhkan waktu beberapa detik yang terasa lama untuk menenangkan diri dan mengingat kembali cara bernapas dengan normal. Rasanya jantungku butuh waktu lebih lama untuk kembali ke detak yang stabil.

Mesin mobil menyala dengan suara halus, dan perlahan kendaraan itu mulai melaju meninggalkan halaman parkir perusahaan. Aku mencoba mengalihkan perhatian dan menenangkan pikiranku dengan memandang ke luar jendela, mengamati lalu lintas dan gedung-gedung yang lewat di sepanjang jalan. Namun baru beberapa menit berlalu, aku mulai menyadari sesuatu yang tidak beres.

Ini bukan jalan menuju rumah.

Aku sudah cukup hafal setiap belokan dan rute menuju kediaman megah Sherkan yang terletak di pinggiran kota. Namun arah yang kami tempuh saat ini jelas berbeda, justru menuju ke tengah kota yang semakin padat.

Aku segera menoleh ke arahnya, suaraku terdengar sedikit penasaran dan waspada. “Sherkan, kita mau pergi ke mana sebenarnya? Kenapa lewat jalan ini?”

Sherkan memegang setir dengan satu tangan saja, sementara tangan yang lain bertumpu di jendela mobil. Pandangannya tetap lurus ke depan, fokus pada jalan raya, namun jawabannya tetap datar dan singkat. “Pergi ke satu tempat.”

Aku menghela napas panjang. Jawaban yang sangat khas dirinya—singkat, tidak jelas, dan sama sekali tidak membantu.

“Tempat apa?” tanyaku lagi, mencoba memancing penjelasan lebih lanjut.

“Hm,” gumamnya singkat, seolah menganggap pertanyaanku tidak penting.

“Itu bukan jawaban,” protesku dengan nada sedikit kesal.

“Memang bukan,” jawabnya santai, bahkan tidak berusaha menyembunyikan ketidaksukaannya untuk menjelaskan lebih rinci.

Aku menatapnya dengan pandangan tidak percaya, merasa sedikit kesal namun tidak bisa berbuat apa-apa. Sementara pria itu terlihat sama sekali tidak merasa bersalah atau bersedia memberi tahu tujuannya.

Akhirnya aku mengangguk pasrah. Percuma saja bertanya lebih jauh. Jika Sherkan tidak ingin menjawab atau mengungkapkan rencananya, tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa memaksanya untuk membuka mulut.

Mobil terus melaju melintasi beberapa ruas jalan utama kota. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, menerangi suasana sore yang mulai berubah menjadi senja. Kemacetan khas jam pulang kerja masih terlihat di beberapa persimpangan, namun Sherkan tetap mengemudi dengan tenang dan terampil, melewati jalanan tanpa terburu-buru.

Hingga sekitar dua puluh menit kemudian, mobil perlahan mulai memasuki kawasan pusat kota yang paling ramai. Aku mulai mengernyitkan dahi, merasa semakin lama semakin mengenali daerah ini. Lalu hanya dalam hitungan detik, mataku langsung membelalak lebar karena kaget.

Mobil yang dikemudikan Sherkan berbelok dan masuk ke area parkir sebuah pusat perbelanjaan terbesar dan termewah di kota ini—sebuah mal yang hampir selalu dipenuhi pengunjung setiap harinya, baik pada hari kerja maupun akhir pekan.

Aku segera menoleh cepat ke arah pria yang duduk di sampingku, wajahku penuh rasa terkejut, bingung, dan sedikit tidak percaya. Dari sekian banyak tempat penting, resmi, atau rahasia yang mungkin terlintas di pikiranku, mal jelas bukan salah satunya.

Mobil akhirnya berhenti di tempat parkir yang cukup luas dan kosong. Mesin dimatikan, dan seketika keheningan kembali menyelimuti kami. Selama beberapa detik, aku hanya bisa menatap bangunan megah dan berkilauan di hadapanku dengan perasaan bingung yang memuncak.

Apa yang sebenarnya ingin dilakukan Sherkan di sini? Siapa yang ingin ia temui? Apakah ada urusan bisnis mendadak? Dan yang paling membuatku bertanya-tanya, kenapa aku harus ikut serta bersamanya?

Entah kenapa, rasa penasaran itu bercampur dengan firasat aneh yang mulai tumbuh di dalam hatiku. Aku merasa, sore ini tidak akan berjalan sesederhana atau secepat yang kubayangkan. Ada sesuatu yang sedang direncanakan pria di sampingku ini, dan aku hanya bisa menunggu untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

1
Siti Aisah
mak kamu kemna saja tidak muncul" semoga emak sehat selalu🤭
Siti Aisah
emak ku tunggu " blum ada tanda"kah..
Amidah Anhar
maaak evaa ayooo donk jangan kabuuur🥺🥺🥺🥺🤭🤭🤭
Yuyun Yunita
lebih baik dibicarakan dgn sherkan drpd nnti ny jd bumerang untuk dirimu sendiri
Yuyun Yunita
iya ny si violet ini🤣🤣gak kasihan sama sherkan🤣🤣
Yuyun Yunita
fix ini sdh dari awal sherkan cinta sama violet
Yuyun Yunita
aduh sherkan knp bicara bgt...
suatu hari nnti kamu akan punyak anak bagaimana kl anak gadis mu dinikahi pria tanpa seizinmu🤣
Yuyun Yunita
oke mak
Siti Aisah
masih penasaran.. 🤔
Miss Typo
gregetan bgt deh knpa gak ngomong sm Sherkan sih Violet, semoga aja Sherkan tau. awas aja Arga kalau ngomong yg gak²
Ayudya
violet kamu harus bilang ma sherkan kalau kamu di undang ma kakek satria
wiliss
Lanjut kan kak🙏
Maria Kibtiyah
kenapa violet gak cerita ke serkhan.. mak embun untuk bara masih ku pavorite loh siapa tau mau di lanjut🤭
Siti Aisah
sherkan sudah pakai hati dgn alasan butuh perlindungan😜
wiliss
Lanjut kk🙏
Miss Typo
aku hanya pembaca, disini Violet yg berhadapan dgn Sherkan, tapi knpa jantungku ikut jedag jedug 🤣
vj'z tri
selanjutnya kita akan sering bertemu papa 🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
wo ai ni mas bos 🎉🎉🎉🎉🎉
vj'z tri
hoba hoba akhirnya di kenalin juga sama pamer ya suami akoh 🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ suami akoh pasti seneng liat ekspresi muka violet saat ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!