Pertemuan yang tak pernah mereka rencanakan, tapi justru takdir membawanya semakin dekat. Hingga mereka benar-benar yakin bahwa cinta itu hadir. Tapi ternyata tak cukup hanya Cinta, tapi juga ada perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????" bentuknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Lagi Tanpa Sengaja
"Baiklah. Terimakasih." ucap Ryan.
"Kalau berkenan, kami bisa menjadwalkan ulang untuk besok atau lusa, Pak."
Ryan mengangguk pelan. "Kalau begitu jadwalkan ulang saja."
"Nggak jadi diperiksa, Pa?" tanya Fiska sedikit kecewa karna dia sudah benar-benar yakin dan siap untuk itu.
"Sayang, besok saja ya....." Ryan berjongkok hingga sejajar dengan putrinya.
"Tapi aku kan sudah berani, Pa....."
Ryan tertawa kecil lalu mencubit gemas pipinya, "Bagus.......itu memang paling penting, Sayang....beraninya jangan hilang sampai jadwal berikutnya."
Fiska masih berdiri di samping Ryan dengan wajah murung. Bibirnya mulai mengerucut, pertanda ia sedang berusaha menahan tangis.
"Tapi aku mau periksa sekarang....." rengeknya pelan.
"Sayang, dokter hari ini memang sedang penuh." Ryan mengusap kepala putrinya dengan lembut.
"Tapi biasanya kan nggak pernah ditunda......" suara Fiska mulai terdengar bergetar. Ia menggenggam ujung baju ayahnya.
"Aku takut nanti gigiku sakit, Pa. Tadi Papa bilang kalau gigi harus diperiksa supaya nggak sakit."
Suster itu ikut juga berjongkok di samping Fiska.
"Fiska, Papa memang bilang begitu. Tapi bukan berarti kalau hari ini belum diperiksa, terus besok langsung sakit." Susternya ikut menenangkan Fiska yang sudah mulai menangis.
Fiska masih tetap terus merengek pelan. Meski tidak menangis keras, jelas terlihat bahwa ia benar-benar kecewa.
"Tapi aku mau periksa sekarang......." katanya berulang kali sambil memeluk lengan Ryan.
"Besok saja ya, Sayang......Sekarang kita beli boneka saja yaa....." Ryan masih tetap berusaha membujuk dengan sabar.
"Enggak Papa..... Engga mau..... " Fiska memeluk ayahnya erat dan menangis disana.
Di saat yang sama, Asido sedang berjalan ke ruangan administrasi, ada beberapa dokumen yang harus ditandatangani. Sekaligus mengecek jadwal dokter untuk beberapa hari ke depan.
Asido berhenti saat mendengar suara rengekan seorang anak dari area depan, area pendaftaran.
"Ada apa itu," Asido menoleh, dan melihat seorang anak perempuan kecil yang memeluk ayahnya tapi terdengar suara tangisan walaupun pelan.
Asido mengubah arah langkahnya dan mendekati mereka.
"Hai anak kecil.... " panggil Asido dari belakang Ryan.
Fiska yang masih kesal hanya melirik sekilas dan kembali memeluk ayahnya. Sementara Ryan tak menoleh sedikit pun, takut putrinya terganggu.
"Kenapa sedih?" lanjut tanya Asido dengan nada suara seperti anak kecil yang sengaja dibuatnya.
"Hari ini harusnya aku periksa gigi, tapi katanya engga bisa....." rengek Fiska tanpa menoleh Asido dan tetap memeluk ayahnya.
Asido melangkah ke arah petugas di sana. "Ada apa dengan hal itu?"
"Begini Dok, semua dokter yang bertugas pemeriksaan hari ini full. Dan sebelumnya memang belum ada konfirmasi ulang dari pihak mereka, Dok." jelas petugas tadi lagi.
"Astaga......" Asido mengambil berkas Fiska dari meja pendaftaran itu yang masih terletak di sana. "Biar saya saja,"
"Dokter? Tapi......"
"Saya tau. Tidak apa-apa, saya yang akan menanganinya."
"Baik, Dok. Akan saya catat, dan atur ruangan pemeriksaannya." balas petugas itu.
Asido kembali mendekati Fiska yang masih memeluk ayahnya.
"Fiska masih tetap bisa diperiksa kok....."
Fiska spontan melepas pelukannya dan menatap dokter Asido. Matanya langsung berbinar.
"Benarkah?"
"Iya..... Saya Pak dokter Asido yang akan memeriksa."
Saat mendengar itu, Ryan yang sejak hanya fokus memperhatikan putrinya , berdiri cepat dan menatap wajah Asido.
"Asido?!" ucapnya menunjuk Asido.
"Eh.... ? Ryan?" Asido juga sama terkejutnya seperti Ryan saat mereka saling bertatapan.
"Astaga...!" Ryan tertawa keras. Dia menepuk bahu sambil merangkul Asido dengan cukup erat membuat orang-orang di sekitar mereka terpaku sejenak melihatnya.
"Uhuk.... Uhuk...." Asido terbatuk-batuk kecil. "Ryan, lepaskan dulu.......Aku hampir tidak bisa bernapas."
"Sorry.... sory...." Ryan melepaskannya, sedikit tertawa malu. Dia menoleh ke sekitarnya saat pandangan orang-orang masih tertuju pada mereka. Begitu juga putrinya, terpaku melihat tingkah ayahnya.
"Ehem...." Ryan berdeham kecil untuk mencairkan suasana yang sempat canggung. Tatapan-tatapan penasaran tadi akhirnya beralih dari mereka ke tempat lain.
"Papa....? Berarti bisa kan sekarang?" tanya Fiska, putri kecil yang masih menunggu kepastian pemeriksaan giginya.
"Jadi dong....." balas Asido cepat.
"Horeee......." Fiska melompat kegirangan.
"Papa?" batin Asido. Dia belum tau sebelumnya jika Ryan sudah menikah, bahkan sudah sampai memiliki anak.
"Permisi, Dok. Ruang VIP nomor 67 sudah kosong, Dok." Lapor petugas tadi pada Asido.
"Baik, terimakasih. Tolong pastikan ruangan sudah disiapkan."
"Siap, Dok. Saya akan segera informasikan."
"Wessss, orang penting kali Dokter Asido ini ternyata ya....."Ryan melemparkan candaan.
Asido menggeleng kecil dan berusaha menghindari candaan itu. Karna jika dilanjutkan, itu akan semakin menjadi-jadi dan mereka akan kembali jadi pusat perhatian orang-orang disana.
"Fiska..... ayok.... " ajak Asido.
"Ayok, Papa...." Fiska menarik ujung baju ayahnya.
Mereka berjalan bersama menuju ruangan yang dimaksud tadi. Ruangan yang berada di lantai paling atas. Ruangan yang biasanya bukan ruangan untuk dipakai sekedar pemeriksaan. Tapi karna tak ada yang kosong, Asido tak masalah akan hal itu. Dia tak ingin ada yang kecewa akan pelayanan kliniknya meskipun sebenarnya sepenuhnya bukan kesalahan dari pihaknya. Tapi dia akan selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik.
"Silahkan naik, Fiska." Ujar Asido lembut meminta Fiska untuk duduk di kursi pemeriksaan.
"Papa.....!" Fiska tampak sedikit takut. Gadis kecil itu menggenggam tangan ayahnya erat dan bersembunyi di balik tubuh Ryan.
Ryan tersenyum akan tingkah putrinya, "Tidak apa-apa Sayang. Dokter Asido cuma mau melihat gigi Fiska sebentar."
Fiska mengintip malu- malu dari balik tibuh ayahnya. Tatapannya beralih ke Asido yang tersenyum ramah.
"Tidak sakit kok," Asido berusaha menenangkan. "Dokter cuma menghitung gigi Fiska dan memastikan semuanya sehat."
Fiska masih terlihat ragu, tapi genggamannya pada tangan ayahnya mulai mengendur.
"Ayah ikut?" tanyanya pelan.
"Tentu. Papa disini menemani Fiska," Ryan mengusap lembut puncak kepala putrinya.
Akhirnya kalimat itu berhasil juga, Fiska perlahan naik ke kursi pemeriksaan.
Asido mulai bersiap, dia mengenakan sarung tangannya. Lampu pemeriksaan menyala.
"Anak pintar....." puji Asido. Sekarang coba buka mulutnya sedikit."
Fiska membukanya perlahan.
"Bagus..... Gigi depannya sehat."
Fiska tetap diam meskipun sesekali ia melirik ayahnya.
"Sekarang buka lebih lebar lagi, ya."
Gadis kecil itu menurut apa yang dikatakan Asido.
Asido memeriksa bagian geraham atas dan bawah dengan teliti. Sesekali ia meminta Fiska memiringkan kepala sedikit agar bagian tertentu terlihat lebih jelas.
"Pintar sekali ya pasien dokter ini," puji Asido lagi.
Mendengar itu, Fiska mulai terlihat lebih tenang.
Setelah beberapa menit berlangsung, Asido meletakkan alat periksanya.
"Sudah selesai....."
Mata Fiska langsung berbinar, "Sudah Pak Dokter?"
"Sudah......" jawab Asido.
"Sini, Papa gendong......" Ryan menggendong putrinya dari kursi itu.
"Tidak terasa kok, Pa...... Padahal kemarin sakit kok....." bisik Fiska pada ayahnya. Asido dan Ryan tersenyum kecil, bisikan itu masih bisa terdengar oleh mereka.