NovelToon NovelToon
JIWA MAFIA DI TUBUH GADIS TERHINA

JIWA MAFIA DI TUBUH GADIS TERHINA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Mafia
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝑁𝑜𝑣𝑖𝑒25

Zerrin Atalea Felix seorang gadis mafia yang meninggal dunia lalu berpindah jiwa atau biasa di sebut bertransmigrasi ke tubuh Claudia Ramirez seorang gadis kaya tapi begitu di benci oleh saudara kandung nya sendiri, hanya kedua orang tua nya lah yang menyayangi nya.. Claudia yang selalu di anggap sebagai pembully di sekolah nya, padahal kenyataan nya selama ini dia hanya selalu di jadikan kambing hitam oleh seorang yang iri pada nya. Kesalahan pahaman ini lah yang membuat Claudia akhir nya di benci secara berlebihan oleh kedua abang dan lelaki yang sudah dia cintai sejak lama beserta anggota genk nya yang merupakan anggota most wanted di kampus. Kelompok para cowok-cowok kaya, keren dan populer di kawasan sekolah.
Bagaimana kisah jiwa Zerin yang berada di tubuh Claudia selanjutnya, ikuti terus kisahnya ya 😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑁𝑜𝑣𝑖𝑒25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Mengumpulkan Jejak, Membaca Musuh

Setelah melewati pertemuan singkat namun penuh ketegangan di depan gerbang sekolah, Claudia melangkah terus menuju kelasnya. Di sepanjang koridor, bisik-bisik masih terdengar mengikuti langkahnya, namun ia sama sekali tidak memedulikannya. Bagi Zerrin, yang telah terbiasa dengan tatapan penuh kebencian, rasa takut, atau iri hati selama bertahun-tahun, omongan orang lain hanyalah angin yang lewat sebentar.

Begitu tiba di depan pintu kelas 12 IPA 2, suasana di dalam ruangan langsung berubah hening. Semua kepala menoleh serentak, menatap kedatangannya dengan berbagai ekspresi: penasaran, jijik, benci, dan sedikit kebingungan. Biasanya Claudia akan berjalan cepat menuju bangkunya yang terletak di sudut paling belakang, menundukkan kepala dan berusaha tidak menarik perhatian siapa pun. Namun hari ini, ia melangkah dengan tenang, bahu tegak, dan pandangan yang menyapu seluruh ruangan seolah sedang memetakan posisi setiap orang di dalamnya.

Ia berjalan lurus menuju bangkunya, meletakkan tas sekolah dengan lembut namun mantap, lalu duduk dengan posisi yang nyaman namun tetap menjaga sikap waspada. Tanpa membuang waktu, ia segera mengeluarkan buku catatan dan pulpen, seolah tidak ada hal lain yang lebih penting daripada mempersiapkan pelajaran.

Tindakan itu membuat beberapa siswa mulai berbisik lebih keras lagi.

“Kenapa dia berubah begitu? Apa dia sudah gila karena sering dihina?”

“Mungkin hanya pura-pura percaya diri saja. Lihat saja nanti saat guru bertanya, dia pasti akan kembali gemetar.”

“Tapi tatapannya tadi… rasanya berbeda, tidak seperti biasanya.”

Di sudut lain kelas, duduklah Sari, gadis yang menjadi korban dalam insiden kemarin. Kakinya dibalut perban, dan ia duduk bersandar dengan bantuan bantal tambahan. Saat melihat Claudia masuk dan bersikap tenang seperti tidak terjadi apa-apa, rahang Sari mengeras. Rasa cemas dan was-was tiba-tiba menyelimuti hatinya. Selama ini, setiap kali Claudia datang ke sekolah, ia selalu terlihat sedih dan tertekan, sehingga membuat Sari merasa aman dan yakin rencananya akan selalu berhasil. Namun hari ini, ketenangan itu justru membuatnya merasa seperti sedang diperhatikan oleh sesuatu yang berbahaya.

“Kau lihat, Sari?” bisik Rina, teman dekat sekaligus kaki tangan Sari yang selalu membantu merencanakan hal-hal buruk. “Dia terlihat aneh sekali. Apakah dia mencurigai kita?”

Sari menggenggam ujung rok seragamnya erat-erat, lalu mencoba menenangkan diri sambil memaksakan senyum miring. “Jangan bodoh. Gadis lemah seperti dia tidak akan pernah berani melawan. Ini hanya cara dia agar terlihat tidak takut saja. Sebentar lagi, saat tekanan mulai terasa, dia akan kembali menangis dan mengaku.”

Namun di dalam hatinya, Sari tidak seyakin itu. Ada perasaan tidak nyaman yang terus mengganggu, seolah ia sedang berdiri di atas lapisan es yang tipis dan siap retak kapan saja.

Sementara itu, dari tempat duduknya, Claudia diam-diam mengamati setiap gerak-gerik Sari dan Rina. Sebagai Zerrin, ia memiliki kemampuan luar biasa dalam membaca bahasa tubuh dan ekspresi wajah seseorang. Ia tahu persis kapan seseorang berbohong, kapan mereka merasa takut, dan kapan mereka sedang menyembunyikan sesuatu.

Jadi kau yang menjadi dalang utama, ya Sari? batin Claudia sambil memutar pulpennya perlahan di atas meja. Rasa bersalah dan ketakutan itu terlihat jelas di matamu. Selama ini kau mengira aku bodoh dan lemah, sehingga mudah untuk dijadikan kambing hitam. Tapi sekarang, kau sedang berhadapan dengan orang yang biasa membongkar rahasia musuh hanya dalam hitungan jam.

Ia mulai mengingat kembali potongan ingatan Claudia mengenai Sari. Gadis itu berasal dari keluarga menengah ke bawah, namun memiliki ambisi yang sangat besar. Ia iri pada Claudia karena memiliki segalanya: kekayaan, kasih sayang orang tua, dan status sosial yang tinggi. Lebih dari itu, Sari diam-diam juga menyukai Arjuna, sehingga melihat ketertarikan masa lalu Claudia pada Arjuna membuat kebencian di hatinya semakin membara. Bagi Sari, memfitnah Claudia bukan hanya untuk menjatuhkan nama baiknya, tetapi juga untuk memposisikan dirinya sebagai gadis yang lemah, tidak bersalah, dan pantas mendapatkan perhatian dari Arjuna serta teman-temannya.

Ambisi buta yang dikendalikan oleh rasa iri dan benci , pikir Claudia dingin. Ini jenis musuh yang paling mudah diprediksi, namun cukup berbahaya jika dibiarkan berkembang terlalu lama. Tapi sekarang, permainannya akan berubah total.

Bel berbunyi, menandakan dimulainya jam pelajaran pertama. Guru mata pelajaran Matematika masuk ke dalam kelas, dan suasana kembali menjadi tenang. Selama pelajaran berlangsung, Claudia menunjukkan perubahan lain yang mengejutkan. Sebelumnya, Claudia sering dianggap lambat dalam memahami pelajaran, sering salah menjawab jika ditanya, dan terlihat bingung mengikuti penjelasan guru. Namun hari ini, ia mencatat setiap poin penting dengan rapi, mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan dengan jawaban yang tepat dan rinci, bahkan mampu mengoreksi kesalahan perhitungan kecil yang terlewatkan oleh guru itu sendiri.

“Bagus sekali, Claudia,” puji Bu Wulan, guru Matematika itu dengan tatapan takjub. “Kau menjelaskannya lebih rinci daripada yang saya sampaikan. Sepertinya persiapanmu hari ini sangat matang.”

Claudia hanya mengangguk sopan. “Terima kasih, Bu. Saya hanya berusaha lebih fokus.”

Seketika itu, bisik-bisik kembali terdengar. Bahkan guru-guru lain pun mulai memperhatikan perubahan ini seiring berjalannya jam pelajaran. Bagi Zerrin, menguasai pelajaran sekolah tingkat menengah hanyalah hal sepele. Selama hidupnya, ia dipaksa untuk mempelajari berbagai ilmu: strategi militer, hukum, ekonomi, psikologi, hingga bahasa asing, semuanya untuk mempersiapkannya memimpin kekaisaran bisnis dan kekuasaan keluarga Felix. Pelajaran sekolah hanyalah dasar yang jauh lebih mudah dibandingkan apa yang pernah ia pelajari sebelumnya.

Istirahat pertama tiba. Sebagian besar siswa berhamburan keluar menuju kantin atau koridor. Claudia tetap duduk di tempatnya, menyusun buku-bukunya dengan rapi. Ia tidak berniat menghindar, namun juga tidak ingin terlibat percakapan yang tidak perlu. Namun, ia tahu, masalah tidak akan datang jika ia menunggu , ia harus mendatangi sumbernya.

Beberapa menit kemudian, Arjuna dan ketiga temannya , Daffa, Raka, dan Leo , masuk ke dalam kelas. Mereka datang untuk menjenguk Sari, yang sudah menjadi kebiasaan mereka sejak insiden kemarin. Saat melihat Claudia duduk tenang di sudut ruangan, tatapan dingin Arjuna langsung tertuju padanya.

Ia berjalan mendekati meja Sari, bertanya dengan nada lembut yang sangat berbeda saat berbicara dengan Claudia. “Bagaimana kondisimu, Sari? Apakah kakinya masih terasa sakit?”

Sari mengangkat wajahnya, menampilkan ekspresi sedih dan lemah yang sangat meyakinkan. “Masih terasa ngilu, Jun. Dokter bilang butuh waktu seminggu untuk bisa berjalan normal lagi. Aku tidak mengerti, apa salahku sehingga Claudia melakukan hal sekejam itu padaku?”

Mendengar itu, raut wajah Arjuna semakin gelap. Ia menoleh dan melangkah langsung ke arah meja Claudia, diikuti oleh ketiga temannya.

“Kau dengar itu?” bentak Arjuna, suaranya cukup keras hingga menarik perhatian seluruh siswa yang masih ada di kelas. “Sudah puas kau menyakiti orang lain? Apakah melihat dia menderita membuatmu merasa senang?”

Claudia menurunkan pulpennya perlahan, lalu mengangkat wajah dengan tatapan tenang yang tidak tergoyahkan sedikit pun oleh amukan Arjuna. Ia menatap mata Arjuna secara langsung, tanpa rasa takut atau rasa bersalah.

“Aku tidak menyakiti siapa pun, Arjuna,” jawabnya pelan namun tegas. “Dan jika kau ingin menghakimi, setidaknya dengarkan logika yang masuk akal. Mengapa aku harus mendorong Sari di tempat yang terbuka, di mana ada kemungkinan besar dilihat orang lain? Jika aku benar-benar berniat menyakitinya, bukankah aku akan memilih tempat yang sepi dan tidak ada saksi?”

Pertanyaan itu membuat Arjuna tertegun sejenak. Ia tidak menyangka ada sisi logis seperti itu dalam pikiran gadis yang selama ini ia anggap bodoh dan emosional. Namun keyakinannya sudah terlalu kuat.

“Kau beruntung tidak berpikir panjang, atau mungkin kau memang terlalu bodoh untuk merencanakannya dengan baik,” balas Arjuna dengan nada sinis. “Pokoknya, semua bukti mengarah padamu. Sari melihat wajahmu saat itu, dan beberapa siswa melihatmu berdiri persis di belakangnya sesaat sebelum dia jatuh.”

“Melihat posisi seseorang tidak berarti dia yang melakukannya,” potong Claudia tenang. “Dan kesaksian orang yang hanya melihat sekilas bisa sangat mudah disalahartikan. Sebagai contoh, bagaimana jika ada orang lain yang mendorongnya dari posisi yang tidak terlihat, lalu aku kebetulan melangkah mendekat untuk mencoba menolongnya? Bukankah itu akan membuat kesan seolah akulah pelakunya?”

Kata-kata itu membuat wajah Sari yang mendengarkan dari belakang berubah pucat. Ia tidak menyangka Claudia bisa menyusun argumen sedemikian rapi. Rasa panik mulai muncul lagi di hatinya.

“Kau hanya mengarang cerita untuk membela diri!” seru Sari dengan suara bergetar, berusaha terlihat marah dan tersinggung. “Aku melihatnya dengan mataku sendiri! Tanganmu yang mendorongku!”

Claudia mengalihkan pandangannya ke arah Sari, dan saat tatapan mereka bertemu, Sari merasakan hawa dingin yang menjalar dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapan itu terasa menusuk, seolah bisa melihat langsung ke dalam jiwanya dan membongkar semua kebohongan yang tersembunyi.

“Benarkah kau melihatnya dengan jelas, Sari?” tanya Claudia dengan nada lembut namun mengandung tekanan yang berat. “Jika begitu, bisakah kau jelaskan pakaian apa yang kukenakan hari itu? Apakah rambutku terurai atau diikat? Dan di bagian mana tubuhku yang menyentuhmu? Ingatlah, jawabanmu harus konsisten jika suatu saat nanti diperiksa secara resmi.”

Sari terdiam. Ia mulai bingung. Jika ia menjawab salah, kebohongannya akan terbongkar. Jika ia menjawab terlalu rinci, justru akan terlihat mencurigakan karena seolah sudah menghafal jawabannya. Wajahnya memerah, lalu berubah pucat, dan ia hanya bisa menunduk sambil menggumam, “Aku… aku kaget, jadi tidak terlalu memperhatikan detailnya… tapi aku yakin itu kau!”

Claudia hanya tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. Ia tahu saat ini belum waktunya untuk menjatuhkan Sari sepenuhnya. Ia butuh waktu untuk mengumpulkan bukti nyata yang tidak bisa dibantah, bukan hanya sekadar pertengkaran kata-kata.

“Baiklah,” ujar Claudia sambil bersandar santai di kursinya. “Percayalah apa yang ingin kau percayai. Namun ingatlah, kebohongan itu seperti benang yang kusut. Semakin lama dipertahankan, semakin sulit untuk dibongkar, dan pada akhirnya akan melilit dan melukai diri sendiri yang membuatnya.”

Arjuna merasa semakin kesal melihat ketenangan Claudia. Bagaimana bisa gadis ini tidak terguncang sama sekali? Sebelum ia sempat melontarkan kata-kata kasar lagi, bel istirahat kedua berbunyi, dan guru pelajaran berikutnya segera masuk ke dalam kelas.

“Kita belum selesai, Claudia,” desis Arjuna dengan nada mengancam sebelum ia dan teman-temannya keluar dari ruangan.

Setelah mereka pergi dan suasana kembali tenang, Claudia menatap ke luar jendela sambil memutar pulpennya perlahan. Otaknya yang tajam mulai menyusun rencana selanjutnya. Ia tidak bisa hanya mengandalkan argumen semata; ia butuh bukti fisik.

Jika ini adalah wilayah kekuasaanku, aku akan memiliki akses ke rekaman CCTV, saksi yang bisa diandalkan, dan laporan rinci dalam hitungan jam, pikirnya. Namun di sini, aku harus memulai dari nol. Langkah pertama adalah mengumpulkan jejak. Sari dan kawan-kawannya pasti meninggalkan bekas di mana-mana. Aku hanya perlu cukup sabar untuk menemukannya.

Saat jam pelajaran terakhir selesai dan bel pulang berbunyi, Claudia berkemas dengan tenang. Ia tidak langsung menuju pintu keluar seperti siswa lain. Sebaliknya, ia menunggu hingga ruangan kelas mulai kosong, hanya menyisakan beberapa siswa yang masih membereskan barang-barang mereka, termasuk Sari dan Rina.

Dengan langkah yang tenang dan tidak menarik perhatian, Claudia berjalan keluar kelas, namun tidak menuju gerbang utama. Sebaliknya, ia bergerak menyusuri koridor yang lebih sepi, mengamati posisi kamera pengawas yang terpasang di berbagai sudut gedung. Ia mencatat dalam pikirannya mana saja titik buta, mana saja yang terhubung ke ruang pengawas, dan jam berapa saja petugas keamanan biasanya melakukan pemeriksaan.

Pengetahuan tentang sistem keamanan ini adalah keahlian dasar yang dimiliki setiap anggota inti keluarga Felix. Zerrin hafal cara kerja hampir semua jenis sistem pengawasan, dari yang paling sederhana hingga yang paling canggih.

Bagus, batinnya sambil mengamati posisi kamera di dekat tangga tempat insiden kemarin terjadi. Ada satu kamera yang menghadap ke arah tangga itu, meskipun sudut pandangnya agak menyamping. Jika rekamannya masih tersimpan, itu akan menjadi kunci utamanya. Namun, mengingat bagaimana Sari merencanakannya sedemikian rapi, bisa jadi dia sudah memastikan tidak ada bukti yang jelas, atau bahkan mencoba memanipulasinya.

Namun bagi Zerrin, tantangan seperti itu justru memicu semangatnya. Ia tidak takut dengan sistem apa pun; ia justru yang biasa membuat sistem itu.

Saat ia berjalan menuju tempat parkir, ia melihat Arjuna dan ketiga temannya sedang berdiri mengobrol di dekat mobil mewah mereka. Saat melihat Claudia lewat, tatapan mereka kembali dingin dan penuh penghakiman.

“Jangan merasa kau bisa mengelak selamanya, Claudia,” ujar Leo, salah satu anggota Empat Bintang yang paling pendiam namun paling setia pada Arjuna. “Kami tahu siapa dirimu yang sebenarnya.”

Claudia hanya melirik sekilas, lalu melanjutkan langkahnya tanpa berhenti. “Kau hanya tahu apa yang ingin kau lihat, Leo. Suatu hari nanti, kau akan menyadari bahwa mata bisa saja salah melihat, dan telinga bisa saja salah mendengar. Tapi kebenaran… ia tidak akan pernah berubah, tidak peduli seberapa lama ia disembunyikan.”

Kalimat itu menggantung di udara saat Claudia masuk ke dalam mobil keluarga yang sudah menunggunya. Pintu tertutup, dan mobil melaju perlahan meninggalkan area sekolah.

Di dalam mobil, Claudia menarik napas panjang, lalu menatap ke arah jalanan yang mulai ramai. Hari pertamanya berjalan sesuai rencana: ia berhasil mengubah persepsi awal, membuat musuhnya bingung, dan mulai memetakan medan pertempuran. Namun ia tahu, ini baru permulaan.

Di rumah nanti, aku harus mulai membiasakan diri dengan seluk-beluk keluarga Ramirez, urusan bisnis mereka, dan lingkungan sekitar, pikirnya. Karena untuk menguasai permainan ini, aku harus menguasai semua aspek yang ada di dalamnya ,sekolah, keluarga, dan musuh yang mungkin bersembunyi di balik tirai.

Sementara itu, di tempat parkir sekolah, keempat pemuda itu masih berdiri memandang mobil yang menjauh.

“Kalian merasakannya juga, kan?” tanya Daffa yang sejak tadi diam. “Ada sesuatu yang sangat berbeda dari Claudia hari ini. Dia tidak lagi terlihat seperti gadis yang sama yang kita kenal selama ini.”

Arjuna mengerutkan dahi, perasaan ragu yang ia coba buang terus kembali muncul. “Hanya akting saja. Dia ingin membuat kita bingung agar kita berhenti menekannya. Jangan terpengaruh, dia tetaplah gadis yang sama.”

Namun di dalam hatinya, Arjuna mulai bertanya-tanya: Apakah kita selama ini benar-benar menghakiminya dengan adil?

Pertanyaan kecil itu adalah benih keraguan yang telah ditanamkan oleh Claudia. Ia tahu, keraguan adalah awal dari kehancuran keyakinan yang salah. Dan itu adalah langkah pertama menuju kemenangan yang sesungguhnya.

Malam itu, di kediaman keluarga Ramirez, Claudia duduk di meja kerjanya dengan tumpukan dokumen dan buku catatan yang ia minta dari ayahnya. Dengan tatapan tajam dan pikiran yang tenang, ia mulai menyusun rencana panjangnya — tidak hanya untuk membuktikan dirinya tidak bersalah, tetapi juga untuk membalas setiap luka, setiap hinaan, dan setiap kebohongan yang telah menimpa jiwa dan tubuh ini.

Permainan baru saja dimulai, dan sang penguasa telah memegang kendali.

**✿❀ ❀✿** To be continued **✿❀ ❀✿**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!