"Urusan internal OSIS nggak pake acara bikin orang nangis di belakang laboratorium, Nayaka. Mulai sekarang, jarak lo sama dia batasnya di gue." — Naren Aksara, Ketua ZENTRIX.
"Kalau dia datang ke sini... jangan pernah lihat muka dia. Biar dia tahu tempat ini bukan buat dia." — Fero Anggadyo, Ketua Black Venom.
Di SMA Garuda, Agnesa Valeria—siswi perfeksionis yang menjunjung aturan—selalu menganggap Naren Aksara sebagai pengganggu. Namun Naren tahu, di balik sikap dinginnya, Agnesa hanyalah gadis kesepian yang tertekan oleh tuntutan orang tuanya.
Saat Naren terus berusaha berada di sisi Agnesa, masalah justru bermunculan. Mahendra mulai menekan Agnesa demi kepentingan keluarganya, sementara Fero bersiap menghancurkan Naren lewat rahasia kelam yang tersembunyi di balik kamar 402 sebuah rumah sakit.
Siapa wanita yang terbaring di sana, dan mampukah Naren melindungi Agnesa sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kata yang tertinggal
Aroma ban karet terbakar dan bensin basi mengendap rendah di udara bengkel tua sore itu.
Jarum jam dinding yang angka limanya sudah copot menunjukkan pukul empat lewat dua puluh menit ketika motor-motor ZENTRIX diparkir serampangan di area halaman depan.
Langit Bandung di luar tampak kelabu, menggantungkan sisa-sisa hawa panas setelah seharian penuh dihantam terik, sebelum akhirnya bersiap meredup menuju malam.
Brak!
Abyan menendang sebuah kaleng oli kosong berukuran lima liter hingga menggelinding jauh menabrak tumpukan pelek bekas.
Klang! Klang! Kluntung...
Kaleng itu penyok, menyisakan noda hitam pekat yang meleleh lambat di atas lantai semen berdebu.
"Gila si Fero. Bener-bener nggak punya muka itu orang!"
Abyan berteriak sambil melempar helmnya ke atas sofa kain yang busanya sudah mencuat keluar.
Buk.
"Berani-beraninya dia bawa pasukan ke kantin belakang sekolah kita. Kalau tadi nggak ada Agnesa ama anak-anak OSIS, udah gue pecahin kepala tuh bocah pake botol kecap!"
Arion berjalan mendekati meja kayu panjang tempat biasa mereka menaruh perkakas.
Jaket seragamnya sengaja dibuka, memperlihatkan kaos putih yang sudah basah oleh keringat di bagian punggung.
Srek.
Ia menarik kursi kayu berkaki pincang, lalu mendudukinya dengan kasar hingga kayu itu berderit nyaring.
Kriet!
"Fero sengaja, By. Dia tahu hari ini ada sidak, dia tahu posisi kita lagi dipantau ketat sama guru-guru karena urusan pekan olahraga," Arion menyahut sembari mengambil sebatang rokok dari bungkus yang sudah lecek.
Ia menyalakannya dengan sekali goresan pemantik.
Sreeet... puss.
"Dia mau mancing kita biar bikin keributan di dalam lingkungan sekolah. Biar ZENTRIX kena skors massal."
Venzo berdiri di dekat pintu masuk yang setengah terbuka, melipat kedua tangannya di depan dada. Jaraknya sekitar tiga meter dari Abyan yang masih mondar-mandir seperti kucing kebakaran jenggot.
Sementara itu, Naren duduk terpisah jauh di sudut ruangan yang paling gelap, tepat di atas peti kayu tempat penyimpanan rantai kapal bekas.
Naren hanya diam, meluruskan satu kakinya sementara kaki lainnya ditekuk menjadi tumpuan lengannya.
Ketegangan memenuhi jarak di antara mereka berempat, melentingkan ritme napas yang tidak beraturan.
"Lo kenapa diam aja dari tadi, Ven?"
Abyan menoleh ke arah Venzo, menunjuknya dengan jari telunjuk yang kotor oleh jelaga hitam.
"Biasanya lo paling banyak teori. Itu si Black Venom udah nginjek harga diri kita di kandang sendiri, lo mau diam aja?"
Venzo tidak segera merubah posisinya.
Ia melirik ke arah Naren yang berada di sudut, memastikan pergerakan sang ketua sebelum membuka suara.
"Fero cuma bawa dua puluh orang tadi. Sisanya nunggu di luar gerbang luar," kata Venzo, nadanya tetap datar, tidak terpengaruh oleh ledakan emosi Abyan.
"Kalau kita ladenin di kantin, yang dikeluarkan dari sekolah bukan cuma Fero, tapi kita semua. Otak lo taruh di mana, By? Mau patungan bayar denda ke kepsek?"
"Ya tapi nggak di depan anak OSIS juga, Bangsat!"
Abyan memukul meja kayu.
Dug!
"Agnesa ngeliat kita kayak sekumpulan sampah yang nggak bisa nyelesain masalah sendiri. Lo liat mukanya tadi? Curt banget! Gue yang temen seangkatannya aja ngerasa digoblok-goblokin pake tatapan mata dia."
"Agnesa cuma jalanin tugas,"
Arion menimpali, menghembuskan asap rokoknya ke arah langit-langit bengkel yang penuh jaring laba-laba.
Puuuh.
"Tapi emang bener sih, si Fero pinter nyari momen. Dia tahu kalau ada Agnesa, si Naren nggak bakal langsung main hantam."
Mendengar nama Agnesa disebut untuk kesekian kalinya, Naren yang sejak tadi mematung di sudut ruangan perlahan menggerakkan jemarinya.
Ponsel Naren di dalam saku jaketnya bergetar pendek. Vrrr... Vrrr...
Naren merogoh saku, mengeluarkan benda persegi tersebut, lalu menatap layarnya yang menyala terang selama hampir setengah menit.
Ia memejamkan matanya sebentar, menarik napas dalam-dalam melalui hidung, lalu memasukkan kembali ponsel tersebut tanpa menyentuh tombol jawab atau membaca pesannya secara utuh.
Cahaya dari layar ponsel sempat menerangi rahangnya yang mengeras sebelum sudut ruangan itu kembali gelap.
"Ren,"
Abyan berjalan mendekat ke arah peti kayu tempat Naren duduk. Langkah kakinya terdengar berat di atas semen.
Tap... tap... tap...
Ia berhenti dalam jarak satu meter.
"Lo mau diem aja begini? Kita musti balik nyerang markas mereka nanti malam. Anak-anak anak buah yang lain udah pada nanya di grup."
Naren tidak mengangkat kepalanya. Ia menatap ke bawah, ke arah sepotong kapur putih yang tergeletak di dekat kakinya.
"Nggak ada serangan nanti malam," jawab Naren. Suaranya serak, rendah, dan memiliki jenis otoritas yang membuat Abyan langsung mengatupkan mulutnya.
"Tapi, Ren—"
"Gue bilang nggak ada, By," potong Naren sekali lagi. Kali ini ia mendongak, menatap langsung ke bola mata Abyan.
Naren bangkit dari peti kayu. Gerakannya lambat namun penuh tekanan batin yang besar.
Abyan mundur setengah langkah secara refleks ketika Naren melangkah maju.
Naren berhenti tepat di tengah ruangan, membuat Abyan dan Arion tertahan di posisi mereka masing-masing tanpa ada yang berani memotong jalur jalannya.
Setelah memastikan tidak ada perdebatan lagi, Naren menurunkan kembali pundaknya dan berjalan menjauh ke arah meja pojok.
Kenapa AC di ruang OSIS tadi siang dingin banget ya? Padahal di luar hawanya panas sampai bikin baju lengket.
Ubur-ubur itu kalau dikeluarkan dari air laut, mereka bakal mengering dan mati dalam hitungan jam. Mereka nggak punya pelindung. Cuma air yang bikin mereka kelihatan hidup dan indah. Rumah ini juga... ah, Bu Inah pasti lupa beli token listrik lagi kalau jam segini tv rumah belum dinyalain sama Bapak.
Kenapa isi kepalaku isinya hal-hal yang nggak bermutu begini? Harusnya gue mikirin si Fero. Tapi kenapa yang kerasa cuma bau sabun cuci piring yang dipake Agnesa tadi siang?
"Terus kita biarin si Fero ngerasa menang?" tanya Arion dari kursinya.
Ia mematikan puntung rokoknya di tutup botol sirup bekas.
Cess.
"Fero nggak menang apa-apa,"
sahut Venzo yang akhirnya berjalan mendekati meja, mengambil botol air mineral miliknya yang tersisa setengah.
"Dia cuma sukses bikin Abyan kelihatan kayak monyet lepas kandang di depan anak-anak kelas sepuluh."
"Sialan lo, Ven!"
Abyan melempar lap kain kotor ke arah Venzo.
Wusss.
Venzo mengelak dengan mudah dengan memiringkan kepalanya sedikit. Lap itu jatuh ke lantai dengan suara plek yang lemah.
"Udah, mending lo semua balik," kata Naren.
Ia mengambil jaketnya yang tergantung di paku dinding.
"Gue mau di sini bentar."
Abyan menatap Arion, lalu beralih menatap Venzo.
Mereka bertiga sudah hafal tabiat Naren jika sudah mengeluarkan kalimat seperti itu. Itu bukan sebuah tawaran, itu adalah pengusiran halus yang tidak boleh dibantah jika mereka masih ingin melihat ZENTRIX berjalan tenang besok pagi.
"Ya udah, gue balik duluan. Nyokap gue udah ngomelin dari tadi siang gara-gara lupa jemput adek," ujar Arion sambil berdiri, merapikan letak ikat pinggangnya yang agak melorot.
"By, lo bareng gue kagak?"
"Bareng lah. Motor gue kan akinya lagi soak, makanya tadi pagi nebeng si Bos," sahut Abyan dengan nada yang masih ketus, meskipun emosinya sudah mulai mereda.
Ia mengambil helmnya di sofa dengan sentakan kasar.
Sret.
Venzo berjalan paling depan, membuka pintu gerbang besi bengkel yang berkarat hingga menimbulkan suara decitan panjang yang memilukan telinga.
Kriiiiiiit...
"Jangan pulang kemalaman, Ren. Besok pagi ada pengumpulan tugas biologi yang minggu lalu ditunda," kata Venzo sebelum melangkah keluar.
"Hmm," sahut Naren singkat.
Satu per satu suara mesin motor mereka mulai menyala di halaman luar.
Vroom! Vroom! Knalpot brong...
Suara itu perlahan bergerak menjauh, membelah jalanan pinggiran Bandung yang mulai dipadati oleh kendaraan orang-orang yang pulang kerja, hingga akhirnya menyisakan keheningan total di dalam bengkel tua tersebut.
Sekarang jam lima sore lewat beberapa menit.
Cahaya matahari yang masuk ke dalam bengkel berubah warna menjadi oranye kemerahan yang pekat, menciptakan garis-garis siluet panjang dari tiang-tiang besi dan dongkrak mobil tua.
Suara tetesan air dari keran dapur belakang yang bocor terdengar konstan.
Tik... tok... tik... tok...
Sebuah kantong plastik putih bekas bungkus gorengan terbang pelan ditiup angin sore yang masuk lewat celah atap seng yang bocor, bergeser beberapa senti di atas lantai beton sebelum akhirnya berhenti di dekat sepatu bot milik Naren.
Naren berjalan kembali ke sudut ruangan. Ia tidak duduk di atas peti kayu lagi. Ia memilih untuk duduk bersandar pada dinding bata yang belum diplester, membiarkan permukaan semen yang kasar menusuk tipis melalui kain seragamnya.
Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebotol susu stroberi yang ia beli tadi siang namun belum sempat ia minum karena keributan di kantin.
Botol plastik itu sudah tidak dingin lagi. Embun air di permukaannya sudah menguap, menyisakan rasa hangat yang aneh saat disentuh oleh telapak tangannya yang agak kasar.
Plop.
Naren membuka tutup botolnya. Ia menatap cairan merah muda di dalamnya selama beberapa saat.
Naren mendekatkan botol susu itu ke mulutnya.
Tenggorokannya bergerak naik turun sebelum seteguk cairan masuk.
Ia langsung menurunkan botol tersebut, mengelap bibirnya dengan punggung tangan secara kasar, lalu meletakkan botol yang masih penuh itu di lantai semen.
Ia tidak meminumnya lagi. Tangannya mengepal kuat di atas lutut, memperlihatkan urat-urat birunya yang menegang selama beberapa detik sebelum akhirnya ia melemaskan kembali jemarinya satu per satu.
Manis banget. Gila, ini susu rasanya kayak gula murni dikasih pewarna. Kenapa cewek-cewek suka banget minum yang beginian sih?
Si Gisella kemarin juga belinya ginian pas di kantin bareng Agnesa. Agnesa sendiri cuma minum air putih botolan. Air putih yang nggak ada rasanya. Dingin. Kayak air es di kulkas rumah yang pintunya suka nggak rapat.
Kalau dipikir-pikir, kenapa pintu rumahku selalu nggak bisa ditutup rapat ya? Oh iya, engselnya udah karatan dari zaman aku masih SMP. Bapak nggak pernah mau ganti. Katanya biar angin bisa masuk kalau malam. Alasan macam apa itu?
Naren memungut sepotong kapur putih yang tadi ia lihat di dekat kakinya. Ia mulai mencoret-coret permukaan lantai beton di antara kedua kakinya.
Sret... sret... sret...
Ia menggambar garis acak. Garis lurus yang panjang, lalu garis itu berbelok patah-patah membentuk sudut siku-siku, sebelum akhirnya ia mencoretnya dengan garis melingkar yang tidak beraturan hingga kapur itu patah menjadi dua bagian.
Tuk.
Ia melempar patahan kapur itu ke sudut ruangan.
Naren melihat ujung sepatunya yang penuh dengan debu tanah kering dari halaman sekolah tadi siang.
Ia membungkuk, mengambil selembar tisu bekas dari sakunya, lalu mulai mengelap permukaan sepatu kulit hitamnya dengan sangat perlahan.
Ia menggosok bagian depan, beralih ke samping, lalu ke bagian tumit.
Sepatu itu sudah tua dan warnanya sudah kusam, namun ia terus menggosoknya berulang-ulang pada titik yang sama sampai tisu itu robek menjadi serpihan kecil.
Ia membersihkan sisa tisu yang menempel dengan tiupan napas yang pendek.
Fuuuh.
Besok upacara hari Senin udah lewat. Berarti besok Selasa. Selasa ada pelajaran matematika dua jam di awal.
Tugas fungsi kuadrat belum gue sentuh sama sekali. Biarin lah, paling nanti dihukum jemur di lapangan lagi. Lapangan sekolah kalau jam sembilan pagi itu panasnya pas, nggak terlalu bikin pusing.
Tapi kalau Agnesa yang jaga di koridor, dia pasti bakal bawa buku catatan kecilnya itu. Buku warna hitam yang ujungnya udah agak melengkung karena sering dimasukkan ke dalam tasnya yang kepenuhan buku cetak.
Naren menyandarkan kepalanya ke dinding bata di belakangnya. Matanya menatap ke arah atap seng. Di sana, seekor laba-laba kecil sedang merayap lambat di antara kabel instalasi listrik yang sudah mati.
"Kenapa lo nggak bikin jaring di tempat lain aja?" Naren berbicara sendiri, suaranya bergema tipis di dalam ruangan yang sunyi.
"Di sini nggak ada lalat. Cuma ada debu sama oli."
Laba-laba itu terus merayap, tidak mempedulikan suara Naren.
Naren tertawa kecil. Tawa yang sangat pendek dan hambar
Heh.
Ia meraih kembali botol susu stroberi di lantai, lalu meneguknya lagi sampai habis setengah botol, mengabaikan rasa manis berlebihan yang membuat tenggorokannya terasa sedikit gatal.
Lampu jalan di luar bengkel mulai menyala otomatis, memancarkan cahaya kuning redup yang masuk melalui ventilasi atas.
Naren tidak bergerak dari posisinya di lantai semen yang semakin mendingin seiring turunnya malam.
Suara angin malam mulai terdengar bersiul di sela-sela atap seng yang longgar.
Wuuuung...
Naren justru melonggarkan kancing kerah seragamnya yang paling atas, membiarkan dadanya terekspos pada udara malam yang mulai menusuk tulang, seolah-olah ia sedang mencoba menyelaraskan suhu tubuhnya dengan dinginnya ruangan sekitarnya.
Ia tahu, esok hari situasi dengan Black Venom tidak akan selesai begitu saja. Fero bukan tipe orang yang akan mundur hanya karena gertakan seorang ketua OSIS perempuan.
Akan ada hari di mana mereka harus benar-benar berhadapan di jalanan luar, di tempat di mana tidak ada aturan sekolah, tidak ada guru, dan tidak ada Agnesa yang berdiri di tengah-tengah untuk memisahkan mereka.
Namun, entah kenapa, isi kepala Naren saat ini tidak sedang menyusun strategi tawuran atau menghitung jumlah personil ZENTRIX yang siap turun ke jalan.
Ia hanya sedang berpikir, apakah besok pagi di gerbang sekolah, Agnesa masih akan menatapnya dengan pandangan curt yang sama, atau apakah kalimat tentang ubur-ubur yang ia bisikkan tadi siang telah berhasil menyisakan sedikit lubang di dinding pertahanan gadis itu.
Naren memejamkan matanya sepenuhnya.
Suasana bengkel benar-benar sunyi sekarang, menyisakan suara jam dinding yang terus berdetak, menghitung waktu mundur menuju hari esok yang tidak pernah bisa ia prediksi akhirnya.
Tik... tik... tik…
BERSAMBUNG…
Bab Selanjutnya ➜
"Gue tadi siang ketemu dia lagi,"
"Di sekolahnya. Si anak emas SMA Garuda."
Siapa Wanita di Ranjang RS? Simak Kelanjutan Rahasia Masa Lalu Fero dan Naren pada Bab 32: Dendam yang Sakral