NovelToon NovelToon
Sang Tuan Mafia

Sang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:533
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.

Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.

Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.

Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Alasan Kematian

Rania masih memegang ponsel itu, tatapannya tidak lepas dari foto yang baru saja dilihatnya. Semakin lama ia menatap, semakin banyak pertanyaan yang bermunculan di kepalanya.

Bintang berdiri di hadapannya.

"Aku tidak suka ini," ucapnya sambil mengambil kembali ponselnya.

"Aku ikut." Rania menatap pria itu.

"Aku sudah bilang tidak." Bintang menggeleng.

"Setiap kali aku ingin tahu sesuatu, kau selalu melarangku." Rania mengembuskan napas kesal.

"Aku sedang melindungimu," ucap Bintang.

"Aku bosan mendengar kalimat itu," jawab Rania cepat.

Suasana langsung hening, Bintang menatap wanita itu beberapa saat, ia tahu tidak ada gunanya berdebat. Semakin dilarang, Rania justru akan semakin keras kepala.

"Apa kau sadar itu jebakan?" tanyanya akhirnya.

"Aku sadar." Rania mengangguk.

"Lalu kenapa tetap mau datang?"

"Karena hidupku ada di dalam jebakan itu." Rania menahan napas sejenak.

Jawaban tersebut membuat Bintang terdiam.

.

Malam itu, Rangga memasuki ruang kerja dengan wajah serius, beberapa berkas berada di tangannya.

"Aku sudah menyelidiki alamat yang dikirim Leonard," lapornya sambil meletakkan berkas di atas meja.

"Di mana?" Bintang segera membukanya.

"Sebuah rumah tua di daerah Puncak."

"Berapa orang yang berjaga?"

"Belum diketahui."

"Itu tidak terdengar seperti Leonard." Bintang menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Aku juga berpikir begitu." Rangga mengangguk.

Leonard biasanya memilih gudang, pelabuhan, atau bangunan kosong, rumah tua di pegunungan itu bukan gaya Leonard..

"Apa ada hal lain?" tanya Bintang.

"Ada." Rangga menarik napas panjang.

"Apa?" Bintang mengangkat alis.

Rangga menyerahkan sebuah foto, tatapan Bintang langsung berubah. Foto itu memperlihatkan ayahnya sedang berbicara dengan seorang pria muda, pria yang sangat dikenalnya.

"Sial," gumam Bintang sambil mengepalkan tangan.

"Mereka saling mengenal." Rangga mengangguk pelan.

"Tidak mungkin."

"Itu foto asli."

Bintang menatap foto itu cukup lama. Selama bertahun-tahun ia percaya Leonard adalah musuh ayahnya, namun foto tersebut memperlihatkan sesuatu yang berbeda, mereka tampak akrab dan sangat akrab.

Di lantai atas, Rania tidak bisa tenang. Ia berjalan mondar-mandir di dalam kamar, pikirannya terus memutar foto yang dilihatnya tadi. Ayah Bintang, dirinya saat masih bayi dan sekarang Leonard mengatakan bahwa kematian ayah Bintang berhubungan dengannya.

"Tidak masuk akal," gumamnya sambil memijat pelipis.

Ketukan pintu terdengar.

"Masuk." Rania langsung menoleh.

"Boleh Tante masuk?" Ratna membuka pintu perlahan.

Rania mengangguk.

Ratna berjalan masuk lalu duduk di tepi tempat tidur, beberapa saat tidak ada yang berbicara hingga Ratna membuka percakapan.

"Kau ingin bertanya sesuatu?" tanya Ratna akhirnya.

"Kelihatan sekali ya?" Rania tersenyum tipis.

"Sedikit." Ratna ikut tersenyum.

"Tante kenal ibuku?" Rania menunduk.

"Kami pernah dekat." Ratna terdiam cukup lama.

"Dekat bagaimana?" Jawaban itu membuat Rania langsung menoleh.

"Sangat dekat." Ratna menatap keluar jendela.

"Kenapa Ibu tidak pernah cerita?"

"Karena ada banyak hal yang tidak boleh diketahui siapa pun." Ratna menggigit bibir bawahnya.

"Termasuk aku?"

Ratna tidak menjawab, diamnya sudah cukup membuat jantung Rania berdegup semakin cepat.

"Tante..." suara Rania mulai bergetar. "Siapa sebenarnya aku?"

Ratna memejamkan mata, pertanyaan itu akhirnya datang. Pertanyaan yang selama puluhan tahun mereka hindari.

"Aku tidak bisa menjawabnya."

"Kau juga?"

"Aku minta maaf." Ratna menunduk.

Rania tertawa kecil. Namun tawa itu terdengar menyakitkan.

"Semua orang minta maaf. Semua orang bilang ingin melindungiku. Tapi tidak ada yang mau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi."

"Ada alasan kenapa kami diam." Ratna menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Aku lelah dengan alasan."

Kalimat itu membuat Ratna kehilangan kata-kata.

Tepat pukul sembilan malam, tiga mobil hitam meninggalkan kediaman Bintang. Rania duduk di kursi belakang bersama Bintang. Tidak ada yang berbicara. Semakin dekat mereka ke lokasi yang dikirim Leonard, suasana semakin menegangkan.

Setelah hampir satu jam perjalanan, mobil akhirnya memasuki kawasan pegunungan. Rumah tua itu terlihat dari kejauhan. Gelap, sunyi dan entah kenapa terasa mengerikan.

"Ini tempatnya," ucap Rangga melalui alat komunikasi.

"Aneh." Bintang memperhatikan bangunan itu.

"Apa?" Rania menoleh.

"Tidak ada penjaga."

"Itu bagus, kan?"

"Tidak." Bintang menggeleng.

"Kenapa?"

"Karena Leonard tidak pernah membiarkan sesuatu tanpa pengawasan."

Mobil berhenti, mereka turun perlahan. Udara malam terasa dingin. Bintang berdiri di depan rumah tua itu sambil memperhatikan setiap sudut bangunan.

Rania ikut melihat sekeliling, tempat itu tampak kosong. Pintu rumah terbuka sedikit, seolah seseorang memang sedang menunggu mereka masuk.

"Aku tidak suka ini," ucap Rangga sambil mengeluarkan pistol.

"Sama." Bintang mengangguk.

"Kita tetap masuk?" Rania menelan ludah.

"Kita sudah sejauh ini." Bintang menatapnya sesaat.

Mereka berjalan menuju pintu. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Bintang mendorong pintu rumah itu.

Pintu terbuka perlahan. Ruangan di dalam gelap, namun tepat di tengah ruangan terdapat sebuah kursi dan seseorang sedang duduk di sana.

Rania membelalak dan Bintang langsung membeku karena orang yang duduk di kursi itu bukan Leonard, melainkan seseorang yang selama ini mereka yakini sudah mati.

"Ayah..." bisik Bintang dengan wajah pucat.

1
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya hari ini
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya dong torku
Glastor Roy
seru kali torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!