yovada, seorang anak remaja yang memilik obsesi pada pengetahuan. ia tidak peduli dengan apapun, selama itu menambah pengetahuannya maka akan ia lakukan. ia di kenal debagai seseorang yang gila dengan ilmu dan tidak mau menjalin sebuah hubungan karena ia tahu bahwa hubungan tanpa memahami pasangan adalah sebuah penyiksaan. ia yakin bahwa tiada yang memahami perasaannya hingha ia bertemu seseorang yang membuatnya merasa nyaman dan aman. sebuah rasa yang membuatnya bingung dengan jalannya. sebuah lembaran baru yang ia buka demi cerita baru dalam hidupnya. apa yang terjadi selanjutnya dan apa semua akan berakhi karena ego atau malah luluh karena sebuah rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najmun_huda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CP:16 Bintang terakhir
Malam hari pun datang, ia dan pak tua seperti biasa mereka melihat bintang di malah hari. Mereka memandangi bintang dan Yovada juga mulai terbiasa dengan kebiasaan pak tua itu. Ia menatap bintang itu dengan lebih dalam dan mendalami maknanya. Ia menjadikan bintang sebagai filosofinya dalam melamun di malam hari. Pak tua yang melihat itu langsung menatap Yovada dengan kebingungan dan juga penasaran dengan apa yang ia tatap. Pak tua yang melihat itu langsung bertanya dengan yang di lakukan Yovada. “anak, apa yang kamu pahami dari bintang-bintang itu? Apa ada makna tersendiri yang kamu dapatkan?” Ucapnya dengan penasaran dengan Yovada.
Yovada yang mendengar itu langsung terdiam, ia menatap pak tua sebentar lalu kembali lagi menatap langit lama. Ia terdiam sejenak dan kemudian menjawab pertanyaan pak tua itu. “bintang? Bagiku awalnya hanya objek langit, sesuatu keindahan dari semesta yang di letakkan dengan langit kaca dunia. Namun ia seperti tanda... tanda yang di beritahukan semesta bahwa ada yang berbeda namun bukan hal yang harus di khawatirkan atau di benci. Semua ada alasannya, semua indah di waktu dan tempatnya.” Ucapnya dengan jeda namun tatapannya penuh lamunan dan juga seperti memahami makna yang ia ucapkan agar ia bisa mengeluarkannya lebih banyak.
Ia kembali berbicara dengan nada yang lebih tenang. “aku melihat bahwa ada hal yang lebih indah di saat seseorang degan keadaan yang berbeda. Aku kini paham bahwa seseorang yang dingin kepadaku bisa menjadi sangat peduli denganku, seseorang yang dulunya sangat anti dengan perasaan dan kini malah mulai merasakannya” ketika ia mengucapkannya, ia terdiam dan langsung merenung sejenak. Ia kembali melihat ke atas dan kemudian ia mengenang beberapa kejadian. Ia mengingat bahwa saat ia kecil, kakeknya sering di saat ia masih kecil mengajaknya liburan bersama. Kakeknya tahu bahwa ia tidak ingin liburan bersama orang tuanya jadi ia mengajaknya liburan. Di saat ia sering diam di rumah, kini di dalam mobil ia malah banyak bercerita pada kakeknya. Kakeknya memberi pembelajaran yang berharga bahwa setiap orang boleh melihatmu tanpa topeng namun di saat dan pada orang yang tepat.
Ia tersenyum dan matanya mulai berkaca-kaca. Ia melepas kaca matanya dan kemudian ia menaruhnya di hadapannya. Ia menatap langit malam tanpa kaca matanya dan kemudian ia memejamkan matanya sambil mengingat kejadian yang terjadi tadi siang bersama mereka. Ia merasakan bahwa ada kedekatan di antara mereka saat memakan bubur itu. Ia mengingat bahwa ia mengenal wanita yang di sakiti pria itu bernama Verta. Di saat mereka memakan bubur itu, ia melihat Kesya dengan wajah yang begitu senang karena ia memakan buburnya dan menikmatinya. Mimi yang ia manja juga merasa begitu senang karena ia merasa memiliki teman yang bisa di ajak berbicara dan berkomunikasi. Wanita yang curhat padanya yaitu Verta, juga merasa dirinya sangat senang karena mendapat seseorang yang bisa di ajak ngomong dan curhat dengan leluasa dengan perasaan tenang sekarang. Ia kini merasa seperti bukan dirinya namun dirinya seperti lebih nyaman di banding ia menyendiri sendirian.
Ia menarik nafas dan kemudian ia berbicara dengan tenang kepada Pak tua “di saat aku bersama mereka, aku sadar aku berubah namun bukan itu titik pentingnya, aku sadar betapa senangnya mereka bersamaku dan aku juga nyaman bersama mereka dan kini aku pikir untuk membuka sedikit celah untuk mereka bukanlah kesalahan bukan?” Ucapnya ke arah pak tua itu kemudian ia tersenyum ke arahnya. Matanya terlihat sebuah kepercayaan dan juga sebuah tunas keterbukaan pada seseorang.
Pak tua itu tersenyum bangga kepadanya. Ia menepuk pundaknya lalu kembali menatap bintang di langit. Pak tua itu kembali bertanya kepadanya dengan pelan. “lalu bagaimana dengan Kesya? Bukankah ia kekasihmu? Apa yang akan kamu lakukan dengannya kemudian?” Ucapnya dengan penasaran kepada Yovada.
Yovada yang mendengar itu langsung terdiam, mulutnya kaku dan juga tatapannya kembali mendingin dengan wajah datarnya. “aku... aku pikir aku tidak akan melakukannya. Aku tidak akan merasakan apa itu jatuh cinta. Orang tuaku saling menyukai namun tidak mengajariku apa arti cinta. Aku tumbuh di dalam sebuah tekanan dan aku terbiasa dengan sembunyi dan hawa dinginnya suasana rumah dengan minimnya perhatian orang tua. Aku ingin hidup tanpa ada yang mengganggu dan bisa bebas jika aku ingin ke mana dan juga ingin melakukan apa. Aku masih ingin menghabiskan waktu di perpustakaan, aku masih ingin mencari pengetahuan yang jarang di ketahui dan bisa aku pakai untuk hal yang lebih penting. Aku melihat bagaimana teman aku di perbudak oleh cinta dan kemudian ia menjadi aneh, kepintarannya mengurang dan kemudian ia menjadi bodoh seperti di perbudak oleh seseorang. Aku tidak ingin menjadi sepetinya” ucapnya kepada pak tua itu dengan tatapan yang seperti membenci pertanyaannya kepadanya tadi.
Pak tua yang melihat itu langsung tersenyum dan kemudian kembali menatapnya dengan tatapan yang lebih terbuka dan juga tulus padanya. Ia kembali bertanya dengan nada yang lembut. “apa yang membuatmu melihat cinta hanya dari sisi buruknya. Apa kamu tidak melihat cinta dari sisi yang membuatnya lebih di butuhkan sebagian orang? Kamu tidak bisa melihatnya hanya dari sisi di mana kamu membencinya bukan?” Ucapnya dengan nada yang lebun namun jaga begitu penasaran dengan apa yang di ucapkan oleh Yovada.
Yovada yang melihat itu langsung menjawabnya tanpa pikir panjang dan matanya masih menatap ke arah bintang. “sebagian mungkin membutuhkannya. Apa lagi jika ia sendiri adalah orang yang tidak di dukung dalam mewujudkan impiannya. Mereka di butuhkan untuk sebagai suporter dalam mewujudkan impiannya. Gila memang meminta dukungan pada orang lain namun mereka tidak punya pilihan lain untuk berjuang dengan semangat yang di berikannya.” Ucapnya dengan tatapan yang sangat dingin kepada pak tua itu. Pak tua yang melihat itu hanya terdiam namun tidak berani melanjutkan.
Yovada yang merasa obrolan mereka mulai canggung mulai angkat bicara lagi. “aku tahu aku harus hidup dengan cinta dan mungkin akan memilik pasangan, namun bagaimana jika pasangan aku tidak bisa menerimaku? Aku sanggatlah logika dan aku tidak berharap bisa di mengerti oleh sebuah cinta. Aku tidak ingin menjadi bodoh ban menjual diriku hanya untuk kasih sayang yang membuatku seperti bodoh dan di manfaatkan.” Ucapnya dengan lebih pelan namun tetap saja ada ke bencikan yang ia rasakan dari kalimat yang ia ucapkan. Ia kemudian berhenti sejenak dan kemudian ia menatap ke langit sambil bilang “bintang-bintang itu sebagian berkumpul namun cahayanya kebanyakan masih sangat redup, namun kebanyakan bintang yang berdiri sendiri kebanyakan akan lebih terang dan terlihat menonjol dari pada bintang yang lain. Ini bukan masalah bintang, ini hanya khiasan dari suatu masalah yang lebih besar.” Ucapnya dengan nada yang lebih tenang dan tanpa ada kebencian di dalamnya.
Pak tua yang melihat itu langsung tersenyum dan kemudian ia melirik ke arah Yovada dengan tatapan penuh harapan dan juga kebanggaan. “kamu memahami bintang dalam dirimu sendiri, kakek bangga padamu anak. Namun ingatlah, tiada bintang yang akan selamanya sendiri. Ia pasti memiliki pasangannya namun ia hanya memiliki cahaya yang baru muncul dan belum kamu ketahui. Istirahatlah, kamu akan membutuhkannya. Dokter juga memberi tahumu bahwa besok sudah bisa pulang lebih cepat dari apa yang di terkirakan. Dukungan emosional dan kebersamaan kamu dan temanmu membuatmu lebih cepat sembuh dan lebih apa yang mereka perkirakan. Ya, kakek akan sendirian di sini dan akan kembali menatap bintang setiap malam dan hanya menunggu hal-hal baru.” Ucapnya dengan pelan namun penuh ke kesedihan seakan ia tidak akan bertemu dengan Yovada lagi kali ini.
Bulan malam itu separuh hitam, langit tanpa dan di hiasi oleh banyak bintang di langit. Angin di luar berhembus masuk lewat di sela ventilasi. Udara malam masuk dan aroma luar mulai tercium di dalam ruangan Yovada. Ruangan gelap dan hanya di terangi oleh layar monitor, pintu kamar mandi yang tidak tertutup sempurna dan juga sedikit cahaya yang muncul dari jendela. Semua mulai menjadi hening dan hanya ada suara monitor pasien yang berbunyi. semua hening karena entah kenapa seketika suasana menjadi lebih sedih dari pada biasanya.
Yovada yang melihat itu langsung mendorong kursi roda pak tua ke arah kasurnya. Ia membantunya berbaring dan kemudian ia merapikan selimutnya agar pak tua bisa tidur dengan nyenyak. Ia kemudian berbalik dan berjalan ke kasurnya. Ia duduk di kasurnya dan kemudian ia berbicara pada pak tua sebelum tidur. “di saat ada pertemuan maka ia di sandingkan dengan perpisahan. Pertemuan singkat kita memiliki makna dan pembelajaran yang sangat berharga. Perpisahan mungkin bisa membuat kita rindu namun pengetahuan yang telah di berikan akan membuat kita selalu merasa dekat.” Ucapnya dengan pelan namun ada kesedihan dari kalimatnya.