" Gue suka sama lo...lo harus jadi pacar gue!!" Suara berat seorang pria membuatnya cukup gugup.
"Maaf, tapi gue suka nya sama orang lain." Mirra dengan penuh keberanian menolak pria tinggi tegap yang berada di hadapannya.
"Nggak bisa, lo harus jadi pacar gue, titik!!!" Tegas pria itu sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Mirra.
Mirra Afessya, gadis belia yang baru saja duduk di bangku kelas satu SMA itu harus dihadapkan dengan pria yang ternyata diam-diam dan pura-pura mengagguminya.
Akankah Mirra menerima pengakuan paksa itu? Ataukah Mirra akan menolaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Kylla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkurung
15 menit kemudian, Mirra sudah siap, dan kini dia sedang menikmati sarapan serta susu hangat di meja makan sambil menunggu kedatangan Zian.
Dan setelah dia menyelesaikan sarapannya, di waktu yang tepat klakson mobil Zian terdengar dari dalam rumah Mirra.
Tin....tin...tin...
"Iya bentar...." Teriak Mirra yang segera bergegas keluar dari rumahnya, setelah dia mengunci pintu rumahnya, Mirra langsung berlari menuju mobil Zian.
Rambut Mirra tampak sedikit basah ketika dia sudah masuk ke dalam mobil Zian, dan Zian yang melihatnya pun langsung memberikan handuk kecil yang ada di dalam mobilnya kepada Mirra.
" Nih pake..." Ucapnya seraya mengulurkan tangannya yang sudah menggenggam sebuah handuk kecil.
"Thanks..." Mirra meraih nya dan kemudian mengeringkan rambutnya yang sedikit basah akibat terkena air hujan yang cukup deras.
"Kenapa nggak pake payung sih?" Tanya Zian sambil mulai melajukan mobilnya.
"Males ah, tanggung mobil lo dekat ini kak tinggal lari doang."
"Tapi kan tetep aja kebasahan pala lo."
"Nggak papa, kepala gue kebal sama air hujan."
"Laga lo, ntar meriang baru tau rasa lo."
"Lo doain gue?"
"Ya nggak doain juga Mirr, emang sulit ya ngomong sama lo, ujung-ujungnya pasti ngajak debat." Keluh Zian dengan raut wajah yang sudah sedikit kesal.
" Yaudah nggak usah ngajak ngomong gue lah biar nggak debat, gitu aja kok repot." Mirra juga ikut sedikit kesal dan dia berbicara sambil memejamkan kedua matanya lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran bangku mobil Zian.
Zian melirik sekilas dan melihat Mirra yang sudah memejamkan kedua matanya itu, "Nah, mending lo tidur, ntar kalo udah sampe gue bangunin."
"Hmmm..." Karena malas menjawab, Mirra pun hanya berdehem.
Suasana pun menjadi cukup hening, dan hanya terdengar suara mesin mobil serta suara rintik hujan yang masih deras. Zian juga melajukan mobilnya dengan santai, lalu...begitu mereka sampai sekolah, Zian pun langsung membangunkan Mirra.
"Udah sampe, bangun gih..."
Mirra yang hanya memejamkan kedua matanya dan tidak tertidur itu pun langsung membuka kedua matanya. Dan begitu dia sudah melepas seat belt nya dan ingin keluar dari mobil Zian, tiba-tiba saja Zian memegang pundak Mirra.
"Lo diem dulu disini, gue bawa payung, bareng gue aja turunnya." Ucap Zian, lalu dia membuka pintu mobilnya dan dia juga mulai membuka payung miliknya, Zian keluar dari mobilnya lalu berjalan menuju pintu mobil penumpang dan setelah itu dia membukakan pintu mobilnya untuk Mirra.
"So sweet banget lo hari ini kak, tumben..." Guman Mirra sambil keluar dari mobilnya.
"Dah diem aja, lo emang mau basah kuyup sampe kelas?"
"Nggak sih..."
Dan saat mereka sudah sampai lorong kelas, Zian langsung menutup payungnya, dia juga meletakkan payung miliknya di rak khusus payung yang ada di lorong kelas tersebut.
"Gue ke kelas duluan ya." Ucap Mirra dan Zian hanya mengangguk.
Mirra pun berjalan seorang diri, dan saat dia sedang berjalan, tiba-tiba saja ada tiga orang wanita yang menghalangi langkahnya.
"Oh jadi ini cewek nya Zian? Bisa-bisanya anak baru kayak lo jadian sama Zian gue, baru gue tinggal seminggu Zian udah jadian aja sama cewek kayak lo!!" Ucap salah seorang wanita dengan tatapan sinisnya.
"Udah Mell, sikat aja, gue udah gereget sebenernya dari kemaren-kemaren, tapi karena nggak ada lo gue jadi nggak berani ngapa-ngapain." Sahut salah satu temannya.
"Iya Mell, bawa aja..." Sahut salah satunya lagi.
"Gass, bawa dia..." Perintah wanita yang terlihat seperti bos dari ketiganya.
"Kalian siapa?" Tanya Mirra sambil mencoba melangkah mundur dan menghindar, namun salah satu dari mereka menarik lengan tangan Mirra dengan begitu kencang, dan tenaganya sangat kuat karena wanita itu bertubuh tinggi besar.
"Lepasin!!!!" Pekik Mirra, namun salah satunya lagi langsung membungkam mulut Mirra dengan tangannya." Mmmmmmmbbbb....mbbbbbmmmpp..." Mirra terus mencoba berteriak dalam bungkaman, namun tenaganya kalah dengan kedua wanita yang saat ini sedang memeganginya.
Mirra di paksa masuk ke dalam sebuah toilet yang berada cukup jauh dari kelasnya, dan toilet nya itu berada di ujung dekat gudang sekolah. Mereka masuk dan langsung mengunci pintu kamar mandi itu dari dalam.
"Guys, pegang yang erat, gue mau tutup mulutnya pake lakban." Ucap Melly, wanita yang dari tadi terlihat seperti bos dari ketiganya.
Dan setelah lakban hitam terpasang pada mulut Mirra, keduanya langsung melepas tubuh Mirra dan mendorongnya sampai Mirra tersungkur di lantai.
"Iket tangannya, dan kita mandiin dia.." Perintah Melly lagi sehingga dua wanita yang lain langsung mengikat tangan Mirra, mereka juga mulai menyiram tubuh Mirra dengan air.
Syuuuuuurrrrr, beberapa kali mereka menyiram tubuh Mirra sampai Mirra benar-benar basah kuyup. Dan begitu mereka puas, mereka langsung meninggalkan Mirra begitu saja di dalam toilet dengan tangan terikat dan mulut yang terbungkam lakban.
"Kunci, dan kita buka lagi nanti pulang sekolah." Perintah Melly lagi.
"Oke Mell."
Lalu setelah itu mereka pun berjalan pergi meninggalkan Mirra di dalam toilet seorang diri.
.....
Melly Sandrina, salah satu siswi berpengaruh di SMA Guna Bangsa karena ayahnya adalah anak dari pemilik sekolah. Melly memang sudah lama menyukai Zian, namun Zian selalu mengabaikannya, dan begitu dia mendengar kabar dari kedua temannya, yaitu, Dian Sarta, dan Lenia Afinn soal hubungan Zian dengan Mirra, Melly yang sedang sakit dan sudah selama seminggu bed rest itupun akhirnya memutuskan untuk kembali ke sekolah dan ingin langsung memberi pelajaran pada Mirra, tujuannya agar Mirra jera dan kemudian memutuskan hubungannya dengan Zian.
.....
Mirra berusaha untuk melepaskan tali ikatan di tangannya, namun ikatan itu terlalu kencang sehingga usaha Mirra malah menguras tenaga Mirra.
'Sebenernya siapa sih mereka?? Tadi dia nyebut Zian, apa jangan-jangan mereka semua cewek-cewek yang suka sama Zian? Arrrghhhhhh!!! Zian, lagi-lagi lo bikin gue apes kayak gini!!!' Batin Mirra. 'Sekarang gue musti gimana? Mau teriak juga nggak bisa, ya kali gue bakal semaleman disini, semoga aja ada yang nemuin gue.'
*****
Bel masuk sudah di bunyikan, Angkasa, Raya dan Jeje sempat bertanya-tanya karena bangku Mirra terlihat kosong, mereka juga mengirim pesan pada Mirra, namun karena Mirra saat ini sedang terkurung, jadi tidak ada pesan balasan dari Mirra.
"Ray, lo beneran nggak tau Mirra kemana?" Tanya Jeje penasaran.
Raya menggeleng." Nggak, coba tanya Angkasa, mereka kan tetangga."
"Gue juga nggak tau." Sahut Angkasa.
Raya pun beranjak lalu menghampiri ketua kelas." Dem, Mirra chat lo nggak? Mungkin dia ijin sakit atau ijin apa gitu sama lo." Tanya Raya pada Demian, ketua kelas mereka.
"Nggak, nggak ada chat dari Mirra, perasaan pagi tadi gue liat Mirra turun dari mobilnya kak Zian, mereka pacaran kan? "
"Iya, oke deh, Yaudah thanks Dem..." Raya pun kembali ke bangkunya, dan dia juga langsung meminta Jeje untuk mengirim pesan pada Zian.
"Je, coba lo chat Zian, Demian tadi bilang kalo dia liat Mirra turun dari mobilnya Zian tadi pagi. Siapa tau si Zian tau Mirra di mana." Pinta Raya sehingga Jeje pun langsung mengirim pesan pada Zian.