NovelToon NovelToon
Kontrak Cinta Sang Kepala Pelayan

Kontrak Cinta Sang Kepala Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author:

Punya ijazah S1 Akuntansi dengan predikat Cum Laude ternyata tidak berguna di hadapan tagihan rumah sakit yang mencapai ratusan juta. Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Arini terpaksa membuang gengsinya dalam-dalam dan melamar menjadi kepala pelayan di penthouse mewah milik Adrian—seorang CEO muda kaya raya yang terkenal sedingin es kutub utara.Kerja keras Arini yang super rapi dan cerdas perlahan menarik perhatian sang Kakek pemilik takhta konglomerasi. Salah paham pun terjadi. Demi mempertahankan posisinya sebagai pewaris tunggal, Adrian terpaksa berbohong dan mengenalkan pelayannya itu sebagai calon istri.Sebuah kontrak pernikahan satu tahun akhirnya disodorkan di atas meja marmer.Gaji ratusan juta, seluruh utang lunas, dengan satu syarat mutlak: Dilarang saling jatuh cinta.Mampukah Arini bertahan menghadapi sikap dingin sang konglomerat di bawah satu atap yang sama? Ataukah pernikahan pura-pura ini justru akan mencairkan hati sang es kutub utara yang selama ini membeku?

Bab 12 (Dapur, Debur Ombak dan Kehangatan yang Asing)

Matahari perlahan tenggelam di cakrawala Raja Ampat, meninggalkan semburat warna jingga dan keunguan yang memukau di atas permukaan laut. Di dalam vila, lampu-lampu temaram otomatis menyala, menciptakan atmosfer yang semakin intim dan hangat.

Arini berdiri di depan lemari es besar di area dapur bersih. Karena seluruh staf dikosongkan dari pulau, mau tidak mau urusan perut menjadi tanggung jawab mereka sendiri. Beruntung, Yudha telah memastikan lemari es itu penuh dengan bahan makanan premium.

“Bisa memasak?"

Suara bariton yang tiba-tiba terdengar dari arah belakang membuat Arini sedikit terlonjak. Ia menoleh dan mendapati Adrian berjalan mendekat. Pria itu kini hanya mengenakan celana kain santai berwarna putih dan kemeja linen tipis bertekstur longgar dengan lengan yang digulung hingga siku. Rambutnya masih sedikit basah seusai mandi, mengeluarkan aroma sabun maskulin yang langsung memenuhi indra penciuman Arini.

“Tentu saja bisa. Logika akuntansi saya juga berlaku untuk takaran bumbu, Adrian," jawab Arini, berusaha menguasai kegugupan di dadanya dengan sedikit gurauan. "Saya berencana membuat pasta seafood sederhana dengan bahan yang ada di sini. Anda mau makan juga?"

Adrian tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, pria sedingin es kutub utara itu melangkah maju hingga berdiri tepat di samping Arini. Ia meraih sebilah pisau dapur dan sebuah talenan kayu, lalu mengambil beberapa siung bawang bombai dan bawang putih dari wadah.

“Aku yang memotong bahannya, kamu yang memasak," ucap Adrian datar, mulai mengiris bawang dengan gerakan yang sangat rapi dan presisi—khas seorang perfeksionis.

Arini tertegun selama beberapa detik, menatap profil samping wajah Adrian yang tampak begitu tenang di bawah temaram lampu dapur. Di dalam penthouse Jakarta, Adrian adalah sosok bos besar yang tidak tersentuh dan selalu dilayani. Namun di sini, di dapur kecil sebuah pulau terpencil, pria itu rela mengotori tangannya demi membantunya.

Proses memasak itu berjalan dalam keheningan yang anehnya tidak lagi terasa mencekam, melainkan menenangkan. Suara desis mentega di atas wajan panas dan aroma gurih bawang yang ditumis berpadu harmonis dengan suara deburan ombak di luar vila. Beberapa kali, jemari mereka tidak sengaja bersentuhan saat Arini mengambil bahan makanan yang telah disiapkan Adrian. Setiap sentuhan singkat itu menyalurkan sengatan listrik halus yang membuat bulu kuduk Arini meremang.

“Sudah selesai," ujar Arini akhirnya, mematikan kompor dan menyajikan dua piring pasta dengan aroma yang sangat menggugah selera.

Mereka membawa makanan tersebut ke meja makan kayu di teras luar yang menghadap langsung ke arah pantai malam yang gelap namun bertabur bintang. Angin laut yang berembus lembut mempermainkan beberapa helai rambut Arini yang terlepas dari ikatannya.

Adrian menyesap garpu pertamanya, mengunyah perlahan, lalu terdiam.

“Bagaimana? Kurang garam?" tanya Arini sedikit cemas, takut jika masakan rumahannya tidak sesuai dengan lidah seorang konglomerat yang terbiasa makan di restoran bintang lima.

Adrian meletakkan garpunya, lalu menatap Arini dengan sepasang mata elang yang malam ini tampak jauh lebih hangat dari biasanya. "Ini... enak. Jauh lebih baik daripada masakan koki di penthouse."

Mendengar pujian tulus yang sangat langka dari mulut Adrian, senyuman manis spontan terukir di wajah Arini. Kilatan kebahagiaan di mata Arini malam itu tampak begitu nyata dan indah di bawah sorot cahaya bulan, membuat Adrian sempat terpaku selama beberapa saat tanpa bisa mengalihkan pandangannya.

“Arini," panggil Adrian rendah, suaranya terdengar serak berpadu dengan suara angin malam.

“Ya, Adrian?"

“Terima kasih karena sudah bersedia ikut sejauh ini ke pulau ini," ucap Adrian pelan, melepaskan topeng keangkuhannya sepenuhnya. "Aku tahu situasi ini tidak mudah untukmu. Tapi... kehadiranmu di sini benar-benar membuat tempat yang biasa terasa sepi ini menjadi sedikit berbeda."

Jantung Arini berdegup menggila mendengar pengakuan jujur itu. Ia menatap gelang berlian di tangannya, lalu beralih menatap Adrian. Di bawah langit Raja Ampat malam ini, Arini tahu bahwa dinding es yang membentengi hati Adrian tidak hanya sekadar retak, melainkan mulai mencair perlahan demi perlahan, menyisakan kehangatan asing yang siap menjerat perasaan mereka berdua jauh lebih dalam.

1
sakura
Hallow guys xixi mimin minta maaf karna seminggu ga update tapi tenang aja udah sekarang updatenya doble”. jangan lupa like,komen, dan share yaa cinta-cintaku🫶🏻
sakura
jangan lupa kasih like nya ya manteman,biar authornya ini jadi semangat buat nulisnya xixi😗🫶🏻🙆🏻‍♀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!