NovelToon NovelToon
MAHAR KECOA UNTUK NONA MANJA

MAHAR KECOA UNTUK NONA MANJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.

Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...

bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??

kisah CHICK-LIT ROMANCE

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: HERBAL CINTA DAN DRAMA CEMBURU DI KORIDOR ISTANA

Siang itu, kediaman Hutama terasa sedikit lebih tenang karena sang kaisar bisnis, Bramantyo, sedang "tumbang". CEO tangguh itu harus menyerah pada suhu tubuh yang naik dan otot-otot yang menegang. Namun, bagi Reyhan, ini adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa dirinya bukan sekadar "gembel" yang numpang hidup.

​Bram berbaring telungkup di ranjang mahoninya. Reyhan, dengan tangan yang stabil dan tenaga yang terukur, mulai memijat punggung mertua "kontrak"-nya itu.

​"Tuan... Anda ini terlalu memforsir diri. Badan Anda bukan mesin yang bisa terus dipacu tanpa pelumas," ujar Reyhan sambil menekan titik saraf di bahu Bram. "Saran saya, jangan terlalu banyak mengonsumsi obat kimia dosis tinggi. Nanti saya buatkan ramuan herbal untuk menurunkan demam Anda."

​Bram mendesah panjang. Pijatan Reyhan terasa sangat pas, seolah pria itu tahu persis di mana letak rasa sakitnya. "Eh, Gembel—maksudku, Reyhan... kamu belajar dari mana teknik pijat seperti ini? Rasanya lebih enak daripada terapis langgananku di hotel bintang lima."

​Reyhan tersenyum tipis, tetap fokus pada pekerjaannya. "Saya hanya orang miskin, Tuan. Apa pun saya pelajari untuk bertahan hidup, asal itu halal. Menjadi kuli panggul, tukang urut, sampai tukang tambal ban sudah pernah saya cicipi."

​"Memangnya kamu tidak punya keluarga? Sampai harus hidup sebatang kara begitu?" tanya Bram, suaranya sedikit melunak karena rasa nyaman yang menjalar.

​"Masalah itu... saya ada sedikit perselisihan. Mereka mengusir saya," jawab Reyhan pendek.

​Bram terdiam. Di kepalanya, ia membayangkan Reyhan pastilah anak nakal yang membuat malu orang tuanya sampai dibuang. "Reyhan, kalau kamu nurut sama orang tua, tidak mungkin mereka mengusirmu. Sekarang kamu sudah di sini, kamu harus berubah. Jangan bikin malu aku lagi."

​"Terima kasih atas nasihatnya, Tuan," sahut Reyhan merendah, meski matanya menatap kejauhan dengan kilat misterius yang tak terbaca.

​Tiba-tiba, Melly masuk ke kamar dengan langkah anggun. "Pah, ada Derian di luar. Katanya disuruh Papa mengantar dokumen penting."

​"Suruh dia masuk ke sini saja," jawab Bram.

​Derian melangkah masuk dengan rapi. Setelan jasnya licin tanpa cela, wajahnya yang tampan terlihat sangat profesional. Namun, matanya langsung menyipit tajam saat melihat Reyhan sedang asyik memijat punggung bosnya. Siapa gembel ini? Kok bisa sedekat itu dengan Pak Bram? batin Derian panas.

Begitupun dengan Reyhan terkejut namun dia sembunyikan "oh namanya Derian, Sherly lebih memilih selingkuh dengannya dari pada setia padaku.." batin Reyhan dengan mengepalkan tangan ingin memukulnya, namun dia tetap dingin.

​"Pak Bram, ini dokumen yang Anda minta," ujar Derian sambil meletakkan map di meja. "Bagaimana keadaan Anda?"

​"Sudah agak mendingan berkat pijatan Reyhan ini. Oh ya, Der, kontrol terus penjualan produk baru kita. Akhir-akhir ini grafiknya agak aneh, saya curiga ada yang tidak beres di divisi distribusi."

​"Baik, Pak Bram. Saya akan urus segera." Derian mencoba tetap profesional, meski hatinya gatal ingin bertanya siapa Reyhan sebenarnya.

​Tepat saat itu, Vanya masuk ke kamar dengan gaya fashionable—tas mungil bermerek dan outfit kampus yang lebih mirip kostum catwalk. Langkahnya terhenti saat melihat Derian.

​"Ngapain kamu ke sini?" tanya Vanya ketus, matanya menatap Derian dengan kebencian yang masih segar.

​"Vanya... apa kabar? Aku cuma mau antar dokumen," jawab Derian dengan senyum yang dipaksakan.

​"Kabarku sangat tidak baik sejak melihat mukamu ada di rumahku," balas Vanya tajam, membuat Melly dan Bram saling lirik. Bram sebenarnya merasa Derian adalah sosok yang tepat untuk Vanya—pintar, kaya, dan berprestasi—namun ia belum tahu sejarah pahit di antara mereka.

​"Pah, aku mau berangkat kuliah dulu," pamit Vanya pada papanya.

​"Sendirian? Tidak boleh. Kamu nanti malah keluyuran ke kafe lagi dan absen kuliah. Sudah dua semester kamu keteteran gara-gara main terus," tegur Bram tegas.

​"Terus sama siapa dong? Papa kan lagi sakit!"

​"Panggil Kang Ujang, supir Papa. Biar dia antar-jemput kamu sampai depan kelas."

​Vanya memutar bola matanya bosan. "Nggak mau ah! Malu! Teman-temanku selalu meledek kalau aku supiran sama Kang Ujang. Mereka bilang aku simpanan om-om karena Kang Ujang gayanya kaku begitu!"

​"Terus maumu apa, Vanya?"

​Melihat Derian yang masih berdiri di sana, sebuah ide nakal muncul di kepala Vanya. Ia ingin membuat Derian terbakar cemburu sebagai pembalasan karena sudah mengkhianatinya dengan Sherly.

​"Gimana kalau sama Reyhan saja? Dia bisa nyetir, jago lagi!" Vanya melangkah mendekati tempat tidur dan—secara mengejutkan—melingkarkan tangannya di lengan Reyhan yang masih sibuk memijat.

​Bram tersedak ludahnya sendiri. Sejak kapan Vanya memuji si begal ini? pikir Bram heran. "Reyhan, kamu tidak keberatan?"

​Reyhan menghentikan pijatannya. "Saya sudah menekan kontrak satu tahun, Tuan. Saya komitmen pada janji saya untuk menjaga Nona."

​"Baik. Antarkan dia, dan pastikan dia masuk kelas. Jangan sampai dia mampir ke mal sebelum kuliahnya selesai!" perintah Bram.

​"Tapi sebentar, Tuan. Saya mau meracik herbal dulu untuk Anda agar demamnya cepat turun."

​Vanya tersenyum penuh kemenangan. "Ayo, Rey... kamu antar aku ya?" Vanya semakin mengeratkan pegangannya pada lengan Reyhan, sengaja berpose mesra di depan Derian.

​Wajah Derian berubah pucat, lalu merah padam. Rahangnya mengeras. Ia tidak percaya Vanya lebih memilih supir gembel itu daripada dirinya yang seorang manajer.

​"Derian, kamu langsung kembali ke kantor sekarang," perintah Bram yang tidak sadar dengan drama segitiga di depannya.

​"Baik, Pak Bram..." Derian melangkah keluar dengan langkah berat, matanya tetap tertuju pada tangan Vanya yang masih nempel di lengan Reyhan.

​Begitu Derian keluar, Vanya melepaskan pegangannya secepat kilat, seolah lengan Reyhan baru saja berubah jadi bara api. Ia berlari kecil ke jendela, mengintip mobil Derian yang melaju pergi dengan kasar.

​"Rasakan! Bagaimana rasanya cemburu itu... aku juga bisa cari penggantimu, bahkan yang lebih 'liar' darimu!" gumam Vanya dengan seringai puas.

​Reyhan yang sedang membereskan minyak pijat hanya menggelengkan kepala. "Nona, dendam itu seperti meminum racun tapi berharap orang lain yang mati. Capek sendiri, kan?"

​"Berisik kamu, Gembel! Ayo cepat racik ramuannya, aku sudah telat!"

​Di dapur, Reyhan sibuk menumbuk jahe, temulawak, dan beberapa dedaunan yang ia ambil dari kebun belakang. Vanya berdiri di sampingnya dengan tangan bersedekap.

​"Eh, Kecoa Kontrakan... kamu benar-benar bisa buat herbal begini? Atau kamu cuma mau meracuni Papaku supaya harta Hutama jatuh ke tanganmu?" tanya Vanya curiga.

​"Saya tidak bisa membuat herbal," jawab Reyhan santai sambil menuangkan air panas.

​"Tuh kan! Terus ngapain kamu sok-sokan bilang mau buat ramuan?"

​"Saya hanya meraciknya, Nona. Yang membuat tanaman herbal ini berkhasiat adalah Tuhan, Allah Subhana Wa Ta'ala. Makanya kita harus berterima kasih pada-Nya dengan bersyukur. Salah satunya dengan cara sholat tepat waktu, bukan cuma dandan tujuh jam."

​Vanya mendengus keras. "Kalau mau ceramah itu di masjid, jangan di dapur rumahku!"

​"Allah itu ada di mana saja, bukan hanya di masjid. Omong-omong, kamu masih 'M' ya? Kok lama sekali?" tanya Reyhan tanpa dosa, merujuk pada alasan Vanya tempo hari yang menolak sholat karena sedang menstruasi.

​Vanya yang berpikiran "liar" langsung refleks memegang dadanya dan menutupi tubuhnya. "Kamu! Jangan kurang ajar ya! Gak akan kuberikan keperawananku pada siapapun, apalagi sama kamu!"

​Reyhan menghentikan kegiatannya, menatap Vanya dengan tatapan datar yang menusuk. "Siapa juga yang minta? Ge-er sekali. Saya cuma tanya kenapa kamu belum sholat lagi. Pikiranmu itu yang perlu diruqyah."

​"Ih! Pokoknya aku gak akan berikan itu bahkan ke Derian, kecuali dia sudah jadi suamiku!"

​"Berarti kepada aku dong? Secara hukum kan aku suamimu," goda Reyhan dengan seringai nakal yang jarang ia tunjukkan.

​"Eh, Ulat Jahe! Kamu itu cuma suami status! Jangan minta lebih!"

​"Kalau begitu, kamu juga jangan minta lebih. Minta diantar segala, minta ditemani jalan-jalan. Kan ada Kang Ujang. Gunakan aku sesuai fungsinya saja: sebagai supir," balas Reyhan telak.

​Vanya terdiam, lidahnya mendadak kelu. Reyhan selalu punya cara untuk memenangkan perdebatan. Ia menatap Reyhan yang sedang menuangkan ramuan ke dalam gelas. Ada rasa hangat yang aneh saat ia melihat keseriusan pria itu.

Vanya yang tanpa sadar membantu memegang gelas atau memperhatikan tangan Reyhan yang terampil.

​"Rey..." panggil Vanya lirih.

​"Hmm?"

​"Kalau kamu masih mencintai Sherly atau siapa pun itu, kenapa kamu setuju menikah denganku? Kamu bisa saja kabur, kan?"

​Reyhan menoleh, menatap mata Vanya dalam-dalam. "Aku tidak setuju. Papa kamu yang meminta. Dan aku... adalah orang yang paling benci melanggar janji."

​"Kalau begitu, kenapa harus setahun? Papaku pasti mengerti kalau kita minta cerai sekarang. Aku juga pasti bakal kabulin kok. Kamu bebas, aku bebas." Vanya mengucapkan itu, tapi ada rasa berat yang tak ia pahami di sudut hatinya.

​Reyhan berjalan mendekat, membawa gelas herbal yang masih mengepul. "Vanya... ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan kata cerai. Ada tanggung jawab yang lebih besar dari sekadar ego kamu.

Vanya terpaku. Untuk pertama kalinya, ia melihat binar di mata Reyhan yang bukan berisi hinaan atau ceramah, melainkan sebuah perlindungan yang tulus. Jantungnya berkhianat, berdegup lebih kencang dari biasanya saat mencium aroma jahe dan parfum maskulin pria itu.

Sekarang, bawa ini ke Papa kamu. Setelah itu, aku antar kamu kuliah."

​Vanya terpaku. Ia merasa ucapan Reyhan ada benarnya, namun keangkuhannya belum mau runtuh.

​"Sudah selesai meraciknya?" tanya Vanya ketus untuk menutupi kegugupannya. "Ayo cepat, antar aku! Plisss... kali ini jangan bikin aku malu di depan teman-temanku!"

​Reyhan hanya menghela napas. "Baik, Nona Manja. Mari kita mulai pertunjukannya."

​Vanya tersenyum kecil. Meski Reyhan sangat menyebalkan, ada sesuatu dalam diri pria itu yang membuatnya merasa... aman. Sebuah perasaan yang tak pernah ia dapatkan bahkan dari Derian sekalipun.

1
Dhatu Lukita
halo thor ceritanya menarik berbau2 cio ala ala dracin. saya suka saya suka 🤭😍
Katumbiri Lazuardi: terima kasih...
dracin religi 😄😄😄.

🤭🤭...

sehat dan sukses ya kak
total 1 replies
Katumbiri Lazuardi
chikc-lit..
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!