Seorang pria muda yang tegas dan berwibawa sedang duduk diruang kerjanya.
"Jika kau pergi selangkah saja maka hukumanmu akan semakin berat!"
"Aku tetap akan pergi!"
"Cih, gadis nakal dan sulit di atur! Coba saja kalau kau bisa pergi dari sisiku."
"Tentu aku bisa!"
"Pak Hen tolong ajari anakmu tata krama!"
"Baiklah Tuan."
"Jangan menyulitkan Ayah, diam dan patuhlah!"
"Ayah jangan berpihak kepadanya, dia pria jahat dan kejam!"
"Dia adalah Bos Ayah kau tahu apa tentangnya. Cepat patuh dan menurutlah kepadanya!"
"Ayah! Lepaskan!"
"Mulai sekarang kau harus ku didik dengan benar!"
Baca selengkapnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Xiao, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Story 31
Kirana ~ Mencoba mengingat kembali ...
_____________________________________________
Kirana terbangun setelah pingsan cukup lama. Ayahnya belum juga kembali dari rumah sakit. Sepertinya memang prioritas utamanya adalah tuan mudanya. Bahkan anaknya pingsan di dalam gudang seharian pun Hendrik tidak tahu dan juga tidak kunjung pulang.
Dengan perlahan dan berjalan sempoyongan, Kirana menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Dia pun memulihkan tenaganya sebentar. Setelah dia pulih kembali, Kirana pun segera bergegas ke rumah Emil.
Sesampainya di rumah Emil Kirana pun menemui orang tua Emil, tuan Wijaya dan nyonya Rosalina. Kebetulan tuan Wijaya sedang tidur, dan hanya ada nyonya Rosalina di ruang tamu. Nyonya Rosalina terkejut melihat kedatangan Kirana.
"Kirana, apa kabarmu nak?" tanya nyonya Rosalina sambil memegang kedua pundak Kirana.
"Baik, nyonya. Nyonya, apa saya boleh bertanya sesuatu?"
"Silahkan, nak."
Kirana pun mengambil sebuah foto dari dalam tasnya dan menunjukan kepada nyonya Rosalina.
"Nyonya, apa foto ini asli? Apa benar saya sudah menikah dengan tuan muda dan nyonya adalah ibu mertua saya?"
Nyonya Rosalina pun meneteskan air matanya. Dia tidak bisa menjelaskan apapun. "Sayang, jika kau ingin tahu kebenaran nya, silahkan pergi ke ruang kerja Emil. Bukalah lemari yang terkunci di sana. Kuncinya ada di dalam laci meja kerja Emil."
"Baiklah, nyonya."
Kirana pun segera berlari dan pergi ke ruang kerja Emil. Sesampainya di sana, dia segera mencari kunci yang ada di dalam laci meja kerja Emil lalu dia membuka lemari yang terkunci di sana. Saat dia membukanya, betapa terkejutnya dia saat melihat banyak album foto dirinya dengan Emil.
Dia memukul-mukul kepalanya untuk mencoba mengingat kejadian itu namun, sayangnya dia tidak bisa mengingatnya. Kirana frustasi dan menangis, tanpa sadar dia mengambil botol wiski yang tidak pernah dia sentuh sebelumnya yang terdapat di lemari minuman di ruangan Emil.
Wiski yang selalu menjadi pelarian Emil saat mengingat tentang Kirana. Sekarang wiski itu di minum oleh Kirana. Kirana terus menangis sambil mencoba mengingat kejadian masa lalunya. Entah sudah berapa botol yang ia minum sampai dia mabuk berat dan tak sadarkan diri di ruang kerja Emil.
❇❇❇
Di rumah sakit, Hendrik mengurus dokumen untuk kepulangan Emil dari rumah sakit. Emil sebenarnya masih belum di izinkan untuk pulang namun, dia terus bersikeras ingin istirahat di rumah saja. Hendrik tidak bisa menolak keinginan tuan muda nya itu.
Mereka pun akhirnya di izinkan pulang setelah Hendrik menyelesaikan semua urusan dengan pihak rumah sakit. Di perjalanan Emil kembali teringat dengan Kirana. Dia khawatir Kirana pergi bersama Dirga lagi.
"Pak Hendrik, apa Kirana ada di rumah?" tanya Emil.
"Kirana pasti ada di rumah. Tuan muda jangan khawatir."
"Maafkan aku yang harus menganggapmu sebagai asisten pribadiku, padahal kau adalah ayah mertuaku."
"Saya tahu tuan muda, dulu saya adalah asisten pribadi tuan Wijaya. Sekarang, karena tuan sudah pensiun dan Kirana hilang ingatan dengan terpaksa saya juga harus melakukan sandiwara ini."
"Aku sangat merindukan istriku. Entah sampai kapan aku harus menunggunya lebih lama lagi."
"Saya sudah berkali-kali menasehati anda agar mencari wanita lain. Walau dia putri saya namun, saya juga tidak tega melihat anda kesepian sepanjang hari. Biar saya jelaskan kepadanya suatu hari nanti jika dia kembali pulih."
"Bagaimana aku bisa meninggalkan nya begitu saja, dia cinta pertama ku. Kau juga tidak bisa melupakan mantan istrimu kan? Aku pernah bercerita kepadanya bahwa aku pernah di tinggalkan oleh mantan kekasihku. Padahal yang aku ceritakan adalah dirinya. Dia percaya bahwa aku adalah bujang lapuk, umur sudah tidak muda tapi aku tak kunjung menikah. Kadang aku tertawa saat mendengar dia menggerutu tentangku. Dia tidak tahu bahwa dia sedang mengomel kepada suaminya sendiri."
Hendrik menyimak perkataan Emil. "Sepertinya anda benar-benar merasa senang dia kembali dari luar negri saat itu."
"Tentu, aku sangat senang dan bahagia. Namun, aku sedikit kecewa saat mengetahui bahwa istriku ternyata masih banyak di gandrungi oleh pria kelas atas. Aku tidak menyalahkan mereka karena mereka tidak tahu. Aku hanya cemburu karena kecantikan dan pesona nya masih bisa memikat pria lain. Aku takut dia tidak ingat kepadaku lagi," ucap Emil penuh kesedihan.
❇❇❇
Tak lama kemudian, mereka pun akhirnya sampai di rumah Emil. Setelah mengantar Emil, Hendrik pun berpamitan pulang. Emil pun masuk ke dalam rumahnya dan berniat untuk langsung pergi ke kamarnya. Namun, ibunya memanggilnya dan mengajaknya bicara.
"Sayang, kau sudah kembali? Syukurlah, kau sudah di bolehkan pulang."
"Sebenarnya aku yang memaksa dokter untuk mengizinkan ku pulang dari rumah sakit hari ini, Bu. Aku sudah bosan berada di sana."
"Nak, ada yang ingin ibu katakan kepadamu. Kirana ada di ruang kerjamu, ibu tidak berani menghampirinya karena, ibu tidak kuasa melihat pancaran kesedihan di matanya. Tolong lihat dia, Nak. Ibu sangat khawatir."
"Baik, Bu."
Emil lalu bergegas pergi ke ruang kerjanya. Sesampainya di sana, betapa terkejutnya dia melihat Kirana tak sadarkan diri. Dia juga melihat botol wiski yang berserakan di mana-mana.
"Kenapa dia mabuk? Dia tidak pernah menyentuh bahkan sampai meminum wiski sebelumnya. Apa yang membuatnya begini?"
Emil pun mengangkat dan menggendong tubuh Kirana ke dalam kamarnya. Dia membaringkan tubuh Kirana dan menyelimutinya. Saat Emil akan pergi tangan nya di pegang oleh Kirana.
"Tuan, jelaskan padaku kejadian yang ada di foto-foto itu! Mengapa aku tidak ingat sama sekali."
"Foto? Foto apa yang dia maksud? Apa dia sudah melihat isi lemari itu?"
Brukkk ...
Emil di tarik oleh Kirana hingga menindihi tubuh Kirana. Kirana pun menarik kerah baju Emil sambil menangis. "Tuan, jelaskan padaku! Mengapa aku bisa lupa semuanya."
"Ternyata dia sudah melihat album masa lalunya."
Emil pun tak kuasa melihat Kirana yang terus menangis dia lalu mengelus lembut rambut Kirana. Emil juga tak kuasa menahan rasa rindunya yang ia pendam selama ini. Emil mencium mesra bibir Kirana, tanpa sadar Kirana membalas ciuman Emil. Mereka saling mendekap erat penuh peluh kerinduan.
Tangan mereka saling berpegangan erat. Emil terbawa suasana saat melihat wajah sayu Kirana. Malam pengantin yang sempat tertunda karena kejadian di masa lalu, akhirnya tergantikan di malam ini.
Walau di hati Emil tersirat rasa bersalah, karena malam ini dia seperti telah merenggut paksa milik Kirana, tanpa Kirana sadari. Namun, dia tak kuasa menahan hasrat saat tidur bersama istrinya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Kirana besok pagi saat dia tersadar.
.
.
.
🍀 Bersambung ... 🍀
###
.
.
.
Hai semua ... 😊
Bagaimana reaksi Kirana nanti ya? Hmm ... 😂
Tunggu episode "Putri Asisten Pribadiku" ( PAP ) selanjutnya ya ...
👉 Jangan lupa like, komen, vote dan rate novel ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Sambil menunggu, kalian juga bisa baca novel saya yang lain atau novel sahabat saya di bawah ini.
Judul : My Heart is Only For you
Judul : Melawan Rasa Takutku
❇❇❇
Judul : Istri Pilihan Ibu
Nama Pena : Septriani Wulandari
Judul : Pujaku Mayang
Nama Pena : Azis Beck
Judul : Boss Come Here Please
Nama Pena : Novi Wu
Judul : My Husband Devil
Nama Pena : Azmi1410
Judul : Takut Untuk Mencintai
Nama Pena : Suci FA
Terima Kasih. 🙏
🌹~l Miss You~🌹
mohon di aaminkan bunda 😄
uda pacaran yahhh😂😂