Setelah diputuskan tiga tahun yang lalu oleh mantan kekasihnya dan menutup diri dari pria manapun, Anata Yulia gadis 24 tahun itu, tiba-tiba saja dijodohkan dengan seorang pria yang tidak dikenal oleh kedua orang tuanya.
"Kamu harus mau Nat, sebentar lagi kamu 25 tahun, usia yang rawan dan sudah pantas untuk menikah. Maka, kamu harus mau, ya, kami jodohkan dengan pria tampan dan mapan." Sang Ibu membujuk dengan memohon.
Namun, siapa sangka pria yang akan dijodohkan dengannya ternyata adalah....
"Nata nggak mau, Bu?"
"Kenapa?"
"Karena...."
Yuk, pengen tahu kelanjutan kisahnya? Tentu bakal bikin penasaran. Ikuti kisahnya di "Dijodohkan Dengan Mantan Kekasih"
Ikuti Auhto di
FB " Tupar Nasir
WA 089520229628
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Lupa Karet Pengaman
Kafeela melangkah perlahan, memperkecil jarak di antara mereka.
Anata yang menyadari pergerakan suaminya langsung memundurkan langkah hingga punggungnya membentur tepian lemari pakaian.
Tatapan matanya masih menghunus tajam, menolak untuk dilembutkan oleh pesona sang tentara yang malam ini tampak begitu lihai menyembunyikan rasa bersalahnya di balik senyuman tipis.
"Jangan dekat-dekat, Abang! Aku masih marah," seru Anata seraya mengangkat sebelah tangannya, di depan dada. "Hukuman untuk suami yang meragukan istrinya adalah tidur di sofa. Tidak ada tawar-menawar!" lanjut Anata.
Kafeela tidak berhenti. Alih-alih mundur, ia justru meletakkan kedua telapak tangannya di sisi kiri dan kanan kepala Anata, mengunci pergerakan perempuan muda itu di antara tubuh tegapnya dan permukaan kayu lemari.
Aroma parfum maskulin khas Kafeela seketika menguar, menyerbu indra penciuman Anata dan membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.
"Tidur di sofa?" Kafeela berbisik, suaranya terdengar rendah dan serak di dekat telinga Anata. "Mana bisa Abang tidur di sofa kalau istri Abang yang cantik ini masih cemberut begini? Lagipula, bumbu pernikahan itu memang harus ada marahnya, tapi setelah marah, harus ada bagian manisnya, Sayang."
"Manis dari mana? Abang menyebalkan!" Anata memalingkan mukanya ke samping, menolak menatap manik mata Kafeela yang selalu berhasil meluluhkan egonya.
"Tadi di rumah Komandan, Abang diam saja waktu aku disudutkan oleh Ibu Komandan. Abang tahu tidak bagaimana rasanya jika dituduh merebut suami orang? Harga diri aku sebagai wanita rasanya diinjak-injak, Bang!"
Mendengar kalimat terakhir Anata, gurat jenaka di wajah Kafeela seketika sirna. Ia menarik sebelah tangannya dari lemari, lalu dengan lembut menyentuh dagu Anata, memutar wajah istrinya perlahan agar kembali menatapnya.
Kali ini, tatapan mata Kafeela dipenuhi oleh kesungguhan yang mendalam.
"Maafkan Abang, Sayang. Demi Allah, tidak ada sedikit pun niat di hati Abang untuk membiarkan harga dirimu diinjak-injak," ucap Kafeela lirih, menyalurkan penyesalan yang teramat sangat.
"Abang akui, tadi Abang bodoh. Abang terlalu kaku sebagai seorang prajurit yang dididik untuk selalu patuh dan menjaga nama baik atasan. Saat video itu muncul, otak Abang langsung memikirkan skenario terburuk tentang karier dan kehormatan kesatuan. Abang lupa kalau yang paling terluka di sini adalah kamu, istri Abang sendiri."
Anata terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca mendengar pengakuan jujur dari mulut Kafeela. Rasa sesak yang sejak tadi menyumbat dadanya perlahan mulai terurai, meski rasa kesalnya belum sepenuhnya hilang.
"Abang harus tahu, aku berani membela diri di sana bukan cuma demi namaku, tapi demi pernikahan kita. Aku tidak mau pernikahan yang baru seumur jagung ini hancur hanya karena fitnah murahan dari anak gadis yang terobsesi pada suamiku," ketus Anata, air matanya akhirnya menetes juga satu demi satu.
Kafeela dengan cekatan menghapus air mata di pipi Anata menggunakan ibu jarinya. "Iya, Abang tahu. Istri Abang ini hebat sekali tadi. Sangat berani dan cerdas. Abang bangga luar biasa punya istri seperti kamu. Jadi, tolong maafkan Abang yang kaku ini, ya?"
Anata mengendus, mencoba menahan tangisnya agar tidak semakin pecah. "Aku mau memaafkan, tapi ada syaratnya."
"Apa pun syaratnya, akan Abang penuhi. Katakan saja," sahut Kafeela cepat, merasa angin segar mulai berembus ke arahnya.
"Mulai besok, Abang tidak boleh lagi mengantar Jeny pulang atau berurusan dengannya di luar masalah kedinasan dengan Pak Mayjend. Kalau dia mendekat, Abang harus tegas menolak. Jarak aman antara Abang dan Jeny, adalah lima meter," tuntut Anata dengan ekspresi serius yang justru terlihat sangat menggemaskan di mata Kafeela.
Kafeela terkekeh kecil, rasa lega kini sepenuhnya memenuhi dadanya. "Jangankan lima meter, sepuluh meter pun akan Abang turuti. Lagipula, setelah kejadian malam ini, Pak Mayjend pasti akan mengawasi Jeny dengan sangat ketat. Kamu tidak perlu khawatir lagi tentang gadis itu."
Anata mendengus pelan, namun tubuhnya tidak lagi menegang sekaku tadi. Ia membiarkan Kafeela membawa tubuhnya ke dalam dekapan hangat. Pelukan erat itu seolah menghapus seluruh sisa ketegangan dan rasa lelah yang menguras emosi mereka sejak sore hari.
Malam semakin larut, keheningan mulai menyelimuti kamar pengantin baru itu. Namun, suasana hangat di dalam kamar mendadak berubah menjadi kepanikan kecil saat Anata teringat akan suatu hal yang sangat krusial.
Perempuan muda itu tiba-tiba mendorong dada Kafeela dengan cukup kuat hingga pautan mereka terlepas. Wajah Anata yang tadinya sudah melembut kini kembali berubah menjadi ekspresi terkejut sekaligus panik.
"Abang! Tunggu dulu!" seru Anata setengah tertahan.
Kafeela yang sedang bersiap untuk merebahkan diri di samping istrinya mengernyitkan dahi bingung. "Ada apa, Sayang? Kok mukanya panik begitu?"
Anata menatap Kafeela dengan pandangan menyelidik yang tajam. "Abang... selama beberapa hari ini, sejak kita pertama kali... itu... Abang pakai karet, tidak?"
Pertanyaan frontal itu membuat Kafeela sempat tertegun selama beberapa detik. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mencoba mengingat-ingat kembali momen-momen intim yang mereka lewatkan sejak malam pertama pernikahan mereka yang baru berjalan kurang dari seminggu.
"Eh... Karet pengaman, maksudnya?" Kafeela mengulang kata itu dengan wajah tanpa dosa. "Nggak, Sayang. Abang lupa."
"Apa?!" Anata memekik kaget, matanya membelalak sempurna seolah baru saja mendengar berita bencana alam. "Abang lupa? Bagaimana bisa Abang lupa hal sepenting itu?!"
"Ya... mau bagaimana lagi, Sayang? Kan semuanya mengalir begitu saja. Lagipula Abang pikir tidak apa-apa," jawab Kafeela dengan kepolosan khas seorang pria yang tidak terlalu paham detail siklus bulanan wanita.
Anata menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi, lalu meraih bantal di dekatnya dan melemparkannya tepat ke arah wajah Kafeela.
Puk!
Kafeela dengan sigap menangkap bantal tersebut menggunakan satu tangan, senyuman tipis kembali terukir di bibirnya melihat reaksi heboh sang istri.
"Aaaargghhh! Abang menyebalkan sekali sih! Bagaimana kalau aku langsung hamil sekarang?" omel Anata dengan nada suara yang bergetar karena panik sekaligus cemas.
"Pernikahan kita baru beberapa hari, Bang! Pekerjaan aku nanti akan terhambat."
Kafeela meletakkan bantal yang ditangkapnya ke atas ranjang, lalu merangkak mendekati Anata yang kini sedang duduk meringkuk sambil merutuki kecerobohan mereka berdua. Kafeela meraih kedua tangan Anata, menggenggamnya dengan kehangatan yang menenangkan.
"Sayang, dengarkan Abang," ujar Kafeela lembut, menatap lurus ke dalam manik mata Anata yang masih memancarkan kepanikan.
"Kalau memang kamu langsung hamil, tidak apa-apa, kan? Itu artinya kita dipercaya oleh Gusti Allah untuk segera punya momongan. Lagipula, kan ada Abang di sini yang akan jadi Papanya. Abang siap siaga dua puluh empat jam untuk merawatmu dan anak kita nanti."
"Bukan masalah itu. Tapi, aku belum siap kalau secepat ini," cicit Anata, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Kafeela. Rasa panik itu perlahan berbaur dengan rasa haru mendengar kesiapan Kafeela yang begitu tulus.
"Siap atau tidak siap, kalau sudah waktunya, kita jalani bersama-sama. Abang tidak akan membiarkanmu kesusahan sendirian," bisik Kafeela sembari mengecup puncak kepala Anata dengan penuh kasih sayang.
Anata menghela napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang berkejaran. Meskipun rasa kesal karena kecerobohan Kafeela masih tersisa sedikit, namun pelukan hangat dan untaian kalimat penenang dari suaminya malam itu berhasil meluruhkan seluruh dinding pertahanan egonya.
Malam yang diawali dengan badai fitnah dan kemarahan itu akhirnya ditutup dengan senyuman bahagia dan kehangatan yang semakin merekatkan jalinan kasih di antara dua insan yang baru saja memulai lembaran hidup baru tersebut.
Ibu..... anaknya nanti tolong di kasih tau ya... Feeling ibu tepat banget, kalau Si Jin itu suka sama Kafee. Jadi nasehati Bu jangan jadi pelakor ya anaknya.... Jangan bikin malu. Ini udah bikin kasus kayak gini. Padahal itu video bapaknya sendiri lo.... diedit lagi pelukan sama istri anak buahnya ckckck....
Memang harus tegas Kafee. Kasih tau papa si jin Jeny. Biar di ganti aja. Jangan karena masalah kayak gini malah menghancurkan rumah tangga mu