NovelToon NovelToon
Story Of Love

Story Of Love

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:18.8k
Nilai: 5
Nama Author: Greytha

Zeya Aurelie mencintai Dewangga Lintang Geraldo selama empat tahun, dua tahun penuh kebahagiaan, dan dua tahun berikutnya dipenuhi jarak yang tak kasat mata. Sejak kematian sahabat Dewangga, kehadiran Selina Amoura sebagai tanggung jawab yang harus ia lindungi perlahan menggeser posisi Zeya sebagai prioritas di hidupnya.

Hingga pada hari yang seharusnya menjadi awal bahagia mereka, justru menjadi hari paling kelam dalam hidup Zeya. Di saat ia kehilangan kedua orang tuanya secara tragis, Dewangga tak pernah datang, lebih memilih berada di sisi wanita lain. Hancur dan kecewa, Zeya memilih pergi, membawa luka, dan sebuah kehidupan yang berada didalam rahimnya.

Kini, ketika penyesalan akhirnya menyadarkan Dewangga, semuanya sudah terlambat. Ini adalah kisah tentang cinta yang dikhianati, tentang kehilangan, dan tentang perjuangan seorang pria untuk mendapatkan kembali wanita, serta anak, yang hampir ia kehilangan selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greytha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

part 31

Begitu selesai makan dan berhasil membersihkan mulutnya sendiri dengan tisu meski hasilnya justru membuat pipinya ikut belepotan, gadis kecil itu langsung berlari turun dari kursinya.

Cici yang sejak tadi aktif berlari kecil mengelilingi meja ruang tamu akhirnya berhenti dan memilih menempel pada Dewangga, berjalan di belakangnya ke mana pun pria itu pergi tanpa menunjukkan tanda-tanda lelah sedikit pun.

"Pappa in (Papa main)."

Cici langsung memeluk kaki Dewangga begitu pria itu sampai di dapur.

Dewangga yang baru saja ingin mencuci piring berhenti dan menoleh ke bawah, menatap wajah kecil yang sedang mendongak penuh harap ke arahnya.

"Mau main apa?"

Cici berpikir cukup lama sampai alis kecilnya ikut berkerut serius.

"Aman (Taman)."

Dewangga tersenyum kecil melihat ekspresi itu. "Oke, tapi papa selesain cuci piring dulu."

Cici langsung mengangguk semangat sampai kedua ikatan rambutnya ikut bergoyang lucu.

Zeya yang sedang membawa beberapa piring ke dapur sempat berhenti sesaat.

Tatapannya bergeser pada tangan kecil Cici yang memeluk kaki Dewangga erat, seolah takut pria itu tiba-tiba menghilang lagi seperti yang pernah terjadi sebelumnya.

Entah kenapa pemandangan sederhana itu membuat dadanya terasa sedikit sesak.

Dewangga menangkap tatapan Zeya lalu refleks bertanya dengan hati-hati.

"Kalau kamu keberatan saya nggak usah pergi."

Zeya diam beberapa detik sebelum akhirnya menggeleng pelan. "Nggak apa-apa."

Mendengar itu, Cici langsung bersorak kecil.

"YEEE PAPPAA."

Tanpa menunggu lagi, Cici langsung berlari ke dalam kamar dengan menarik tangan Zeya agar ikut masuk bersamanya.

Zeya yang sempat kaget karena ditarik tiba-tiba akhirnya menyerahkan piring yang sedang dibawanya ke Dewangga lalu mengikuti langkah kecil putrinya.

Tidak lama kemudian Cici keluar lagi dengan masih menggenggam tangan Zeya.

Penampilannya sudah jauh lebih rapi. Topi kelinci kecil bertengger di atas kepalanya dan membuat pipi bulatnya terlihat semakin menggemaskan.

Begitu melihat Dewangga yang sudah duduk menunggu di ruang tamu, Cici langsung menghampiri dengan langkah cepat.

"Wahh, princess papa cantik banget."

Dewangga langsung mengangkat Cici ke pangkuannya hingga gadis kecil itu menutup mulut sambil tertawa malu.

Setelah menurunkannya kembali, Dewangga menyodorkan telapak tangannya.

"Kita pergi sekarang, Tuan Putri?"

Cici bertingkah malu-malu sebentar, tapi tetap mengangguk kecil lalu menggandeng tangan Dewangga.

"Pamit dulu sama Mama."

"Mmm."

Cici berjalan menghampiri Zeya lalu memajukan badannya meminta dipeluk.

Zeya terkekeh kecil, mengelus kepala putrinya dengan lembut sebelum memeluk tubuh kecil itu.

"Hati-hati mainnya ya, sayang. Jangan lari-larian nanti nabrak orang."

Cici mengangguk kecil meski entah benar mengerti atau tidak.

Setelah berpamitan, Cici dan Dewangga berjalan keluar sambil terus melambaikan tangan ke arah Zeya sampai akhirnya tubuh mereka menghilang di balik pintu rumah.

Rumah yang tadi ramai perlahan kembali tenang.

Setelah kepergian mereka, Zeya memutuskan kembali ke kamar.

Ia duduk di depan meja belajar kecil dekat jendela. Laptop dan beberapa lembar catatan novelnya masih terbuka seperti sebelumnya.

Zeya membuka dokumen yang belum selesai, menatap layar cukup lama sebelum mulai mengetik.

"Perempuan itu memilih pergi karena terlalu lelah menunggu." monolog Zeya membaca ulang kalimat yang sudah ia tulis.

Diam beberapa detik, menyimak tulisannya, lalu menghapusnya.

Jarinya kembali bergerak. "Laki-laki itu terlambat menyadari." Kalimat itu pun ikut terhapus.

Zeya memijat pelipis pelan.Matanya menatap kosong ke layar.

Tanpa sadar pikirannya terus kembali ke Dewangga dan Cici.

Bagaimana Dewangga hari ini tidak memaksa dirinya untuk didengarkan olehnya.

Bagaimana pria itu rela belajar berkali-kali hanya untuk mengikat rambut anak kecil.

Bagaimana Cici tertawa begitu lepas.

Dan bagaimana Dewangga terlihat benar-benar sedang belajar menjadi ayah tanpa merasa dibebankan.

Zeya langsung menggeleng pelan."Tidak, Zeya fokus."

Ia membuka file lain, mengetik, menghapus, menulis lagi, menghapus lagi.

Sampai hampir satu jam berlalu dan hasilnya hanya satu paragraf yang berhasil ia tulis.

Zeya menjatuhkan punggung ke kursi dan menatap keluar jendela.

Pikirannya kembali ke masa lalu, masa ketika Dewangga masih menjadi tempat pulangnya.

Pria yang di mata orang lain dingin dan sulit ditebak, tapi selalu punya senyum lembut khusus untuk dirinya.

CEO yang terlihat kejam itu akan berubah jadi seseorang yang sabar dan penuh perhatian saat bersamanya. Seseorang yang akan mengusahakan segala hal demi kebahagiaannya.

Dan entah kenapa, hari ini Dewangga terlihat sama persis seperti yang Dewangga yang pertama kali ia kenal, saat bersama Cici.

Zeya buru-buru memukul pelan dahinya sendiri. "Apa sih yang dipikirin."

Ia kembali menatap laptop. Namun sampai sore berganti malam, tidak ada satu kalimat pun yang berhasil selesai.

Menjelang malam, pintu rumah kembali terbuka.

Cici masuk digendong Dewangga. Wajah kecilnya memerah karena terlalu banyak bermain.

Rambut yang tadi dirapikan sudah setengah lepas, topi kelincinya entah sudah bergeser ke mana, bahkan sepatunya dibawa di tangan Dewangga.

Tapi wajahnya sangat bahagia. "Mamaa!"

Cici langsung merentangkan tangan.

Zeya refleks mengambil Cici dari pelukan Dewangga. "Mainnya seru?"

Cici mengangguk dengan semangat."Papa ebat." (Papa hebat).

Dewangga yang berdiri di samping mereka hanya tertawa kecil.

Namun belum lama berada di gendongan Zeya, Cici mulai mengucek matanya.

Kepalanya terangguk kecil menahan kantuk. Dewangga melihat itu lalu mendekat. "Mengantuk?"

Cici diam sebentar lalu membuka kedua tangannya. "Papa."

Dewangga langsung menggendongnya lagi. Tubuh kecil itu langsung bersandar nyaman di bahunya.

Ia berjalan pelan menuju kamar Cici sementara Zeya mengikuti dari belakang.

Dewangga duduk di tepi tempat tidur sambil mengayun pelan tubuh anaknya. Tangannya mengusap rambut Cici dengan hati-hati.

Awalnya masih terlihat canggung, tapi sekarang gerakannya jauh lebih natural dibanding pagi tadi.

Dengan suara kecil ia mulai berbicara karena Cici sudah setengah tertidur.

"Besok kalau papa datang lagi kita bikin rumah balok yang lebih besar ya."

Cici mengangguk kecil. Beberapa menit kemudian napas kecil itu mulai teratur.

Tangannya yang tadi menggenggam baju Dewangga perlahan terlepas.

Dewangga tetap diam beberapa saat, menatap wajah anaknya cukup lama, lalu membenarkan selimut, mengecup dahinya pelan, dan berdiri.

Saat keluar kamar, Zeya masih berdiri di depan pintu.Tatapan mereka sempat bertemu.

Dewangga menutup pintu perlahan. "Tidur."

Zeya mengangguk kecil."Terima kasih."

Dewangga tersenyum tipis. "Saya yang harusnya bilang terima kasih."

Suasana kembali terasa canggung. Dewangga akhirnya mengambil tasnya yang berada didekat laci meja disamping pintu.

"Saya pulang dulu."

Zeya hanya mengangguk. Ia tetap berdiri di tempat dan tidak berniat mengantar keluar.

Dewangga tidak mempermasalahkannya.Ia berjalan pelan menuju pintu depan.

Namun tepat saat pintu dibuka, seseorang berdiri di sana.

Cika.

Masih memakai pakaian kerja dengan tas menggantung di bahunya.

Cika mengangkat satu alis. "Wah."

Dewangga langsung sedikit menunduk.

Cika melirik ke dalam rumah sekilas sebelum kembali menatapnya. "Gimana? Masih hidup habis seharian sama anak kecil?"

Dewangga tertawa kecil. "Capek, tapi menyenangkan."

Cika mengangguk pelan, lalu ekspresinya berubah sedikit lebih serius. "Mas."

Dewangga menoleh.

Cika diam sesaat sebelum akhirnya bicara. "Hari Minggu kosong?"

Dewangga terlihat bingung. "Kayaknya kosong."

Cika mengangguk. "Saya mau ngobrol berdua."

Dewangga sedikit mengernyit. "Berdua? Buat apa?"

Cika melirik ke dalam rumah sebentar, memastikan tidak ada yang mendengar.

Tatapannya kembali ke Dewangga. "Ini soal Zeya."

Ekspresi Dewangga langsung berubah serius.

Cika memasukkan tangan ke saku jaketnya. "Bukan sesuatu yang buruk."

Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.

"Tapi ada beberapa hal yang menurut saya Mas perlu tahu."

Dewangga tidak langsung menjawab. Tatapannya bergeser sesaat ke arah rumah tempat Zeya dan anaknya tinggal.

Rumah yang tadi seharian terasa hangat. Rumah yang sekarang mulai terasa seperti tempat yang ingin terus ia datangi.

"Oke." Ia mengangguk kecil. "Hari Minggu kita bicara."

Cika ikut mengangguk."Oke, nanti tempatnya aku kabarin lagi."

Ia langsung melangkah masuk ke rumah, tidak ingin terlalu lama terlihat berbicara dengan Dewangga.

"Aku masuk duluan." Dewangga hanya mengangguk kecil.

Pintu rumah kembali tertutup. Ia berdiri beberapa detik di halaman dengan pikiran hatinya kini mulai penuh oleh rasa penasaran.

Tentang apa yang ingin disampaikan Cika.

Tentang Zeya.

Dan tentang apakah, setelah hari ini, ia benar-benar masih punya kesempatan.

1
Bagong
KLO nuntut dino kahin SDH pasti bukan wanita baik baik ,,,,gitu aja kok g mikir,,,,,wanita yg mencintai almarhum suaminya akan sulit Nerima kehadiran pria baru ato mungkin TDK akan bisa,,,,,lah ini hitungan hari bulan SDH terobsesi sama pria lain nuntut alasan hutang nyawa bener an dia cinta sama almarhum ato dia diam diam suka sama temen almarhum selama ini benernya,,,,,ato jg jg kecelakaan ini dia yg buat skenarionya supaya dpt menjerat sang teman suami
Bagong
pret,,,,,ntar amanatnya mau bundir za di kawinini
Bagong
bukan g punya kesempatan tp pria yg membuang waktu dan kesempatan demi ngurusin wanita lain,,,,itu namanya apa namanya g cinta
Bagong
Halah laki labil buat apa bertahan disisinya KLO hanya utk menyaksikan sang lelaki yg selalu memprioritaskan wanita lain,,,g ada wanita yg mau oon,,,,seharusnya senang dong bisa bebas jalanin amanat,,,,,amanat yg salah alamat anak kecil aja tahu dasarnya aja laki Maruk merasa dibutuhkan byk wanita,,,,,
falea sezi
😒 tuh liat akibat lu belain janda kegatelan🤣
Mommy tulipp
Smga Mama baik2 saja ya Zea
Mommy tulipp
Kok tega tinggalkan Zeya
falea sezi
🤣🤣 laki bloon
Anonim
semangat author
Pingky-Puzzle
Haii readers, ketemu lagi sama author, gimana ada yang kangen ngak sama author? atau kangen sama Zeya dan Dewangga?, jangan lupa like and comment yahh, supaya author makin semangat updatenya 😍🤏
HjRosdiana Arsyam
Luar biasa
Daulat Pasaribu
alhamdulillah zeyanya uda pergi dari kehidupan dewangga
Daulat Pasaribu
aku bilang mampooss kau dewangga....cowok bodoh nyia nyia kan cewek yg uda setia dan tulus sama mu kau buang
Daulat Pasaribu
ini lah cowok paling bodoh,tolol,paok sedunia....bisa-bisanya lebih memilih nenek lampir dari pada ceweknya sendiri yg uda 4 tahun bersama
Daulat Pasaribu
suka sama persahabatn mereka saling mendukung😍
Daulat Pasaribu
sampai depresi gitu si zeya.memang kelewatan si dewangga
Daulat Pasaribu
loh kok cepat kali hamilnya thor.bukannya mereka baru ya ngelakuiinya
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Pingky-Puzzle
soalnya author rencana mau konsisten nulis, dan namatin cerita ini, tapi agak ragu, menurut kalian gimana?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!