Satu... dua... tiga..."
Gua merem, terus ngebuka mata lagi. Angka yang ada di layar hologram tablet lipat di depan gua masih sama. Gak berubah, gak berkurang nolnya, dan tetep bikin mual.
[Harga Eceran Resmi: 120.000.000 KRW (Termasuk Pajak)]
"Seratus dua puluh juta won..." Gua ngegandeng dagu pakai kedua tangan, natap angka itu kayak lagi natap musuh bebuyutan di kehidupan lalu. "Ini mah bukan sekadar mahal, tapi udah gak ngotak buat kantong orang kayak gua."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.16 sang penuai Nyawa
Malam pertempuran babak 8 besar tiba, dan kegilaan publik udah mencapai puncaknya. Angka penonton di ruang siaran langsung gua bener-bener gak ngotak: **850.000 penonton serentak.**
Bukan cuma netizen biasa, bahkan akun-akun bercentang biru milik analis e-Sports, manajer tim profesional, sampai perwakilan dari asosiasi resmi ikut nimbrung. Mereka semua pengen liat apakah "Mantan Agen Rahasia" level 2 ini bakal tumbang di tangan sang juara bertahan, atau justru bakal ada keajaiban lagi.
*Zzzzzzt!*
**[Selamat Datang di Arena Utama LFG - Babak 8 Besar!]**
**[SwordGod77 (Lv. 2) VS Ghost_Reaper (Lv. 65)]**
**[Peta Pertandingan: Lembah Tulang Tua (Efek Lingkungan: Pemulihan Mana Elemen Kegelapan +50%)]**
Begitu proses sinkronisasi selesai, sensasi dingin dan bau busuk menyengat langsung menusuk indra penciuman virtual gua. Pandangan gua dipenuhin sama pemandangan tebing-tebing batu hitam raksasa yang mengapit sebuah lembah luas. Di sepanjang tanah, berserakan tengkorak dan tulang-belulang raksasa milik monster purba.
Di tengah lembah itu, berdiri Choi Do-hyun—*Ghost_Reaper*.
Sesuai deskripsi Jinho, zirah hitam pekatnya ngeluarin asap tipis warna ungu yang bikin atmosfer sekitar makin mencekam. Di tangan kanannya, dia megang sebilah sabit besar (*scythe*) bermata merah darah yang memancarkan aura haus darah.
"Lu lumayan juga bisa nyampe sini, Anak Baru," Suara Ghost_Reaper bergema, kedengenan berat dan penuh gema magis akibat efek kelas *Necromancer*-nya. "Tapi sayang, langkah lu harus berhenti di sini. Di lembah ini, gua adalah tuhan."
Gua gak megang pedang sama sekali. Tangan kanan gua cuma ngegantung santai di samping badan. Gua natap dia datar dari balik tudung hitam gua.
"Tuhan?" Gua terkekeh sinis, sebuah tawa yang kedengarannya sangat dingin. "Gua udah pernah ngebantai makhluk yang nyebut diri mereka tuhan di kehidupan lalu. Dan percaya deh... mereka semua mati dengan cara yang sama kayak manusia biasa."
"Sombong banget!" Mata merah di sabit Ghost_Reaper langsung menyala terang.
**[Sistem: Pertandingan Dimulai!]**
**[Countdown: 3... 2... 1... FIGHT!]**
*WUSH!*
Ghost_Reaper gak maju. Dia justru nancapin bagian bawah sabit besarnya keras-keras ke tanah berlumpur.
"Bangkitlah, para budak kegelapan! *[Undead Awakening]*!!"
*KRAK! KRAK! KRAK!*
Tanah di seluruh lembah mendadak gemeteran hebat. Dari sela-sela tumpukan tulang tua, ratusan—bukan, ribuan tangan tulang dan cakar monster mulai merayap keluar dari dalam tanah. Dalam hitungan detik, gua udah dikepung sama pasukan *undead* yang jumlahnya mencapai ratusan ekor, mulai dari prajurit tengkorak biasa sampai anjing hutan gaib berukuran raksasa.
> **[Room Chat Live]**
> * **GamerPasrah:** ANJIRRRR GILA!!! Itu pasukannya banyak banget woy! Gak ngotak ini mah!
> * **Analis_Pro:** Ini dia alasan kenapa Ghost_Reaper gak terkalahkan di *map* kuburan. Jumlah pasukannya terlalu masif buat dihadapi satu orang, apalagi akun level 2 yang gak punya skill AOE (Area of Effect).
> * **SultanSawer:** Wah, tamat nih riwayat abang gua. Mau ganti pedang seratus biji juga bakal capek duluan sebelum nyentuh bosnya.
>
"Gimana, Tuan Agen Rahasia?" Ghost_Reaper tertawa puas dari balik barisan pasukannya. "Mau coba nembus pasukan gua? Silakan maju kalau lu emang bosan hidup!"
Gua natap ribuan mayat hidup yang mulai bergerak merayap ngerubungin gua. Bau kematian ini, pemandangan kepungan ini... bener-bener mirip kayak hari terakhir gua di puncak Gunung Tengkorak sebelum gua bereinkarnasi.
Saat itu, gua mati karena gua bertarung sendirian tanpa henti sampai kehabisan tenaga murni.
Tapi sekarang? Ini adalah dunia game. Dunia yang diatur oleh logika sistem digital yang bisa dimanipulasi kalau lu tahu cara kerjanya.
Gua pelan-pelan ngebuka *inventory* gua. Gua gak ngambil pedang besi baru, melainkan gua ngambil sebilah **[Pedang Besi Karatan]** sisa babak kualifikasi pertama yang *durability*-nya tinggal 1 poin lagi. Pedang itu keliatan rapuh banget, seolah sekali sentuh bakal langsung hancur.
"Lu mau ngelawan pasukan gua pake sampah itu?!" Ghost_Reaper terbahak-bahak.
Gua gak gubris. Gua pejamin mata, menarik napas dalem-dalem, lalu membiarkan jiwa *Sword God* gua menyatu sepenuhnya dengan kode-kode virtual di sekitar gua.
Gua gak butuh membunuh ribuan pasukan ini satu per satu. Di dalam ilmu pedang tertinggi gua, ada satu teknik yang gak butuh tenaga besar, melainkan memanfaatkan energi dari musuh itu sendiri.
Gua ngebuka mata gua. Kali ini, sepasang mata gua berkilat warna emas terang—sebuah efek visual rahasia sistem yang terpicu ketika konsentrasi saraf pemain menyentuh angka mutlak 100%.
"Aliran Pedang Kelana... Bentuk Terlarang," bisik gua, suara gua terdengar sangat tenang di tengah deru ribuan monster.
**[Ashen Dance - Tarian Abu]**
*Sret!*
Gua melangkah maju, langsung menerjang kawanan anjing hutan gaib yang berada di barisan paling depan. Serangan pertama mereka berupa gigihan maut langsung gua sambut... bukan dengan tebasan, melainkan dengan sentuhan super tipis menggunakan ujung pedang karatan gua.
*Cring!*
Pedang karatan gua yang *durability*-nya tinggal 1 poin itu langsung hancur berkeping-keping di benturan pertama.
Tapi di fraksi milidetik sebelum pedang itu lenyap, gua gunain partikel serpihan besi hancurnya buat mengalihkan jalur serangan si monster, membelokkannya tepat ke arah leher prajurit tengkorak di sebelahnya!
*PRAK!*
Satu monster mati karena gigitan temennya sendiri. Tapi itu baru awal.
Gua langsung gerakin tangan gua ke *quick-slot*, narik pedang karatan cadangan kedua yang juga punya *durability* 1 poin. Gua maju lagi, sengaja nabrakin pedang itu ke cakar monster lain, bikin pedang itu hancur, lalu manfaatin serpihannya buat memantulkan serangan musuh ke kelompok di belakangnya.
*KLANG! PRAK! BUM!*
Gua mulai nari di tengah ribuan pasukan *undead*. Gerakan gua secepat bayangan, meliuk-liuk di antara sela-sela cakar dan pedang musuh. Setiap kali satu pedang sampah gua hancur, serpihan ledakannya justru bertindak kayak pecahan granat tajam yang melempar dan mengadu domba seluruh pasukan Ghost_Reaper.
Gua gak ngeluarin tenaga stat gua sama sekali. Gua cuma pinjem tenaga dari pukulan monster A buat ngehancurin monster B, lalu gunain sisa momentumnya buat ngebantai monster C.
Ini bukan lagi pertarungan. Ini adalah reaksi berantai kehancuran yang sangat artistik.
Dalam waktu kurang dari satu menit, ribuan pasukan *undead* yang tadinya mau ngepung gua justru saling bantai dan hancur berantakan satu sama lain gara-gara rekayasa jalur serangan yang gua buat. Lembah Tulang Tua mendadak dipenuhin sama ledakan partikel cahaya abu-abu dari monster yang tewas oleh temennya sendiri.
"G-GAK MUNGKIN!!!" Ghost_Reaper menjerit histeris. Senyum puas di mukanya ilang total, diganti sama ekspresi horor yang sangat luar biasa pas ngeliat pasukannya habis terpotong-potong tanpa sisa oleh seorang cowok level 2 yang cuma modal pedang rongsokan.
Gua berhenti di tengah-tengah lautan debu digital, memegang pedang karatan gua yang ke-20. Tatapan mata emas gua langsung mengunci lurus ke arah Ghost_Reaper yang sekarang berdiri sendirian tanpa kawalan.
"Pasukan lu udah habis," ucap gua dingin, melangkah maju mendekatinya bagai sang penuai nyawa yang sesungguhnya. "Sekarang... giliran nyawa lu yang gua tuang."