para readers tolong bijak ya dalam pemilih bacaan
wanita mana yang tidak merasa sedih ketika ditinggalkan suaminya, apalagi di hari pernikahan mereka setelah ijab kabul dan sumpah - sumpah pernikahan itu telah terucap
"Jika bagimu ini adalah candaan
Jelaskan padaku di mana letak rasa lucu itu...?? Biar aku bisa membantumu menertawai hidupku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andee Rosalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Dari arah dapur aku melihat semua itu, belum lama aku berada di dapur kulihat dedi mendekat tapi bukannya mendatanggiku di dapur, dia malah bergabung dengan kedua orangtua dan rianti di ruang keluarga.
Lihatlah mereka sudah layaknya keluarga yang sangat bahagia, denganku, boro-boro tertawa bersama, saling bertatapan saja aku dan tuan bram layaknya samurai yang siap berperang dengan katana masing-masing.
Itu antara aku dan tuan bram, sedangkan dengan rianti malah tuan bram sangat hangat. sungguh kebaikan tuan bram selain ke istrinya membuatku sedikit tidak menyangka jika tua Bangka itu memiliki sisi lembut.
Mereka masih bercengkrama panjang hingga tidak terasa waktu makan malam telah tiba, dan rianti masih berada di ruang keluarga.
" Tinggallah lebih lama lagi rianti, makan malamlah bersama kami" ucap mertuaku
dan tentu saja wanita itu menyetujuinya.
Setelah makan malam, aku memilih kembali dan memasuki kamar. Berada di antara mereka yang sepertinya sudah sangat akrab membuatku tidak nyaman.
Sebelum aku pergi kulihat rianti dedi dan orangtuanya kembali ke ruang keluarga. Aku tidak tahu apa yang terjadi kini di antara mereka yang jelas dedi baru memasuki kamar yang kutempati tepat jam dua belas malam.
Saat itu aku baru saja akan tertidur tapi ku lihat dedi memperhatikan aku intens seolah ingin mengatakan sesuatu tapi menghawatirkan banyak hal sehingga memilih diam saja dan memasuki kamar mandi.
Aku tidak tahu apa yang terjadi pada lelaki itu yang jelas ketika aku baru bangun sudah tidak kudapati dia di kamar ini, orangtua dedi juga seketika semakin mendiami aku entah kenapa?.
Tidak ingin menggambil pusing menggenai mereka, aku sudah mengendarai mobil menuju kantor. Suasana hatiku sedang tidak baik kali ini, apa lagi kala kami rapat di mulai.
Dedi benar-benar menggamuki semua orang terkecuali aku. Dedi banyak menumpahkan keritikan, lontaran kasar, bahkan dedi tidak segan-segan membakar laporan yang Lisa serahkan di hadapan kami semua.
Suasana kian mencekam saat dedi menelpon seseorang di seberang sana. Awalnya kami tidak tahu siapa orang itu tapi saat seseorang masuk dengan nafas terputus-putus datang dan membawa beberapa laporan serta sebuah buku karyawan, maka semakin pucatlah wajah mereka.
Benar yang ku duga, angin badai memang tak menunjukkan datangnya tapi dia pergi dengan segala kekacauan. Sekarang di hadapan kami, seseorang dari pihak akuntan di sidang sedemikan oleh dedi, dedi juga melemparkan banyak kalimat penggecoh yang membuat orang itu semakin binggung menjawabnya.
Cek-percek ternyata wanita yang sedang di cerca dedi ini ada hubungannya dengan data kantor yang tidak palit. Dan tahu itu apa? Itu menggenai dana yang seharusnya di kirimkan ke rekening pribadi yang selalu dedi amanahkan di transferkan untukku sebagai uang nafkah.
Wanita itu tahu jika aku tidak pernah menyentuh uang itu sehingga menggurangi dominalnya lalu dengan cara curang membaginya ke rekening milik kekasihnya yang bekerja di perusahaan angkasa compeny.
Gila? Kurasa iya. Tidak tanggung-tanggung dana yang wanita itu koruspi hampir mencapai 2 milyar. Dana itu sudah di korupsinya kurang lebih 7 bulan ini yang lalu, dia berhenti kala tau ahu memasuki kantor sebegai sekertaris dedi.
Bukannya menggembalikan, dia malah bersikap lugu dan tetap menghabiskan uang itu bersama sang kekasih. Beras sudah menjadi bubur mau tidak mau, wanita itu harus di jemput polisi di hadapan kami semua.
Sungguh berita itu sangat menggemparkan penghuni kantor, apa lagi lisa. Wanita yang di tangkap itu adalah mantan sekertaris dedy, awalnya si wanita bernama Melisa itu akan di pecat namun di selamatkan oleh salah satu pemegang saham
jabatan melisa yang awalnya sekertaris dedi, seketika berubah jadi manager akuntan dan itu petanda atasan langsung dari Lisa di akuntan. lisa juga sempat di curigai menjadi parnert wanita itu tapi ternyata lisa bersih mengenai kasus korup itu.
Selain karena kecantikannya, wanita itu di kenal sangat jujur, berkompeten, baik pada semua orang bahkan tidak segan membantu orang lain menggenai ke uangan, dan lihatlah semua kebaikannya hancur karena kebusukannya terungkap.
Menggenai pemecatan sekaligus penangkapan wanita itu saja sudah membuatku tidak habis pikir, nyatanya semuanya tidak sampai di situ karena siang ini, rianti tanpa aling-aling sudah berdiri di depan ruangan dedi.
“Dedi” panggil Rianti dengan nada manja.
“…” dedi tidak menjawab, dia memilih membuka pintu lalu masuk begitu saja ke dalam ruangannya.
Sepasang manusia itu sudah memasuki ruangan, aku memilih kembali ke ruangan kerjaku lalu menggeluti pekerjaanku yang menumpuk.
Tidak berlangsung lama, seorang OB datang membawa dua cangkir the beserta cemilan untuk dedi dan tamunya. Aku tidak tahu apa yang terjadi ketika dedi dan rianti di dalam ruangan yang jelas, Rianti keluar dari ruangan itu dengan penampilan agak berbeda dari sebelumya begitu pun dengan dedi.
Sebenarnya aku ingin bertanya tapi aku memilih diam saja dan berperang dengan isi kepalaku. Seperginya Rianti dari ruangan dedi, dedi tidak kunjung menampakkan dirinya di hadapanku.
Hari ini, pekerjaan dedi lebih banyak di ruangannya, dia tidak kunjung keluar padahal sudah waktunya untuk makan siang. Dedi seakan menggurung dirinya di dalam ruangannya itu, bahkan saat waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat pun, tanda-tanda dia mengakhiri pekerjaan lalu pulang bersamaku tidak nampak.
Hari pertama ketika dedi tidak pulang ke rumah orangtuanya aku masih santai, hari kedua masih biasa-biasa saja karena aku masih bisa melihatnya di kantor tapi dimulai hari ketiga, dedi tidak pulang dan tidak menampakkan diri di kantor, maka saat itu aku memilih kabur dari rumah besar keluarga Brawijaya.
Aku memilih kembali ke rumah kontrakanku, tidak seorang pun yang mencegat baik itu asisten rumah tangga, kedua orangtua mau pun orangtua dedi.
Mereka tahu aku pergi tapi tidak pernah membahas menggenai alasanku pergi, seolah sedari dulu itu yang mereka inginkan dariku. Aku seolah di biarkan terombang ambing begitu saja hingga saat ini.
Seharusnya karena aku sekertarisnya, aku jelas tahu kemana dia, dan ke sibukan apa yang dia lakukan nyatanya tidak sama sekali. Ketika segala tugas dedi di ambil alih oleh tuan bram dan sekertarisnya dari kantor cabang, aku juga tidak tahu dedi dimana.
Lagi-lagi dedi pergi begitu saja dariku tanpa penjelasan. Tidak seorang pun yang memberi tahu apa yang sebenarnya lelaki itu kerjakan dan kemana dia sekarang. Nyonya cheristi bahkan seolah menghindariku, begitu pun tuan bram.
di satu kesempatan aku bertemu dengannya tapi dia malah beringkah biasa saja seolah dia tidak melakukan kesalahan padaku. dengan santainya dia berkata
"apa jadwalku hari ini?" ujarnya lalu menikmati kopi buatan mbak Hani.
"tidak banyak pak, selain dokumen yang harus anda tanda tangani, nona rianti menelpon untuk meminta anda menemaninya bertemu wartawan" ujarku mencoba biasa saja tapi sejujurnya sukmaku terasa di sayat-sayat dengan pisau tumpul.
"..." dedi diam tapu tatapannya kian intens padaku.
"ada lagi pak?" kataku mencoba mengakhiri pembicaraan kami dan kabur dari hadapannya.
"kau baik-baik saja?"
"..." kini aku yang memilih diam.
"tunggu, tunggu aku punya waktu luang dan aku akan menjadi milikmu" katanya memelukku sejenak bahkan sebuah kecupan di kening tidak lupa dedi lakukan tapi setelahnya dia pergi berlalu di hadapanku dengan layar HP yang menunjukkan panggilan dari Rianti.
ko aku sedikit bingung ya, sebenarnya yg ngomong ini siapa sih?? dewi yg menceritakan kisah nya apa orang lain yg menceritakan kisah dewi
hmmmm 🤔🤔??