Bagaimana rasanya jika di hari pernikahan, ternyata pria yang kamu nikahi bukanlah pria yang kamu cintai. Hal ini terjadi pada Rania, gadis malang yang ternyata menikahi Arman, adik dari Adam pria yang dia cintai. Dan kemalangan tak berhenti disana, bahkan setelah pernikahan ternyata Arman memilih pergi meninggalkannya untuk pergi bersama wanita yang dia cintai. Namun na'as, pesawat yang ditumpangi mereka berdua mengalami kecelakaan dan seluruh penumpang dikabarkan meninggal dunia.
Rasa kecewa Rania seketika berubah menjadi duka. Status seorang istri berubah menjadi janda hanya dalam waktu sehari. Namun, setelah semua kejadian itu tidak mudah bagi Rania untuk meninggalkan rumah keluarga Pratama. Karena ibu mertuanya ingin Rania melahirkan keturunan untuk keluarga mereka.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Dan bagaimana kehidupan Rania di rumah keluarga Pratama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Keesokan harinya, Adam berangkat pagi-pagi sekali ke Kantor. Karena dia harus menyelesaikan semua pekerjaan lebih awal, agar sore harinya dia bisa pergi ke penjara tempat Arman tinggal untuk sementara.
Lampu neon yang berkedip di ruang kunjungan Lembaga Pemasyarakatan menciptakan suasana yang mencekam. Adam duduk dengan tenang, punggungnya tegak, dan wajahnya sedingin es. Tak lama Arman muncul dengan seragam tahanan berwarna oranye. Wajah adiknya itu tampak kusam, rambutnya berantakan, dan matanya memancarkan sisa-sian kemarahan yang belum padam meski sudah beberapa bulan mendekam di balik jeruji besi.
"Akhirnya kau datang, Kakak," sindir Arman, suaranya parau karena jarang bicara. "Di mana anakku? Kenapa kau tidak membawanya? Aku punya hak untuk melihat darah dagingku sendiri!"
Adam tidak langsung menjawab. Ia menatap Arman dengan pandangan yang tidak lagi berisi amarah, melainkan rasa kasihan yang mendalam. Ia meletakkan tangannya di atas meja, tidak gentar sedikit pun dengan gertakan Arman.
"Bagas aman bersamaku, Arman. Dia sedang sekolah, belajar menjadi manusia yang lebih baik daripada ayahnya," ucap Adam tenang namun tajam.
Arman memukul meja di depannya dengan tangan terborgol. "Brengsek! Kau mencuri istriku, kau mencuri hartaku, dan sekarang kau ingin mencuci otak anakku agar membenciku? Kau benar-benar iblis berbaju malaikat!"
Adam mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya mengunci tatapan Arman. "Aku datang ke sini bukan untuk berdebat soal masa lalu yang kau hancurkan sendiri. Aku datang untuk memberimu peringatan terakhir, Jangan pernah lagi mengirim surat atau mencoba menghubungi Bagas dengan pesan-pesan beracunmu."
Arman tertawa sumbang. "Dia anakku! Aku punya hak untuk memberitahunya siapa dia sebenarnya!"
"Siapa dia sebenarnya?" potong Adam. "Anak dari seorang pria yang tega meninggalkannya demi keserakahan? Anak dari seorang ayah yang menculik saudaranya sendiri demi uang? Itukah yang ingin kau tanamkan di kepala bocah berusia lima tahun itu?"
Adam menarik napas panjang, suaranya merendah namun penuh penekanan. "Kau tahu apa yang terjadi saat Bagas masuk sekolah pertama kali? Dia diejek, dihina, dan dikucilkan karena perbuatanmu dan Jenny. Teman-temannya memanggilnya anak penjahat. Dia menangis ketakutan, Arman. Dia merasa tidak punya tempat di dunia ini karena bayang-bayang hitam yang kau tinggalkan."
Mendengar itu, rahang Arman mengeras, namun ia tetap diam.
"Rania dan aku, serta Dava dan Diva, kami bekerja keras siang dan malam untuk memulihkan mentalnya," lanjut Adam. "Rania berdiri paling depan di sekolah, menantang semua orang tua murid yang menghina Bagas. Dia mempertaruhkan reputasinya untuk memastikan Bagas merasa memiliki ibu yang mencintainya tanpa syarat. Kami sedang membentuk Bagas menjadi anak yang mandiri, jujur, dan kuat. Kami ingin dia menjadi pria yang tahu harga diri, bukan pria egois yang selalu merasa dunia berutang padanya seperti didikanmu dulu."
"Kau hanya ingin dia menjadi budakmu, seperti kau menjadikan Rania budakmu!" teriak Arman, suaranya mulai bergetar.
"Rania adalah istriku, dan dia adalah wanita paling terhormat di rumah itu," balas Adam telak. "Dan Bagas... dia mencintaiku. Dia memanggilku Papa bukan karena aku memaksanya, tapi karena aku adalah pria yang ada di sana saat dia butuh pelukan. Aku adalah pria yang mengobati luka di lututnya saat dia jatuh, sementara kau sibuk merencanakan penculikan."
Adam berdiri, merapikan jasnya yang mahal. Kehadirannya di ruang kumuh itu tampak sangat kontras. "Berubahlah, Arman. Gunakan waktumu di sini untuk merenung. Hapus sikap burukmu, hapus rasa irimu yang tidak masuk akal itu. Jika kau benar-benar mencintai Bagas, maka biarkan dia tumbuh dalam kedamaian. Biarkan dia melihat dunia yang terang, bukan kegelapan yang kau ciptakan."
"Kalau aku keluar nanti..." ancam Arman lemah.
"Jika kau keluar nanti dan kau masih menjadi pria yang sama, aku tidak akan segan-segan menjauhkanmu secara hukum selamanya," sahut Adam dingin. "Bagas aman bersamaku. Dia punya rumah, dia punya pendidikan terbaik, dan dia punya saudara-saudara yang siap pasang badan untuknya. Jangan ganggu perkembangannya. Jangan buat dia merasa khawatir lagi. Biarkan dia menjadi keturunan 'Pratama' yang sesungguhnya, bukan 'Pratama' yang kau nodai dengan kriminalitas."
Adam berbalik untuk pergi, namun ia berhenti sejenak sebelum pintu terbuka. "Satu hal lagi. Bagas memenangkan lomba mewarnai minggu lalu. Dia sangat bahagia. Dia menitipkan pesan lewat doanya, dia ingin ayahnya menjadi orang baik. Pikirkan itu, jika kau masih punya nurani."
Adam melangkah keluar, meninggalkan Arman yang terdiam membatu di kursinya. Air mata akhirnya menetes di pipi Arman, sebuah penyesalan yang terlambat namun mungkin menjadi awal dari perubahan.
Di luar gedung penjara, Adam disambut oleh hembusan angin sore yang segar. Ia masuk ke dalam mobilnya dan mendapati ponselnya bergetar. Sebuah foto dikirim oleh Rania: foto Bagas, Dava, dan Diva yang sedang tertawa bersama sambil menikmati es krim di teras rumah.
Adam tersenyum tipis. Ia segera membalas pesan itu: "Aku segera pulang. Siapkan makan malam untuk kita berlima."
Setibanya di rumah, Rania sudah menunggu di depan pintu. Ia melihat buku jari Adam yang sedikit memerah karena amarah yang ditahan, namun ia juga melihat ketenangan di mata suaminya.
"Bagaimana?" tanya Rania cemas.
Adam merangkul bahu Rania dan menariknya masuk ke dalam kehangatan rumah mereka. "Dia tidak akan mengganggu lagi. Aku sudah menjelaskan posisinya. Sekarang, prioritas kita adalah Bagas. Aku ingin dia tumbuh dengan percaya diri bahwa dia adalah putra kita."
Malam itu, meja makan kediaman Pratama dipenuhi dengan tawa. Bu Sofia duduk di ujung meja, memperhatikan ketiga cucunya yang berebut bercerita tentang kejadian di sekolah. Bagas tampak sangat bersemangat, ia tidak lagi tampak murung atau merasa terasing.
Rania memandang Adam, dan mereka saling melempar senyum penuh arti. Mereka tahu, perjalanan membesarkan anak-anak ini tidak akan selalu mudah, apalagi dengan masa lalu yang begitu kompleks. Namun, selama mereka berdiri bersama, tidak ada rahasia atau ancaman yang bisa meruntuhkan benteng kasih sayang yang telah mereka bangun.
"Papa, nanti ajari aku main catur ya, seperti kak Dava!" seru Bagas sambil menarik-narik lengan kemeja Adam.
Adam tertawa, mengacak rambut Bagas dengan sayang. "Tentu, Jagoan. Tapi kamu harus janji, mainnya harus jujur, ya?"
"Janji, Papa!" sahut Bagas mantap.
Di bawah naungan atap kediaman Pratama, sebuah takdir baru sedang ditulis. Takdir di mana seorang anak yang nyaris hancur karena kesalahan orang tuanya, menemukan kembali jati dirinya melalui cinta keluarga yang baru. Rania menatap ketiga anaknya dengan syukur, menyadari bahwa inilah arti keluarga yang sesungguhnya, bukan sekadar hubungan darah, melainkan ikatan jiwa yang saling menyembuhkan.