NovelToon NovelToon
Jatuh Dan Bangkit Kembali

Jatuh Dan Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Balas Dendam / Showbiz
Popularitas:858
Nilai: 5
Nama Author: Arssya Assyi

Pernikahan lima tahun yang sia-sia, Liana Varella adalah seorang anak yang menjadi pembayaran utang ayahnya. Diusianya yang menginjak sembilan belas tahun, seharusnya dia melanjutkan kuliahnya, namun kini dia terikat oleh pernikahan yang hancur.

Suaminya, Alistair Sterling yang menjanjikan cinta hingga mati. Kini membawa seorang wanita lain dari keluarga konglomerat, hanya dalam waktu tiga tahun pernikahan. Dengan mudahnya dia membawa wanita lain ke rumah tangga mereka.

Hanya karena satu alasan, Liana dikira "Mandul" oleh keluarga Sterling hingga dihina, dan di abaikan keluarga besar itu. Di ambang ujung jurang, seseorang muncul dihidup Liana, dan berkata.

"Mengapa Tidak Bercerai?"

Liana tertegun, lalu berpikir keras hingga akhirnya dia sadar. Selama ini untuk apa dia bertahan jika suaminya menganggap dia tidak ada?

Penasaran? Ayo baca selengkapnya! Bahasa campuran, baku dan non baku....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arssya Assyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

C025: Akhirnya Setelah Sekian Lama

...Selamat Baca...

Segala persiapan berlangsung cepat namun tenang. Begitu percakapan telepon berakhir, mereka langsung merapikan kembali barang bawaan yang sempat dikeluarkan di kamar hotel; pakaian dilipat rapi,

Peralatan disusun kembali ke dalam tas, seolah tak ingin membuang waktu sedikit pun. Tak lama kemudian,

Mereka sudah selesai melakukan penutupan akomodasi dan melangkah keluar menuju kendaraan yang menunggu di halaman depan.

Dua buah mobil van yang disewa khusus telah siap dengan mesin menyala lembut. Di dalam van pertama duduk kelompok inti:

Di kursi pengemudi adalah pengawal yang sekaligus bertindak sebagai sopir, di sebelahnya duduk Leo yang sudah menyiapkan kameranya.

Di bagian belakang, duduk berjejer Alexander, Liana, Viviane, serta asisten pribadi Liana yang selalu sigap.

Sementara itu, anggota tim harian lainnya — manajer, fotografer, dan Ryan — menempati van kedua yang berjalan persis di belakang mereka, menjaga jarak aman namun tetap beriringan.

Di dalam kabin yang nyaman namun bergetar halus mengikuti putaran roda, Liana terus mengusap sudut matanya yang masih terasa lembap.

Ia berusaha menenangkan diri agar air matanya tak kembali menetes, sementara asistennya duduk di sampingnya, perlahan dan hati‑hati membenarkan kembali tata rias yang sedikit berantakan,

Menyisir rambutnya agar kembali rapi dan indah seperti sedia kala. Alexander duduk di sebelah kiri Liana, tangannya diam‑diam menggenggam tangan gadis itu erat, memberikan kekuatan yang tak perlu diucapkan lewat kata‑kata.

Di sisi lain, Viviane duduk tenang, memandang pemandangan yang berganti, sesekali tersenyum lembut melihat keakraban mereka.

Suasana di dalam mobil perlahan menjadi lebih santai seiring berjalannya waktu. Leo yang sesekali memutar kamera ke arah penumpang lain, akhirnya bersuara dengan nada ringan dan gembira.

“Kalau boleh saya berharap…” ucapnya pelan namun terdengar jelas,

“Nanti setelah semuanya tenang dan akrab, bagaimana kalau kita adakan semacam perayaan kecil? Liburan keluarga yang lengkap, lengkap dengan api unggun atau pesta panggang‑membakar di halaman rumah?"

"Sepertinya akan sangat indah, apalagi ini pertama kalinya Nona berkumpul kembali dengan keluarga kandungnya.”

Liana yang tadinya masih tenggelam dalam perasaan campur aduk, perlahan mengangkat wajahnya.

Bayangan kesedihan yang semula menyelimuti matanya perlahan memudar, berganti dengan cahaya harapan dan senyum lembut.

“Ide yang sangat indah, Leo,” jawabnya pelan namun gembira.

“Aku juga berpikir begitu. Apalagi tempat yang akan kita tuju nanti… Ayah bilang itu kediaman tua yang sudah ada sejak zaman leluhur kita, berabad‑abad lamanya."

"Halaman depannya sangat luas, terbuka, dikelilingi pepohonan tua yang rindang. Pasti sangat cocok untuk berkumpul, bercakap‑cakap, dan menikmati udara segar Virlan.”

Viviane mengangguk setuju, Alexander pun tersenyum mendukung rencana sederhana namun penuh makna itu.

Sejak saat itu, perjalanan tiga jam yang terasa panjang menjadi terasa lebih singkat, dipenuhi obrolan ringan dan bayangan indah tentang masa depan yang damai.

***

Ketika matahari mulai condong ke barat, menyebarkan cahaya keemasan lembut ke seluruh lembah, kendaraan mereka akhirnya melambat.

Di ujung jalan aspal yang mulus namun berkelok, terlihatlah gerbang besar yang kokoh namun sederhana, menandai masuknya ke kawasan kediaman tua itu.

Di sana, berdiri seorang pemuda tampak menunggu di dekat gerbang. Ia tampak sibuk sedikit, seolah sedang memeriksa atau mencari sesuatu di sekitarnya.

Liana tidak tahu jika itu adalah ayahnya, ayahnya yang dulu terakhir ia lihat terlihat tua, kini menjadi sosok awet muda seperti pemuda usia pertengahan 20an.

Bahkan Liana sendiri, tidak mengenali ayahnya yang sangat berubah drastis, hanya dalam lima tahun terakhir.

Penampilan dan sikapnya begitu muda, segar, dan tegap — jauh berbeda dari bayangan Liana yang teringat dari masa lalu maupun sekilas gambar di layar telepon.

Ketika mobil berhenti tepat di depan gerbang, Liana yang duduk di sisi kanan, mendekatkan wajahnya sedikit ke kaca,

Berniat bertanya siapa pemuda itu, karena ia belum mengenali siapa‑siapa di sana.

Namun sebelum suaranya keluar, pemuda itu mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah jendela tempat Liana berada,

Lalu dengan langkah lebar namun penuh perasaan mendekat. Saat pintu mobil terbuka sedikit, suara lembut namun bergetar penuh kerinduan terdengar jelas:

“Anakku… Liana…”

Hati Liana seketika bergetar hebat. Seketika semua kepingan ingatan tersusun kembali — itu adalah suara ayahnya! Betapa berubahnya penampilan Gerald,

Menjadi lebih muda, lebih tegap, dan lebih bersinar dibandingkan kenangan terakhirnya.

Tanpa pikir panjang lagi, Liana melompat turun dari kendaraan, berlari sekuat tenaga menuju pelukan yang terbuka lebar untuknya.

Leo segera mengangkat kameranya, mengikuti setiap gerakan itu dengan hati‑hati namun penuh perasaan, merekam momen yang terasa begitu suci.

Begitu tubuh mereka bertemu, Gerald dengan kekuatan yang tak disangka‑sangka mengangkat tubuh Liana tinggi‑tinggi ke udara, memeluknya erat seolah takut putrinya akan hilang kembali, persis seperti saat Liana masih kecil.

Liana melingkarkan lengannya erat di leher ayahnya, menangis bahagia di sela‑sela tawa lega.

“Ini… ini adalah pemandangan terindah yang pernah kurekam,” bisik Leo pelan pada dirinya sendiri, sementara fotografer yang turun bersama‑sama segera mengambil posisi,

Menjepretkan gambar dari berbagai sudut secara cepat namun terukur, menangkap setiap kilau air mata dan setiap lengkungan senyum yang tulus, menghasilkan bidikan yang indah dan hidup secara alami.

Setelah momen yang tak terlukiskan itu berlalu sedikit demi sedikit, mereka pun kembali masuk ke dalam kendaraan untuk menempuh jarak pendek menuju halaman utama yang sangat luas di belakang gerbang.

Di sana, mereka turun sepenuhnya, berjalan perlahan menyusuri jalan setapak berbatu yang dikelilingi taman dan rerumputan hijau, menuju beranda depan bangunan tua yang kokoh namun memancarkan kehangatan sejarah.

Gerald berjalan di samping Liana, sesekali menepuk punggung tangan putrinya yang tak lepas dari genggamannya, sementara Leo terus berjalan agak ke samping, mengabadikan setiap detik kebersamaan itu.

Begitu masuk ke ruang tengah yang luas dan berangin sejuk, meja makan panjang sudah tersusun rapi dengan hidangan‑hidangan khas Virlan yang harum dan menggugah selera.

Persiapan yang dilakukan Gerald dengan penuh kasih sayang sejak ia tahu kedatangan mereka. Gerald tidak merasa perlu menutupi wajahnya sedikit pun;

Ia sama sekali tidak dikenal publik, belum pernah tampil di media mana pun, sehingga ia bebas tersenyum lebar, berbicara, dan tertawa tanpa hambatan, duduk di kepala meja bersama tamu‑tamunya yang berharga.

Makan malam itu berlangsung penuh percakapan hangat, tawa, dan rasa syukur yang meluap. Setelahnya,

Para pelayan yang bekerja di sana dengan sigap dan sopan mulai merapikan barang‑barang bawaan mereka ke ruang‑ruang yang disiapkan,

Sekaligus merapikan pakaian yang sedikit berkerut akibat perjalanan panjang.

Sementara itu, di sudut ruangan yang agak terpisah namun tetap nyaman, Leo, Ryan, dan fotografer berkumpul meninjau hasil rekaman dan foto yang baru saja didapatkan.

Leo menampilkan cuplikan adegan pertemuan itu di layar kecil perangkatnya, matanya berbinar puas.

“Lihatlah ini… momen yang tak ternilai,” ucapnya pada Ryan.

“Pencahayaan alami, gerakan, emosi… semuanya pas.”

Ryan mengangguk antusias, pikirannya sudah berputar cepat menyusun rencana penyuntingan. “Aku sudah punya banyak gagasan, Leo. Kita bisa menyusunnya perlahan, membiarkan perasaan itu mengalir,"

"Menonjolkan setiap kilau matanya dan kehangatan pelukan itu. Ini akan menjadi bagian yang paling indah dari seluruh rangkaian perjalanan ini.”

Fotografer pun ikut menambahkan catatan kecil tentang hasil jepretannya, membicarakan komposisi dan nuansa warna yang terasa begitu hidup.

Mereka bertiga tenggelam dalam diskusi yang seru namun penuh kekaguman, memastikan bahwa keindahan hari ini akan tersimpan selamanya dalam bentuk rekaman yang indah dan bermakna.

Di ruangan lain, obrolan hangat antara keluarga dan sahabat baru masih berlanjut, melambat seiring malam yang semakin larut namun tak pernah terasa dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!