Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mysterious Bite (B)
Raphael tersenyum tipis, merasa menang atas ketidaksadaran wanita di hadapannya. Pertarungan ego di antara mereka selalu melelahkan saat siang hari, dan di malam hari seperti ini, Raphael merasa memenangkan seluruh permainan tanpa perlu berdebat.
Pandangan Raphael turun, menatap simpul tali piyama satin yang bertengger di bahu Emily. Tangannya sempat bergerak menggantung di udara, ditarik oleh rasa penasaran dan ego pria yang ingin mengklaim apa yang dianggapnya milik dirinya.
Namun, akal sehatnya yang tersisa segera mengambil alih. Ia tahu, melangkah terlalu jauh saat wanita ini tidak mampu melawan hanya akan menghancurkan kepuasan dari penyerahan yang sesungguhnya ia inginkan dari seorang Emily Cooper. Ia tidak menginginkan tubuh yang pasif, ia menginginkan Emily menyerah kalah dalam keadaan sadar sepenuhnya.
Sambil menahan gejolak panas yang mengaduk-aduk isi dadanya, Raphael menarik kembali tangannya. Ia mengembuskan napas berat, mencoba menjinakkan debaran jantungnya yang kian berpacu liar di dalam keheningan kamar. Pria itu memperbaiki posisi selimut Emily, menariknya sedikit lebih tinggi hingga menutupi bahu wanita itu dari terpaan udara dingin pendingin ruangan.
Ia berdiri kembali, menatap Emily untuk terakhir kalinya malam itu dengan sorot mata yang gelap dan penuh tekad yang tak tergoyahkan. Keinginan untuk memiliki wanita ini secara utuh justru semakin berkobar di dalam dirinya, bukan karena paksaan di tengah malam, melainkan melalui permainan takdir yang sedang ia susun dengan rapi. Dengan langkah yang sama senyapnya, Raphael berbalik dan berjalan meninggalkan kamar, mengunci kembali pintu kayu itu dan membiarkan Emily tetap terlelap dalam ketidaktahuannya hingga fajar menyingsing.
...•••...
Begitu pintu mobil terbuka, Emily melangkah keluar dengan percaya sekaligus cantik seksi di saat bersamaan, yang sudah menjadi ciri khasnya. Ia melepas kacamata hitamnya, membiarkan sinar matahari pagi Manhattan menyinari wajahnya yang elok sekaligus memesona. Blazer hitam yang dipadu dengan celana bahan ramping dan hak tinggi berwarna nude kian mempertegas auranya sebagai seorang eksekutif muda yang berwibawa.
Sekretaris pribadinya sudah menunggu di pintu masuk gedung dengan iPad yang tergenggam di dada. "Good morning, Nona Cooper," ucapnya sembari menundukkan kepala sedikit, pun sigap mengikuti langkah sang CEO.
Emily membalas sapaan kecil dari beberapa staf yang berbaris rapi menyambut kedatangannya. Senyum yang ia tunjukkan hanya sekilas, cukup untuk menjaga citra ramah, namun tidak lebih.
Perempuan itu tahu betul, dalam dunia korporasi, kelembutan yang berlebihan hanya akan terbaca sebagai kelemahan. Tidak semua orang di sekitarnya adalah kawan, sebagian justru lawan yang memilih bertahan di perusahaan hanya demi kepentingan pribadi, sambil menjilat demi posisi.
"Apakah aku terlambat untuk briefing dengan Marketing Director?" tanyanya sembari terus berjalan. "Kita akan membahas campaign strategy untuk peluncuran The Residences di Upper East Side, bukan?"
"Tidak, Nona. Masih ada lima belas menit sebelum dimulai. Anda masih sempat menyiapkan diri," jawab Ceysa cepat.
"Baik. Ke ruanganku dulu."
Ceysa mengangguk, bergegas mendahului Emily untuk memencet tombol lift. Begitu pintu terbuka, keduanya masuk, menikmati kesunyian singkat di dalam kabin lift yang melaju ke lantai atas. Sekilas Emily melirik bayangan dirinya di cermin lift. Penampilannya masih rapi, elegan, tak bercela. Namun ada guratan lelah di matanya.
Pagi tadi, ia terbangun dengan perasaan resah yang sulit dijelaskan. Tubuhnya terasa berbeda, seolah ada sesuatu yang tertinggal dari malam sebelumnya. Tapi entah apa? Pandangannya turun sejenak ke area leher dan dadanya, samar-samar terlihat bercak kemerahan di sana. Ia mengernyit. Seingatnya, penthouse tempatnya tinggal selalu terawat dengan baik. Ia rutin memanggil petugas kebersihan, memastikan kamarnya steril dari debu maupun serangga. Jadi bagaimana mungkin kulitnya bisa memerah begitu, seakan digigit sesuatu?
Belum lagi begitu ia keluar dari kamar, tak ada tanda-tanda Raphael di ruang tamunya. Bisa-bisanya pria itu pergi tanpa pamit, tanpa satu kata pun, apalagi sekedar ucapan terima kasih karena sudah diberi tempat untuk menginap. Cih. Memang bukan berarti Emily sangat mengharapkan bertemu dengannya di pagi hari. Sungguh, ia justru berharap tak ada pria itu ketika ia bangun. Tapi tetap saja, setidaknya pahamlah sedikit soal tata krama.
Setibanya di lantai eksekutif, Ceysa segera membuka pintu ruang kerja sang CEO. "Silakan masuk, Nona," ujarnya.
Emily melangkah masuk, menaruh tas kulitnya di atas meja, kemudian berbalik seraya melepas blazer yang setelahnya ia sandarkan di kursi. "Apakah ada hal penting dari investor yang harus segera kutahu?" tanyanya tanpa basa-basi.
Terdiam sejenak, Ceysa seolah ragu menyampaikannya. "Apakah Anda sudah sempat membaca email-email mereka semalam?"
Emily menoleh, alisnya sedikit terangkat. "Belum. Bacakan saja untukku."
Dengan napas tertahan, Ceysa membuka iPad di tangannya. Jemarinya bergerak cepat menelusuri deretan email, sebelum akhirnya berhenti pada beberapa pesan yang sudah ditandai. "Investor kita, terutama dari konsorsium Eropa, mulai menunjukkan kekhawatiran serius, Nona. Mereka sudah mengetahui konflik terbuka Anda dengan Tuan Andrew, termasuk video yang ia sebarkan di Times Square."
Emily menyandarkan diri di kursinya. Datar gurat wajahnya, namun hatinya bergejolak mendengar kalimat tersebut. Andrew bedebah sialan itu benar-benar merepotkan.
"Mereka menilai reputasi perusahaan ini sedang terguncang," lanjut Ceysa dengan hati-hati. "Sebagian mempertanyakan stabilitas keuangan kita, dan ada yang sudah secara terang-terangan menyebut rencana menarik dana investasi."
Hening sesaat. Jemari Emily mengetuk pelan meja kerjanya, menahan emosi agar tidak terlihat.
"Lebih jauh lagi," suara Ceysa semakin pelan, "ada yang meragukan kapabilitas Anda memimpin perusahaan sebesar ini. Mereka membandingkan dengan kepemimpinan ayah Anda dulu, yang dikenal visioner dan tak tergoyahkan. Menurut mereka, tidak realistis berharap seorang perempuan muda, bahkan secerdas Anda sekalipun, mampu menyamai jejak almarhum."
Emily memejamkan mata untuk beberapa detik. Menohok kata-kata itu, namun tidak asing. Keraguan semacam itu selalu membayanginya sejak ia resmi menduduki kursi CEO. Bayangan mendiang ayahnya masih terlalu besar, terlalu sempurna untuk disaingi.
"Mereka juga menekan agar perusahaan menghasilkan pertumbuhan cepat. Target yang mereka sodorkan adalah peningkatan profit hingga lima puluh persen dalam tahun berjalan. Jika tidak, mereka mengancam akan menarik dukungan modal."
Emily membuka mata, sorotnya dingin pun juga tajam. "Seolah-olah aku tidak tahu betapa mereka haus keuntungan," tekannya.
Ia berdiri, berjalan menuju jendela besar kantornya yang menampilkan panorama gedung-gedung pencakar langit. Kota ini tidak pernah tidur, dan begitu pula pikirannya. Ia tahu mempertahankan kepercayaan investor sama pentingnya dengan menjaga nama baik perusahaan yang ia bangun kembali setelah kematian ayah-ibunya.
Namun, Emily juga sadar, keraguan itu akan selalu ada. Dunia bisnis masih dikuasai lelaki tengil beruban dengan puluhan tahun pengalaman, dan ia hanyalah perempuan yang baru menginjak usia awal tiga puluhan.
Ceysa melangkah mendekat, berujar lebih lembut kali ini. "Apa yang harus saya sampaikan, Nona?"
Menarik napas panjang, Emily membalikkan badan dengan ekspresi yang kembali tenang. "Katakan pada mereka bahwa Cooper Group tidak pernah berdiri di atas rasa takut. Jika mereka ingin hasil, biarkan mereka menunggu. Kita akan membuktikannya dengan peluncuran The Residences. Itu akan menjadi jawaban."
Ceysa mengangguk, meski raut wajahnya masih menyimpan kekhawatiran. Emily tahu, perang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan kali ini, ia harus membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar bayangan dari sang ayah, melainkan pemimpin yang mampu menciptakan warisannya sendiri.
Emily bangkit dari kursinya, meraih map yang sudah disiapkan, kemudian bersiap melangkah menuju ruang rapat. Namun sebelum menyentuh gagang pintu, ia menoleh sekilas pada Ceysa yang masih setia berdiri dengan iPad di pelukannya.
"Tolong ingatkan aku nanti untuk menghubungi petugas kebersihan kamar," ucapnya, sedikit terlihat jengkel. "Aku benar-benar kesal. Pagi ini ada serangga yang menggigit kulitku sampai kemerahan begini." Ia menunjuk ke leher dan sedikit ke arah dada, memperlihatkan semburat merah samar yang masih tersisa.
Ceysa sempat terdiam sejenak, sorot matanya terbelalak kecil melihat merah itu. Bentuknya bukan seperti bekas gigitan serangga yang pernah ia lihat. Sesuatu tentang bentuk merah itu membuatnya ingin berkomentar, tapi kalimatnya tertahan di kerongkongan. Ia buru-buru menunduk, berpura-pura memeriksa catatan di iPad, membuyarkan pikirannya sendiri.
"Sekalian carikan aku obat pengusir serangga paling ampuh," tambah Emily. "Yang satu ini sepertinya serangga berbahaya. Kemerahannya sampai seperti ini... mengerikan."
Ceysa mengangguk cepat, menahan diri untuk tidak melontarkan apapun selain, "Baik, Nona Cooper."
•••
*Halo guys, terima kasih sudah membaca dan mendukung karya pertamaku sejauh ini. Bila suka cerita ini, jangan lupa untuk support dengan like, vote dan komen ya. Thank you**😇*